"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Bertemu Kenny, lagi.
Di seberang meja tepat dibelakang Mirza. Seseorang menatap Ribka dengan ragu. Dia terus memperhatikan dan menyakinkan dirinya kalau dia tidak salah lihat. Saking penasarannya, sosok itu berdiri menghampiri meja Ribka.
"Tante Ribka kan?" serunya memastikan. Sosok itu tak lain adalah Kenny. Yang beberapa hari lalu bertabrakan dengan Ribka di koridor rumah sakit.
"Eh, Nak Kenny?" Ribka terkejut melihat Kenny. Terlebih Kenny, dugaannya tidak salah sebab penampilan Ribka yang jauh berbeda disaat pertama kali bertemu.
"Aduh, aku pangling melihat Tante. Tadi kupikir orang lain. Tante sangat berbeda saat pertama kali jumpa." Kenny mengulurkan tangannya untuk salaman.
Mirza heran saat seseorang menyapa ibunya. Sikap responsifnya muncul dengan kehadiran pria yang lebih tua satu atau dua tahun darinya. Lebih ke rasa curiga.
"Hei, apa-apaan. Salaman sama Mama gue tanpa izin." Tiba-tiba Mirza menepuk lengan Kenny yang terulur. Kenny terkejut dengan reaksi Mirza.
'Bocah ini?' Batinnya. Salah paham juga.
"Tidak apa Mirza, Mama kenal dia kok." Kenny tersenyum manis ke arah Mirza. Membuat Mirza malah merinding. Nih, cowok apa laki sih? Ko senyumnya rada miring. Mirza malah asyik curigation.
"Ngapain senyum-senyum?" bentaknya. Kenny otomatis melototkan matanya. Bukan mau mengancam. Hanya mau menguji nyalinya saja. Kenny suka gaya Mirza.
"Kenalkan Kenny, ini Mirza anak Tante." Ribka cepat tanggap melihat kedua pria ganteng di depannya yang adu pesona.
"Oh, dia anak Tante ya? Galak amat sih Tante, bodyguardnya." sahut Kenny sekenanya. Mirza mendelik.
"Hei, apa lo bilang. Aku ini anaknya tau. Enak saja nyebut-nyebut gue bodyguard." seru Mirza kesal. Siapa sih cowok ini. Sejak kapan dia kenal Mama. Kok gayanya akrab banget. Batin Mirza semakin curiga.
"Klo situ nolak, biar gue aja yang jadi bodyguard Tante Ribka. Tante gak nolak kan, iya kan?" ucap Kenny santai lantas duduk di kursi dekat Ribka.
"Eh, kamu jangan sok akrab ya. Beliau Mama gue. Kok situ banyak gaya!" sentak Mirza berdiri dari kursinya. Pikir Mirza, Kenny tengah melecehkan ibunya. Sikap santai Kenny membuatnya naik pitam.
"Sudah Mirza. Jangan salah paham dulu Nak. Kamu ini pun, ngomongnya tanpa basa-basi." Ribka menepuk lengan Kenny pelan.
Aneh, ini kali kedua dia bertemu Kenny. Kenapa ada rasa yang terhubung di hatinya. Sesuatu yang sulit untuk diutarakannya.
Sementara benak Mirza juga mencelos. Kok bahasa tubuh ibunya beda sekali. Itu bukan yang dibuat-buat. Sepertinya muncul secara naluriah. Padahal mereka baru dua kali bertemu. Kenapa bisa seakrab itu?
"Mirza tidak suka dia sedekat itu sama, Mama. Dia merusak kencan kita Ma." Mirza merajuk. Ribka hanya tersenyum dikulum mendengar ucapan putranya.
"Oh, lagi kencan ya. Sori Tante, Kenny telah mengganggu. Tapi kalau boleh, Kenny minta ikut bergabung ya. Please!" Kenny merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Mirza melototkan kedua matanya.
Menurutnya Kenny itu terlalu muka tembok, numpang di meja mereka.
"Gak enak makan sendiri, Tante. Biar aku yang traktir." tatap Kenny minta persetujuan. Ribka merasa tidak tega. Tapi takut juga Mirza keberatan.
Pandangan Ribka beralih ke Mirza, meminta izin. Ditatap lembut seperti itu tentu saja sulit bagi Mirza untuk menolak.
"Oke, silahkan ikut bergabung. Tapi ingat kamu yang jadi bandar!" sahut Mirza sadis. Sebenarnya dia gak terlalu marah. Melihat ada orang baru dikenal ibunya, dan bersikap seakrab itu. Malah membuat Mirza sedikit tenang.
Nanti kalau dia sudah kembali ke Jakarta, tentu ibunya akan punya teman selain dirinya. Dia malah merasa diuntungkan. Karena dia lihat sikap Kenny tulus. Bukan sekedar iseng menyapa ibunya.
"Oke sip, deal!" Kenny mengangguk setuju. "Apa kalian sudah pesan makanan?"
"Iya, Mirza sudah pesan." sahut Ribka.
"Kalau begitu aku pesan menu yang lain. Tadi mesan apa ya?" Kenny memeriksa buku menu.
"Pesan saja apa yang kau mau. Gak usah tanya-tanya Mama." sela Mirza karena Kenny terlihat sengaja cari perhatian ibunya.
"Hem," Kenny memesan menu. Tidak tersinggung dengan ucapan Mirza. Sebaliknya malah ingin lebih dekat dengan artian, ingin lebih kenal keluarga Mirza.
Seperti ada benang tak kasat mata yang coba mengikatnya dengan Tante Ribka.
Seperti magnet, menariknya lebih dekat dan semakin dekat. Perasaan itu membuat Kenny suatu malam tidak bisa memejamkan matanya. Bayangan wajah Tante Ribka seperti tersimpan di alam bawah sadarnya. Dan sejak pertemuan mereka beberapa hari lalu, Kenny kerab bermimpi kepada Ribka.
Namun, Kenny tidak punya keberanian waktu itu untuk meminta nomor Tante Ribka. Kurang etis menurutnya saat itu. Dan menjadi sesuatu hal yang ia sesali kemudian.
Lalu, dia bertemu kembali tanpa sengaja di restoran ini. Dengan penampilan yang berbeda. Membuatnya pangling.
Kemarin saat bertemu. Tampilan Tante Ribka sangat sederhana sekali. Mengenakan daster yang sudah memudar warnanya walau masih terlihat bagus. Rambut disanggul, tanpa riasan. Penampilan seperti emak-emak pada umumnya.
Lantas kenapa bisa berubah sedrastis ini. Apakah Mirza yang punya ide? Karena tadi dia sempat bilang sedang kencan dengan ibunya.
Ada-ada saja omongan Mirza. Dan terus terang Kenny suka dengan pribadinya yang santun pada ibunya. Kenny sudah melihat kedatangan mereka tadi. Walaupun cuma sekilas memperhatikannya. Perlakuan Mirza yang menarik kursi untuk ibunya sempat membuat Kenny terharu.
Andai dia juga masih punya seorang Ibu. Pasti akan memperlakukan ibunya seperti itu. Tapi sayang, Kenny tidak punya Ibu lagi. Ayahnya juga tidak mau menikah lagi. Semenjak kematian ibunya sepuluh tahun lalu.
"Nak Kenny? Kok malah bengong. Katanya mau makan bareng. Tapi hidangannya malah asyik dipandangi." Ribka menyentuh lengan Kenny yang sepertinya melamun. Padahal pesanannya sudah terhidang.
"Eh, maaf Tante. Kenny barusan teringat pada seseorang." Kenny menelan ludahnya. Membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
"Teringat pada siapa? Ibumu kah?" tebak Ribka tepat.
"Kok Tante tau, Kenny lagi teringat ke Ibu?" Kenny menarik nafas panjang. "Maaf ya Tante, telah merusak suasana kencan Tante dengan Mirza."
Ribka merasakan suasana hati Kenny yang mendadak galau. "Tante cuma asal menebak kok. Apa ibu Kenny sudah meninggal?" lagi tebakan Ribka betul.
"Ah, tebakan Tante benar lagi. Ibu Kenny sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Mendadak saja tadi aku rindu beliau. Melihat Tante yang akrab dengan Mirza."
"Eh, maafin ya Bang, tadi kata-kata Mirza. Mirza gak benar-benar marah kok." Mirza mendadak kurang enak mengingat kata-katanya tadi.
"Tidak apa-apa kok. Terima kasih telah memanggilku Abang. Serasa punya adik beneran. Hahaha." Mood Kenny kembali ke stelan awal yang aslinya ceria.
"Ayo kita makan. Jangan cuma dipandangi." ucap Kenny menirukan ucapan Ribka. Seraya tersenyum lebar. Kembali degup jantung Ribka bergetar aneh melihat senyum itu. Mengingatkannya pada senyum Jason saat masih kecil. ***