seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 9
"Soto ayam dua, satu tanpa koya, satu ekstra jeruk nipis. Dan es teh manisnya dua, ya, Pak," Andi memesan dengan cekatan begitu mereka duduk di kursi plastik biru yang sudah agak memudar warnanya.
Warung soto itu penuh sesak dengan karyawan kantor dari gedung-gedung sekitar, namun tak ada yang menyadari bahwa wanita dengan blazer mahal di pojok ruangan adalah CEO dari salah satu perusahaan konstruksi terbesar di negeri ini. Di sini, Siska merasa anonim, dan ia mencintai setiap detiknya.
"Kamu tahu," Siska memulai sembari mengelap sendoknya dengan tisu, "tadi saat melihat Mahesa, aku sempat terpikir tentang Arlan. Bagaimana kalau suatu saat dia tidak ingin melanjutkan apa yang sudah kita bangun? Bagaimana kalau dia punya gairahnya sendiri yang sama sekali berbeda dari dunia beton dan angka ini?"
Andi menuangkan kecap manis ke piring kecil, lalu menatap Siska dengan tenang. "Maka kita biarkan dia pergi, Sis. Kita biarkan dia membangun 'jembatannya' sendiri. Kita sudah belajar dari cara Ayahmu dulu, kan? Memaksa seseorang masuk ke dalam sepatu yang ukurannya tidak pas hanya akan membuat langkahnya pincang."
Siska mengangguk pelan, rasa hangat menjalar di dadanya, bukan hanya karena uap soto yang baru saja dihidangkan, tapi karena jawaban Andi yang selalu berhasil menenangkan badai pikirannya. "Aku hanya ingin dia bahagia. Bukan sekadar sukses secara finansial, tapi bahagia karena dia melakukan apa yang dia cintai."
"Dia akan baik-baik saja," Andi meyakinkan sambil menyodorkan potongan jeruk nipis pada Siska. "Selama dia punya kejujuran seperti ibunya dan sedikit kenekatan seperti ayahnya, dia akan menemukan jalannya."
Mereka makan dalam diam selama beberapa menit, menikmati kesederhanaan di tengah riuhnya suara denting sendok dan obrolan orang-orang di sekitar. Tidak ada asisten yang membisikkan jadwal, tidak ada notifikasi mendesak yang harus segera dibalas.
"Besok tim riset lingkungan akan mempresentasikan desain 'Kota Hutan' di Kalimantan Timur," Andi berkata setelah menghabiskan setengah porsinya. "Ini proyek idealis, Sis. Marginnya tidak besar, tapi dampaknya untuk masa depan sangat masif. Ayahmu sepertinya ragu soal angka-angkanya."
Siska menyesap es teh manisnya, lalu tersenyum tipis. "Ayahmu memang selalu soal angka. Tapi aku adalah CEO-nya sekarang. Sampaikan pada timmu, siapkan argumen terbaik soal keberlanjutan ekosistem. Aku yang akan meyakinkan Dewan Komisaris."
Andi tertawa, matanya berbinar bangga. "Itu istriku. Sang pelindung idealisme."
"Bukan pelindung idealisme, Ndi. Aku hanya ingin memastikan bahwa saat Arlan dewasa nanti, dia masih punya hutan untuk dilihat, bukan cuma hutan beton yang kita bangun," sahut Siska tegas.
Saat mereka beranjak dari warung tersebut, matahari Jakarta terasa menyengat, namun langkah mereka terasa ringan. Di parkiran, Andi membukakan pintu mobil untuk Siska, namun sebelum Siska masuk, ia menahan tangan suaminya sebentar.
"Ndi, terima kasih untuk makan siang yang... sangat manusiawi ini."
Andi mengecup dahi Siska singkat. "Sama-sama, CEO. Sekarang, mari kembali ke menara kaca dan ubah dunia sedikit lagi."
Mobil mereka meluncur membelah kemacetan, kembali menuju hiruk-pikuk tanggung jawab, namun dengan janji yang terus terjaga: bahwa di tengah kemegahan apa pun, mereka akan selalu punya ruang untuk soto ayam, tawa kecil, dan kejujuran yang tak ternilai harganya.
Keesokan paginya, suasana di ruang rapat Dewan Komisaris terasa jauh lebih dingin dibandingkan warung soto kemarin siang. Beberapa pria paruh baya dengan setelan jas formal menatap layar proyektor dengan kening berkerut. Di sana, Andi baru saja menyelesaikan presentasi tentang proyek "Kota Hutan"—sebuah konsep ambisius yang mengintegrasikan struktur bangunan dengan reboisasi masif.
"Secara teknis, ini brilian, Andi," ujar salah satu komisaris senior, Pak Burhan, sambil meletakkan kacamatanya. "Tapi secara finansial, ini adalah mimpi buruk. Pengembalian investasinya tertunda lima tahun lebih lama dibandingkan proyek apartemen standar. Mengapa kita harus mengambil risiko ini?"
Andi melirik Siska, memberikan ruang bagi sang CEO untuk mengambil alih kendali.
Siska berdiri pelan, berjalan menuju jendela yang memperlihatkan kabut polusi yang menyelimuti cakrawala Jakarta. "Pak Burhan, dan para anggota dewan yang terhormat. Jika kita hanya bicara tentang profit kuartal depan, proyek ini memang bukan jawabannya."
Ia berbalik, menatap mereka satu per satu dengan ketegasan yang tenang. "Tapi Gunawan Group tidak dibangun hanya untuk bertahan satu atau dua dekade. Kita sedang membangun warisan. Jika kita terus membangun gedung beton tanpa mempedulikan ekosistem, suatu saat nanti tidak akan ada orang yang sanggup membeli properti kita karena kotanya sudah tidak layak huni."
Siska mengetuk meja pelan. "Proyek ini adalah pernyataan posisi kita di pasar masa depan. Kita bukan lagi sekadar kontraktor; kita adalah pengembang peradaban. Angka-angka yang Anda khawatirkan itu akan tertutup oleh nilai merek kita yang akan naik sebagai pionir pengembang hijau di Asia Tenggara."
Pak Gunawan, yang duduk di sudut ruangan sebagai Komisaris Utama, tetap diam, namun matanya terus mengikuti gerak-gerik putrinya dengan rasa bangga yang tersembunyi.
"Saya mempertaruhkan reputasi saya sebagai CEO untuk proyek ini," lanjut Siska tanpa ragu. "Andi telah memastikan jembatan teknisnya kuat. Sekarang, saya meminta Anda semua untuk memiliki keberanian yang sama dalam membangun jembatan ekonomi bagi generasi setelah kita."
Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa saat. Pak Burhan saling lirik dengan komisaris lainnya. Akhirnya, Pak Gunawan berdeham, memecah kesunyian.
"Saya setuju dengan CEO," suara Pak Gunawan berat namun mantap. "Sudah saatnya perusahaan ini berhenti hanya mengejar angka dan mulai mengejar makna. Lanjutkan proyeknya."
Ketukan palu sidang mengakhiri perdebatan itu. Saat orang-orang mulai meninggalkan ruangan, Andi menghampiri Siska dan berbisik pelan, "Tadi itu sangat hebat, Sis. Kamu terdengar seperti seseorang yang benar-benar tahu apa yang dia perjuangkan."
Siska menghela napas panjang, melepaskan ketegangan yang sempat menghimpit bahunya. "Aku hanya mengatakan apa yang sering kita bicarakan di rumah, Ndi. Ternyata, kejujuran jauh lebih persuasif daripada grafik keuangan yang rumit."
Andi merangkul pundak Siska saat mereka berjalan keluar. "Jadi, karena proyek besar ini sudah disetujui, bagaimana kalau kita merayakannya dengan menjemput Arlan lebih awal dan mengajaknya melihat lokasi pembibitan pohon sore ini? Dia harus tahu dari mana 'hutan' itu berasal."
Siska tersenyum manis, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu suaminya. "Ide bagus. Mari kita tunjukkan padanya bahwa orang tuanya tidak hanya membangun gedung, tapi juga menanam masa depan."
Mereka melangkah menuju lift, meninggalkan ruang rapat yang kaku itu dengan perasaan menang—bukan hanya karena sebuah proyek disetujui, tapi karena mereka berhasil menjaga idealisme mereka tetap hidup di tengah dunia yang sering kali hanya memuja materi.