Tiga tahun sudah Lisa menikahi kakak iparnya tanpa ikatan cinta. Berbanding terbalik dengan Galih Almarhum suaminya yang begitu tampan, humoris dan begitu perhatian. Sikap Angga justru kebalikannya. Dia lelaki yang abai, tak banyak bicara dan kaku. Lisa bak menikah dengan robot. Tak ada yang menarik dalam pernikahan kedua lisa ini. Lisa hampir gila, hingga mengajukan perceraian pada mantan kakak iparnya itu. Angga menolak, lelaki itu berubah. Akankah Lisa tetap bertahan atau kembali meminta berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Lisa sama sekali tidak menyangka, suami kulkasnya akan melakukan hal yang di luar nalar, lelaki dingin ini bahkan berbicara vulgar di kantor, ini sudah sangat melenceng jauh dari kebiasaan lelaki ini, dari mana juga Angga punya fikiran melepas bajunya?
Lisa tentu tak mau diam saja, jika Angga bisa senekat ini, dia juga bisa. Lisa menggigit keras bahu Angga.
"Awwww"
Begitu Angga lengah, Lisa menendang kaki Angga hingga lelaki itu tersungkur ke belakang.
"Lisa!" Teriak Angga tak terima, Lisa buru-buru mengambil bajunya dan lari ke kamar mandi yang ada di ruangan ini.
Angga mengikuti ke mana Lisa pergi, namun Lisa lebih cepat masuk, dia mengunci pintu rapat-rapat dari dalam.
"Lisa, Buka!"
"Enggak mau!"
Lisa buru-buru memakai kembali bajunya asal, takut Angga akan menjebol pintu ini.
"Lisa!"
"Nggak mau mas! Mas inget ini di kantor! Bukan di rumah"
Angga ingin kembali menggedor pintu, namun pintu depan justru di ketuk dari luar, Angga berjalan dan membuka pintu. Ternyata OB yang datang.
"Maaf pak, tadi saya di minta Bu Lisa membersihkan ruangan bapak"
"Masuk saja" gumam Angga.
di dalam kamar mandi, Lisa merasa lega karena ada yang datang. Dia bisa lebih santai memperbaiki penampilannya, Lisa berjalan ke arah kaca, dia menghembuskan nafas berat saat melihat ada tanda merah di lehernya.
"CK dasar kakak ipar edan, bisa-bisanya dia membuat tanda di sini? Bagaimana kalau Tari lihat?"
Lisa gelisah, dia tidak membawa tasnya, bagaimana bisa dia menutupi ini?
"Sial! Angga Nyebelin!" Teriak Lisa mencak-mencak sendiri di dalam kamar mandi, membuat OB yang ada di luar kaget karena ada orang lain di ruangan ini.
Dia juga tahu suara itu suara perempuan.
OB itu berjalan ke sumber suara, dia penasaran dengan apa yang dia dengar tadi.
"Jangan bersihkan yang di sana, kamar mandi masih bersih" Gumam Angga.
Namun baru saja ingin menjauh,Lisa sudah terlebih dulu keluar dari sana. OB itu terkejut bukan main melihat Lisa keluar dari sana.
"Bu Lisa?"
Gumam sang OB, yang melihat sekertaris Boss nya dalam keadaan berantakan, OB itu juga melihat tanda merah di leher Lisa.
Lisa menatap OB itu sambil mengerutkan mulutnya kesal. Dia tahu apa yang sedang di pikirkan OB itu.
"Jangan beritahu siapapun, saya habis muntah di sini!" Gumam Lisa berbohong, dia tadi mengerok lehernya dengan uang Koin, agar bekas ciuman Angga tidak terlihat. Untung saja di sakunya ada uang receh.
OB itu meringis sambil menatap Lisa dan Pak Angga bergantian, Dia sangat takut melihat Pak Angga yang sedari tadi diam saja, wajahnya sangat jutek seperti ingin menelan orang.
"I iya Bu, saya tidak akan cerita ke siapa-siapa, nanti juga saya bersihkan kamar mandinya"
"Tidak usah, sudah saya bersihkan"
Lisa buru-buru keluar dari ruangan Angga, dia sedikit melengos saat Angga menatapnya.
Lisa bahkan sedikit membanting pintu. Membuat satu kantor kaget, baru kali ini mereka melihat pintu boss di banting dengan kasar.
"Lu ngapain aja di dalam? Lama banget? Habis cipika cipiki ya?" tanya Tari yang memang sedari tadi penasaran.
"Lu nggak lihat di leher gue ada apa? Gue masuk angin tadi di dalam"
"Masak sih?" Tari mengecek belas merah di leher Lisa, benar saja ada bekas kerokan.
"Kamu sakit? Bibir kamu juga pucat"
Tari segera membawa temannya untuk duduk
"Gue nggak apa-apa kog"
Lisa merasa lega karena tidak ada yang curiga dengan dirinya.
"Eh tapi btw, apa Pak Angga lihat elu kerokan tadi?"
"Enggaklah! Gue numpang kamar mandinya tadi, kalau nggak percaya tanya aja sama OB di dalam"
Tari percaya begitu saja ucapan sahabatnya, Lisa merasa lega sekali, namun melihat kancing bajunya yang lebih tinggi sebelah, membuat Lisa langsung menutupinya.
"Gue ke kamar mandi dulu ya?"
"Mau gue anter?"
"Nggak usah Tar, Gue bisa"
"Ya udah hati-hati"
*****
Sore harinya, Lisa menatap ruangan Angga, lelaki itu sama sekali tak beranjak dari ruangannya sama sekali. Lisa menatap jam tangan di lengannya, ini sudah waktunya pulang. Jadi dia akan pulang lebih dulu. Lisa tidak perduli Angga mau begadang semalaman di sini.
Sesampainya di rumah, Lisa begitu terkejut melihat suasana Rungan yang terlibat berbeda.
Lisa menghampiri Bik Sumi, yang berada di dapur.
"Bik kenapa meja dan furniture lain di ganti?" Tanya Lisa.
Bik Sumi yang mendengar suara nyonyanya langsung berbalik dan segera menghampiri Lisa.
"Non, akhirnya non pulang" Ucap Bu Sumi sambil memeluk tubuh Lisa.
Lisa memang bersikap biasa dengan pembantu di rumah ini, Bik Sumi bahkan sudah Lisa anggap sebagai Ibunya, jadi memeluk Lisa adalah hal biasa yang mereka lakukan.
"Bibi kenapa? Angga marah lagi?"
Bik Sumi mengagguk cepat.
"Bukan cuma marah, Pak Angga bahkan memecahkan semua Vas yang ada di ruang tamu, Semua orang di marahi non, non dari mana saja semalam? ponsel non nggak bisa di hubungi"
Lisa sama sekali tak menyangka Angga se murka itu. Semalam dia memang sengaja mematikan ponselnya karena Angga sama sekali tak mencarinya.
Tapi pagi dia sudah menghidupkan lagi ponsel miliknya. Tapi tidak ada yang masuk, pesan juga tidak ada.
"Masak sih bik? Pak Angga tidak ada hubungi saya"
"Bibi juga nggak tahu Non, kata Pak Angga non nggak bisa di hubungi, Pak Angga bahkan manggil detektif malam-malam buat nyari keberadaan Non Lisa, katanya Nomor Non sudah kadaluarsa"
"Kadaluarsa?"
Apa maksudnya Angga hanya punya nomor lamanya? Dia tidak punya nomor barunya? Empat tahun lalu, saat menikah dengan Galih. Lisa memang kehilangan nomor ponselnya, tapi Lisa sama sekali tidak tahu kalau Angga tidak memiliki nomor barunya.
Dia tidak bertanya, di kantor mereka selalu berhubungan dengan nomor kantor.
"Astaga! Jadi itu alasan kenapa dia tidak menghubungi ku?" Batin Lisa.
Dia memang tidak pernah memberikan nomor barunya ke Angga.
Pantas saja di kantor tadi dia seperti orang gila. Ternyata dia marah karena ini. Batin Lisa.
"Bibi punya kan nomor baru Lisa?"
"Punya non, tapi semalam Pak Angga seperti orang kesetanan, jadi bibi tidak berani mendekat, setelah detektif itu menemukan lokasi Bu Lisa, Pak Angga baru berhenti marah, bibi ingin sekali memberikan nomor Non, tapi Pak Angga tidak mau di ganggu, Pak Angga bahkan tidak sarapan tadi pagi"
"Apa tidak sarapan?"
Lisa sangat terkejut mendengar itu, dia juga ingat di kantor tadi Angga juga tidak terlihat keluar dari kantornya. Dia juga tidak meminta di pesankan makanan.
"Astaga! Apa dia pingsan di sana?"
Lisa buru-buru mengambil tas nya, Bik Sumi juga memberikan tas bekal untuk Lisa.
Lisa kembali ke kantor di antar sopir, dia sungguh hawatir terjadi sesuatu pada Angga.
gws ya🙏
mungkin besok tidak up dulu 🙏🙏