NovelToon NovelToon
Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kehidupan di Kantor / POV Pelakor / Office Romance / Romantis / Tamat
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author:

Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran

Najma dan Dilema Hidupnya

Besok adalah hari yang sudah dinanti seluruh tim proyek AMD yang sudah sangat bekerja keras selama satu minggu ini. Apalagi aku, rasanya ingin sekali proyek ini segera berakhir walaupun kenyataannya belum dimulai sama sekali. Bagaimanapun caranya, aku harus memenangkan proyek ini dan kujadikan sebagai prestasi tahunan Najma sebagai seorang Creative Planner sebuah agensi Brand Activation di Indonesia.

Selama ini aku tak pernah mengatakan bahwa proyek AMD ini berasal dari perusahaan alat komunikasi bernama Sambung yang berarti merupakan salah satu proyek besar di perusahaanku jika aku bisa mendapatkannya. Sebagai penggemar produk Sambung, Pak Bos benar-benar menaruh harapan besar kepadaku untuk memenangkan pitching AMD ini. Maka dari itu, ia begitu menekanku melebihi proyek-proyek sebelumnya yang kukerjakan untuk perusahaan ini.

Aku kembali mengulas proposal yang kubuat agar bisa meminimalisir kesalahan yang luput dari perhatianku. Aku tak mau jika Pak Bos mengatakan kalimat yang selalu saja ia katakan sesaat setelah waktu presentasi usai.

“Lo tahu bahwa manusia adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan yang paling sempurna? Jadi, sebagai makhluk yang sempurna, kenapa lo juga nggak bisa menciptakan karya yang sempurna?”

Begitu sebalnya aku pada atasanku hingga semua kalimatnya yang sok tahu selalu terngiang di kepalaku.

Enam puluh lembar proposal untuk proyek AMD siap dipresentasikan. Bahkan untuk menambah ketertarikan klien kepada ideku, aku sampai membuat video survey yang kubuat ketika kunjungan iseng makan siang ke sebuah kampus yang tak jauh dari kantorku. Aku benar-benar berusaha keras untuk mewujudkan keinginanku memenangkan pitching proyek ini. Aku tersenyum-senyum membayangkan masa depanku jika semua menjadi kenyataan. Alangkah indahnya jika memang itu akan terjadi seperti yang aku dambakan.

“Najma, ada pesen tuh!” Gian menyodorkan ponselku yang baru kuisi tenaganya di pojok meja.

Kuberi senyuman tergenit untuk Gian sebagai tanda terima kasih dan kubuka kunci ponselku untuk membalas pesan yang ternyata dari Iman.

Seperti biasa, chat yang kukirim pukul sebelas siang tadi baru dibalas olehnya, dan ini sudah pukul empat sore.

“Lo mau gue jemput, nggak?”

“Boleh. Gue balik jam delapan ya. Kayaknya mau tim koordinasi dulu.”

Aku menunggu balasan selanjutnya. Tapi aku tahu itu tindakan sia-sia. Buktinya, sepuluh menit berlalu tapi bahkan chatku tidak dibaca.

Dasar Najma SKJ alias Sang Keledai Jomblo, selalu terjebak oleh kebodohan yang sama.

**

Sudah jam delapan malam.

Karena kerja keras yang berlebihan, akhirnya satu tim sepakat untuk pulang tepat waktu dan tidak melakukan lembur yang sia-sia. Hari ini adalah masa tenang, maka dari itu lebih baik kami menyimpan tenaga untuk presentasi esok hari. Ketahuilah, jam tujuh sudah ada di rumah adalah keajaiban bagi anak agensi. Hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat langka kami dapatkan, apalagi jika mendapatkan proyek pitching besar yang melibatkan banyak pihak untuk dapat membuat satu implementasi yang luar biasa.

Sehingga, hanya aku satu-satunya yang tersisa di kantor ini. Bahkan mungkin hanya aku satu-satunya yang berada di gedung setinggi tiga puluh lantai ini. Aku menunggu di plasa kafetaria kesukaan untuk menunggu sesuatu yang tak pasti.

Ya, konfirmasi Iman tentang penjemputan diriku dari kantor ini.

Aku jadi kesal sendiri, sebenarnya yang niat pedekate itu aku atau dia sih? Kenapa jadi aku yang gelisah seperti ini? Kenapa aku yang berharap dia akan mengejarku dan memperhatikanku seperti lelaki yang sedang kasmaran berat?

Dulu, Aga selalu mengecek keadaanku di situasi apapun. Terutama ketika aku mendapat tugas televisi yang membuatku tidak tidur tiga hari berturut-turut. Dia selalu meneleponku walau sudah kuberitahu lewat pesan dan lainnya. Katanya, tidak cukup hanya mendapat informasi lewat tulisan. Ia harus memastikan kondisiku lewat suara dalam durasi tertentu. Ia begitu memperhatikanku.

Dan Iman tidak begitu.

Aku tahu, aku tahu. Tidak adil rasanya jika terus membandingkan semua lelaki dengan Aga. Tidak adil juga rasanya jika aku harus membandingkan cara Iman menyukaiku dengan cara yang dilakukan Aga padaku. Aku tak boleh seperti itu.

Aku pun memutuskan untuk menelepon Iman sekadar memastikan apakah ia akan menjemputku atau tidak.

“Ya, Najma.”

“Lo jadi nggak jemput gue, Ims?”

“Najma, sori. Gue masih meeting nih. Sori banget nggak ngabarin lo.”

Kalimat tersebut adalah jahat dan aku benar-benar kecewa dibuatnya.

“Iman.”

“Iya, Ma.”

“Gue nggak akan ganggu lo lagi, tapi biarkan gue ngomong satu hal aja sama lo, ya?”

Iman diam menunggu kalimatku selanjutnya.

“Gue sama sekali nggak merasa lo punya perasaan sama gue, loh. Mungkin lo salah mengartikan apa yang lo rasakan tentang gue, kali. Karena yang gue tahu sebagai seorang perempuan, siapapun yang punya rasa akan selalu ingin berinteraksi dengan orang yang dia suka dan akan membuat usaha untuk mendapatkannya.”

“Ma, gue lagi sibuk banget soalnya. Ini aja baru pegang hape.”

“Iman, kalau lo punya niat untuk serius sama gue, at least, sebentar aja lo pasti bisa bales pesen gue. Sebentar aja, baca dan kasih feedback lo ke gue. Sebentar aja, pastikan ke gue kalau lo mikirin gue.”

“Najma, nanti biar gue jelasin, ya! Gue udah ditunggu. Maaf banget.”

“Nggak usah, Iman. Have fun with your meeting session.”

KLIK. Aku begitu kesal pada Iman pertama kalinya secara serius, saking seriusnya hingga aku ingin menembakkan peluru dengan sniper ke tempat kerjanya dari sini.

Kucek lagi perasaanku bilamana ini adalah perasaan patah hati.

Kok rasanya berbeda? Kok aku tidak menangis?

Padahal Iman begitu menyebalkan hari ini sampai aku tak mau bertemu lagi dengannya selamanya.

**

Hari ini adalah hari penentuan nasibku untuk menjadi seseorang yang aku ingin temui ketika aku kecil dulu, yaitu seorang perempuan sukses di bidang karir yang begitu ia sukai. Seorang perempuan yang sukses dalam pekerjaan dan membuatnya bangga setengah mati.

Aku membuka pintu rumah dan bersiap menuju kantor. Namun kutemui ada Iman di situ, berdiri menatapku dengan penampilannya yang sudah seperti tidak mandi seminggu. Mata pandanya muncul di bawah matanya begitu jelas hingga membuat penampakan wajahnya super suram. Melihatku hanya menatapnya, Iman tersenyum kecil kepadaku. Ia berdiri di depan pagar rumput rumahku dan menungguku menghampirinya.

“Kok di sini, Ims?”

“Najma, gue mau minta maaf ya.”

Aku diam dan menunduk, menatap sepatu ankle boots warna hitam dengan kaos kaki putih yang sedang kupakai.

“Gue ngerti kenapa lo punya kesimpulan seperti itu. Gue tahu itu salah gue, Ma. Makanya gue tahu lo pasti kecewa sama gue.”

Aku menatap kedua matanya yang sayu dan tak bernyawa, seakan semua energi Iman terserap oleh monster raksasa yang sedang berniat menghancurkan dunia.

“Sebagai sahabat lo, gue mengecewakan. Sebagai cowok yang naksir sama lo, gue lebih mengecewakan. Gue maklum kok kalau lo marah.”

“Apa alasannya, Iman?”

“Apa?”

“You heard me. Kasih tahu gue alasannya.”

Iman diam sejenak, ia mengumpulkan sisa tenaganya untuk mengatakan semua hal yang sudah bergumul di kepalanya. “Mungkin gue masih nggak siap ngasih semuanya kepada seseorang yang baru. Dulu, gue ngasih semua prioritas gue ke dia, tapi gue nggak dapet apa-apa. Gue terlalu berharap gue dapat timbal balik dari perasaan yang gue beri. Ketika cuma dia yang jadi nomor satu di kehidupan gue, nyatanya dia nggak memperlakukan gue seperti itu. Gue takut aja itu terjadi lagi sama gue, Najma.”

“Kasian dong sama yang jadi pacar lo selanjutnya. Dia kan nggak tahu tentang hal itu sebelumnya.”

“Nah, makanya gue mau mencoba untuk berubah. Gue berusaha, Ma.”

“Gue nggak merasakan usaha lo, Ims. Maaf.”

Iman memandangku dengan sorot mata yang lain. Bukan sebagai sahabatku, tapi sebagai seorang lelaki yang begitu paham dengan kesalahannya, tapi tak tahu harus berbuat apa.

“Iman, sebelum lo memutuskan untuk menyukai seseorang, silakan obati dulu luka lama lo. Gue tahu lo masih patah hati, tapi asal lo tahu bahwa bukan cuma lo yang menjadi manusia tersedih di dunia ini. Gue, yang tahu cerita lo tentang si Marina merasa kesal banget karena ternyata gue yang jadi korban lo. Gue yang harus merasakan patah hati lo ini. Berarti selama ini gue sudah salah mengerti karena menganggap lo udah bisa menjadi diri lo sebelum ketemu sama si Marina itu, tapi ternyata nggak! Sana patah hati aja sendirian! Nggak usah bawa-bawa gue!” seruku lalu meninggalkannya.

Aku berjalan super cepat sebagai efek dari jantungku yang terus berdetak kencang. Perasaan amarah terhadap Iman karena ia masih memikirkan mantannya yang membuat ia begitu patah hati selama dua tahun lamanya membuatku begitu cepat melangkah menuju halte depan komplek rumah.

Tentang mantannya yang bernama Marina, aku dan Magi sangat membencinya. Kamu tahu kan pepatah geng Cinta di film AADC bahwa persahabatan adalah satu, bahwa musuh satu orang adalah musuh semua? Aku, Magi, dan Iman menerapkan hukum tersebut dalam persahabatan kami. Aku dan Magi sama-sama melihat betapa sedihnya Iman diputuskan sepihak hanya karena Marina mengalami cinta lokasi ketika ia sedang melakukan pertukaran pelajar ke Korea selama empat bulan. Aku dan Magi sama-sama melihat betapa tidak adilnya Iman diperlakukan semena-mena ketika ia begitu yakin Marina adalah masa depannya. Aku dan Magi benar-benar menjadi saksi kepiluan Iman karena begitu cinta matinya ia pada perempuan yang fokus belajar di ilmu kelautan di universitas yang sama dengan Iman. Dari situlah kami bertiga memanggilnya Marina Sang Putri Laut. Ibarat ikan, dia bukan lumba-lumba yang dicintai semua orang karena merupakan binatang baik hati yang menyenangkan, tapi ia adalah ikan pari yang tubuhnya pipih dan tidak memiliki apa-apa di dalamnya, kosong tak ada isinya.

Terus sekarang aku malah kena imbasnya?

Aku begitu kesal pada Iman karena ia membuatku merasa terbang ke langit dengan ketinggian 3000 meter di atas mata kaki namun kemudian ia banting aku ke jurang lautan dengan kedalaman 1000 meter. Super dalam hingga aku tak bisa berenang saking gelapnya.

**

Aku diam berdiri menunggu panggilan. Saat ini adalah salah satu momen menegangkan dalam hidupku. Aku dan tim AMD sama-sama berdiri menunggu panggilan pitching ke ruang meeting di kantor Sambung. Di saat-saat seperti ini kami hanya bisa berdoa agar presentasi nanti dilancarkan dan tidak mengalami kesulitan.

Ponselku berdering. Panggilan dari Magi.

“Nas, Iman kenapa?”

“Tadi pagi dia ke rumah, Gi. Gue sama dia berantem.”

“Kenapa? Lo ngomong apa sama Iman?”

“Nanti deh, Gi. Gue ada pitching. Nanti gue telepon lo balik, ya. Sori.”

“Iman sibuk, Nas. Sama kayak lo.”

KLIK. Magi menutup panggilannya lebih dulu.

Kenapa harus terjadi masalah tepat di saat seperti ini? Aku tidak bisa fokus dan membuat diriku begitu percaya diri ketika dua sahabatku membuatku begitu lesu dan merasa tak berguna.

Tapi tidak boleh. Ini adalah proyek berdarah. Semua peluh dan waktu yang terbuang selama ratusan jam harus menghasilkan nilai yang baik. Semuanya menggantungkan nasibnya padaku.

Lalu, kami pun masuk ke ruangan yang sudah diisi oleh tim klien yang akan menyaksikan pertarungan ini.

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!