NovelToon NovelToon
The Queen With 4 Servents

The Queen With 4 Servents

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Isekai
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. Bangkitnya Nyonya Menor

Pagi itu aroma kopi hitam dan mawar yang segar tidak mampu menutupi bau amis dari permusuhan yang menggantung di udara.

Aira duduk di singgasana merahnya di ujung meja makan panjang, jemarinya mencengkeram kain taplak meja hingga buku-bukunya memutih.

Di belakangnya, Zane berdiri seperti patung perunggu, namun ada sesuatu yang berbeda—buku harian hitam milik Aira yang disembunyikan pria itu di saku jasnya terasa seperti bom waktu yang siap meledak.

Dante meletakkan pisau menteganya dengan denting pelan yang mematikan. Mata biru esnya melirik saku jas Zane, lalu beralih ke wajah Aira yang pucat.

"Zane," suara Dante rendah, namun mengandung otoritas yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun.

"Sejak kapan seorang pengawal pribadi menyimpan barang milik majikannya di dalam saku pribadinya? Berikan buku itu padaku. Sekarang."

Zane tidak bergeming. Rahangnya mengeras.

"Ini bukan urusanmu, Dante. Ini adalah urusan keamanan antara aku dan Nyonya."

Kael, yang sedari tadi hanya mengunyah dagingnya dengan kasar, tiba-tiba tertawa sinis. Ia membanting garpunya hingga gelas kristal di dekatnya bergetar.

"Keamanan? Atau kau sedang mencoba menggunakan rahasia itu untuk merangkak masuk ke tempat tidur Nyonya sendirian?" Kael berdiri, matanya merah karena amarah.

"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di kamar terkunci semalam?"

"Kael, jaga bicaramu!" bentak Aira, suaranya gemetar.

"Kenapa? Takut rahasiamu terbongkar, Nyonya?" Kael melangkah maju, memutari meja dengan langkah predator.

"Aku yang paling banyak berkeringat untuk melindungimu di hutan, tapi si bayangan ini malah mendapatkan akses eksklusif ke kamarmu? Aku tidak terima!"

Julian yang duduk dengan tenang di sisi kanan Aira, menyesap teh melatinya dengan elegan, meskipun auranya memancarkan kegelapan yang pekat.

"Tenanglah, Kael. Kau terlihat seperti anjing liar yang kelaparan," Julian meletakkan cangkirnya, lalu menatap Zane dengan tatapan manipulatif.

"Zane, kau tahu bahwa menyimpan rahasia di rumah ini adalah pengkhianatan. Jika buku itu berisi sesuatu yang bisa membahayakan kita semua... atau sesuatu yang sangat 'manis', bukankah lebih adil jika kita membacanya bersama?".

Suasana berubah menjadi sangat panas. Dante berdiri, sosoknya yang tinggi besar membayangi Aira.

"Aku tidak akan mengatakannya dua kali, Zane. Berikan bukunya."

"Langkahi mayatku dulu," tantang Zane, tangannya kini berada di gagang pedangnya.

Brak!

Kael tidak bisa menahan diri lagi. Ia menerjang Zane, melompati meja makan hingga piring-piring porselen beterbangan dan pecah di lantai marmer.

Kael mencengkeram kerah jas Zane dan menghantamkannya ke dinding aula yang dingin.

"Berikan padaku, keparat!" raung Kael.

Zane tidak tinggal diam. Ia menghantamkan sikutnya ke rusuk Kael, membuat pria liar itu terbatuk darah, namun Kael justru

menyeringai dan memberikan pukulan balasan ke rahang Zane.

Mereka bergulat di lantai, menghancurkan kursi-kursi mahoni yang mahal dalam ledakan kekuatan maskulin yang brutal.

Dante melangkah maju untuk melerai, namun ia justru dicegat oleh Julian yang tiba-tiba berdiri menghalangi jalannya.

"Jangan terburu-buru, Dante. Biarkan mereka kelelahan. Sementara itu..." Julian berbalik ke arah Aira, mencengkeram tangan Aira dan menariknya berdiri.

"...bukankah lebih baik kita mencari tahu sendiri dari bibir Nyonya kita?"

"Lepaskan dia, Julian!" Dante menggeram, ia menarik bahu Julian dan sebuah baku hantam antara dua pria yang biasanya paling tenang itu pecah di depan mata Aira.

Dante menghantam wajah Julian, sementara Julian menggunakan kelincahannya untuk membalas dengan tendangan yang mengincar ulu hati Dante.

Aira berteriak, air mata ketakutan mulai mengalir.

"Berhenti! Aku mohon berhenti!"

Di tengah kekacauan itu, di pantulan cermin besar yang tergantung di dinding, Aira melihat Isabella asli.

Sosok itu tertawa terbahak-bahak, matanya berkilat senang melihat pria-pria yang dulu ia kuasai kini saling cabik demi raga seorang penipu.

"Lihatlah, Aira... ini adalah tontonan terbaik yang pernah kulihat. Mereka tidak mencintaimu, mereka hanya ingin menguasai rahasiamu!" bisik suara itu di kepala Aira.

Zane berhasil melepaskan diri dari Kael dan mencoba berlari ke arah Aira, namun Dante yang sedang berkelahi dengan Julian menyadari hal itu.

Dante melepaskan Julian dan menerjang Zane, membuat buku harian hitam itu terlempar ke udara dan jatuh tepat di bawah kaki Aira.

Keempat pria itu berhenti seketika. Mereka semua terengah-engah, dengan luka memar dan darah di wajah mereka. Mereka mengepung Aira dari empat sisi, menciptakan ketegangan yang menyiksa.

"Ambil bukunya, Isabella," ujar Dante dengan napas yang memburu.

"Atau biarkan kami merobek pakaianmu di sini untuk mencari tahu rahasia lain yang kau sembunyikan."

Julian mendekat, menyeka darah di sudut bibirnya dengan gaya sensual yang mematikan.

"Pilih salah satu dari kami untuk membacanya, Nyonya. Siapa yang paling kau percayai? Si anjing setia Zane? Si gila Kael? Dante yang otoriter? Atau... aku?"

Aira gemetar hebat. Ia menatap keempat pria tampan yang kini tampak seperti iblis yang sedang lapar. Hasrat yang tertahan, kecemburuan yang mendidih, dan rahasia identitas "Aira" kini berada di ujung tanduk.

"Aku... aku akan membakarnya," bisik Aira, suaranya pecah.

"Jika kau membakarnya, kami akan memastikan kau tidak akan pernah bisa menulis lagi," ancam Kael sambil melangkah mendekat, auranya begitu mengintimidasi.

Aula utama telah berubah menjadi arena gladiator yang bersimbah amarah. Suara hantaman daging, derit kayu mahoni yang patah, dan caci maki kasar memenuhi ruangan yang biasanya sunyi dan agung itu.

Di tengah kekacauan, piring-piring porselen berterbangan, gelas kristal pecah menjadi ribuan serpihan yang berkilau di lantai marmer seperti berlian berdarah.

Kael dan Zane bergulat di lantai, saling melayangkan pukulan tanpa ampun. Kael, dengan kemarahan liarnya, mencoba merobek jas Zane untuk meraih buku harian hitam itu, sementara Zane bertahan dengan ketenangan seorang pembunuh bayaran yang efisien.

Di sisi lain, Dante dan Julian terlibat dalam baku hantam yang jauh lebih dingin namun mematikan; Dante menggunakan kekuatan fisiknya yang dominan, sementara Julian menyerang titik-titik saraf dengan kelincahan yang mengerikan.

"Berhenti!" teriak Aira berkali-kali, namun suaranya tenggelam dalam amarah keempat pria itu.

Aira gemetar, air mata ketakutan mengalir di pipinya. Ia menoleh ke arah cermin besar di dinding, dan di sana, Isabella asli berdiri dengan tangan bersedekap. Isabella tertawa terbahak-bahak, tawanya yang melengking seolah mengejek kepayahan Aira.

"Lihatlah dirimu, Aira yang malang. Kau menangis seperti pelayan rendahan sementara mereka saling membantai demi raga yang kau curi dariku. Kau akan hancur sebelum matahari terbenam," bisik Isabella dalam cermin dengan kilatan mata hijau yang haus darah.

Sesuatu dalam diri Aira tiba-tiba patah.

Ketakutan yang selama ini mencekiknya mendadak menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh sarafnya. Ia menatap pantulan Isabella di cermin, lalu perlahan—sangat perlahan—bibir Aira terangkat, membentuk sebuah smirk yang sangat tajam dan merendahkan.

Tatapannya menjadi sekaku es, sehijau zamrud yang paling dalam.

"Jadi ini yang kau mau, Isabella?" desis Aira di dalam hatinya, menatap langsung ke mata jiwa sang pemilik asli tubuh itu.

"Kau ingin tontonan? Kau ingin kekejaman? Kalau begitu, mulai detik ini aku akan mengikuti alur kehidupan ini dengan baik. Aku tidak akan menjadi mangsamu lagi. Aku akan menjadi dirimu."

Di dalam cermin, senyum Isabella asli sedikit memudar, digantikan oleh binar penasaran yang gelap.

Aira berdiri dari singgasana merahnya. Ia tidak lagi gemetar. Dengan langkah yang sangat tenang namun berwibawa, ia mengambil gelas anggur yang masih utuh di meja dan membantingnya ke lantai dengan kekuatan yang mengejutkan.

PRANG!

"BERHENTI!" suara Aira kini menggelegar, dingin, dan penuh dengan otoritas yang sanggup membekukan aliran darah.

Keempat pria itu berhenti seketika. Kael yang sedang mencengkeram leher Zane menoleh dengan napas terengah-engah.

Dante yang tangannya sudah bersimbah darah Julian membeku. Mereka semua menatap Aira, dan apa yang mereka lihat membuat mereka tertegun.

Aira berdiri tegak, dagunya terangkat tinggi. Matanya yang tadi basah kini kering dan menatap mereka dengan kehinaan yang murni.

Aura yang terpancar dari tubuhnya bukan lagi aura gadis apartemen yang polos, melainkan aura Nyonya Besar von Raven yang sanggup membantai tanpa mengedipkan mata.

"Lihat diri kalian," ujar Aira, suaranya rendah namun sangat menekan.

"Berkelahi seperti anjing liar di depan meja makanku? Menghancurkan barang-barang mahal hanya demi sebuah buku kecil? Apakah ini kualitas pelayan yang dipelihara keluarga von Raven?"

Julian menyeka darah di sudut bibirnya, matanya menyipit penuh selidik. "Nyonya? Anda..."

"Diam, Julian," potong Aira tajam. Ia melangkah mendekati Dante, merebut buku harian hitam itu dari tangan Dante dengan satu sentakan kasar. Dante tidak melawan, ia terlalu terkejut melihat transformasi drastis pada wanita di depannya.

Aira berjalan menuju perapian yang menyala di sudut ruangan. Tanpa ragu sedikit pun, ia melemparkan buku harian itu ke dalam api. Keempat pria itu tersentak, mencoba maju, namun Aira mengangkat tangannya.

"Siapa pun yang berani mengambil buku itu dari api, akan kupastikan kepalanya terpisah dari tubuhnya malam ini juga," ancam Aira dengan nada yang begitu datar hingga terdengar sangat mengerikan.

Buku itu hangus dalam sekejap, melenyapkan satu-satunya bukti identitas "Aira".

Aira berbalik, menatap keempat pelayannya yang kini berdiri kaku dengan luka memar di wajah mereka.

Ia berjalan mendekati Kael, lalu tanpa peringatan, ia mencengkeram rambut Kael dan menarik kepalanya agar menatapnya.

"Kau ingin menyentuhku semalam, Kael? Kau ingin bagianmu?" Aira berbisik tepat di depan bibir Kael yang berdarah.

"Mulai sekarang, kau tidak akan menyentuhku kecuali aku yang memerintahkannya. Dan jika kau berani memberontak lagi, aku sendiri yang akan memotong lidahmu."

Aira melepaskan Kael dengan jijik. Ia kemudian menatap Dante.

"Dante, bersihkan aula ini. Julian, obati luka mereka. Zane, kembali ke pintumu. Aku ingin kesunyian total dalam sepuluh menit."

Aira berjalan kembali ke singgasananya, duduk dengan posisi yang sangat anggun dan dominan—persis seperti gambar di sampul novelmu. Di dalam hatinya, Aira berbisik dengan tekad yang membaja:

"Aku harus bertahan hidup di sini, setidaknya sampai semuanya kembali seperti semula. Dan untuk bertahan hidup, aku harus menjadi monster yang lebih mengerikan dari mereka berempat."

Di pantulan cermin yang retak, Isabella yang asli hanya tersenyum lebar. Ia tampak sangat puas melihat Aira akhirnya "memeluk" kegelapan yang ia tinggalkan.

Malam itu, keributan fisik berakhir, namun perang psikologis yang jauh lebih kejam baru saja dimulai. Aira bukan lagi mangsa; ia telah menjadi pemilik neraka ini.

1
Airin
makasih thooor. semangat
Anisa675
Widiiiih badas
Anisa675
gilaaaa, jadi Isabella udah meninggal??
Anisa675
mantap Aira
Anisa675
wah mantap Thor. kebayang badan luka-luka, mandi air garam
.
Kaya cerita Anime ya,
Lanjuutt
Anisa675: Iya bener, kayanya bakal lebih seru tambah visualnya thor
total 1 replies
Eka Putri Handayani
lebih bnyk lg up nya kak
Airin: selalu Thor. semangat
total 4 replies
Yasa
semangat updatenya thor
Senja_Puan: Makasih kakak😍 semangat juga bacanya
total 1 replies
Anisa675
nah kan bener
Anisa675
jadi curiga sama Isabella asli
Anisa675
Bahaya ini, dari awal Zane yang paling punya insting kuat, dan cara dia eksekusi Aira itu udah bener-bener bikin deg-degan
Senja_Puan: Nah, adakan perkembangannya😄
total 1 replies
Anisa675
suka, karakternya jadi kuat
Anisa675
ngerii-ngeri sedap Aira
Anisa675
emang, strategi Aira beracun bangetttt
Anisa675
santai Kael... rusuh Mulu dah
Anisa675
Keren-keren, bisa berubah secepat itu. strateginya emang gitu kalia ya? jadi kejam tapi ada sisi lembutnya gitu
Anisa675
transformasinya langsung drastislah. kenapa ga dari awal thoooor
Anisa675: ya biar seru ya🤭
total 2 replies
Anisa675
Jangan lemah Aira!!!!
Anisa675
kebayang berapa nyebelinnya Isabella asli ini
Anisa675
kesel banget, hampir aja ketahuan. tapi udah pada curiga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!