Raia dan Arlan adalah dua kutub yang tak terpisahkan sejak kecil. Tumbuh besar berdampingan, rahasia mereka tersimpan di bawah pohon mangga belakang rumah dan di dalam kotak bekal yang selalu mereka bagi. Bagi Raia, Arlan adalah pelindung sekaligus pengganggu nomor satu. Namun, bagi Arlan, Raia adalah satu-satunya alasan ia selalu ingin pulang.
Garis persahabatan mulai kabur saat kedewasaan menyapa. Ketakutan akan merusak kenyamanan membuat keduanya memilih bungkam, menyimpan perasaan masing-masing di balik candaan kasar dan perhatian kecil yang tersirat.
Puncaknya, sebuah perpisahan besar harus terjadi. Arlan memutuskan mengejar mimpi dan kariernya ke Jerman, meninggalkan Raia dengan sebuah kalung perak dan janji yang menggantung di bandara. Jarak sepuluh ribu kilometer dan perbedaan zona waktu menjadi ujian sesungguhnya. Di Jakarta, Raia harus belajar berdiri sendiri sambil menepis godaan pria lain yang menawarkan kepastian, sementara di Munich, Arlan berjuang keras demi masa depan y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berangkat kerja
Pagi itu, Raia mengikat tali sepatunya dengan gerakan yang mekanis. Hidup harus terus berjalan, meski ada satu ruang di hatinya yang masih terasa hampa. Jawaban dari ibu Arlan kemarin—bahwa Arlan sengaja memutus kontak demi fokus kuliah—masih terngiang, namun Raia memilih untuk membungkusnya rapat-rapat.
Raia berangkat kerja dengan sepeda motornya, membelah kemacetan kota yang bising. Di lampu merah, ia sempat melirik ke arah langit. Pesawat melintas di sela awan pagi, meninggalkan jejak putih yang perlahan pudar. Dulu, ia pasti akan teringat Arlan. Namun sekarang, ia segera mengalihkan pandangannya ke aspal.
Di kantor, Raia menenggelamkan diri dalam tumpukan laporan dan surel pelanggan.
Kesibukan menjadi pelarian terbaiknya. Setiap kali bayangan Arlan muncul—tentang bagaimana dulu mereka sering sarapan bubur ayam sebelum berangkat kuliah—Raia segera menyesap kopinya yang sudah dingin dan kembali mengetik.
"Ra, kok melamun?" tegur seorang rekan kerja.
Raia tersenyum tipis. "Enggak, cuma kurang tidur saja."
Sore harinya, saat jam pulang kantor tiba, Raia melewati sebuah toko buku. Di etalasenya, terpajang buku arsitektur dengan sampul megah.
Ia teringat ambisi Arlan. Sejenak, tangannya merogoh ponsel di saku, hendak mengecek apakah ada satu baris pesan yang masuk.
Namun, ia mengurungkan niatnya.
Ia menyadari bahwa sementara Arlan sibuk membangun mimpinya di negeri orang, ia juga harus sibuk membangun hidupnya sendiri di sini. Raia memacu motornya pulang, tidak lagi berharap pada notifikasi yang tak kunjung datang. Baginya, bekerja dan melangkah maju adalah cara terbaik untuk menghormati kenangan yang kini terasa asing itu.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, dan Raia masih terpaku di depan layar monitor. Kantor sudah mulai sepi, hanya menyisakan suara dengung AC dan ketukan jemarinya pada papan ketik. Cahaya lampu neon memantul di meja kerja yang penuh dengan berkas proyek.
Raia sengaja mengambil jam lembur. Baginya, pulang ke rumah berarti harus berhadapan dengan kesunyian yang sering kali memaksanya teringat kembali pada Arlan. Di kantor, ia punya alasan untuk tetap sibuk.
Saat sedang menyusun laporan bulanan, ponselnya bergetar di atas meja. Jantungnya sempat berdesir pelan—sebuah refleks lama yang belum hilang. Ia melirik layar, berharap ada nama yang sudah bertahun-tahun tak muncul. Namun, itu hanyalah pesan dari grup kantor tentang jadwal rapat besok pagi.
Raia menghela napas panjang. Ia teringat ucapan ibu Arlan tentang Arlan yang "putus kontak" demi fokus kuliah.
"Kamu sibuk kuliah di sana, aku sibuk kerja di sini," gumam Raia pada diri sendiri. "Adil, kan?"
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap ke arah jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota. Dulu, Arlan pernah berjanji akan merancang gedung tinggi seperti yang sedang Raia lihat sekarang.
Raia bertanya-tanya, di belahan bumi yang lain, apakah Arlan juga sedang lembur? Apakah Arlan sedang menatap jendela yang sama dan teringat padanya, ataukah nama 'Raia' sudah terkubur di bawah tumpukan ambisi dan buku-buku arsitekturnya?
Raia menggelengkan kepala, mengusir pikiran itu. Ia menutup laptopnya, membereskan tas, dan bersiap pulang. Ia sadar, tidak ada gunanya mencari kabar dari orang yang sengaja menghilang.
Raia menarik napas panjang, lalu menekan tombol save untuk terakhir kalinya malam itu. Laporan bulanan yang menjadi bebannya sejak pagi akhirnya rampung. Suara klik dari tetikusnya terasa seperti tanda titik yang tegas bagi hari yang panjang.
Ia menyandarkan punggung ke kursi kayu kantor yang kaku. Di sekelilingnya, meja-meja rekan kerjanya sudah kosong, hanya menyisakan beberapa lampu meja yang masih menyala redup.
Raia menatap layar monitor yang kini menampilkan wallpaper standar—pemandangan gunung yang tenang. Dulu, fotonya bersama Arlan di bawah pohon seri adalah yang menghiasi layar itu. Namun, sejak Arlan memilih untuk "putus kontak" demi fokus kuliah, Raia menggantinya.
Raia merapikan alat tulisnya ke dalam laci dengan gerakan yang sangat teratur. Ia berusaha menata hatinya serapi meja kerjanya. Jika Arlan bisa begitu disiplin memutus komunikasi demi masa depan, maka Raia pun harus disiplin menjaga perasaannya agar tidak terus-menerus terjebak pada kenangan.
"Selesai," bisiknya pada keheningan ruangan.
Sambil mengenakan jaketnya, Raia melirik ponsel yang tergeletak pasif di atas meja. Tidak ada notifikasi pesan masuk, apalagi dari Arlan. Kabar bahwa Arlan "sibuk kuliah" kini bukan lagi sebuah alasan yang ia tunggu-tunggu penjelasannya, melainkan sebuah kenyataan yang ia terima sebagai bagian dari kedewasaan.
Ia mematikan lampu meja, mengunci laci, dan melangkah keluar dari ruangan kantor yang sunyi. Langkah kakinya menggema di lorong sepi, seolah menegaskan bahwa hidupnya terus berjalan maju, meski tanpa kabar dari seseorang yang dulu ia anggap sebagai dunianya.
Raia akhirnya berhasil menyelesaikan pekerjaannya dan mulai berdamai dengan keadaan.
Raia melangkah keluar dari lobi kantor yang dingin. Udara malam langsung menyergap kulitnya, membawa aroma aspal basah sisa hujan sore tadi. Ia menuntun motornya keluar dari parkiran yang kini hanya menyisakan beberapa kendaraan.
Di sepanjang jalan pulang, lampu-lampu jalanan kuning berpendar, menciptakan bayangan panjang di aspal. Raia memacu motornya dengan kecepatan sedang. Pikirannya melayang pada percakapannya dengan ibu Arlan tadi siang. Kata-kata "putus kontak demi fokus kuliah" terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
Ia melewati jembatan penyeberangan tempat mereka dulu sering berhenti sejenak untuk melihat kereta api lewat. Raia tidak menoleh. Ia menatap lurus ke depan. Baginya, setiap sudut kota ini adalah ranjau kenangan, dan ia sudah lelah harus terus "terluka" setiap kali teringat Arlan.
Sesampainya di depan rumah, suasana sepi menyambutnya. Hanya ada lampu teras yang menyala kuning temaram. Raia mematikan mesin motor, lalu duduk sebentar di atas jok, membiarkan keheningan malam menenangkan gemuruh di dadanya.
Ia merogoh saku, mengeluarkan kunci rumah. Namun, matanya tak sengaja melirik ke arah kotak pos kayu di samping pagar yang sudah agak berkarat. Ada sesuatu yang menyembul dari sela-selanya—sebuah amplop putih tebal dengan prangko luar negeri yang sangat asing.
Jantung Raia berdegup kencang. Ia ragu, apakah itu tagihan, surat nyasar, ataukah... sebuah kabar yang selama ini ia tunggu namun dalam bentuk yang tak terduga , Tapi Raia memilih untuk membukanya nanti saja , karna saat ini badannya capek , dan tidak berniat untuk membaca hal apapun , karna di kantor sudah banyak pekerjaan yang dia kerjakan dan tentunya dia membacanya terlebih dahulu sebelum mengerjakan, jangan sampai salah nanti di marai boskan.
" Aduh , Lampu rumah belum Nyala lagi , mana ibu belum pulang dari pengajian tetangga deh , lama amat perasaan ibu tadi mengirimku pesan dari siang " gumang Raia.