tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Tuan Atas Nyawa dan Kematian
Keheningan di dalam kamar itu begitu pekat hingga suara detak jantung Tabib Silas yang berpacu liar seolah menggema di dinding-dinding batu. Pria tua itu berdiri mematung, nyaris tidak berani menarik napas. Setiap kali dadanya naik karena napas yang tersengal, kulit lehernya bergesekan dengan ujung tusuk konde perak yang dingin. Ia bisa merasakan kelembapan dari cairan kental yang melapisi ujung logam tersebut—racun Silvershade buatannya sendiri, yang ia tahu betul hanya butuh satu goresan kecil untuk mulai melumpuhkan sistem saraf pusat.
Genevieve tetap berdiri di atas tepi ranjang, memberikan postur yang mendominasi meskipun tubuhnya sebenarnya mulai gemetar karena kelelahan. Cahaya bulan yang masuk dari jendela sempit memantul di matanya, memberikan kilau biru yang tajam dan tidak manusiawi.
"S-saya... saya hanya menjalankan perintah, Nyonya..." Silas akhirnya berhasil mengeluarkan suara, meski hanya berupa bisikan parau yang penuh dengan getaran ketakutan. "Tuan Gideon... dia yang mengancam saya. Jika saya tidak membantu, dia akan melaporkan malpraktik lama saya ke asosiasi tabib di ibukota. Saya tidak punya pilihan!"
"Pilihan selalu ada, Silas. Kau hanya memilih kepingan emas dan keselamatan kulitmu sendiri di atas nyawa seorang wanita yang tidak berdaya," balas Genevieve, suaranya sedingin angin badai di luar. Ia sedikit menekan ujung tusuk kondenya, membuat Silas mengerang kecil dan memejamkan mata rapat-rapat. "Jangan membuang sisa napasmu dengan alasan moral yang menjijikkan. Aku tahu berapa banyak emas yang kau terima dari Nyonya Besar melalui Gideon. Aku tahu setiap tetes racun yang kau campurkan ke dalam tehku setiap pagi."
Silas tersentak. Bagaimana mungkin wanita yang selama ini hanya bisa meratap di atas tempat tidur tahu tentang aliran uang dan detail teknis racunnya? Di mata Silas, Lady Genevieve yang asli hanyalah boneka rusak yang menunggu waktu untuk dibuang. Namun, sosok yang kini mencengkeram kerahnya memiliki tatapan seorang penguasa yang telah melihat ribuan pengkhianatan.
"Apa yang Anda inginkan?" tanya Silas, suaranya pecah oleh keputusasaan. "Jika Anda membunuh saya sekarang, Gideon akan segera menyadarinya. Penjaga ada di luar lorong. Anda tidak akan bisa keluar dari kastil ini hidup-hidup."
"Siapa bilang aku ingin keluar malam ini?" Genevieve sedikit melonggarkan cengkeramannya pada kerah jubah Silas, namun tidak menjauhkan jarum peraknya. "Kastil Ravenscroft adalah penjara yang sangat kokoh, Silas. Tapi penjara juga bisa menjadi benteng jika kau tahu siapa yang memegang kuncinya. Malam ini, kunci itu adalah kau."
**[Peringatan Sistem: Energi Vital Tuan Rumah menurun. Durasi manuver fisik aktif tersisa 5 detik.]**
Genevieve merasakan sensasi dingin yang familiar merayap di ujung jari-jarinya. Ia harus segera mengakhiri konfrontasi fisik ini sebelum tubuhnya kolaps di hadapan Silas. Jika ia pingsan sekarang, tabib tua ini tidak akan ragu untuk mengambil kembali bantalnya dan menyelesaikan tugasnya.
"Silas, lihat aku," perintah Genevieve dengan otoritas yang tak terbantahkan.
Silas membuka matanya perlahan. Dalam jarak sedekat itu, ia melihat bukan lagi seorang wanita yang sedang sakit, melainkan sebuah jiwa yang terbakar oleh tekad yang mengerikan.
"Gideon mengira aku akan mati malam ini. Peti mati sudah disiapkan, bukan? Jurang Hitam sudah menunggu mayatku," ucap Genevieve dengan senyuman tipis yang membuat bulu kuduk Silas meremang. "Kau akan kembali kepadanya sekarang. Kau akan memberitahunya bahwa kau telah memeriksa 'mayatku' dan memastikan jantungku berhenti berdetak. Kau akan memintanya untuk memberikan waktu satu jam sebelum membawa peti mati itu ke sini, dengan alasan kau perlu membersihkan sisa-sisa racun dari mulutku agar tidak ada jejak yang tertinggal."
"T-tapi... jika dia melihat Anda masih bernapas nanti—"
"Dia tidak akan melihatku," potong Genevieve tajam. "Karena sebelum dia kembali, kau akan memberikan sesuatu kepadaku. Sesuatu yang ada di dalam tas tabibmu."
Silas menelan ludah. "Apa?"
"Ramuan *Breath of the Dead* (Napas Kematian). Aku tahu kau menyimpannya untuk kasus-kasus pasien yang ingin memalsukan kematian mereka atau untuk prosedur bedah ekstrem yang menghentikan detak jantung sementara," ujar Genevieve. Pengetahuan ini sebenarnya ia dapatkan dari analisis Sistem yang memindai tas yang dibawa Silas saat ia masuk tadi.
Mata Silas membelalak. "Bagaimana Anda tahu saya membawa itu? Itu adalah ramuan terlarang!"
"Berhenti bertanya 'bagaimana' dan mulailah bertindak jika kau ingin lehermu tetap utuh," desis Genevieve. Ia menarik tusuk kondenya sedikit, membiarkan Silas menarik napas lega, namun ia tetap waspada. "Berikan ramuan itu padaku, sampaikan laporan palsu pada Gideon, dan kau akan hidup untuk melihat hari esok. Jika tidak, aku akan memastikan racun ini masuk ke nadimu sekarang juga."
Silas, yang nyawanya benar-benar di ujung jarum, tidak punya kekuatan untuk menolak. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia merogoh kantong kecil di balik jubah abu-abunya. Ia mengeluarkan sebuah botol kaca mungil berisi cairan berwarna biru pucat yang berkilauan seperti cahaya bulan. Ini adalah ramuan yang bisa membuat seseorang tampak seperti mayat selama beberapa jam; detak jantung akan melambat hingga nyaris tak terdeteksi, dan kulit akan menjadi dingin.
Genevieve menyambar botol itu dengan tangan kirinya.
"Sekarang, pergi," usir Genevieve. "Lakukan tugasmu. Jika kau mengkhianatiku, ingatlah bahwa Martha sudah berada di bawah kendaliku. Aku punya mata di setiap sudut koridor ini. Satu langkah salah darimu, dan rahasia tentang Nyonya Besar akan sampai ke telinga Duke Alistair dengan cara yang paling memalukan bagi kalian semua."
Mendengar nama Duke Alistair disebut, Silas semakin memucat. Meskipun Sang Duke membuang istrinya, ia tetap dikenal sebagai pria yang kejam terhadap siapa pun yang berani merusak reputasi House Blackwood tanpa izinnya.
Tanpa kata lagi, Tabib Silas membungkuk rendah—kali ini dengan rasa hormat yang lahir dari teror murni—dan mundur perlahan menuju pintu. Ia memungut bantal yang tadi ia jatuhkan, lalu menyelinap keluar kamar secepat bayangan, menutup pintu dengan bunyi klik yang menandakan ketakutan yang mendalam.
Begitu Silas menghilang, Genevieve tidak bisa lagi menahan beban tubuhnya.
Ia terjatuh berlutut di atas kasur, tusuk konde peraknya terlepas dari genggamannya dan berdenting pelan di lantai. Napasnya terengah-engah, dadanya terasa panas seolah ada bara api yang membakar paru-parunya. Keringat dingin membanjiri wajahnya, membuat rambut peraknya menempel di dahi.
**[Status Fisik Kritis. Tuan Rumah diperintahkan untuk segera beristirahat.]**
**[Misi Tutorial Tahap 2 Selesai: Mengintimidasi dan Mengendalikan Tabib Silas.]**
**[Hadiah Misi: +20 Poin Energi Vital, +1 Kemampuan 'Analisis Bahan Kimia'.]**
Gelombang hangat dari Sistem menyapu tubuhnya, memberikan sedikit kekuatan untuk tetap terjaga. Genevieve menatap botol biru di tangannya. Ia tahu Gideon tidak akan mudah tertipu hanya dengan kata-kata Silas. Gideon akan datang untuk memastikan sendiri bahwa "Lady Genevieve" telah tiada sebelum memasukkannya ke dalam peti mati.
Ia harus benar-benar terlihat mati.
Genevieve merangkak ke posisi semula di tengah ranjang. Ia menata kembali bantal-bantal dan selimutnya. Ia membuka sumbat botol biru itu, mencium aroma mint yang tajam, dan meminum setetes kecil—dosis yang cukup untuk membuatnya "mati" selama dua jam ke depan.
Sesaat setelah cairan itu menyentuh lidahnya, sensasi dingin yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Detak jantungnya melambat... perlahan... semakin lambat... hingga ia merasa seolah-olah ia sedang tenggelam ke dalam dasar danau yang membeku. Pandangannya mengabur, dan kesadarannya perlahan menghilang.
Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, ia berbisik dalam hati, *'Ayo, Gideon. Datanglah dan jemput mayatmu. Mari kita lihat apakah kau cukup berani untuk menatap mata wanita yang sudah kau bunuh.'*
Genevieve pun terbaring kaku, wajahnya sepucat salju di luar jendela, tidak bernapas, tidak bergerak. Secara medis dan visual, Lady Genevieve dari House Blackwood telah meninggal dunia.
Tepat empat puluh menit kemudian, pintu kamar kembali terbuka dengan suara debuman keras yang tidak lagi disembunyikan.
Langkah kaki sepatu bot berat bergema di lantai batu. Tuan Gideon, sang kepala pelayan, melangkah masuk dengan obor yang menyala terang di tangannya. Di belakangnya, dua orang penjaga bertubuh besar mengusung sebuah peti mati kayu pinus yang kasar dan tak terukir.
Gideon berjalan mendekati ranjang, wajahnya yang gempal terlihat berkeringat meski udara sangat dingin. Ia mengarahkan obornya tepat ke wajah Genevieve. Cahaya jingga dari api menari-nari di kulit pucat wanita itu, namun tidak ada reaksi sedikit pun. Gideon meletakkan dua jarinya di leher Genevieve, mencari denyut nadi yang selama ini ia coba hentikan.
Hening. Dingin.
Gideon menghela napas panjang, sebuah senyum kemenangan yang menjijikkan muncul di wajahnya. "Akhirnya," gumamnya. "Wanita sialan ini akhirnya berhenti menyulitkan kita."
Ia berbalik kepada para penjaga. "Cepat masukkan dia ke dalam peti. Kita tidak punya banyak waktu sebelum patroli luar melakukan putaran kedua. Pastikan tutupnya dipaku dengan kuat. Aku tidak ingin ada suara atau gerakan apa pun saat kita membawanya ke tepi jurang."
Para penjaga itu mengangguk kaku. Mereka mengangkat tubuh ringan Genevieve yang kaku dan memasukkannya ke dalam peti mati kayu pinus yang sempit. Suara kayu yang berderit saat tubuhnya diletakkan terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi itu.
Genevieve, yang berada dalam keadaan mati suri, bisa merasakan samar-samar tubuhnya diangkat, namun ia tidak bisa menggerakkan satu otot pun. Ia merasakan permukaan kayu yang kasar di punggungnya. Kegelapan total menyelimutinya saat tutup peti mati diletakkan di atas wajahnya.
*Tak! Tak! Tak!*
Suara palu yang menghantam paku besi bergema dengan ritme yang mengerikan. Satu per satu, jalan keluarnya ditutup. Ia kini terpenjara di dalam kotak kayu, sedang dalam perjalanan menuju dasar jurang yang tak berdasar.
Namun, di balik kegelapan itu, jiwa Genevieve tetap terjaga dengan dingin. Ia menunggu. Menunggu gravitasi melakukan tugasnya, dan menunggu saat yang tepat untuk bangkit dari kematian dan menghancurkan mereka yang mengira mereka telah menang.