NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jam Enam Pagi, Beda Tapi Nyata

Jam 6 Lagi, Tapi Beda

Hari kelima belas, pukul 05.45 pagi.

Dewa berdiri di depan Apartemen Anggrek dengan motor butut seperti 14 hari sebelumnya seolah tak pernah pura-pura sakit, tak pernah ketahuan bahwa ia jualan bubur.

Tapi kali ini beda, sangat berbeda Ia tak tidur semalaman bukan karena hatinya patah, tapi karena satu hal yang terus berputar di kepalanya: Ibu Dian ternyata punya mobil.

"Kenapa minta dijemput? Kenapa naik motor butut gue? Apa ini semacam... tes?"

Tangannya gemetar saat memegang helm. Matanya awas mengamati pintu masuk apartemen, mencari-cari city car Honda warna silver yang kemarin ia lihat.

Seorang perempuan jadi jadian lewat menegurnya kalem," Mas ...mau gak sama aku ? kasihan aku semalaman belum dapat klien."

Dewa mengernyit, menggaruk kepalanya," Aku cuma ada bontot lontong sayur, kamu boleh ambil," katanya mengambil dari gantungan."

Wanita ber-make up tebal itu tertawa senang," Makasih ya mas, boleh hadiah nya cium pipi."

" Eiits jangan ...."

Namun pada saat itu pula tepat Pukul 06.00 Ibu Dian keluar dari pintu dengan roman pecah

Raka jatuh limbung dari motornya.

Blazer abu-abu muda—warna yang tak pernah Dewa lihat sebelumnya. Rambut tetap di kuncir, tapi pita hitam kembali menghias, tidak matching, tidak berdandan seolah—Dewa menangkapnya—sengaja tidak ingin terlihat cantik? Atau justru terlalu peduli hingga takut terlihat berlebihan?

"Bu," Dewa menyodorkan helm, matanya tak lepas dari wajahnya mencari-cari jejak kemarin.

Dian mengambil helm menatapnya sekejap. Lalu memakai tanpa sepatah kata.

Motor melaju hening. Dinginnya angin pagi Jakarta terasa lebih menusuk dari biasanya.

Dewa berpikir perjalanan kali ini seperti menyusuri sungai Amazon dikelilingi buaya dan ikan piranha

Di perjalanan, ia memberanikan diri membuka kata, harus mencoba.

"Bu... kenapa ibu diam? Ibu marah soal kemarin?

"Tidak apa-apa," potongnya cepat. "Anda jualan, saya mengerti."

" Tadi pagi ibu mungkin melihat seorang perempuan mendekati saya."

" Siapa dia ? Wajah Ibu Dian merenggut, cuma tidak nampak tertutup helm

" Saya tidak kenal cuma kasihan saja dia Lum makan sejak kemarin katanya."

Dian tercenung, laki laki muda ini ternyata punya empati," Bagus itu saya senang mendengar kamu punya hati"

" Tapi, Bu, Dewa mengeraskan napas. "Saya lihat Ibu... Ibu punya mobil."

Sekian detik hening lalu terdengar jawaban singkat samar, "Iya. Terus kenapa—"

Sunyi

Dewa berpikir ingin bertanya lebih lanjut takut membuatnya tersinggung tapi ini terasa begitu menggelitik," Mengapa ibu mau di jemput pakai sepeda motor butut ?"

Suara itu datang lebih kecil samar terdengar di telinganya," Terkadang orang butuh ditemani bukan sekadar untuk diantar."

Dewa membeku. Setir motor hampir oleng. Ia mengerem, menahan laju kendaraan, jantungnya berdegup kencang.

"Ditemani bukan diantar," kata kata itu diulang dan menusuk gendang telinganya.

"Bu, gak pantas ibu naik sepeda motor butut ini—"

"Kita sudah sampai," katanya memotong padahal kampus masih lima menit lagi.

Dewa diam mengemudi pelan sangat pelan mencuri waktu.

Pukul 10.00, ruang dosen.

Dian duduk di belakang meja. Tangan kirinya—dengan cincin—tergeletak di atas meja terlihat jelas tidak disembunyikan, sengaja, sebuah tantangan.

Dewa duduk di depan, gugup hanya menunggu.

"Anda tahu siapa pengirim cincin ini?" tiba-tiba ia bertanya langsung tanpa basa-basi.

Dewa terhenyak pertanyaan itu lagi.

"Tidak, Bu."

Ia menatapnya lekat. Mencari kebohongan. Tapi Dewa—terlatih selama 15 hari—memasang wajah datar polos, mahasiswa kutu buku, no aktifitas, no love.

"Arif... Pak Arif bilang bukan dia." Suaranya melemah. "Pak Dekan juga bukan. Lalu... siapa?"

Dewa merasa dadanya sesak kesempatan untuk jujur terbuka lebar. "Sayalah pengirimnya, Bu. Sayalah yang salah alamat. Sayalah yang—"

Tapi kemudian ia ingat mobil Honda silver, Ingat kata "ditemani," dan mungkin—bukan sekadar dosen yang butuh asisten.

Jika ia bicara sekarang, semua akan runtuh, cincin murah dari mahasiswa miskin, asisten koplak yang diam-diam menyimpan rasa, pembohong berpura-pura menjadi orang biasa.

Dan harapan di mata Dian—harapan pada pengirim romantis itu—akan padam.

"Mungkin... mungkin ada orang lain, Bu. Yang... yang diam-diam menyukai Ibu."

Ia menatapnya lamat seperti melihat hantu ganteng berkata pelan berbisik: "Saya berharap orang yang mengirim nya adalah orang baik"

Dewa menunduk sakit. Tapi juga—ia akui—lega.

Pukul 17.00, area parkir.

Dewa menunggu seperti biasa. Tapi matanya tak bisa berhenti memindai tempat parkir dosen mencari city car silver itu.

Dian keluar dari gedung sendirian, tidak ada Arif, mobil BMW hitam, ia berjalan melewati motor Dewa, lalu berkata tanpa menoleh: "Tunggu sebentar."

Dewa mengangguk melihatnya masuk ke parkiran dosen. Beberapa menit kemudian, city car silver itu keluar melaju pelan berhenti tepat di samping motor Dewa.

Jendela mobil terbuka.

"Antar saya ke Pasar Inpres,"

"Pasar, Bu?"

"Iya. Saya mau lihat gerobak bubur Anda."

Dewa melongo

 

Pukul 17.30, Pasar Inpres.

Dian turun dari mobil. Blazer abu-abu mudanya kontras dengan lingkungan pasar. Pedagang menatap heran. Ibu-ibu berbisik. Tapi Dia tak peduli berdiri di depan gerobak Dewa diam mengamati.

"Ini gerobak Anda?"

"Iya, Bu."

Dian mengamati lebih dekat melihat panci, kompor, bumbu-bumbu.

"Berapa untung per mangkuk?"

"Rp500, Bu."

Ia mengangguk lalu tiba-tiba berkata: "Saya mau satu."

Dewa terperanjat. "Bu? Maksudnya?"

"Saya mau beli bubur ayam Anda. Satu mangkuk. Saya laper."

Pukul 18.00.

Dian duduk di bangku panjang dekat gerobak. Memakai blazer abu-abu muda. Memegang mangkuk bubur. Para pedagang lain melongo. Dewa hanya bisa diam, tak percaya.

Ia menyendok bubur makan perlahan. Lalu berkata: "Enak."

Dewa tak tahu harus menjawab apa.

"Ibu... Ibu kenapa mau makan bubur di sini?"

Dian meletakkan sendok menatapnya sendu, tapi tegas.

"Karena saya lelah. Lelah ditanya cincin. Lelah dikelilingi laki-laki yang hanya mau saya karena masa lalu. Lelah..." Ia berhenti. Menarik napas. "Lelah berpura-pura kuat."

Dewa diam hatinya berdegup kencang.

"Dan saya lihat Anda," lanjutnya. "Anda jualan bubur bekerja keras tak pernah bertanya soal cincin. Anda... Anda hanya menemani."

Hening.

Dewa ingin bicara bahwa dialah pengirim cincin itu. Tapi lidahnya kelu.

 "Besok, antar saya lagi. Tapi bukan ke kampus."

"Ke mana, Bu?"

"Ke Bandung."

Dewa terkesiap. "Bandung?"

"Iya. Saya harus ketemu seseorang. Dan saya... saya tidak mau sendirian."

 

Pukul 22.00, kosan Depok.

Roby sibuk dengan laptop. Dewa duduk di lantai dengan kopi sachet. Pikirannya kacau.

"'Rob, gue disuruh mengantar Ibu Dian ke Bandung?"

"'Haa? Lo ? Dalam kapasitas apa?"

" Asisten."

"Yakin Lo?"

"Iya."

"Lo tahu kan itu artinya?"

Dewa menggeleng.

"Itu artinya lo naik level, bro. Bukan sekadar asisten. Lo jadi... orang kepercayaan."

Dewa diam. Lalu berkata pelan: "Gue takut, By"

"Takut apa?"

"Gue takut... kalau nanti di Bandung, gue lihat laki laki itu di masa lalunya. Gue takut... gue takut gue bukan siapa-siapa di matanya."

Roby menepuk pundaknya. "Lo emang bukan siapa-siapa, bro. Tapi lo ada di sini. Lo nemenin dia. Itu lebih berarti dari yang lo kira."

Dewa menunduk.

Di Apartemen Anggrek, Dian duduk dengan cincin di jarinya

"Siapa pun kau pengirim cincin ini... maafkan aku. Karena besok, aku pergi ke Bandung. Bukan untuk mencari laki-laki lain. Tapi untuk... menutup masa lalu."

Ia memejam air mata jatuh.

"Biar aku bisa... mulai lagi."

1
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!