Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22
Malam pengantin yang seharusnya dipenuhi dengan lilin aromaterapi, kelopak mawar di atas ranjang king size, dan percakapan intim sepasang suami istri baru, mendadak berubah menjadi medan tempur medis. Fharell baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang berantakan, hanya mengenakan kaos oblong putih tipis dan celana training hitam. Ia baru saja bersiap untuk memberikan kejutan malam pertama yang sudah ia rencanakan matang-matang, namun pemandangan di depannya menghancurkan segalanya.
Paroline berdiri di samping boks bayi dengan wajah pucat pasi. "Fharell! Sunny... badannya panas sekali! Dia menggigil!"
Fharell segera menghampiri. Begitu tangannya menyentuh dahi Andreas Sunny, ia merasa seolah menyentuh permukaan teko yang baru mendidih. "Astaga, panas sekali. Mungkin karena tadi siang dia jadi artis dadakan. Semua kolega bisnis Ayah mencubiti pipinya tanpa henti. Dia kelelahan, Sayang."
Paroline mulai terisak, tangannya gemetar saat mencoba memakaikan jaket pada Sunny. "Bagaimana kalau dia kejang? Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Fharell, aku takut..."
Melihat istrinya hancur dalam kepanikan, insting pelindung Fharell bangkit. Meskipun jantungnya sendiri berdegup seperti drum heavy metal, ia menarik napas panjang dan memasang wajah setenang mungkin, wajah yang biasa ia gunakan saat bernegosiasi bisnis, namun kali ini versinya lebih lembut.
"Sabar, Sayang. Tarik napas. Aku di sini," Fharell memegang bahu Paroline, menatap matanya dengan dalam. "Ayo kita bawa ke rumah sakit sekarang. Jangan panik, Sunny hanya butuh dokter. Ambil tas bayinya, aku yang gendong dia. Kita berangkat."
Fharell menyetir mobilnya seperti pembalap F1, namun tetap menjaga agar guncangan tidak membuat Sunny semakin tidak nyaman. Sesampainya di Unit Gawat Darurat, Fharell turun dengan sigap. Penampilannya sangat jauh dari definisi pengantin baru yang glamor. Ia hanya memakai kaos rumahan yang agak ketat di bagian dada, celana training, dan sandal selop. Rambutnya yang masih setengah basah justru memberikan kesan effortlessly handsome.
Begitu ia masuk ke lobi UGD sambil menggendong Sunny yang merengek pelan, beberapa perawat muda yang sedang berjaga mendadak kehilangan fokus.
"Dokter! Anak saya demam tinggi!" seru Fharell dengan suara baritonnya yang tegas namun penuh kecemasan.
Seorang perawat senior segera menghampiri, tapi matanya sempat melirik ke arah lengan Fharell yang berotot karena menggendong Sunny dengan posisi protektif. "Mari, sir, sebelah sini. Silakan baringkan anaknya di bed pemeriksaan."
Paroline menyusul di belakang dengan napas terengah-engah, membawa tas perlengkapan bayi yang besar. Begitu Sunny ditangani oleh dokter jaga dan diberi kompres serta obat penurun panas lewat dubur, ketegangan Paroline mulai mereda. Ia duduk di kursi samping bed, mengatur napasnya yang tadi sempat hilang.
Begitu dokter mengatakan bahwa Sunny hanya mengalami demam biasa karena kelelahan dan infeksi ringan pada tenggorokan, Paroline akhirnya bisa tersenyum lega. Namun, keajaiban terjadi. Begitu Paroline tenang, justru benteng ketenangan Fharell runtuh seketika.
Fharell yang tadi terlihat seperti pahlawan super, tiba-tiba mulai mondar-mandir di ruangan UGD dengan wajah yang jauh lebih panik daripada Paroline tadi.
"Dokter! Tadi Dokter bilang infeksi tenggorokan? Apa itu berbahaya? Apa dia bisa amandel? Apa dia harus operasi?" Fharell memberondong dokter muda yang sedang menulis resep.
"Tenang, Pak. Ini hanya radang ringan," jawab Dokter itu sambil menahan senyum.
Fharell tidak puas. Ia menghampiri Paroline dengan wajah horor. "Sayang, kau dengar tadi? Radang! Bagaimana kalau nanti suaranya hilang? Bagaimana kalau dia tidak bisa memanggilku Papa lagi besok pagi? Paro, ini gawat!"
Paroline menatap suaminya dengan bingung. "Rell, tadi kau yang menyuruhku tenang. Sekarang kenapa kau yang jadi seperti orang kebakaran jenggot?"
"Tadi itu aku akting, Sayang! Di dalam sini jantungku rasanya mau copot!" Fharell menunjuk dadanya dengan dramatis. Ia kemudian berbalik ke arah perawat. "Sus! Apa kasurnya cukup empuk? Kenapa Sunny belum tidur juga? Apa dia butuh bantal dari rumah? Aku bisa pulang ambil sekarang!"
Kepanikan Fharell mulai mengundang tawa dari orang-orang di sekitar. Seorang perawat muda mendekat membawa termometer. "Pak, silakan duduk dulu. Bapak terlihat lebih butuh perawatan daripada anaknya."
"Saya tidak butuh duduk, Sus! Saya butuh kepastian kalau putra saya akan baik-baik saja!" Fharell berkata sambil terus memperhatikan angka di termometer seolah-olah itu adalah angka saham yang sedang anjlok. "Tiga puluh delapan derajat? Sus, ini masih panas! Kenapa tidak langsung turun jadi tiga puluh enam?"
"Proses, Pak..." jawab perawat itu sabar.
Fharell kemudian duduk di samping Paroline, tapi tidak bisa diam. Ia mulai membongkar tas bayi. "Mana minyak telonnya? Mana kaus kakinya? Oh, astaga! Kita lupa membawa mainan dinosaurus kesukaannya! Paro, bagaimana kalau dia trauma karena bangun di tempat yang tidak ada dinosaurusnya?"
Paroline menutup wajahnya dengan tangan, menahan malu sekaligus gemas. "Fharell, dia sedang sakit, dia butuh istirahat, bukan butuh dinosaurus. Duduklah, kau membuat perawat-perawat itu terus memperhatikanmu."
Fharell menoleh ke sekitar dan menyadari beberapa mata memang tertuju padanya. Bukannya malu karena penampilannya yang berantakan, ia justru salah paham. "Mereka memperhatikanku karena mereka tahu aku ayah yang sangat bertanggung jawab, kan? Atau mungkin mereka heran kenapa ada pria setampan ini di UGD jam dua pagi dengan baju tidur?"
"Mereka memperhatikanmu karena kau berisik sekali, Sayang," bisik Paro sambil menarik lengan Fharell agar duduk tenang.
Fharell akhirnya duduk, namun kepalanya terus bergerak ke arah Sunny setiap kali bayi itu bergerak sedikit saja. "Sayang... malam pengantin kita..." gumam Fharell tiba-tiba dengan wajah lesu.
"Kenapa?" tanya Paro.
"Malam pengantin kita berubah jadi malam jaga UGD. Padahal aku sudah memakai parfum yang paling mahal di kamar mandi tadi," Fharell mengendus ketiaknya sendiri. "Sekarang aku bau obat rumah sakit. Apa kau masih mau menciumku nanti?"
Paroline tertawa renyah, ia menyandarkan kepalanya di bahu Fharell. "Aku lebih suka bau ayah yang sigap seperti ini daripada bau parfum manapun, Fharell. Kau luar biasa tadi."
Fharell tersenyum bangga, meski sedetik kemudian ia kembali panik. "Eh! Sus! Itu Sunny sepertinya mau bersin! Siapkan tisu! Siapkan oksigen!"
Paroline hanya bisa menghela napas panjang. Menikahi pria yang usianya terpaut lima tahun di bawahnya memang penuh kejutan. Fharell bisa menjadi pelindung yang paling tenang di saat badai, namun bisa menjadi drama queen yang paling berisik saat badai itu mulai mereda. Malam pengantin mereka memang tidak berjalan sesuai rencana, namun di lorong rumah sakit yang dingin itu, Paroline sadar bahwa ia telah menikahi pria yang akan selalu mengutamakan keluarga di atas segalanya, meskipun dengan sedikit bumbu kepanikan yang konyol.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰