Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehebohan di sekolah
Di Mansion Kalandra, si kembar dan Vania menatap kedua orang tua mereka dengan kebingungan. Ada sesuatu yang jelas tidak beres. Wajah Helena dan Andrian terlihat kesal—padahal sebelum menghampiri Ara, ekspresi mereka masih biasa saja.
“Ma, Pa, kenapa kok kelihatan kesal?” tanya Vania lembut, sembari menggenggam tangan Helena
Helena yang sejak tadi menahan emosi langsung melunak saat mendengar suara putrinya. Senyum tipis terbit di wajahnya, meski matanya masih menyimpan sisa kekesalan.
“Tidak apa-apa, sayang. Tadi cuma ada sedikit masalah dengan kakakmu,” jawab Helena pelan.
“Iya, hanya masalah biasa,” timpal Andrian cepat, seolah tak ingin pembicaraan itu berlarut. “Kalian jangan khawatir.”
Si kembar dan Vania mengangguk kecil. Tidak ada yang bertanya lebih jauh. Mereka berpamitan untuk berangkat sekolah.
“Ya sudah, kami berangkat dulu,” ucap Kenzo, diikuti anggukan Kenzi dan Vania.
“Iya, hati-hati di jalan,” balas Andrian.
Tak lama, suara mesin motor memenuhi halaman mansion. Kenzo dan Kenzi menyalakan motor sport mereka masing-masing, sementara Vania memilih berboncengan dengan Kenzi.
Brum… brum…
Tiga motor itu melaju meninggalkan mansion, pedal gas ditarik lebih dalam dari biasanya. Bukan tanpa alasan—mereka sedang mengejar Arabella.
Di atas motor, perasaan Vania mendadak tidak nyaman. Dadanya terasa sesak tanpa sebab yang jelas.
Sial… sebenarnya ada apa sih dengan Arabella hari ini? gerutunya dalam hati. Sampai semua perhatian tertuju ke dia.
Tadi pagi, saat Ara berada di dapur, Vania masih di kamar. Mereka bahkan tidak sempat bertemu. Entah kenapa, Vania merasa beruntung—karena jika saja ia melihat Ara pagi itu, kesalnya pasti akan jauh lebih menjadi.
Motor di depan mereka melesat semakin jauh.
Kenzo menyipitkan mata, fokus ke sosok di depan yang mengendarai motor sport dengan begitu luwes. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena kecepatan, melainkan karena keterkejutan.
“Sejak kapan adik gue bisa bawa motor kayak gitu?” ucapnya nyaris tak percaya.
Kenzi ikut terdiam. Perkataannya pagi tadi tentang perubahan Ara kembali terlintas. Kini, perubahan itu bukan lagi sekadar sikap—tapi kemampuan yang selama ini luput dari perhatian mereka.
Sejak kapan?
Pertanyaan itu menggantung di kepala keduanya.
Tanpa mereka sadari, perhatian Kenzo dan Kenzi sepenuhnya tersedot pada Ara. Vania, yang duduk di belakang, merasakan itu dengan jelas. Jemarinya mencengkeram jaket Kenzi sedikit lebih erat, perasaan asing mengendap di dadanya—antara kesal dan tersisih.
Sementara itu, Ara yang berada jauh di depan justru tersenyum puas. Bayangan wajah syok kedua orang tuanya terlintas jelas di kepalanya. Tawanya pecah singkat, dibawa angin pagi.
Namun kepuasan itu tidak bertahan lama.
Suara klakson mendadak meraung di sampingnya—keras dan provokatif. Sebuah motor sport lain menyusul, terlalu dekat.
Ara refleks menoleh, rahangnya mengeras.
“Woy! Ngapain lo, berisik banget!” teriaknya kesal.
Motor itu tidak menjauh. Justru tetap berada di sisinya, seolah menantang.
" Sialan, dia nantangin gue," kata Ars dengan kesal.
Tanpa aba-aba Ara langsung saja menambahkan kecepatan motornya di atas rata-rata melesat menjauh meninggalkan pria itu di belakang.
" Gila siapa sih dia, malah nantangin gue, gak tahu aja kalau gue itu jagonya," kata Ara dengan kesal.
Kalian tahu kan kalau Alea itu adalah Queen Mafia, masa iya dia harus kalah dengan seorang anak bau kencur. Tentu saja nggak mungkin.
Aksi kejar-kejaran itu terjadi antara Ara dan pria asing itu sampai mereka berdua masuk kedalam gerbang sekolah bersamaan.
Brum brum brum
Ckitt
Suara gesekan rem dan juga aspal terdengar begitu nyaring. Ara memarkirkan motor itu di parkiran begitu juga dengan Pria asing yang sudah berada di sampingnya.
Ara menoleh ke arah pria itu dengan kesal. Menatapnya sambil melototkan mata.
" Siapa sih Lo? Ngeselin banget," kata Ara sembari mencebikan bibirnya.
Sedangkan Pria itu hanya menaikan sebelah alisnya sembari bersidekap dada. Bukannya turun dari motor dia justru sengaja mempermainkan Ara supaya membuatnya kesal.
"Dia lucu sekali," gumamnya dengan pelan.
Sedangkan para siswa di sekolah itu sudah berteriak histeris saat melihat aksi Ara dan pria itu.
" Aaa, Ini hari apa woy, kenapa hari ini kita beruntung sekali," teriak salah satu siswa kepada temannya.
" gila mereka berdua sangat keren," teriak siswa lainnya.
" Woy stok orang terkeren nambah lagi di sekolah kita,"
Begitulah teriakan-teriakan para siswa di sana saat melihat Ara dan pria tadi. Bukannya merasa bangga Ara justru biasa saja, dulu dia bahkan selalu menjadi perhatian bahkan lebih dari ini.
" apaan sih mereka, nggak, jelas banget," kata Ara.
Karena sudah kadung kesal Ara langsung saja turun dari motornya, lalu membuka helmnya dengan perlahan.Semua orang menahan nafas saat melihat Ara membuka Helmnya.
Rambut hitam panjang bergelombang jatuh perlahan sampai punggungnya membuat mereka semua melongo tidak percaya.
" Apa? Jadi dia cewek,"
" Gila, gue kira dia cowok," ucap salah satu wanita yang terlanjur menyukai Ara.
" Woy murid baru bening bener," kata salah satu siswa di sana.
Yang terpesona saat melihat wajah Ara. Dia bahkan sampai melongo saat melihatnya.
Bagaimana tidak, wajah Ara itu begitu baby pace, jika orang melihatnya itu terlihat seperti barbie hidup. Apalagi dengan matanya yang bulat dan besar, bola mata yang berwarna hijau Amber itu membuat semua orang terpana.
Bibirnya yang tipis dengan wajah seputih susu, di tambah hidung bak perosotan membuat sekua orang tidak akan percaya kalau dia itu Ara. Gadis cupu yang sering mereka rendahkan dan di bully setiap hari.
Namun, salah satu di antara para siswa itu justru terdiam menatap ke arah Ara.
" Loh kok gue merasa Familiar dengan wanita itu," katanya.
Siswa itu terdiam seolah mengingat-ingat wajah Ara. Namun beberapa detik kemudian siswa itu melototkan matanya tidak percaya dengan mulut terbuka menganga lebar.
" Cupu?" tanyanya tidak percaya.
Semua orang syok saat mengetahui kelau dia itu adalah Ara gadis cupu yang berubah menjadi cinderella.
" Apa? Arabella?"
" Kenapa dia sangat cantik sekali, ternyata selama ini dia menyembunyikan kecantikan itu dengan rapi."
" Si cupu yang punya tompel besar itu?"
" Iya, dia emang siapa lagi,"
" Hah,"
Ara hanya bersikap biasa saja tanpa menimpali pembicaraan mereka semua. Dia berjalan dengan santai dan percaya diri menuju kelasnya tanpa menghiraukan mereka semua. Namun langkah Ara terhenti saat seseorang memanggil namanya.
" Arabella tunggu,"