NovelToon NovelToon
My People

My People

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.

Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.

Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.

"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"

Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.

Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"

Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.

"Kamu bangun..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Keluar dari sini!

Bai Xuning melihat pintu sedikit terbuka, dan mata gelap Hu Lian yang penuh kewaspadaan muncul dari balik celahnya. Gadis itu langsung tertegun, tangannya secara tidak sadar terlepas dari pegangan pintu.

"...Apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya dengan nada yang sedikit kebingungan dan tidak suka.

Tanpa menjawab, pandangan Bai Xuning tertuju ke arah bahu Hu Lian yang terbuka—ada memar gelap yang luas dengan bekas darah di bagian pundaknya.Wajahnya langsung berubah serius dan penuh kekhawatiran yang tercampur kemarahan.

"Ada apa dengan bahumu?!" teriaknya dengan suara yang kuat.Hu Lian terkejut dengan reaksinya, secara tidak sadar ingin menarik pintu untuk menutupinya.

Namun sebelum dia bisa melakukannya, tangan besar Bai Xuning dengan cepat menahan pintu dan dengan lembut mendorongnya masuk ke dalam apartemen, lalu menutup pintu dengan pasti.

Hu Lian menarik napas dalam-dalam, wajahnya kembali menjadi dingin saat melihat pria itu memasuki ruang tamunya tanpa izin. Dia berdiri dengan tegak menatapnya dengan tatapan yang tegas. "Keluar..."

Bai Xuning tidak memperdulikan permintaannya. Dia melangkah lebih dekat dan melihat memar pada bahu Hu Lian dengan ekspresi yang semakin mengkhawatirkan.

"Kamu tidak mengatakan kalau kamu juga terluka di bahu! Bukankah kamu sudah diperiksa di rumah sakit?" tanyanya dengan suara yang lebih rendah namun tetap tegas.

Tanpa menunggu jawaban, dia langsung berjalan ke arah sofa untuk mengambil kotak obat yang tergeletak di sana.

"Duduklah," perintahnya dengan lembut namun tidak bisa ditolak. "Aku akan membantu kamu merawat lukamu itu sebelum semakin parah."

Hu Lian melihat ekspresi wajah Bai Xuning yang penuh tekad dia akhirnya hanya bisa berdiri diam dengan hati berat.Melihat Hu Lian yang masih bersikeras menolak bantuan membuat pria itu tanpa sadar semakin marah.

Dia menaruh kotak obat kembali ke meja dengan sedikit kasar, lalu tanpa berkata apa-apa langsung menggendongnya lagi dalam pose tua putri.

"LEPASKAN AKU! TURUNKAN AKU SEKARANG!" teriak Hu Lian dengan suara yang keras, tubuhnya berusaha untuk melawan.

Namun Bai Xuning dengan keras kepala tidak memperdulikan kata-katanya sama sekali, langkahnya tetap mantap menuju sofa.

Dia duduk perlahan dengan Hu Lian yang kini berada di pangkuannya. Gadis itu ingin sekali memberontak dan melarikan diri, namun rasa sakit yang menusuk saat dia mencoba menggerakkan bahu yang cidera membuatnya tidak bisa banyak bergerak.

"Bai Xuning apa kamu bajingan!" teriaknya lagi dengan wajah kemerah-merahan karena kemarahan.

Saat itu juga, tangan besar Bai Xuning dengan lembut namun kuat mencengkram kedua tangannya, mencegahnya untuk bergerak lebih jauh.

"Aku tidak akan menyakitimu," ucap Bai Xuning dengan suara yang rendah namun penuh tekad, matanya menatap langsung ke mata Hu Lian yang masih memerah karena marah.".....Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu merawat dirimu sendiri dengan cara sembarangan. Kamu tidak melihat bagaimana kondisi bahumu itu!"

Hu Lian masih bernapas berat, tubuhnya sedikit menggigil karena kemarahan dan rasa sakit.

Dia ingin terus memprotes, namun ketika melihat ekspresi wajah Bai Xuning diliputi kemarahan itu, kata-katanya macet di tenggorokannya.

Tanpa menunggu izin lagi, Bai Xuning dengan hati-hati melepaskan salah satu tangannya untuk mengambil kotak obat yang tergeletak di meja, lalu mulai menyiapkan bahan untuk merawat memar dan luka di bahu Hu Lian.

Saat tangan besar Bai Xuning menyentuh bahu Hu Lian yang memar, gadis itu mengerutkan keningnya dengan rasa sakit yang jelas terlihat di wajahnya.

Bai Xuning segera mengurangi kekuatan sentuhannya, mengoleskan salep luka dengan sangat hati-hati dan perlahan.Area yang bengkak cukup luas, bahkan sebagian kulit sudah mulai menguning karena memar yang cukup parah.

Melihat kondisi itu membuat Bai Xuning semakin merasa campur aduk antara kemarahan dan kekhawatiran—marah karena Hu Lian tidak memberitahu tentang luka ini dan ingin mengatasinya sendiri, namun juga khawatir melihat betapa parahnya kondisi tubuh gadis itu.

"Sudah seperti ini sejak kapan?" tanya Bai Xuning dengan suara yang lembut, matanya tetap fokus pada pekerjaannya merawat lukanya.

Hu Lian terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara yang lebih pelan. "Sejak saat keributan... aku tidak menyadarinya sampai pulang kerumah."

Setelah selesai mengoleskan salep, Bai Xuning dengan hati-hati mengancingkan dua kancing piyama gadis itu dengan benar,dia bekerja dengan sangat cermat, seolah merawat sesuatu yang sangat berharga.

"Sekarang kamu harus beristirahat dengan benar," ucapnya setelah selesai, masih belum melepaskan tangannya yang menopang tubuh Hu Lian di pangkuannya.

"Kamu tidak boleh terlalu banyak bergerak selama beberapa hari ke depan, terutama menggunakan bahu yang terluka itu."

"Aku tahu...."Hu Lian hanya bergumam bahwa dia mengerti dan perlahan mencoba untuk bangun dari pangkuan Bai Xuning. Namun tangan pria itu dengan mudah menariknya kembali agar tetap duduk di sana.

"..Apa yang kamu lakukan?!" tanyanya dengan suara yang sedikit tinggi.Wajah Hu Lian sedikit berkedut karena rasa tidak nyaman.

Bai Xuning tidak menjawab pertanyaan itu.

Matanya mengamati sekeliling apartemen yang terlihat rapi namun sangat sunyi, kemudian kembali menatap Hu Lian dengan ekspresi yang mendalam. "...Apa kamu tinggal sendirian?"

"Bukan urusanmu..." jawab Hu Lian dengan nada dingin, mencoba dengan segala cara untuk menarik tangan Bai Xuning yang berada di pinggangnya.

Namun kali ini, pria itu semakin mengeratkan pelukan dan tak ingin melepaskannya sama sekali.

"Aku khawatir kamu tidak bisa merawat dirimu sendiri dengan kondisi seperti ini," ucap Bai Xuning dengan suara rendah, matanya tidak bisa lepas dari wajah Hu Lian.

"Kamu butuh seseorang yang merawat mu, setidaknya sampai lukamu membaik."

"Tidak dibutuhkan!"bantah Hu Lian ingin menolak lagi, namun ketika merasakan hangatnya tubuh Bai Xuning dia merasa tubuhnya menjadi sedikit lemas.

Bajingan ini apa dia benar-benar tak akan melepaskannya.Hu Lin mengertakan giginya."....Aku sudah bisa merawat diriku sendiri. Kamu sudah cukup membantuku sampai sini!"

Namun Bai Xuning Tanpa berkata apa-apa, dia mengangkat satu tangan untuk menyapu rambut yang tertutup di wajah Hu Lian, gerakannya lembut dan penuh perhatian.".....Aku tidak akan pergi dan meninggalkanmu sendirian dalam kondisi seperti ini."

"......"Hu Lian menggeleng kepalanya dengan cepat untuk menghindari sentuhan tangannya, lalu meliriknya dengan tatapan yang penuh pertanyaan. "...Kita sudah putus, kami hanya—"

Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Bai Xuning menunduk perlahan dan mencium pipinya dengan lembut.Suaranya terdengar serak saat berbicara,"....Aku tak pernah setuju untuk putus..."

"........."Mata Hu Lian langsung melebar lebar,wajahnya sedikit memerah karena terkejut.

"Aku tak pernah berkata bahwa aku setuju...."lanjut Bai Xuning dengan suara yang semakin lembut, matanya menatapnya dengan penuh rasa posesif yang tersembunyi. "Jadi aku tidak pernah menganggap kita putus. Tidak pernah."

Hu Lian masih terdiam.

"Aku tahu aku salah," ucap Bai Xuning lagi, menggerakkan tangannya dengan lembut untuk memegang dagunya.

"....Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan tidak pernah memperhatikan perasaanmu. Tapi aku tidak bisa tinggal diam ketika tahu kamu terluka dan tinggal sendirian."

Hu Lian dengan cepat memalingkan wajahnya,Di benaknya hanya terpikir satu hal—pria yang hanya mencintai cinta pertamanya walaupun setelah dicampakkan.

Bodoh! idiot!

"Kamu bisa pergi, aku bisa mengurus diriku sendiri..." Ucap Hu Lian dengan suara yang tegas dan tanpa sedikit pun keraguan.

Bai Xuning hanya melihatnya dengan tatapan dalam, sama sekali tidak bergerak atau berniat untuk pergi.

Dia tetap duduk dengan gadis itu di pangkuannya, tangan masih lembut namun kuat menopangnya.

"Bai Xuning apa kamu tuli!" Kali ini Hu Lian benar-benar marah—suaranya naik tajam, wajahnya memerah karena emosi yang meluap.

"Aku sudah bilang kamu tidak perlu ada di sini! Sudah cukup dengan kamu datang dan merawat lukaku—sekarang pergi sebelum aku benar-benar marah!" teriaknya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca karena kemarahan.

Bai Xuning masih tidak bergerak, namun ekspresi wajahnya menjadi semakin sedih.

Dia mengerti bahwa Hu Lian sedang marah bukan hanya karena keberadaannya sekarang, tapi juga karena rasa sakit yang belum sembuh dari masa lalu yang mereka lalui bersama.

"Aku tidak akan pergi," ucapnya dengan suara yang tetap tenang namun penuh tekad. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, tidak peduli seberapa banyak kamu marah padaku..."

 

"......"pria ini gila!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!