Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Di Balik Tirai Luka
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar Kathryn, menciptakan garis-garis emas di atas sprei putih yang masih sedikit berantakan. Suasana begitu hening, hanya terdengar kicau burung dari taman belakang dan deru napas teratur dari Sean yang tertidur di kursi sofa kecil di sudut kamar, dijaga oleh Paul yang juga tampak terkantuk-kantuk.
Di sisi tempat tidur, Dimas masih setia berada di sana. Pakaian formalnya sudah kusut, rambutnya berantakan, dan gurat kelelahan tercetak jelas di wajah tampannya. Namun, matanya tetap terjaga, terpaku pada wajah Kathryn yang perlahan mulai menampakkan rona kehidupan.
Kelopak mata Kathryn bergetar, lalu perlahan terbuka. Ia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan. Hal pertama yang ia rasakan adalah hangatnya sebuah tangan yang menggenggam jemarinya dengan erat namun penuh kelembutan. Saat ia menoleh, ia mendapati mata tajam Dimas yang kini meredup oleh rasa cemas dan kasih sayang.
Kathryn terdiam. Ia tidak menarik tangannya, namun ia juga tidak membalas genggaman itu. Pandangannya kosong, menatap langit-langit kamar dengan sisa-sisa kepedihan yang masih mengganjal di dadanya.
"Kamu sudah bangun?" bisik Dimas, suaranya parau karena terjaga semalaman. "Minum dulu ya? Suhu tubuh kamu sudah turun, tapi kamu masih lemas."
Dimas membantu Kathryn bersandar pada tumpukan bantal. Dengan telaten, ia menyodorkan segelas air hangat ke bibir Kathryn. Kathryn meminumnya sedikit, lalu memalingkan wajahnya. Keheningan kembali menyelimuti mereka, sebuah keheningan yang terasa berat dan canggung.
"Kathryn..." Dimas memulai, suaranya lembut, seolah takut jika nada bicaranya akan memecahkan ketenangan rapuh di antara mereka. "Aku tahu, kata maaf mungkin terdengar sangat murah saat ini. Tapi aku ingin kamu tahu, melihat kamu pingsan dan meracau semalam... itu adalah ketakutan terbesar dalam hidupku. Aku menyayangi kamu, lebih dari apa pun yang aku miliki di dunia ini."
Mendengar kata "sayang" itu, Kathryn memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menggelengkan kepalanya pelan, sebuah penolakan yang halus namun tegas.
"Jangan... jangan panggil aku seperti itu dulu, Mas Dimas," ucap Kathryn lirih. Suaranya terdengar sangat halus, hampir seperti bisikan angin. "Kata-kata itu terasa... asing sekarang. Hatiku masih mencoba mencari tahu, pria mana yang sebenarnya sedang bicara padaku saat ini. Apakah Dokter Dimas yang butuh bantuan uang tabunganku, atau Tuan Besar Alvaro yang bisa membeli seisi kota ini?"
Dimas menundukkan kepalanya, merasakan hantaman kejujuran dari ucapan Kathryn. "Aku adalah orang yang sama, Kathryn. Harta itu... itu hanya warisan yang harus aku kelola. Tapi saat aku bersamamu, saat aku menggendong Sean, saat aku makan nasi goreng buatanmu... aku adalah Dimas yang sebenarnya. Pria yang merasa hidup kembali karena ketulusan kamu."
Kathryn menoleh, menatap mata Dimas dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Mas tahu tidak? Saat aku memberikan uang tabungan itu, aku merasa sangat berharga. Aku merasa bisa menjadi pelindung bagi pria yang sedang terpuruk. Tapi saat tahu kenyataannya... aku merasa sangat kecil. Aku merasa tidak berguna. Mas tidak butuh aku, Mas punya segalanya."
"Justru sebaliknya!" sela Dimas dengan nada yang tetap lembut namun mendesak. "Aku punya rumah sakit, aku punya gedung-gedung tinggi, tapi aku tidak punya kedamaian. Kamu adalah satu-satunya orang yang melihatku bukan karena apa yang aku punya di bank, tapi karena apa yang ada di sini." Dimas menyentuh dadanya sendiri. "Uang tabunganmu itu... aku menyimpannya di brankas pribadiku. Bagiku, itu adalah modal paling berharga untuk membangun masa depan, karena itu adalah satu-satunya hal yang diberikan padaku tanpa syarat."
Kathryn terdiam lama, mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Dimas. Ia bisa merasakan kejujuran dalam nada bicara pria itu, namun luka akibat kebohongan tidak bisa sembuh dalam semalam.
"Aku menghargai penjelasan Mas," ujar Kathryn pelan. "Tapi untuk saat ini, aku ingin sendiri dulu. Aku ingin menenangkan pikiranku, Mas. Aku butuh waktu untuk menerima bahwa orang yang aku sayangi ternyata adalah orang yang sangat berbeda dari bayanganku."
Dimas menatap Kathryn dengan tatapan yang sangat dalam, penuh kerinduan namun juga penuh penghormatan atas keinginan gadis itu. Ia perlahan melepaskan genggaman tangannya dari jemari Kathryn.
"Baiklah... kalau itu keinginan kamu," ucap Dimas parau. "Aku akan memberikan waktu yang kamu butuhkan. Aku akan pulang ke kos... ah, maksudku, aku akan pergi agar kamu bisa beristirahat. Tapi berjanjilah satu hal padaku, Kathryn."
Kathryn menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Jangan pernah merasa kecil. Karena di mataku, kamu adalah penguasa sebenarnya dari hatiku. Tidak ada jumlah aset yang bisa menandingi harga diri dan ketulusanmu," bisik Dimas.
Dimas berdiri, ia membungkuk sedikit dan mencium kening Kathryn dengan sangat sopan dan singkat sebuah kecupan pamit yang penuh dengan janji kesetiaan. Setelah itu, ia melangkah menuju pintu.
Di ambang pintu, ia sempat menoleh pada Paul yang sudah terbangun. Paul hanya mengangguk pelan, memberikan isyarat bahwa ia akan menjaga adiknya. Dimas melangkah keluar dengan bahu yang terasa berat, namun ia tahu ini adalah bagian dari perjuangan untuk mendapatkan kembali kepercayaan yang sempat ia abaikan.
Sepeninggal Dimas, Kathryn meringkuk kembali di bawah selimutnya. Ia menghirup aroma parfum Dimas yang masih tertinggal di bantalnya. Hatinya masih bimbang, namun di tengah rasa sakit itu, ada sebuah percikan harapan yang mulai tumbuh. Ia menyadari bahwa cinta Dimas mungkin serumit identitasnya, namun perhatian pria itu saat ia sakit semalam adalah nyata-nyata melebihi angka-angka di rekening bank mana pun.
Kathryn menatap jendela, melihat mobil Dimas perlahan bergerak meninggalkan halaman rumahnya. "Beri aku waktu, Mas... untuk percaya bahwa aku memang pantas ada di sampingmu," bisiknya pada keheningan pagi.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰