Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.
Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.
Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.
Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.
Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.
Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Keduanya
Lala menyuapkan satu sendok kecil red velvet ke mulutnya. Rasa manisnya langsung menyebar, lembut, familiar. Ia menghembuskan napas pelan tanpa sadar, seperti baru saja melepaskan beban kecil dari dadanya.
Namun tenang itu tidak bertahan lama.
Ponselnya bergetar di atas meja pantry. Satu notifikasi masuk.
Rendra
Lala menatap layar beberapa detik sebelum membukanya.
Ren:
La, lo lagi sibuk ga?
Gue mau nanya sesuatu bentar.
Lala mengernyit. Jarang-jarang Rendra chat dengan nada setengah ragu seperti itu.
Lala:
Lagi di kantor. Kenapa?
Titik-titik mengetik muncul agak lama, lalu menghilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Lala mendesah kecil, sudah hafal kebiasaan Rendra kalau lagi mikir berat.
Ren:
Jadi gini...
Masih inget soal tetangga gue itu kan?
Lala otomatis menegakkan punggungnya.
Lala:
Iya. Kenapa lagi?
Beberapa detik terasa lebih lama dari biasanya.
Ren:
Dia chat gue lagi.
Nanyain lo.
Sendok di tangan Lala berhenti di udara.
Lala:
Nanyain gue apaan?
Jawaban Rendra datang cepat, seolah ia juga tidak ingin berlama-lama dengan topik itu.
Ren:
Katanya lo keliatan asik.
Terus nanya, lo sering ke sini apa engga.
Lala mendengus kecil, antara geli dan risih.
Lala:
Hah? Kok jadi ke gue sih.
Lo jawab apa?
Ren:
Gue bilang lo temen deket gue.
Udah itu aja.
Lala menghela napas, meneguk minumannya. Dari balik kaca pantry, ia kembali melihat lalu lintas di bawah sana, merasa situasinya mulai terasa rumit lagi.
Lala:
Terus lo kenapa keliatan panik banget?
Balasan Rendra tidak langsung muncul. Kali ini lebih lama.
Ren:
Karena gue ngerasa...
Dia makin aneh, La.
Dan gue ga nyaman kalo dia bawa-bawa nama lo.
Jari Lala mengetuk pelan meja. Ada rasa hangat kecil karena Rendra kepikiran soal itu, tapi juga ada kegelisahan yang ikut menyelinap.
Lala:
Lo maunya gue gimana?
Tiga detik. Empat detik.
Ren:
Mungkin gue lebay.
Tapi...
Kalo nanti gue minta tolong lo buat pura-pura jadi pacar gue,
lo keberatan ga?
Lala terdiam.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena terkejut sepenuhnya, tapi karena ada bagian dari dirinya yang sudah menebak kemungkinan itu sejak malam di rumah Rendra.
Ia mengetik, menghapus. Mengetik lagi, lalu berhenti.
Di satu sisi, kepalanya sudah penuh dengan urusan mamanya, Arga, dan tekanan “kapan nikah”. Di sisi lain, ia tahu betul Rendra bukan orang yang gampang minta tolong soal hal seperti ini.
Lala menatap sisa red velvet di piringnya, lalu tersenyum miris.
Lala:
Gue pikirin dulu ya, Ren.
Jawaban Rendra datang hampir seketika.
Ren:
Iya. Santai aja.
Gue ga maksa kok.
Makasih udah mau dengerin aja juga gue udah lega.
Lala mengunci ponselnya, bersandar di kursi pantry. Di kepalanya, potongan-potongan kejadian beberapa hari terakhir berputar. mamanya, Arga, Brian, dan sekarang Rendra dengan permintaannya yang tidak sederhana.
Untuk pertama kalinya hari itu, Lala sadar satu hal.
hidupnya sedang berada di persimpangan kecil yang terlihat sepele, tapi bisa membawa ke arah yang berbeda.
Dan entah kenapa, perasaan itu membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Lala meneguk sisa minumannya sampai habis, lalu berdiri dari kursi pantry. Piring kecil bekas red velvet ia buang ke tempat sampah, tapi rasa manisnya masih tertinggal, bercampur dengan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia kembali ke mejanya, mencoba fokus ke layar laptop. Email terbuka, dokumen terbuka, tapi matanya hanya menatap tanpa benar-benar membaca. Pikirannya masih tertinggal di satu kalimat Rendra.
pura-pura jadi pacar gue.
Lala menghela napas panjang, lalu menutup laptopnya pelan. Hari ini rasanya sudah cukup.
---
Sore menjelang, Lala akhirnya pulang lebih awal. Di perjalanan menuju rumah, kepalanya terasa penuh. Bayangan wajah mamanya yang antusias setiap kali menyebut nama Arga, perhatian Brian yang datang tiba-tiba, dan kini Rendra dengan masalah yang menyeret namanya tanpa sengaja.
Sesampainya di rumah, suasana cukup sepi. Mamanya sedang di kamar, adiknya entah ke mana. Lala masuk ke kamar, menjatuhkan tasnya begitu saja ke kursi, lalu merebahkan diri di kasur.
Langit-langit kamar menatap balik dirinya.
“Kenapa sih hidup ribet banget...” gumamnya lirih.
Ponselnya kembali bergetar.
Rendra.
Kali ini bukan chat, tapi telepon.
Lala menatap layar beberapa detik, ragu. Namun akhirnya ia menggeser ikon hijau itu.
“Kenapa, Ren?” suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.
“Gue ganggu ya?” suara Rendra terdengar hati-hati, tidak santai seperti biasanya.
“Nggak. Lagi ngapain emang?”
“Baru nyampe rumah ibu gue,” jawabnya. “Tadi kepikiran aja... soal chat gue siang.”
Lala memejamkan mata sebentar. “Hmm.”
“Gue kepikiran kalo itu bikin lo nggak nyaman,” lanjut Rendra. “Kalo lo nolak juga gapapa banget, La. Serius.”
Nada itu justru membuat dada Lala terasa sedikit hangat.
“Ren,” Lala menarik napas. “Gue belum bilang iya atau enggak bukan karena gue keberatan sama lo.”
“Hah?” Rendra terdengar bingung.
“Gue lagi banyak banget tekanan,” lanjut Lala jujur.
Di seberang sana, Rendra tidak langsung menjawab. Bukan karena bingung, tapi seperti sedang memilih kata.
“Tekanan gimana, La?” tanyanya akhirnya. Nadanya pelan, hati-hati. “Kalo lo mau cerita.”
Lala menelan ludah. Ia tidak tahu kenapa pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya terasa sesak.
“Di rumah,” jawabnya pelan. “Nyokap gue lagi pengin banget gue nikah. Akhir-akhir ini hampir tiap hari bahas itu.”
Rendra tidak memotong.
“Temenya nyokap dateng, bawa anaknya,” lanjut Lala. “Terus nyokap gue langsung cocok. Kayak... semuanya udah disusun rapi, tinggal gue aja yang harus ikut alurnya.”
“Lo nggak nyaman?” tanya Rendra pelan.
Lala mengangguk meski tahu Rendra tidak bisa melihat. “Bukan cuma nggak nyaman. Gue belum mau, Ren. Gue belum siap. Tapi tiap gue bilang gitu, kesannya gue egois, kekanak-kanakan, atau kebanyakan milih.”
Ia menghela napas panjang. “Capek banget rasanya harus jelasin hal yang sama berulang-ulang.”
Rendra kembali diam. Tapi kali ini diamnya terasa seperti mendengarkan sungguh-sungguh.
“Maaf ya, La,” ucapnya kemudian. “Gue malah nambah beban lo dengan masalah gue.”
“Eh—” Lala hendak memotong.
“Bener,” potong Rendra lebih dulu, suaranya jujur. “Harusnya gue lebih peka. Lo lagi ditekan dari banyak arah, terus gue datang minta bantuan.”
Lala terdiam. Ada sesuatu di cara Rendra meminta maaf yang membuat hatinya melunak.
“Ren,” katanya pelan, “gue nggak ngerasa lo beban.”
“Tapi gue tetep minta maaf,” jawab Rendra. “Karena gue peduli sama keadaan lo.”
Hening sebentar.
“Sekarang gini,” lanjut Rendra, lebih tenang. “Menurut lo, apa yang paling bikin lo kepikiran sekarang?”
Lala berpikir. “Nyokap gue. Ekspektasinya. Dan rasa bersalah karena nggak bisa nurutin.”
“Oke,” kata Rendra.
Ia menarik napas sebentar, terdengar seperti sedang menyusun kalimat di kepalanya.
“Emm... gini deh, La,” ucapnya hati-hati. “Dari yang gue denger, kayaknya mama lo emang pengin banget lo nikah. Bukan sekadar kenal orang, tapi bener-bener lihat lo punya pendamping.”
Lala terdiam, tidak menyangkal.
“Nah,” lanjut Rendra, “mungkin masalahnya bukan di lo nggak mau nikah sama sekali. Tapi lo nggak mau dijodohin, nggak mau dipaksa cocok.”
“Makanya gue kepikiran,” kata Rendra lagi, nadanya tetap santai tapi terasa serius, “kalo lo emang nggak klik sama anaknya temen mama lo itu... apa lo punya satu nama? Satu orang yang, ya... setidaknya mama lo tau kalo lo nggak kosong-kosong amat.”
Lala mengernyit, meski hanya sendiri di kamarnya. “Maksud lo?”
“Maksud gue,” jawab Rendra, lebih pelan, “ada nggak orang yang lagi lo suka? Atau pernah lo pertimbangin?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Tidak mendesak, tapi cukup membuat dada Lala menghangat sekaligus sesak.
“Kenapa gitu?” balas Lala, berusaha terdengar biasa.
“Karena kadang,” ujar Rendra jujur, “orang tua cuma butuh pegangan. Mereka pengin tau anaknya nggak sendirian, nggak tersesat.”
Lala terdiam lama.
“Dan kalo pun belum ada,” lanjut Rendra cepat, seolah takut Lala salah paham, “itu juga nggak apa-apa. Tapi mungkin cara nyampeinnya yang perlu diatur, biar mama lo nggak ngerasa lo nutup diri sepenuhnya.”
Lala menghela napas. “Gue ngerti maksud lo, Ren.”
“Gue nggak nyuruh lo bohong,” Rendra menegaskan. “Gue cuma mikir, kadang strategi kecil bisa bikin tekanan agak turun.”
Hening lagi.
“Terus,” suara Rendra sedikit lebih pelan, hampir ragu, “kalo boleh gue nanya lagi... emang nggak ada sama sekali?”
Lala tidak langsung menjawab. Tangannya menggenggam ponsel sedikit lebih erat.
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi jawabannya... tidak sesederhana itu.
“Ada sih,” katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. “Tapi ribet.”
Rendra tidak langsung menyahut. Ia membiarkan jeda itu ada, tidak memotong, tidak menyela. Seolah memberi ruang agar Lala tidak menarik kembali ucapannya.
“Ribet gimana?” tanyanya kemudian, pelan.
“Orangnya deket,” jawab Lala. “Sering ngobrol. Nyaman. Tapi posisinya nggak jelas. Dan gue nggak mau salah langkah.”
“Hm,” gumam Rendra. “Berarti bukan nggak mau, tapi lagi jaga diri.”
“Iya,” Lala tersenyum kecil, pahit. “Gue capek kalo harus mulai dari nol, tapi gue juga takut kalo berharap kebanyakan.”
Rendra menarik napas panjang di seberang sana. “Masuk akal.”
“Kalo gitu,” lanjutnya, nadanya lebih ringan, “mungkin solusi jangka pendeknya bukan soal nikah atau nggak nikah.”
“Terus?”
“Lo cuma perlu bikin mama lo tau satu hal,” kata Rendra mantap. “Kalo lo bahagia. Atau setidaknya, lo lagi berusaha ke arah sana.”
Lala terdiam, mencerna.
“Lo nggak harus ngenalin siapa-siapa sekarang,” lanjut Rendra. “Tapi mungkin lo bisa ngomong jujur tanpa detail kalo lo lagi deket sama seseorang. Lagi kenal. Lagi proses.”
“Dan kalo mama gue nanya siapa orangnya?”
Rendra tertawa kecil. “Jawab aja doain dulu. Orang tua biasanya luluh sama kata itu.”
Lala ikut tertawa kecil, tapi tawanya cepat menghilang. Ia menggeleng pelan.
“Masalahnya... mama gue nggak akan berhenti di situ, Ren.”
“Hah?” Rendra sedikit mengernyit.
“Dia tuh tipe yang kalo udah nyium bau-bau ada seseorang, pasti lanjut,” Lala menghela napas. “Bukan cuma ‘doain dulu’. Tapi ‘siapa namanya’, ‘kerjanya apa’, ‘orang tuanya siapa’, sampe ‘rumahnya di mana’.”
Rendra terkekeh. “Lengkap amat.”
“Makanya gue nggak berani bilang apa-apa,” lanjut Lala. “Begitu gue ngaku udah ada seseorang, mama gue bakal maksa buat ketemu. Dan gue... belum siap sejauh itu.”
“Takut orangnya kabur?” goda Rendra setengah bercanda.
“Takut guenya yang panik,” balas Lala cepat. “Gue nggak mau ngenalin orang kalo gue sendiri belum yakin mau dibawa ke mana.”
Rendra terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan.
“Oke, berarti masalahnya bukan di mama lo doang.”
semangat kak... salam dari Edelweiss...