NovelToon NovelToon
Sahabat Jadi Suamiku.

Sahabat Jadi Suamiku.

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Raia dan Arlan adalah dua kutub yang tak terpisahkan sejak kecil. Tumbuh besar berdampingan, rahasia mereka tersimpan di bawah pohon mangga belakang rumah dan di dalam kotak bekal yang selalu mereka bagi. Bagi Raia, Arlan adalah pelindung sekaligus pengganggu nomor satu. Namun, bagi Arlan, Raia adalah satu-satunya alasan ia selalu ingin pulang.
Garis persahabatan mulai kabur saat kedewasaan menyapa. Ketakutan akan merusak kenyamanan membuat keduanya memilih bungkam, menyimpan perasaan masing-masing di balik candaan kasar dan perhatian kecil yang tersirat.
Puncaknya, sebuah perpisahan besar harus terjadi. Arlan memutuskan mengejar mimpi dan kariernya ke Jerman, meninggalkan Raia dengan sebuah kalung perak dan janji yang menggantung di bandara. Jarak sepuluh ribu kilometer dan perbedaan zona waktu menjadi ujian sesungguhnya. Di Jakarta, Raia harus belajar berdiri sendiri sambil menepis godaan pria lain yang menawarkan kepastian, sementara di Munich, Arlan berjuang keras demi masa depan y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pamit

Aroma kopi di terminal keberangkatan internasional terasa lebih pahit dari biasanya. Aku meremas ujung blusku, menatap tumpukan koper di samping Arlan. Laki-laki itu baru saja menjatuhkan bom atom di tengah sarapan nasi uduk kami minggu lalu: Dia diterima bekerja di Jerman. Kontrak dua tahun.

"Ra, jangan ditekuk terus mukanya. Nanti diculik penunggu bandara, lho," Arlan mencoba melucu, tapi matanya tidak bisa berbohong. Ada gurat gelisah di sana.

"Kenapa baru kasih tahu sekarang, Lan? Kita ini sahabat atau cuma teman lewat?" suaraku bergetar. Aku benci betapa rapuhnya aku saat ini.

Arlan menghela napas panjang. Dia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang campur aduk dengan bau sabun bayi—khas Arlan. "Karena aku tahu kamu bakal begini. Kalau aku kasih tahu sebulan lalu, kamu bakal mogok makan sebulan, kan?"

"Sok tahu," bisikku, meski dalam hati aku tahu dia benar.

Suara pengumuman keberangkatan menggema di langit-langit terminal yang tinggi. Arlan meraih pundakku, memaksaku menatap matanya. "Dua tahun itu sebentar, Ra. Aku harus ke sana supaya nanti kalau pulang, aku sudah punya modal buat... masa depan."

"Masa depan siapa?" tanyaku polos.

Arlan tersenyum miring, senyum jahil yang dulu sering membuatku kesal di bawah pohon mangga. Dia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah kalung perak sederhana dengan bandul berbentuk daun mangga kecil.

"Simpan ini. Jangan hilang, jangan dikasih ke kucing, apalagi ke cowok lain yang nanti coba dekati kamu pas aku nggak ada," ucapnya sambil memasangkan kalung itu ke leherku. Jemarinya yang hangat sempat menyentuh tengkukku, mengirimkan sengatan listrik yang membuat napas setinggi dadaku sesak.

"Lan..."

"Jaga diri, ya? Jangan telat makan. Jangan begadang cuma buat nonton drakor," Arlan menepuk puncak kepalaku pelan, lalu berbalik menuju gerbang keberangkatan.

Dia tidak menoleh lagi. Mungkin dia takut jika dia menoleh, dia tidak akan sanggup melangkah pergi. Aku berdiri mematung di sana, memegang bandul kalung pemberiannya. Di tengah keramaian bandara, aku baru menyadari satu hal: Arlan tidak pernah bilang "sampai jumpa". Dia hanya memintaku menunggu.

Sisa Aroma Hujan dan Keberangkatan

Suasana di terminal keberangkatan terasa begitu dingin, kontras dengan telapak tanganku yang berkeringat dingin. Aku benci perpisahan. Apalagi perpisahan yang tidak memiliki tanggal pasti kapan akan bertemu kembali.

"Kamu benar-benar harus pergi sekarang?" tanyaku, suara kaku, berusaha menahan agar mataku tidak memanas.

Arlan berhenti melangkah. Dia memutar tubuhnya, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada keraguan di sana, tapi juga ada tekad yang keras. "Ra, ini kesempatan sekali seumur hidup. Beasiswa dan kontrak kerja di Munich itu nggak datang dua kali."

"Aku tahu," potongku cepat. "Aku cuma... terbiasa ada kamu yang berisik di sebelahku. Siapa yang bakal benerin genteng rumah kalau bocor? Siapa yang bakal jemput aku kalau ban motorku kempes malam-malam?"

Arlan terkekeh pelan, tawa yang biasanya menyebalkan tapi hari ini terdengar seperti musik yang paling kurindukan. Dia melangkah mendekat, sangat dekat hingga aku bisa melihat pantulan diriku yang menyedihkan di matanya.

"Kamu punya ponsel, kan? Video call aku. Biarpun beda zona waktu, aku bakal tetap angkat kalau itu dari kamu," ucapnya lembut. Dia meraih tanganku, menggenggamnya erat. "Janji satu hal, Ra?"

"Apa?"

"Jangan ganti nomor HP. Dan jangan biarkan pohon mangga di belakang rumah mati. Itu saksi bisu kita."

Aku mencoba tersenyum meski getir. "Dasar aneh. Pohon mangga kok dipikirin."

Tiba-tiba, Arlan menarikku ke dalam pelukannya. Dekapan yang singkat, tapi terasa seperti selamanya. Aroma parfumnya—campuran kayu cendana dan dinginnya AC bandara—seolah meresap ke dalam bajuku, seolah ingin ikut pulang bersamaku.

"Aku pergi dulu," bisiknya tepat di telingaku.

Dia melepaskan pelukannya, mengenakan ranselnya, dan mulai berjalan menuju pintu pemeriksaan dokumen. Di ambang pintu, dia berhenti sejenak. Dia tidak melambaikan tangan, dia hanya menyentuh dadanya sendiri, lalu menunjuk ke arahku. Sebuah isyarat rahasia yang hanya kami berdua yang tahu sejak kecil: Aku simpan kamu di sini.

Aku berdiri mematung sampai punggungnya hilang ditelan kerumunan orang. Di tanganku, masih terasa sisa kehangatan genggamannya. Saat itulah aku sadar, bagian dari diriku ikut terbang bersama pesawat yang sebentar lagi lepas landas.

saat detik-detik terakhir sebelum ia benar-benar hilang dari pandangan. Momen di mana kata "sahabat" terasa terlalu sempit.

Langkah Arlan terhenti tepat di depan garis kuning pemeriksaan paspor. Ia menoleh sekali lagi, menatapku yang masih berdiri mematung di balik pagar pembatas. Jarak kami hanya lima meter, tapi rasanya seperti terpisah samudera.

"Ra! Sini sebentar!" teriaknya pelan, mengabaikan antrean di belakangnya.

Aku berlari kecil mendekat. Arlan mengulurkan tangannya melewati pagar, meraih jemariku untuk terakhir kalinya. Genggamannya kali ini lebih keras, seolah ia sedang menyalurkan seluruh keberanian yang ia punya ke telapak tanganku.

"Aku lupa bilang satu hal," ucapnya dengan napas sedikit memburu.

"Apa?" jantungku berpacu. Aku berharap dia bilang 'Aku nggak jadi pergi' atau 'Aku sayang kamu'.

"Jangan pernah merasa sendirian. Kalau kamu kangen, lihat bulan. Di Munich atau di sini, bulannya tetap sama, kan? Anggap saja itu layar video call raksasa kita," Arlan tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Dia yang kukenal tangguh, ternyata rapuh juga di depan pintu keberangkatan ini.

Aku hanya bisa mengangguk pelan, tenggorokanku terlalu sakit untuk mengeluarkan suara. Aku takut jika aku bicara, air mataku akan tumpah dan membuatnya makin berat untuk melangkah.

"Janji ya, Ra? Tunggu aku sukses. Jangan cari pengganti tukang tambal ban atau tukang benerin genteng dulu," candanya lagi, namun kali ini suaranya serak.

"Iya, Lan. Janji. Hati-hati di sana," bisikku akhirnya.

Arlan melepaskan genggamannya perlahan. Ujung jarinya sempat menyapu punggung tanganku sebelum benar-benar terlepas. Ia berbalik, menyerahkan paspornya kepada petugas, dan tanpa menoleh lagi, ia melangkah masuk ke dalam lorong gelap menuju pesawat.

Aku terus berdiri di sana. Menatap punggungnya yang semakin menjauh, semakin kecil, hingga benar-benar hilang di balik belokan. Saat itulah, pertahananku runtuh. Setetes air mata jatuh mengenai bandul kalung mangga yang ia berikan tadi.

Pesawat Boeing 747 itu menderu di landasan pacu beberapa menit kemudian. Aku melihatnya naik ke langit, membelah awan, membawa pergi separuh jiwaku menuju negeri yang belum pernah kupijak. Di bawah pohon mangga belakang rumah nanti, kursinya akan kosong. Dan aku baru menyadari, rumah bukan lagi tentang bangunan, tapi tentang seseorang yang baru saja terbang sepuluh ribu kaki di atas kepalaku.

1
Tamirah Spd
Kenapa Arlan menyalahkan Raia dgn laki laki lain selama diluar negeri gak ada komunikasi dgn alasan sibuk kuliah.Tiba tiba jadi atasan dan tiba tiba dia bantu kesembuhan Ayah Raia dan Pendidikan, dimana alur cerita nya Thor....????
Heni Ratna
Hubungan Raia dan Bagus,apa kabar?semakin penasaran dengan konfliknya
Tamirah Spd
Cerita nya masih datar belummm ada konflik lanjut Thor.
Tamirah Spd
Sahabat tapi mesra lanjut Thor belum tahu alur cerita nya masih mukadimah.
Ganendra Dimitri
kok q jadi tambah bingung ma ceritanya thor
Heni Ratna: anda tidak sendirian,,,sy jg demikian lini masa nya yg agak bias,,,tapi tetap penasaran dengan kelanjutan konfliknya
total 3 replies
Alfina Rosa
Seperti.a cerita.a bagus, aku terusin baca.a ea thour...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!