Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dansa Bertopeng
Malam ini, Gedung Sapphire—pencakar langit milik pribadi Michael—menjadi pusat gravitasi kelas atas. Tidak ada keramaian mension yang klasik, yang ada hanyalah kemewahan minimalis dengan teknologi mutakhir. Para tamu undangan harus melewati tiga lapis pemindaian keamanan sebelum bisa menginjakkan kaki di ballroom kaca yang menggantung di awan.
Shaneen Tizon muncul bagaikan dewi modern. Ia mengenakan gaun minimalist-glam berwarna putih gading yang jatuh sempurna di lekuk tubuhnya. Tanpa payet norak, hanya potongan backless yang berani dan kalung berlian emerald warisan Tizon yang melingkar di leher jenjangnya. Ia tampak simpel, namun aura mahalnya membungkam seluruh ruangan.
Di sudut bar, Michael berdiri dengan segelas scotch. Matanya tidak lepas sedetik pun dari Shaneen yang sedang melangkah anggun. Ada rasa bangga yang posesif bercampur rasa penasaran yang membuncah. Gadis ini... benar-benar bunglon yang sempurna, batin Michael.
Clara hadir sebagai perwakilan bisnis galeri seninya, berdiri di tengah lingkaran wanita sosialita yang sibuk memamerkan tas terbaru. Begitu Shaneen mendekat, Clara sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh sekitar.
"Ah, Shaneen! Cantik sekali, meski gaun ini... sedikit terlalu 'polos' untuk calon istri seorang Miguel, bukan? Aku khawatir orang-orang mengira keluarga Tizon sedang berhemat," sindir Clara, memancing tawa kecil teman-temannya.
Shaneen berhenti, menyesap minuman beningnya dengan sangat tenang. Ia menatap Clara dari atas ke bawah, lalu tersenyum tipis—senyum yang sangat meremehkan.
"Sederhana itu pilihan bagi mereka yang sudah memiliki segalanya, Clara. Sama seperti galeri senimu yang selalu memajang lukisan abstrak karena kau sendiri tidak tahu cara menikmati keindahan yang nyata," balas Shaneen dengan nada bicara yang manis namun pedas. "Michael lebih suka sesuatu yang orisinal dan berkelas, bukan sesuatu yang harus berteriak minta perhatian dengan payet murah."
Wajah Clara memerah padam. Para sosialita di sekitarnya mendadak bungkam, terpesona melihat bagaimana Shaneen dengan mudah mematahkan lidah tajam Clara tanpa perlu meninggikan suara.
Sedangkan itu, ada mata-tata di balik monitor. Di ruang kontrol gedung, dua orang anak buah Don yang menyamar sebagai teknisi menatap deretan layar CCTV. Mereka terus memantau pergerakan Michael dan Shaneen.
"Target satu dan dua terpantau di lantai utama. Keamanan sangat gila. Nenek tua itu, Martha, terus berada di dekat pintu VIP," lapor salah satu dari mereka melalui transmisi radio.
Don, yang berada di markasnya, mendengus kesal. Ia telah menyusun rencana untuk meledakkan jalur logistik SM Corporation tepat saat pesta ini usai. Tapi niatnya dia urungkan untuk sementara. Ia tidak menyerang gedung ini sekarang karena ia tahu Nenek Martha adalah variabel yang berbahaya. Martha Tizon mungkin terlihat renta dengan tongkatnya, namun jiwanya masih sekuat baja. Di balik jubah brokatnya, ia menyimpan belati kembar yang siap memutus urat nadi siapapun yang mengancam cucunya.
Setelah pengumuman peresmian pertunangan, lampu meredup dan para tamu diminta mengenakan topeng. Shaneen mengenakan topeng mawar perak yang misterius. Michael melangkah maju, membimbingnya ke tengah lantai dansa yang terbuat dari kaca transparan.
Puncak acara tiba. Di bawah temaram lampu kristal Gedung Sapphire, musik waltz mulai mengalun megah. Para tamu mengenakan topeng mereka, sesuai acara yang Michael inginkan demi menciptakan suasana misterius yang kental. Padahal, dia punya niat tersendiri. Shaneen mengenakan topeng berwarna hitam yang elegan dan dibagian kanannya ada ujung bulu ayam halus menambah kesan cantik. Namun desainnya tidak mampu menyembunyikan bagian paling mematikan dari dirinya: matanya.
Michael melangkah maju, membimbing Shaneen ke tengah lantai dansa kaca. Saat jemari mereka bertautan, Michael merasakan sengatan listrik yang sama. Ia menarik pinggang Shaneen erat, memaksa gadis itu menatapnya langsung.
Michael terpaku. Di balik lubang topeng itu, ia melihat sepasang mata yang selama ini menghantui mimpinya. Mata yang indah, sedikit sayup dengan kelopak sleepy eyes yang tampak menggoda, namun di dalamnya tersimpan ketajaman yang bisa membelah malam.
Meskipun bentuk topeng ini berbeda dengan topeng yang dipakai "Perempuan Gila" di pelabuhan, digedung entah dimanapun itu, Michael tahu bahwa iris mata ini tidak bisa diduplikasi. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena gugup. Tapi karena konfirmasi yang ia dapatkan. Tatapan ini adalah tatapan yang sama yang menatapnya dengan liar saat badai peluru menerjang.
"Kau punya mata yang sangat berbahaya, Shaneen," bisik Michael, suaranya serak dan dalam. "Mata yang seolah-olah baru saja melihat neraka, tapi tetap tenang seperti permukaan danau."
Shaneen tidak membuang muka. Ia justru memberikan tatapan tajamnya yang paling murni, membuat Michael merasa seolah-olah ia sedang ditelanjangi oleh sang predator.
"Mungkin karena aku sudah terbiasa hidup di antara bayangan, Michael," sahut Shaneen dengan nada rendah yang provokatif.
Shaneen bergerak dengan sangat telaten. Langkah kakinya begitu presisi di atas lantai kaca, seimbang dan elegan tanpa cela. Para sosialita berdecak kagum melihat bagaimana Shaneen memimpin ritme dansa dengan otoritas yang tak terduga.
Clara, yang melihat dari kejauhan, merasa sesak napas. Ia menatap mata Shaneen dan merasakan intimidasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia bingung, kaget, namun otaknya yang dangkal hanya bisa berpikir, "Kenapa si manja ini tiba-tiba terlihat seperti penguasa gedung ini?"
Michael tidak lagi peduli pada orang di sekitar. Ia mengunci pandangannya pada mata sayup nan tajam itu. "Aku sudah menemukanmu," batin Michael dengan seringai puas. "Dan kali ini, kau tidak akan bisa lari lagi dariku."