Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Pagi di lobi gedung pencakar langit itu selalu sibuk, namun bagiku, waktu seolah melambat saat pintu otomatis terbuka. Aku melangkah masuk dengan kemeja charcoal yang kaku, tepat saat sebuah mobil putih yang sangat kukenali berhenti di depan lobi.
Baskara turun dari kursi kemudi, lalu dengan sigap memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Rasya. Pemandangan itu seharusnya biasa saja bagi rekan kerja, namun bagiku, itu adalah gema dari ribuan penolakan yang pernah kulakukan dulu. Dulu, dia ingin melakukan hal yang sama padaku, tapi aku selalu keluar mobil lebih dulu atau bahkan melarangnya menjemput karena merasa "risih" dengan perhatiannya.
"Pagi, mbak Aruna!" sapa Rasya dengan ceria begitu mereka melangkah masuk ke lobi. Ia tampak segar dengan blazer berwarna pastel, kontras dengan aku yang serba gelap.
"Pagi, Rasya. Pagi, Bas," jawabku tenang. Aku tidak menghindar, tapi aku juga tidak mendekat. Aku menjaga jarak aman dua langkah di belakang mereka menuju lift.
Baskara hanya mengangguk sekilas. Rahangnya tampak kaku, dan ia terus menatap angka lift yang bergerak turun. Suasana di dalam lift yang sempit itu mendadak menjadi ruang ujian bagiku.
"Oh ya, mbak Aruna, soal revisi semalam, maaf ya kalau mendadak. Aku baru kepikiran ide baru jam sebelas malam," ucap Rasya ramah, ia menoleh padaku dengan binar mata yang tulus.
"Tidak apa-apa. Itu bagian dari pekerjaan," balasku singkat namun tetap sopan.
"Bas bilang kamu orangnya sangat teliti, makanya aku minta pendapatmu dulu sebelum kita ajukan ke Pak Hendra," lanjut Rasya lagi.
Aku melirik Baskara lewat pantulan cermin lift. Dia langsung membuang muka. Benarkah dia bilang begitu? Pria yang dulu kusebut "membosankan" itu ternyata membicarakan kinerjaku di depan kekasihnya.
"Dia berlebihan. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya," ucapku datar.
Begitu pintu lift terbuka di lantai 22, Rasya berjalan lebih dulu menuju ruang rapat kecil di sudut ruangan. Namun, saat aku hendak menyusul, sebuah tangan menahan lenganku dengan lembut namun tegas. Baskara.
"Aruna, tunggu sebentar," bisiknya.
Aku berhenti dan menatap tangannya yang menyentuh lenganku, lalu beralih ke matanya. Baskara segera melepaskan genggamannya seolah baru saja menyentuh api.
"Tolong... bersikaplah biasa saja di depan Rasya. Jangan terlalu dingin seperti kemarin sore di depan lift. Dia merasa tidak enak padamu karena mengira dia penyebab kamu jadi pendiam," ucap Baskara dengan nada memohon yang terselubung.
Aku menatapnya lurus, tidak ada debaran, hanya rasa miris. "Aku tidak sedang menghukumnya, Bas. Aku hanya menjaga batas. Bukankah itu yang terbaik untuk kalian?"
"Tapi ketenanganmu itu... itu mencekikku, Aruna. Seolah kamu sedang menghapus semua jejak kita dengan cara yang paling kejam," desisnya rendah.
Aku hanya tersenyum tipis—senyum yang tidak mencapai mata. "kemarin kamu minta aku profesional. Sekarang aku melakukannya, dan kamu masih merasa tercekik? Sepertinya, bukan aku yang punya masalah dengan ketenangan ini, tapi kamu."
Aku melangkah masuk ke ruang rapat, meninggalkan Baskara yang berdiri mematung dengan napas yang memburu. Di dalam, Rasya sudah menyiapkan laptopnya dengan senyum lebar, tidak tahu bahwa di balik dinding ini, gema masa lalu kekasihnya sedang bertabrakan hebat dengan kenyataan yang kubangun.
"Bisa kita mulai?" tanyaku datar sambil menarik kursi di seberang mereka.
Rasya mengangguk antusias, segera memutar layar laptopnya ke arahku. "Jadi begini, Mbak Aruna. Setelah diskusi singkat dengan Bas semalam, aku merasa campaign kita butuh sentuhan yang lebih personal. Aku ingin menambahkan elemen visual yang menceritakan tentang 'ketulusan yang terlambat'. Bagaimana menurutmu?"
Aku tertegun sejenak. Ketulusan yang terlambat. Kata-kata itu berdentum di kepalaku seperti palu yang menghantam besi panas. Aku segera menetralisir ekspresiku, mencatat poin itu di buku agendaku dengan tangan yang tetap stabil.
"Konsepnya menarik, Rasya," jawabku profesional tanpa sedikit pun nada sindiran. "Tapi kita harus hati-hati agar tidak terlalu melankolis. Konsumen butuh solusi, bukan sekadar penyesalan. Bagaimana kalau kita padukan dengan elemen growth? Bahwa setiap kesalahan adalah jembatan menuju kedewasaan."
"Wah, aku setuju banget! Bas, gimana menurutmu?" Rasya menyenggol lengan Baskara dengan manja.
Baskara yang sedari tadi hanya diam, tampak tersentak. Ia berdeham, mencoba menguasai diri. "Ya, saran Aruna... masuk akal. Dia memang selalu bagus dalam membedah sisi emosional sebuah konsep."
Aku tidak menanggapi pujian itu. Fokusku tetap pada layar laptop. Namun, aku bisa merasakan tatapan Baskara yang terus mencuri pandang. Setiap kali aku menjelaskan detail teknis, setiap kali aku membenarkan letak kacamataku, atau bahkan saat aku hanya terdiam berpikir, matanya terpaku padaku.
Ada kilas kebingungan yang sangat nyata di sana. Mungkin dia sedang mencari Aruna yang dulu suka memotong pembicaraan dengan nada bosan. Dia sedang mencari Aruna yang sering memainkan ponsel saat orang lain bicara serius. Tapi yang ia temukan hanyalah wanita di depannya ini—wanita yang mendengarkan setiap kata kekasihnya dengan penuh hormat dan ketelitian profesional.
"Bagian ini perlu di-tweak sedikit," ucapku sambil menunjuk salah satu slide. Jarak tanganku dan tangan Baskara yang berada di atas meja hanya terpaut beberapa sentimeter. Aku tidak menarik tanganku, pun tidak gemetar. Aku bersikap seolah dia benar-benar hanya rekan kerja yang tak punya sejarah apa pun denganku.
Baskara justru yang menarik tangannya lebih dulu, seolah takut bersentuhan secara tidak sengaja.
Rapat berlanjut selama satu jam. Aku menjawab setiap pertanyaan Rasya dengan lugas, memberikan solusi kreatif yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Aku melihat Rasya berkali-kali menatapku dengan binar kagum, sementara Baskara semakin tenggelam dalam keheningannya sendiri.
"Oke, aku rasa ini sudah cukup untuk dipresentasikan ke Pak Hendra besok," ucapku sambil menutup laptop. "Terima kasih atas kerja kerasnya, Rasya."
"Terima kasih banyak juga, Mbak Aruna! Kamu hebat banget, pantesan Bas sering cerita kalau kamu itu top performer di sini," puji Rasya tulus.
Aku hanya tersenyum tipis. "Sama-sama. Saya duluan ya."
Saat aku berdiri dan melangkah menuju pintu, aku bisa merasakan gema napas Baskara yang tertahan. Aku tidak menoleh. Bagiku, keberhasilanku hari ini bukan karena aku berhasil membuat Rasya kagum, melainkan karena aku berhasil membunuh ego Aruna yang lama tepat di depan orang yang paling menderita karenanya.
Ternyata, profesionalitas adalah bentuk permintaan maaf yang paling sunyi, namun paling menyakitkan bagi mereka yang belum benar-benar selesai dengan masa lalu.