Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.
Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.
Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.
୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Bercerita
Saat aku berjalan di koridor menuju ruang santai Nyonya Rose, aku mendengar Riffe berkata, "Kamu mau membaca salah satu novel romansa lagi?"
"Iya. Jadi lebih baik kamu pergi," kata Nyonya Persie sambil tertawa.
Riffe keluar dari ruang santai dan mengangguk padaku sebelum pergi.
Novel romansa?
"Baiklah. Kita sampai di mana?" tanya Nyonya Persie.
Nyonya Rose menjawab, "Beau sedang dalam perjalanan untuk memberi tahu Daisy bahwa dia mencintainya."
Aku berhenti di luar pintu dan mendengar Nyonya Persie membaca.
"Aku menghentikan trukku di depan rumah Daisy. Aku turun dan berlari ke pintu. Aku mengetuk dengan tidak sabar."
Dia berhenti sejenak. "Oh, jantungku."
"Apa?" tanya Nyonya Rose. "Jangan berhenti sekarang."
Senyum muncul di bibirku saat aku bersandar di dinding.
"Ketika Daisy membuka pintu, aku meraih lehernya dan menariknya mendekat. Aku menatap matanya. Aku mencintaimu, Daisy Adams. Aku selalu mencintaimu."
"Aww," kata Nyonya Rose pelan. "Akhirnya."
"Oh gak," gumam Nyonya Persie.
"Apa?"
"Daisy menjauh dan menggeleng. Tidak. Kamu punya waktu bertahun-tahun untuk mengatakan itu."
"Jangan, Daisy," bisik Nyonya Rose, benar-benar larut dalam cerita.
"Jangan lakukan ini pada kita," lanjut Nyonya Persie.
Dia berhenti sebentar lalu melanjutkan dengan suara penuh emosi.
"Ketika Daisy menutup pintu, rasa sakit memenuhi jiwaku."
Aku mendengar isakan pelan.
Saat aku mengintip ke dalam ruangan, aku melihat kedua wanita itu mengusap mata mereka.
Nyonya Persie melihatku dan tersenyum di tengah air mata.
"Masuklah, Cherry."
Aku cepat menggeleng. "Aku gak mau mengganggu."
"Oh diam saja. Duduklah."
Aku masuk ke ruang santai dan duduk di salah satu kursi.
"Kami biasanya membaca selama satu jam setelah makan malam," jelas Nyonya Persie. "Lalu kami menonton satu episode acara TV. Kamu boleh bergabung kapan saja."
"Terima kasih."
"Buku ini terlalu sedih dan kami sudah hampir selesai. Kita mulai buku baru supaya Cherry gak bingung," kata Nyonya Rose.
Nyonya Persie berdiri dan berjalan ke rak buku. "Apa yang ingin kamu baca? Kamu punya genre favorit?"
Aku menggeleng.
"Waktu kecil aku gak diizinkan membaca novel ataupun cerita seperti itu. Aku ikut saja apa yang kalian pilih."
"Tuhan. Aku bisa mati tanpa buku," kata Nyonya Persie. "Apa lagi yang gak diizinkan orang tuamu?"
Sial.
"Uhm ...."
Aku ragu sebentar, tapi akhirnya menjawab jujur. "Orang tuaku terlalu mengatur. Terutama Mama. Dia menentukan semuanya untukku." Aku tertawa kecil. "Saat aku mulai menghasilkan uang dari media sosial, aku membeli pakaian sendiri. Dia marah sekali."
"Kenapa?" tanya Nyonya Persie. "Menurutku pakaian kamu bagus."
"Mereka lebih suka kalau aku memakai pakaian sederhana."
Nyonya Persie mengambil buku dari rak lalu kembali duduk.
"Kedengarannya kamu gak punya masa kecil yang bahagia," kata Nyonya Rose. "Sekarang aku mengerti kenapa kamu gak ingin menelepon keluargamu."
"Aku gak berasal dari keluarga yang penuh kasih sayang," jawabku.
Mataku menelusuri wajah cantiknya. Sesaat aku bertanya-tanya apakah dia selalu buta.
Aku berdeham lalu berkata, "Tapi aku ingin kalian tahu, aku suka tinggal di sini."
"Itu membuatku senang," kata Nyonya Rose. Dia menoleh ke arah Nyonya Persie. "Buku apa yang kamu pilih? Bacakan sinopsisnya."
Nyonya Persie tersenyum lalu tiba-tiba menyerahkan buku itu padaku.
"Aku sudah membacakan selama bertahun-tahun. Kali ini aku juga ingin mendengarkan."
"Oh."
Aku mengambil buku itu. Sarafku langsung tegang saat membaca tulisan di belakang buku.
Aku berdeham dan mulai membaca. "Para pembaca harus bersiap untuk kisah epik tentang cinta dan keluarga ...."
Aku berhenti.
Erotis?
Dengan ragu aku mulai membaca bab pertama. Tapi lama-lama aku ikut terbawa cerita. Saat sampai bab dua, aku tiba-tiba tertawa.
"Ehm ... di buku ini ada kata-kata kasar. Aku harus membaca semuanya?"
Nyonya Persie tertawa. "Baca semuanya. Jangan ada yang dilewati."
Aku menjilat bibirku lalu melanjutkan membaca.
Mataku langsung membesar.
"Oh ... wow," bisikku.
Nyonya Rose tertawa keras. "Selamatkan gadis itu, Keii. Pilih buku yang lebih ringan dulu."
Nyonya Persie tertawa lalu mengambil buku lain. "Yang ini cuma level satu pedasnya."
"Level satu pedas itu apa?" tanyaku.
"Artinya cuma ada beberapa adegan panas dan gak terlalu ekstrem."
Tuhan.
Aku mulai membaca lagi. Saat sampai bab tiga, ceritanya jauh lebih ringan.
Plotnya semakin menarik dan aku terus membaca. Saat sampai bagian ketika tokoh perempuan dikhianati sahabatnya, aku berkata, "Teman yang buruk sekali."
"Mungkin kita harus minum teh. Kamu pasti haus setelah membaca begitu lama," kata Nyonya Rose.
"Aku yang buat teh," kataku sambil berdiri dan meletakkan buku di meja.
Saat aku bangkit, Nyonya Persie melambaikan tangan.
"Kami ikut ke dapur. Aku mau lihat apakah masih ada kue cokelat buatan Livinia."
Aku menunggu mereka lalu mengikuti ke dapur.
Setelah mengisi air ke dalam ketel, aku mencari cangkir teh di lemari.
"Ketemu," kata Nyonya Persie. Saat aku menoleh, aku melihat dia memberikan kue pada Nyonya Rose lalu memberikan satu padaku.
"Terima kasih," kataku sebelum menggigitnya.
Sambil mengunyah, aku menyiapkan teh chamomile. Aku melihat kedua wanita itu dan memikirkan waktu singkat aku di sini. Sejauh ini, tinggal di sini terasa menyenangkan.
Jauh lebih baik daripada tinggal di rumah bersama keluargaku.
Aku berharap bisa tinggal di sini cukup lama sebelum Cavell menjalankan rencana apa pun yang dia miliki untukku.