Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.Pelatih
Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan itu, Lora seketika terhenti. Napasnya tercekat. Di sana, duduk seorang wanita bertubuh tegap dan berotot di sebuah kursi besi besar yang menghadap langsung ke pintu. Usianya sekitar empat puluh tahun. Sorot matanya tajam, rahangnya tegas, aura kuat memancar dari setiap geraknya.
Wajah itu.
Begitu cahaya lampu menyentuhnya dengan jelas, jantung Lora seolah berhenti berdetak.
"Pelatih?.” ucap Lora. Kata-kata itu lolos begitu saja dari bibirnya, nyaris seperti bisikan yang tak ia sadari.
“Lora?” ucap perempuan itu—Tiffani—tak kalah terkejutnya.
Dalam hitungan detik, jarak di antara mereka lenyap. Lora berlari kecil menghampiri, dan Tiffani bangkit dari duduknya. Mereka berpelukan erat di depan kepala pelayan yang hanya bisa memandangi dengan dahi berkerut.
“Apa kalian berdua sudah saling kenal?” tanya kepala pelayan itu keheranan.
“Dia adalah wanita yang aku selamatkan saat dia mencoba bunuh diri tujuh tahun yang lalu.” jelas Tiffani.
“Wanita gila yang akan melompat dari gedung tinju milikmu itu?” ucap kepala pelayan tersebut sambil mengangguk-angguk, seolah potongan ingatan lama kembali tersusun.
Mendengar itu, Lora sontak mengerutkan keningnya. Ia melepaskan pelukan, menatap Tiffani lalu kepala pelayan itu bergantian.
“Tapi pelatih, kenapa kamu dan kepala pelayan ini terlihat begitu akrab?” tanya Lora.
“Karena dia adalah suamiku.” jawab Tiffani.
"Suami?"
Kata itu menggema di kepala Lora. Matanya membelalak. Dunia terasa semakin sempit. Orang yang pernah menariknya kembali dari jurang kematian… dan pria yang kini ia jadikan sandaran dalam rumah penuh intrik ini… ternyata adalah suami istri.
“Berarti kamu adalah David, Laki- laki yang dia cintai, yang sering disebut oleh pelatih dulu kepadaku?” tanya Lora memastikan, suaranya sedikit bergetar.
“Tepat sekali, nona.Aku sudah menjadi suaminya sekarang. Aku tidak menyangka ternyata kita saling terhubung.” ucap David membenarkan, nada suaranya lebih hangat dari biasanya.
Tiffani menatap Lora lekat-lekat.
“Ternyata kamu masih sama gilanya dengan dulu, apa kamu sesuka itu mempertaruhkan nyawamu?” ucap Tiffani, mengingat bagaimana Lora dulu berdiri di ambang kematian tanpa sedikit pun keraguan.
Kalimat itu menyeret Lora pada ingatan yang tak pernah benar-benar hilang.
FLASHBACK
Kerumunan orang memenuhi area bawah gedung tingkat sepuluh. Wajah-wajah tegang mendongak ke atas, menunjuk-nunjuk sosok seorang wanita yang berdiri sendirian di pucuk gedung. Angin menerpa rambutnya yang tergerai liar. Sedikit saja ia bergerak, tubuhnya akan terjun bebas menghantam aspal.
Tiffani yang baru saja tiba di lokasi seketika berlari memasuki gedung itu. Dadanya naik turun menahan marah dan panik. Gedung yang baru saja ia beli dengan seluruh tabungan hasil keringatnya sebagai atlet tinju profesional… kini dijadikan panggung kematian oleh seorang wanita asing.
Dengan cepat Tiffani menaiki lift menuju rooftop. Setiap detik terasa seperti detik terakhir untuk nya.
Brak!
Pintu rooftop terbuka dengan kasar. Angin malam menyambut bersama pemandangan mengerikan itu.
“YAAAAA… apa yang kamu lakukan di gedung milikku? Jika kamu ingin bunuh diri pilihlah gedung lain, gedung ini bahkan baru aku beli dan belum aku resmikan. Siapa yang akan mau masuk ke gedungku jika kamu mengotorinya dengan melakukan aksi sadismu di sini!” teriak Tiffani penuh amarah.
Namun Lora hanya diam.
Ia berdiri di sisi tembok pembatas gedung. Tubuhnya setengah condong ke luar. Satu gerakan kecil saja, dan semuanya akan selesai.
Tatapan Lora kosong. Tidak ada tangis. Tidak ada amarah. Tidak ada harapan. Hanya kehampaan yang menganga seperti jurang di bawah kakinya.
“Hei, apa kamu tidak mendengarku? Aku mempertaruhkan seluruh tabunganku untuk membeli gedung ini, apa kamu tidak mengasihaniku? Aku baru saja pensiun dari atlet tinju, gedung ini adalah satu-satunya harapanku untuk hidup.” jelas Tiffani, suaranya mulai melemah. Ia mencoba berbicara sebagai manusia kepada manusia lain—bukan sebagai pemilik gedung kepada penyusup.
Lora perlahan menoleh.
Sorot matanya membuat Tiffani untuk pertama kalinya merasa gentar.
“Berarti pilihanku sangat tepat, kamu ingin melanjutkan hidup di gedung ini sedangkan aku ingin mengakhiri hidup di gedung ini.” ucap Lora tanpa ekspresi.
“YAAA…” teriak Tiffani, kali ini dengan kepanikan yang nyata. Ia melangkah cepat, berniat menyeret perempuan itu menjauh dari tepi.
Namun gerakan Tiffani justru membulatkan tekad Lora.
Wajahnya tetap datar. Hanya angin yang memainkan rambutnya.
“Semoga hidupmu benar-benar berlanjut setelah ini.” ucapnya menjatuhkan diri dari gedung tersebut.
“YAAAA……!” teriak Tiffani.
Refleks tubuh atletnya bekerja lebih cepat daripada pikirannya. Ia berlari, menerjang angin malam yang menampar wajahnya. Di detik-detik terakhir ketika tubuh Lora benar-benar telah melewati batas pembatas gedung, tangan Tiffani berhasil meraih pergelangan tangan wanita itu.
Tubuh Lora menggantung di udara.
Kakinya tak lagi berpijak. Angin berdesir kencang, membuat tubuhnya berayun pelan di ketinggian yang mengerikan. Kedua tangan Tiffani mencengkeram erat tangan Lora dari atas gedung, otot-otot lengannya menegang, urat-uratnya menonjol jelas.
“Lepaskan aku, aku ingin mati!” ucap Lora, suaranya pecah antara pasrah dan nekat.
“Diamlah! Aku tidak akan membiarkanmu mati di sini.” ucap Tiffani dengan suara keras yang hampir tertelan angin.
Dengan seluruh tenaga, Tiffani menarik tubuh Lora ke atas. Badannya yang tegap dan terlatih sebagai atlet tinju membuatnya cukup kuat untuk mengangkat tubuh Lora yang jauh lebih ringan. Giginya terkatup menahan beban, napasnya memburu.
Sedikit demi sedikit, tubuh Lora terangkat.
Begitu berhasil menariknya kembali ke rooftop, Tiffani langsung melemparkan tubuh Lora ke lantai beton dengan kasar. Tubuh itu terhempas, napasnya tersengal.
Tiffani menekan bahu Lora, amarah dan ketakutan bercampur jadi satu.
“Apa kamu seputus asa itu pada hidupmu? Hei… yang sulit di dunia ini bukan hanya kamu, semua orang juga sulit!” teriak Tiffani.
Namun Lora tidak menjawab.
Ia justru menangis.
Tangisnya pecah tanpa suara besar, tetapi begitu dalam. Air mata mengalir deras, bahunya bergetar hebat. Itu bukan tangisan manja, bukan pula tangisan drama. Itu tangisan seseorang yang sudah terlalu lama memendam luka.
Melihatnya, amarah Tiffani perlahan runtuh. Dadanya ikut terasa sesak. Tanpa sadar, matanya ikut memanas.
Tiffani melepaskan tekanan tangannya dari bahu Lora. Ia berdiri, mengusap wajahnya kasar, lalu mengulurkan tangan.
“Ayo ikutlah denganku, aku tahu cara melepaskan kekecewaan di hatimu!” ucap Tiffani.
Lora menatap tangan itu beberapa detik. Ragu.
Lalu ia menggenggamnya.
Mereka turun dari rooftop dengan suasana canggung yang memenuhi udara. Tangis Lora telah mereda menjadi isakan kecil, sementara Tiffani berjalan di sampingnya tanpa berkata apa-apa lagi.
Tiffani membawa Lora ke ruangan tinju di lantai bawah. Peralatan masih berantakan. Samsak-samsak tergantung diam, sarung tangan berserakan di sudut-sudut ruangan.
Seketika Lora menoleh ke arah Tiffani.
“Kamu ingin menjadikanku samsak tinjumu?”
“Kenapa, apa kamu takut?” tanya Tiffani sambil berjalan lebih dulu masuk ke ruangan. Ia mengambil satu samsak tinju berdiri dan sepasang sarung tangan, lalu memberikannya kepada Lora.
“Sesulit apa pun hidupmu, jangan pernah berpikir untuk mengakhirinya sendiri. Masih banyak cara lain untukmu mengungkapkan kekecewaanmu!” ucap Tiffani sembari memasangkan sarung tinju itu ke tangan Lora.
Ia lalu menunjuk ke arah samsak.
“Bayangkan ini adalah masalah hidupmu yang ingin kamu hancurkan. Dengan begitu hatimu akan sedikit tenang.” ucap Tiffani.
Lora menurut.
Awalnya pelan. Lalu semakin keras.
Ia memukul samsak tinju itu sekuat tenaganya. Bertubi-tubi. Sembarangan arah. Tanpa teknik. Tanpa ritme. Hanya luapan emosi yang selama ini terpendam.
Tangisnya kembali pecah. Kali ini bercampur teriakan tertahan. Setiap pukulan seolah ingin meremukkan kenangan pahit yang menghantui hidupnya.
Tiffani menjauh, memberinya ruang. Ia berdiri memandangi dari jauh, menyaksikan bagaimana seorang wanita yang hampir memilih mati, kini memilih melawan.
Sejak hari itu, Lora sering berkunjung ke sana.
Tiffani memberikan layanan gratis untuknya, menjadikannya murid tinju pertamanya. Mereka mulai akrab. Tiffani tak lagi hanya menjadi penyelamat, tetapi juga tempat Lora belajar menguatkan diri.
Dan Lora tidak pernah lagi mencoba bunuh diri.
Sampai akhirnya mereka berpisah karena Lora harus melanjutkan pendidikannya.
Tiffani kembali ke masa kini, menatap Lora dengan sorot mata yang masih sama seperti dulu—tajam dan penuh kepedulian.
“Lalu bagaimana, apa kamu berhasil membunuh laki-laki yang sudah menghancurkan hidupmu itu?” tanya Tiffani, mengingat dulu mereka sempat berbagi cerita meskipun hanya beberapa bulan kedekatannya.
Lora tersenyum smirk. Senyum yang tidak sepenuhnya bahagia, tetapi juga tidak lagi rapuh seperti dulu.
“Aku justru menikahinya, dia adalah suamiku sekarang.” ucap Lora.
Tiffani membeku.
“Apa?” ucapnya, terdiam beberapa detik, berusaha mencerna kalimat barusan.
Sorot matanya berubah tajam.
“Jangan bilang laki-laki yang menghancurkan hidupmu dulu adalah Tuan Devon?” tanyanya.
.
.
.
💐💐💐Bersambung💐💐💐
Kalau aja nggak ada Tiffani mungkin sekarang Lora cuma tinggal nama ya 😂
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤