Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE SEMBILAN
Mobil sport milik Siena yang dikemudikan Bastian berhenti tepat di garasi mobil dikediaman ayah Alexander.
Siena segera melepas seatbelt, menyambar tas nya yang sedari tadi ia letakkan di kursi jok belakang. Setelah itu, ia turun dan menutup pintu mobilnya dengan keras.
Braakkk!!!
Bastian yang melihat itu hanya menghela nafas pendek lalu segera menyusul turun. Namun, saat tangannya hendak meraih handle pintu tiba-tiba ponsel milik yang ia simpan didalam saku celana berdering.
Segera Bastian merogoh dan mengeluarkan telepon pintar itu dari dalam saku celananya. Kedua alisnya bertaut kecil saat membaca nama Darian terpampang jelas dilayar ponselnya.
Tanpa pikir panjang, Bastian segera menggeser tombol hijau lalu menempelkan benda pipih itu ditelinga kirinya.
"Katakan ada hal penting apa Dar?" tanya Bastian tanpa basa-basi tapi pandangan matanya tertuju pada Siena yang sudah melangkah masuk kedalam rumah.
"....."
"Hmm, aku segera kembali". Kata Bastian tegas
Setelah itu, tanpa menunggu sahutan dari Darian, Bastian langsung mengakhiri sambungan telepon itu sepihak. Ia simpan kembali ponsel nya kedalam saku celana lalu segera turun dari dalam mobil dan bergegas melangkahkan kakinya masuk kedalam kediaman Hartmann.
.
.
"Sie, kamu sudah pulang sayang ?" suara Ibu Margaret terdengar lembut menyapa indera pendengaran Siena.
Mendengar suara lembut itu, Siena menoleh kearah Ibu Margaret yang tengah duduk dikursi sofa ruang keluarga
"Hmm..." Jawab Siena lesu seraya berjalan gontai menghampiri Ibu Margaret lalu mendudukkan kasar dirinya disamping ibunya.
"Sudah makan? Kamu kelihatan lemas sekali". Ujar Ibu Margaret khawatir
Siena tak langsung menjawab, ia mendesahkan kasar nafasnya dan bersandar dikursi sofa sambil memejamkan kedua matanya.
"Hanya lelah saja bu". Jawab Siena
Margaret yang mendengar itu mengangguk paham. "Ya sudah segera istirahat Sie, jangan sampai sakit. Bukankah sebentar lagi kamu wisuda?" tanya Margaret dan hanya dibalas deheman kecil oleh Siena.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari arah pintu juga disertai obrolan ringan. Margaret sontak menoleh kearah sumber suara, sementara Siena masih dengan posisi yang sama seolah tidak peduli.
Nampak Ayah Alexander melangkah masuk kedalam rumah bersama dengan Rigel dan Bastian. Beliau baru saja pulang dari kantor.
"Bagaimana tugas mu hari ini Bas? Apa Siena merepotkan mu?". Tanya Alexander pada Bastian yang berjalan dibelakangnya bersama dengan Rigel.
"Nona Siena cukup penurut, tuan". Jawab Bastian datar. "Tapi, sedikit bar-bar". Kalimat terakhir itu hanya bisa Bastian ucapkan dalam hatinya.
Rigel yang berjalan di samping Bastian sontak menahan tawa. Ia melirik sekilas ke arah Siena yang masih memejamkan mata di sofa, lalu kembali menatap Bastian dengan sudut bibir terangkat.
“Penurut?” ulang Rigel pelan, nyaris seperti gumaman penuh ejekan. Sejak kapan nona muda nya itu berubah menjadi penurut, padahal biasanya setiap hari ada saja gebrakan yang gadis itu lakukan sampai membuat kepala ayah Alex rasanya ingin meledak memikirkan kelakuannya.
Alexander menghentikan langkah kakinya di ruang keluarga. Tatapannya beralih pada putrinya yang masih bersandar dengan wajah lelah.
“Siena?” panggilnya.
Perlahan, gadis itu membuka kedua mata nya. “Hmm?”
“Kamu tidak membuat masalah, kan?” tanya Ayah Alex dengan mata yang memicing seolah menaruh curiga pada anak perempuan semata wayangnya itu.
Siena mendengus pelan lalu duduk lebih tegak. “Memangnya aku anak kecil yang harus selalu diawasi?”
Mendengar itu, Alexander menghela napas tipis, maklum dengan nada defensif itu. “Ayah hanya bertanya.”
Bastian berdiri tegap tak jauh dari mereka. Ekspresinya datar, nyaris tak terbaca. Namun tatapannya sekilas jatuh pada Siena seperti memastikan gadis itu baik-baik saja.
“Bastian bilang kamu penurut,” lanjut Alexander, sedikit tersenyum.
Siena langsung menoleh tajam ke arah Bastian.
“Apa?” alisnya terangkat tinggi. “Aku penurut?”
Bastian membalas tatapan itu tanpa gentar. “Setidaknya hari ini tidak ada insiden besar, Tuan.”
Rigel terkekeh pelan. “Artinya ada insiden kecil?”
Siena yang mendengar itu sontak langsung bangkit berdiri, menunjuk Bastian dengan wajah kesal. “Dia yang cari gara-gara duluan!”
“Cukup,” potong Alexander tegas namun tetap tenang. “Selama tidak membahayakan, Ayah tidak ingin dengar pertengkaran kecil.”
Siena mendecak, lalu kembali duduk dengan kesal. Margaret mengusap lembut punggung tangan putrinya, mencoba menenangkan.
Bastian yang melihat raut wajah kesal Siena hanya bisa menahan senyum dalam hatinya. Kemudian, ia menoleh menatap kearah Alexander.
"Tuan, tugas saya untuk hari ini selesai. Saya sudah juga sudah mengantar nona Siena pulang ke rumah dengan keadaan selamat. Boleh saya undur diri? Ada hal penting yang harus segera saya urus". Ucap Bastian sopan namun terdengar tegas
Alexander yang mendengar itu menoleh mengalihkan pandangannya kearah Bastian. Tangannya terangkat menepuk pundak Bastian dengan sedikit kuat.
"Terimakasih sudah menjalankan tugas mu dengan baik hari ini Bas. Sejujurnya aku berharap kamu bisa selalu stand by disini, untuk selalu mengawasi Siena. Tapi, aku juga tidak akan bisa memaksa mu untuk meninggalkan urusan penting mu itu. Pulanglah tapi jangan lupa untuk kembali besok pagi". Ucap Alexander
Bastian mengangguk, ia lalu berpamitan pada Margaret dan juga Rigel. Sementara, Siena justru acuh dan memalingkan wajahnya kearah lain. Melihat itu, Bastian tak ingin ambil pusing. Segera ia berbalik badan dan bergegas melangkahkan kakinya keluar.
.
.
Sesampainya di luar pintu gerbang kediaman Hartmann, sekitar sepuluh meter dari pos penjagaan, sebuah Merced*s-Benz G-Class berwarna hitam terparkir rapi di sisi kiri jalan.
Bentuknya tegas dan kokoh menyerupai jeep, dengan kaca gelap yang membuatnya tampak dingin, tenang, namun berkelas.
Melihat Bastian yang sudah berjalan mendekat, Darian yang duduk dikursi kemudi segera turun.
"Tuan". Sapa Darian seraya menundukkan sekilas kepalanya
"Hmm... Bagaimana kondisi markas ? Kenapa bisa sampai kecolongan?". Ujar Bastian dengan suara yang rendah namun penuh penekanan dan intimidasi
Darian mengangkat wajahnya perlahan.
“Keamanan luar masih terkendali, Tuan. Namun ada satu akses yang sempat diretas selama beberapa menit. Kami sudah menutup celahnya, tapi…”
Bastian tidak langsung menjawab.
Ia menyelipkan satu tangannya ke dalam saku celana formalnya, rahangnya mengeras tipis.
Ia meraih kotak rokok dari saku dalam celana tersebut. Ia keluarkan sebatang benda berbahan nikotin itu lalu ia selipkan diantara bibir nya.
“Tapi apa?” suaranya rendah, nyaris datar.
“Kami tidak tahu apa yang sempat mereka ambil.” Jawab Darian
Bastian tak langsung menyahut. Tangannya terangkat sedikit, menengadah ke arah Darian tanpa menoleh.
Darian langsung paham. Tanpa banyak tanya, ia merogoh saku jaketnya dan menyerahkan korek logam kecil ke telapak tangan Bastian.
Bastian menjepit sebatang rokok di antara jemarinya, lalu menyalakannya dengan gerakan tenang. Bunyi klik korek memecah hening sesaat sebelum bara kecil itu menyala di ujung tembakau.
Ia mengisap singkat benda nikotin itu, lalu mengembuskan asapnya perlahan ke udara.
“Rekaman cadangan?” Bastian dingin.
“Ada tuan, tapi sebagian file rusak. Sepertinya mereka tahu titik lemah kita”. Jawab Darian datar
Mendengar itu, rahang Bastian mengeras tipis. Asap tipis mengepul samar di sekitar wajahnya, namun sorot matanya tetap tajam dan fokus.
“Amankan sisanya. Pindahkan server malam ini juga,” Titahnya tegas. “Dan jangan tinggalkan jejak.”
Darian mengangguk. “Baik, Tuan.”
"Apa daddy dan Kakek sudah tau masalah ini?" tanya Bastian seraya menghisap lagi rokok itu sebelum akhirnya ia buang keaspal lalu diinjaknya ujung puntung rokok tersebut hingga nyala api nya padam.
"Belum tuan".
"Hmm, pastikan jangan sampai Daddy dan Kakek tau".
Darian mengangguk, "Baik tuan".
.
.
.
Jangan lupa dukungannya!!! Like, vote dan komen... Terimakasih 🫶🏻♥️
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut