NovelToon NovelToon
Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Diam-Diam Cinta / Teman lama bertemu kembali / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanpa Kata Terakhir

Sirene ambulans meraung membelah malam. Lampu merah-biru memantul di wajah Naya yang pucat. Tangannya menggenggam tangan Damar erat-erat, seolah takut jika ia melepaskannya satu detik saja, Damar akan pergi selamanya.

“Dam,,,tolong buka mata kamu. Lihat aku, Dam. Kita sudah mau sampai. Kamu bertahan,ya. Dengar aku kan,,,,,”.

Kata-kata itu keluar begitu saja. Permintaan, harapan yang rapuh, dan rasa takut yang tak bisa disembunyikan menjadi satu dalam suaranya yang bergetar.

Tubuh Damar terbaring kaku di atas brankar. Matanya terpejam, dadanya naik turun lemah. Suara alat medis berdetak cepat, berpacu dengan detak jantung Naya yang nyaris runtuh.

“Mba, yang tenang, ya. Kami pasti lakukan yang terbaik”

Naya mengangguk, air matanya jatuh satu per satu ke tangan Damar.

Naya berbisik, ”Kamu ingat kan Dam, kamu janji akan selalu bersama denganku,”

Pintu ambulans terbuka. Mereka tiba di rumah sakit. Damar segera didorong masuk ke ruang IGD sementara Naya berlari tertatih di belakangnya.

"Dam..." hanya nama kekasihnya yang selalu terucap.

Di ruang IGD, tim medis bergerak cepat. Naya berdiri terpaku. Air matanya membasahi pipinya. Tak lama kemudian ia melihat dua sosok berlari mendekat.

Itu ibu dan Ayah Damar.

“Damar,,,,anakku,,,,” tangis Ibu Damar.

Ibu Damar nyaris jatuh, ditahan oleh suaminya.

"Astaga, Mah. Tenang, Mah. Damar pasti akan baik-baik aja." berusaha menenangkan istrinya yang terlihat pucat.

Naya membeku di tempatnya, hanya bisa menatap orang tua Damar yang sedang menangis. Bahunya bergetar, suaranya tertahan.

Di sisi lain , orangtua Naya juga tiba, wajah mereka sama pucatnya.

“Naya,,,,ya Tuhan, kenapa ini?”Ibu Naya memeluk Naya.

“Bu,,,,Damar. Bu, aku takut,,,” suara Naya bergetar. Air matanya terus menetes.

"Tapi kamu engga terluka kan, Sayang?" tanya ibunya sambil menggenggam tangannya.

Naya hanya menangis sambil menyebut nama Damar berulang kali.

Di tengah tangisan itu, seorang perawat keluar.

“Kami akan membawa pasien ke ruang tindakan. Mohon keluarga menunggu di luar.”

Tubuhnya segera didorong dengan ranjang beroda, pintu tertutup, lorong rumah sakit menjadi sunyi, hanya dipenuhi doa dan isak tangis.

“Ya Tuhan,,,,selamatkanlah anak kami” doa Ayah Damar dengan suara berat.

Ibu Damar menangis dalam pelukan suaminya.

"Putra kita, Pah..."

Naya menunduk, tangan gemetar, bibir terus bergerak menyebut nama Damar.

Waktu terasa berhenti. Tangisan dengan harapan tetap terdengar.

Akhirnya dokter keluar. Semua berdiri bersamaan.

“Dok…….bagaimana keadaannya?” Ujar ayah Naya

Dokter menatap mereka satu per satu, lalu menunduk.

“Kami mohon maaf. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin.”

Ibu Damar langsung menutup mulutnya.

“Tidak…..jangan bilang begitu….” Ibu Damar putus asa mendengar hal itu.

Dokter melanjutkan pernyataannya dengan suara pelan, ”Damar telah meninggal dunia”.

Tangisan pecah seketika.

Ayah Damar memeluk istrinya erat, matanya basah namun tubuhnya kaku menahan kenyataan.

Naya terduduk lemas, ditopang oleh ibunya. Dunia Naya seakan runtuh saat itu juga.

“Ibu,,,,dia belum bilang apa-apa,,,,tidak mungkin Bu.”

Ibunya memeluk Naya, "Sudah, Nak.Sudah.Kamu yang tenang."

Dengan langkah berat, mereka semua masuk ke ruangan. Damar terbaring diam, dikelilingi kesunyian.

Ibu Damar menggenggam wajah putranya. Menatapnya penuh kasih.

“Kamu pulang nak,,,,tapi nggak bisa mama ajak bicara lagi,,,,”

Ayah Damar berdiri di samping istrinya, menangis dalam diam.

Naya mendekat perlahan, menggenggam tangan Damar yang dingin.

“Kamu janji mau tetap bersamaku,,,,tapi kamu pergi diam-diam, Dam.” bisik Naya.

Air mata Naya jatuh tepat di tangan Damar.

Tak ada jawaban. Tak ada pesan terakhir. Hanya keheningan dan tangisan yang memenuhi ruangan rumah sakit malam itu.

Ibu Naya mendekat, memeluk kembali putrinya yang hampir terjatuh. Memastikan putrinya baik- baik saja.

Naya menoleh ibunya, "dia bilang akan segera datang ke rumah, Bu. Damar mau minta restu, Bu."

Naya memejamkan mata di pelukan ibunya, berharap kejadian ini hanyalah sebuah mimpi buruk.

Ia kembali membuka mata, menyadari tujuh tahun kebersamaan mereka berhenti di satu sore. Bukan karna cinta yang habis, melainkan karna waktu yang terlalu singkat.

Dan cinta Naya, tertinggal bersama tubuh yang tak lagi bernapas.

1
kurniasih kurniasih
ceritanya bagus banget lanjut dong
Pasaribu: Ditunggu yaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!