Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Nebeng.
Leonel kembali ke ruang OSIS, melangkah masuk dengan aura yang lebih dingin dari suhu ruangan ber-AC tersebut. Wajahnya kembali ke setelan pabrik: datar, tak terbaca, dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa di lorong toilet tadi.
Nando dan Rizky, yang sedari tadi menunggu, langsung menoleh. Rizky menyipitkan mata, memperhatikan sahabatnya itu dengan saksama. "Leonel, kamu darimana? Keluarnya cepat banget tadi," tanya Rizky, mencoba membaca raut wajah yang kini tampak lebih kaku dari biasanya.
Leonel tidak menjawab. Ia langsung melangkah menuju kursinya, duduk dengan gerakan yang sama presisinya seperti robot, lalu menatap mereka berdua dengan sorot mata yang tajam dan dingin. "Kalian ngapain di sini?" tanyanya datar.
Nando dan Rizky sempat tertegun sejenak, merasa hawa di ruangan itu mendadak tidak enak. "Ah iya, kami sampai lupa tujuan utama ke sini. Aduh, pasti di kelas pada nungguin. Itu, si Cleo sakit, El. Wajahnya pucat banget," ujar Nando, yang baru tersadar bahwa mereka tadi datang ke ruang OSIS dengan misi jelas, namun sempat terbawa santai karena Leonel tidak ada.
Leonel menatap Nando tanpa ekspresi. "Sakit, terus?" tanya Leonel dingin, tidak ada sedikit pun nada simpati dalam suaranya.
"Ya sakit, dia lagi nungguin ketua kelas buat mengantarkannya ke UKS," lanjut Nando, sedikit bingung dengan reaksi sahabatnya yang tidak biasa.
Leonel mengerutkan kening, sudut bibirnya terangkat tipis dalam sebuah cemoohan yang nyaris tidak terlihat. "Sakit begitu masih bisa pilih-pilih orang?" tanyanya retoris. Baginya, modus itu terlalu transparan untuk diabaikan, dan entah kenapa, drama Cleo saat ini terasa jauh lebih memuakkan daripada biasanya.
"Suruh orang lain mengantarnya ke UKS kalau memang sakit. Aku tidak akan ke kelas!" ujar Leonel tandas. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengangkat kedua tangan untuk menutupi wajahnya yang mendongak ke belakang. Ia membiarkan embusan dingin dari AC ruangan itu menerpa kulitnya, berharap hawa beku itu bisa meredam riuh yang sejak tadi enggan hengkang dari kepalanya.
Nando dan Rizky saling pandang. Mereka cukup mengenal Leonel untuk tahu bahwa saat nada suaranya sedatar itu, tidak ada ruang untuk negosiasi atau debat lebih lanjut. Tanpa sepatah kata pun, keduanya mengerti, mereka gagal dalam misi membawa Leonel kembali.
Perlahan, mereka melangkah keluar dari ruang OSIS, meninggalkan Leonel yang kini kembali tenggelam dalam dunianya sendiri. Pintu ruangan tertutup dengan bunyi klik yang halus, menyisakan keheningan yang justru terasa lebih mencekik bagi Leonel.
Di balik tangan yang menutupi wajahnya, Leonel memejamkan mata rapat-rapat. Sisa-sisa emosi yang ia coba kubur di tempat sampah koridor tadi perlahan naik kembali ke permukaan. Rasanya ironis, ia baru saja membuang niat baiknya untuk membantu satu orang, hanya untuk disodori drama lain yang sama sekali tidak ia inginkan.
Di dalam gelapnya balik kelopak mata itu, bayangan Aira yang tersenyum lebar saat menerima kantong plastik dari tangan Aldaren kembali berputar. Leonel mengeratkan giginya. Ia tidak ingin peduli, ia tidak ingin tahu, namun keberadaan orang lain di antara dunianya dan Aira membuatnya merasa seperti seseorang yang baru saja kehilangan kendali atas sesuatu yang seharusnya tetap berada dalam jangkauannya.
Ia tidak bergerak. Ia hanya diam, membiarkan waktu di ruang OSIS itu melambat, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya untuk tetap di sini, jauh dari kelas, jauh dari keributan, dan jauh dari siapa pun, adalah satu-satunya cara untuk tetap waras.
...****************...
Hingga jam pulang sekolah berlalu, Leonel masih bergeming di ruang OSIS. Ia sengaja menunggu sampai gedung sekolah benar-benar lengang, baru kemudian melangkah keluar lima belas menit setelah bel berakhir.
Saat ia berjalan menuju parkiran dan bersiap menaiki motornya, sebuah suara lemah menghentikan gerakannya.
"Leonel, tunggu..."
Leonel menoleh. Dari jarak yang tak seberapa, ia melihat Cleo berjalan mendekat. Langkah gadis itu gontai, wajahnya pucat pasi, namun ia masih memaksakan diri untuk terus bergerak.
"Ck!" Leonel berdecak pelan. Meski merasa terganggu, ia tetap berdiri di sana saat halaman sekolah sudah benar-benar sepi.
"Leonel, boleh nebeng nggak?" tanya Cleo dengan suara parau. Wajah yang nyaris tak berdarah itu masih sempat memberikan senyum tipis pada Leonel.
Leonel terdiam sejenak. Jelas sekali ada rasa enggan yang memenuhi benaknya. "Kamu kenapa belum pulang, Cleo?" tanyanya datar.
Cleo menunduk, bahunya merosot seperti anak ayam yang kehilangan arah. "Tadi aku ketiduran di UKS, tak sadar kalau semua sudah pulang," ujarnya lirih.
"Terus, kamu mau nebeng? Memangnya tidak ada yang menjemput?" Leonel menelisik detail wajah Cleo. Ia mencoba mencari motif tersembunyi di balik raut pucat itu—kewaspadaannya selalu aktif setiap kali berhadapan dengan gadis ini. Namun, ia hanya menemukan tatapan polos dan gelengan pelan.
"Papa tadi sudah datang menjemput lima belas menit yang lalu. Dia menelepon saat aku masih tidur, jadi tidak terjawab. Terus dia mengirim pesan bahwa dia tidak bisa menunggu lebih lama karena ada pekerjaan mendadak, El," bujuk Cleo. Tubuhnya sedikit limbung, seolah menopang bobot tubuhnya sendiri saja sudah menjadi beban yang berat setelah berdiri terlalu lama.
"Kamu yakin tidak ada orang lain yang bisa dihubungi?" Leonel kembali bertanya, suaranya tetap rendah, tidak memberi celah sedikit pun bagi Cleo untuk berharap lebih.
Cleo menggeleng pelan. "Tidak ada lagi, El. Semua orang sudah pulang sejak tadi."
Tanpa kata, Leonel menyalakan mesin motornya. "Naik!" titahnya dingin. Ia langsung memakai helmnya. Namun, saat ia menoleh dan mendapati tidak ada pergerakan di belakang, Leonel mendapati Cleo masih terpaku di tempatnya.
"Kenapa tidak naik? Tidak jadi nebeng?" tanya Leonel, nada suaranya mulai naik karena merasa waktunya terbuang sia-sia.
"Bukan begitu," jawab Cleo cepat sambil menggeleng. Gadis itu menatap helm Leonel ragu, "Aku tidak punya helm..." cicitnya.
Leonel menghela napas kasar. Ia memang tidak pernah membawa helm cadangan. Dengan gerakan terpaksa, ia melepaskan helm yang sudah terpasang di kepalanya. "Pakai ini!" ujarnya tegas.
Cleo mencoba membuka gesper helm itu dengan jari-jemarinya yang gemetar, namun kesulitan. Tak tahan melihat gerakannya yang lamban, Leonel turun dari motor, mengambil helm itu, lalu memakaikannya ke kepala Cleo dengan gerakan tergesa dan kaku. Setelah memastikan helm itu terpasang, ia kembali naik ke atas motor, menunggu Cleo dengan tidak sabar.
Begitu Cleo naik ke jok belakang, motor besar itu langsung melaju membelah jalanan sore, melesat menjauh dari sekolah menuju arah yang berlawanan dengan rumah Leonel, demi mengantarkan gadis itu pulang lebih dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...