Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Suasana kamar yang luas itu terasa begitu menyesakkan. Arga duduk termenung di kursi kerjanya, menatap lurus ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota yang muram.
Rintik air hujan mulai turun, satu per satu membasahi kaca jendela, menciptakan garis-garis air yang tampak seperti air mata yang mengalir di wajah kaca itu. Arga tidak bergerak sedikit pun. Pikirannya masih tertahan di hutan pinus, di dalam tenda hangat yang kini terasa seperti memori dari kehidupan yang lain.
Tangannya menggenggam selembar kain kecil,sebuah syal milik Ayu yang tertinggal di bawah bantal. Ia mendekatkan kain itu ke wajahnya, mencoba mencari sisa-sisa aroma manis matahari yang selalu terpancar dari gadis itu. Namun, aroma itu mulai memudar, digantikan oleh bau dingin dari hujan yang kian menderu di luar sana.
"Kenapa, Ayu?" bisik Arga, suaranya parau dan pecah. "Kenapa kau memberiku surga, lalu melemparkanku kembali ke neraka di saat yang bersamaan?"
Tatapan Arga beralih ke ponselnya yang tergeletak mati di atas meja. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan, tidak ada jejak. Ayu benar-benar menghilang, seolah gadis itu hanyalah fatamorgana yang sengaja dikirim untuk menyembuhkan lukanya, lalu pergi untuk menciptakan luka yang lebih dalam lagi.
Ia teringat noda merah di atas kasur tenda itu. Sebuah bukti penyerahan diri yang begitu tulus. Namun kini, bukti itu justru menjadi duri yang menusuk jantungnya. Arga merasa dikhianati oleh takdir. Untuk kedua kalinya, ia mencintai seseorang, dan untuk kedua kalinya pula, ia ditinggalkan tanpa penjelasan.
"Jika kau pikir aku akan menyerah, kau salah," desis Arga, matanya yang semula layu kini berkilat tajam dengan ambisi yang berbahaya. "Ke mana pun kau pergi, bahkan ke ujung dunia sekalipun, aku akan menemukanmu. Dan saat itu terjadi, kau tidak akan pernah bisa lari dariku lagi."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
"Geo membuat ulah lagi, dan kali ini teman satu bangkunya yang jadi sasaran," ucap Madam Elen tegas. Ia menatap wanita cantik di hadapannya yang tampil anggun dengan dress selutut berwarna krem, rambut panjang bergelombang yang diikat ponytail rapi, serta kacamata hitam yang bertengger di atas hidung mancungnya.
Wanita itu menghela napas berat. "Saya mohon maaf, Madam. Belakangan emosi Geo memang sedang tidak stabil. Saya juga sudah berencana meminta izin agar Geo tidak sekolah dulu selama beberapa minggu ke depan."
Madam Elen mengangguk maklum. "Baiklah, Nyonya Jansen. Mungkin Geo memang butuh udara segar. Saya mengizinkannya."
"Terima kasih, Madam. Saya pamit."
Ketika ia berbalik, sosok bocah laki-laki berusia sekitar empat tahun sudah berdiri di ambang pintu. Garis wajahnya tegas, tatapan matanya tajam dan dingin. Tanpa basa-basi, wanita itu meraih lengan Geo dan membimbingnya keluar dari gedung sekolah yang mewah ,menuju mobil yang sudah menunggu.
Begitu pintu mobil tertutup, ia langsung menoleh ke arah pria kecil itu.
"Kenapa kamu berantem lagi, Ge? Kan Mimi sudah bilang, jangan berantem. Mimi pusing, tahu gak?" ucapnya sambil memijat pelipisnya.
Geo hanya bersedekap dada, duduk tegak dengan gaya yang sangat dewasa untuk anak seusianya. Ia menatap wanita yang disampingnya ini dengan tatapan datar.
"Aku tidak berantem, Mi. Vino duluan yang mengambil pensil warnaku dan aku hanya merebutnya kembali," elak Geo tenang.
"Iya, tapi kamu meninju mukanya sampai berdarah, Geo! Apa itu namanya kalau bukan berantem?" suaranya sedikit meninggi karena lelah.
Geo membuang muka, menatap lurus ke arah sopir di depan. "Terserah Mimi mau bilang apa, pokoknya Geo sudah menjelaskan yang sebenarnya."
Wanita itu tertegun melihat sikap keras kepala putranya. Setiap kali Geo marah atau bersikap dingin seperti ini, ia merasa seolah sedang berhadapan dengan seseorang.
"Kita pulang," perintahnya lirih pada sang sopir.
Sambil menatap ke luar jendela, wanita itu menyentuh kalung di lehernya. Pikirannya melayang jauh melintasi samudra, kembali ke sebuah kota di mana seorang pria mungkin masih mengutuk namanya dalam diam.
Malam semakin larut di kediaman keluarga Jansen yang mewah namun terasa sepi. Dia duduk di tepi tempat tidur, memandangi wajah damai Geo yang tengah terlelap. Sisa-sisa amarahnya di mobil tadi menguap, berganti dengan rasa sesak yang menghimpit dada. Tanpa disadari, butiran bening mengalir di wajah cantiknya saat menatap fitur wajah Geo yang begitu mirip dengan pria yang ia tinggalkan lima tahun lalu.
"Dia bikin ulah apalagi, Yu?"
Ayu tersentak, cepat-cepat menghapus air matanya. "Bang Ardan, ngagetin saja. Ya... biasa Bang, dia hanya berusaha menarik perhatianku," balasnya pelan, berusaha menstabilkan suaranya.
Ardan melangkah masuk, wajahnya tampak lelah setelah seharian bekerja. "Itu karena kamu terlalu sibuk, Yu. Kenapa tidak di rumah saja sih, urusin Geo? Aku masih mampu kok memberi nafkah untuk kalian berdua," ucap Ardan sambil melonggarkan dasinya.
Ayu menggeleng lemah dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Tidak usah, Bang. Gajiku sudah cukup kok untuk menghidupi kami. Aku tidak mau terus-menerus merepotkanmu."
"Iya, tapi kamu jadi tidak punya waktu buat Geo. Lihat dia, jadi anak yang tempramental di sekolah. Turuti deh kata kakakmu ini sekali saja," desak Ardan dengan nada protektif.
Ayu tidak mendebat lagi. Perhatiannya kembali tertuju pada sang putra. Ia mengusap rambut Geo dengan penuh kasih. "Maafkan Mimi ya, Ge. Mimi janji, setelah urusan ini selesai, Mimi akan selalu ada buat kamu."
Suasana mendadak menjadi hening dan berat ketika Ardan menarik napas panjang. Ia menatap adiknya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Yu, usia Geo sudah empat tahun. Kamu... tidak ingin memberi tahu dia tentang keberadaan Geo di dunia ini?" tanya Ardan dengan suara yang sangat lembut, namun terasa seperti petir di telinga Ayu.
Tangan Ayu yang hendak menyelimuti Geo mendadak kaku, menggantung di udara. Ruangan itu seolah membeku seketika.
"Dia punya hak untuk tahu kalau dia punya seorang putra, Yu. Dan Geo... dia butuh sosok ayah," lanjut Ardan lagi.
Ayu perlahan menarik tangannya kembali. Ia mengepalkan jemarinya kuat-kuat, matanya yang tadi lembut kini berubah menjadi tajam dan penuh luka yang belum sembuh.
"Geo hanya milikku, Bang,"
Bersambung....
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it