Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bebek
Apa yang di khawatirkan beruntung tak menjadi kenyataan. Perjalanan mereka mengantar Aurora pulang tak ada hambatan dan aman sampai tujuan. Turun dari kendaraan masing-masing, mereka tak langsung masuk ke dalam karena menunggu seseorang yang masih belum datang. Siapa lagi kalau bukan Luca.
Luca menjadi yang terakhir sampai karena dia yang tiba-tiba menghilang entah kemana saat di tengah perjalanan. Tapi, bukan kedatangannya yang menjadi pusat perhatian, melainkan sesuatu yang ada di tangan yang susah payah dia bawa.
Turun dari motornya, Luca menghampiri teman-temannya yang masih saja memperhatikan bawaannya dengan seksama.
"Lo, gak salah beli gituan Luc?" Tanya Vino ragu menatap apa yang ada di tangan Luca.
"Kenapa emangnya?" Tanya Luca yang justru bingung dengan ekspresi sahabatnya itu.
"Jadi, lo tiba-tiba minggir buat beli itu?" Tanya Rion karena tadi Luca sempat berpamitan dengannya terlebih dahulu. Rion pikir sahabatnya itu ingin pergi membeli bensin atau apa.
Tak merespon berlebihan, Luca hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Buat lo Ra." Ucap Luca memberikan arumanis berbentuk bebek berwarna kuning yang di bawanya pada Aurora.
"Makasih." Ucap Aurora menerimanya.
Perhatian kecil yang Luca berikan tanpa rasa canggung dan malu pada Aurora di depan teman-temannya membuat mereka hanya bisa tersenyum dan saling melempar tatapan satu sama lain. Seolah berkata dalam bahasa isyarat jika keduanya saling memendam rasa. Padahal, Luca sendiri hanya menganggap itu hal biasa dan wajar. Apalagi Aurora.
"Kita langsung balik ya? Gak papa kan?" Pamit Audrey tak enak hati.
Pasalnya, di saat seperti ini Aurora biasanya butuh mereka ada di sampingnya lebih lama. Tapi, karena hari sudah malam, mereka tak bisa melakukan itu sebab takut akan menggangu waktu istirahat Aurora. Terlebih kedua orang tuanya.
"Gak papa. Thanks karena kalian semua udah mau anterin gue pulang. Dan maaf, karena gue kita gak jadi have fun." Ucap Aurora menatap teman-temannya merasa bersalah.
"Gak usah bilang gitu. Kita udah sempet seneng-seneng kok. Ya, walaupun sebentar." Sahut Alexa menenangkan.
"Lagian, ini juga bukan salah lo. Jadi gak perlu merasa bersalah." Sahut Aline menambahkan.
"Next time kita bisa ke sana lagi bareng-bareng." Ucap Leon dengan senyuman.
"Ya udah, masuk gih, istirahat." Ucap Luca memerintah.
"Sekali lagi makasih ya." Ucap Aurora sebelum pergi.
"Sama-sama." Ucap Audrey mewakili.
Perginya Aurora dari sana tak membuat mereka langsung meninggalkan halaman parkir rumah besar itu begitu saja. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hati mereka para laki-laki tentang Kenzo dan Aurora.
"Kalian kenapa?" Tanya Aline penasaran setelah memperhatikan ekspresi para laki-laki di depannya satu per satu.
'Kita boleh nanya gak?" Tanya Leon meminta izin.
"Apa?" Tanya Alice yang secara tidak langsung mengizinkan.
"Ini, beneran rumahnya Aurora?"
Pletok
Vino yang berdiri di samping sahabatnya itu spontan mendaratkan pukulannya di kepala sang sahabat karena mendengar pertanyaan konyol yang Leon keluarkan. Dia sungguh tak habis pikir jika itu yang akan Leon tanyakan karena ekspresi wajahnya yang begitu serius.
"Awww." Rintih Leon seraya mengusap bekas pukulan Vino di kepalanya dengan kedua tangannya. Dia benar tak menyangka jika akan mendapat respon seperti itu.
"Yeee.... Dasar. Gue pikir mau nanya apa lo." Ucap Rion sedikit kesal sekaligus meledek sang sahabat yang mendapat pukulan sayang.
"Lo diem dari tadi itu cuma mikir ini rumahnya Aurora apa bukan? Itu doang?" Tanya Leo menggeleng tak percaya.
"Emang dasar Leon gak jelas." Sahut Luca mempertegas.
"Habisnya nih rumah gede banget. Emang kalian gak kaget?" Ucap Leon dengan cemberut.
"Biasa aja." Jawab mereka berbarengan. Membuat Leon justru semakin terlihat kesal.
"Tapi beneran. Kali ini gue serius." Ucap Leon lagi. Kali ini ekspresi wajahnya lebih meyakinkan daripada tadi.
"Apa?" Tanya Aline memancing.
"Emang resikonya apa kalo orang tua Ara tau tentang hubungan masa lalu anaknya sama Kenzo?"
"Ya gak ada resiko apa-apa. Cuman... Aranya yang belum siap buat cerita sama orang tuanya." Jawab Audrey memberitahu.
"Alesannya?"
"Karena dari awal mereka pacaran, Aurora sama sekali gak ada rasa sama Kenzo. Dia nerima perasaan Kenzo karena gak mau mempermalukan Kenzo di depan umum. Tapi, karena si Kenzo yang selingkuh, jadilah Ara mutusin dia." Ucap Alice menjelaskan.
"Kalo gak ada rasa, kenapa harus diputusin?"
"Astaga Leon.... Lo itu lemot atau emang gak tau sih?" Tanya Vino kesal karena sang sahabat yang seakan tak paham dengan penjelasan Alice barusan. Buktinya, dia begitu santai mengucapkan kalimatnya.
"Gue bener dong? Kalo Ara emang gak ada rasa sama Si Kenzo, kenapa dia harus mutusin Kenzo karena ketahuan selingkuh? Artinya, Ara cemburu karena Si Kenzo selingkuh." Ucap Leon lebih detail menjelaskan apa maksudnya.
"Bukan itu konsepnya singaaa..." Sahut Aline menarik nafas dalam menahan kekesalan.
"Terus apa?"
"Lo itu emang gak pernah pacaran atau gimana sih?" Tanya Alexa justru penasaran akan hal lain.
"Dia emang gak pernah pacaran. Jatuh cinta apa lagi. Jadi harap maklum. Otaknya emang rada konslet kalo pembahasan masalah beginian." Sahut Vino menjelaskan. Dia juga terlihat sedikit kesal karena Leon yang sama sekali tak bisa menangkap apa maksud dari yang sudah dijelaskan.
"Dengerin penjelasan gue baik-baik." Ucap Audrey lalu menarik nafas panjang.
"Sebagai seorang cewek, Ara itu punya pendirian dan prinsip yang kuat. Apalagi masalah hubungan yang udah berkomitmen. Walaupun dia masih belum punya rasa apapun sama Kenzo waktu itu, bukan berarti dia biarin diri dia buat gak dihargain gitu aja sama Kenzo dengan cara di sellingkuhin. Paham?" Lanjutnya sedetail mungkin.
"Paham. Terus?"
"Ya terus Aurora putusin Kenzo karena Kenzo yang ketahuan selingkuh. Masa iya gitu aja masih dijelasin lagi sih Leon...??" Sahut Leo memperjelas walau dengan menahan kekesalan.
"Daripada otaknya Leon makin gak jelas dan kemana-mana, mending kita balik sekarang aja." Usul Luca.
"Bener tuh. Ngeladenin dia gak bakalan ada habisnya." Sahut Vino setuju.
"Eh, tunggu." Ucap Alice menahan mereka yang hendak melangkah.
"Kenapa lagi yang?" Tanya Rion.
"Gue boleh minta nomer HP kalian gak?"
"Buat apa?"
"Siapa tau aja butuh. Gak papa kan?" Anggukan mengizinkan yang Rion berikan membuat Alice tersenyum dan mengeluarkan handphonenya dari dalam tas lalu mengulurkan nya.
"Kita tukeran nomor aja sekalian. Kayaknya habis ini kita bakalan sering ngumpul bareng-bareng." Ucap Leon menerima handphone yang Alice berikan seraya memberikan ponselnya juga.
"Emang gak papa kalian ngumpul sama kita cewek-cewek?" Tanya Audrey yang juga melakukan hal yang sama.
"Gak papa dong. Emang masalah?" Ucap Vino memberikan hp yang baru saja dipegangnya pada sang pemilik, Alexa.
"Ya kan biasanya kalo cowok sama cewek ngumpul bareng seringnya gak se frekuensi. Nanti kalian dikatain lagi." Sahut Alexa.
"Siapa juga yang berani ngatain kita. Mereka udah takut duluan kalo liat kita. Terutama Luca." Ucap Vino enteng seraya menerima hpnya kembali.
"Hub?" Kaget mereka para wanita bersama.
"Gak usah di dengerin. Vino emang suka gitu, ngasal kalo ngomong." Sahut Leon cepat. Menyimpan hpnya kembali ke dalam saku celana mengakhiri sesi tukar nomor diantara mereka.
"Kita kawal kalian sampai rumah." Ucap Luca sebelum Aline dan teman-temannya masuk ke dalam mobil.
Mereka pun menaiki kendaraan masing-masing lalu pergi bersama-sama meninggalkan rumah Aurora.
***
Setelah mengantar Alice dan Aline pulang ke rumah mereka dengan selamat, Luca memang memutuskan untuk langsung pulang. Dia dan teman-temannya yang lain berpisah di pertengahan jalan karena arah rumah mereka yang berlawanan.
Namun sayangnya, perjalanannya tak semulus yang diharapkan. Segerombolan preman bayaran sudah menunggu dan menghadang jalan. Mau tak mau, Luca pun turun dari motornya untuk berbicara dengan mereka. Karena dia pikir, selagi bisa di atasi dengan cara baik-baik kenapa harus berkelahi?
"Dia orangnya bos." Beritahu salah satu dari mereka pada pemimpinnya saat melihat Luca berjalan menghampiri mereka.
"Kebetulan banget lo dateng, jadi kita gak perlu kelamaan nungguin lo." Ucap temannya tersenyum remeh menatap Luca.
"Oh, jadi kalian sengaja nungguin gue." Ucap Luca santai.
'Syukur deh kalo lo paham. Jadi kita gak perlu repot-repot jelasin." Ucap seorang yang lain.
Seolah tak ada ekspresi takut atau khawatir sama sekali, Luca hanya mengangguk sekali seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam saki celana.
"Kalian di bayar berapa?" Tanya Luca masih sibuk dengan handphonenya.
"Huh?" Kaget mereka tak mengerti.
"Kalian di bayar berapa buat hadang gue kayak gini?" Tanya Luca lagi mengulangi.
"Itu bukan urusan lo. Yang jelas, tugas kita buat ngasih lo pelajaran." Ucap sang pimpinan.
"Ohh... Padahal gue pengen ngasih kalian penawaran."
"Maksudnya?"
"Gue gak suka kekerasan. Jadi kalo bisa diselesein baik-baik kenapa gak?"
"Emang lo punya penawaran apa?"
"Kalian Jawab dulu pertanyaan gue tadi. Kalian di bayar berapa?"
"10 juta."
"Pasti baru di bayar setengahnya doang' kan?"
"Darimana lo bisa tau?"
"Gue udah biasa berurusan sama orang-orang kayak kalian. Yang lebih daripada kalian juga ada. Jadi gue udah hafal."
"Terus, lo mau apa?"
"Lo punya nomer rekening' kan?"
"Ada."
"Siniin HP lo." Pinta Luca menengadahkan tangannya.
Meski masih tak mengerti dengan apa yang akan Luca lakukan, pria itu tetap memberikan ponselnya. Kurang dari 5 menit Luca mengoperasikan ponsel itu, Luca sudah selesai dengan aktivitasnya.
"Tuh udah gue transfer. Pasti lebih dari cukup dong buat kalian." Ucap Luca memberikan HP itu kembali.
Melihat nominal angka yang diberikan sangat banyak membuat mereka semua terkejut.
"Gue bisa kasih kalian lebih dari itu asalkan kalian gak kerja kayak gini lagi. Gunain uang itu buat sesuatu yang lebih berguna." Pesan Luca lalu berjalan menuju motornya.
"Minggir." Perintah sang pimpinan pada anak buahnya untuk menyingkirkan motor mereka dari jalanan dan memberi Luca jalan.
Tak semua masalah memang bisa diselesaikan dengan uang, tapi uang bisa membantu untuk menyelesaikan masalah yang ada. Buktinya, Luca bisa menggunakan uang yang dia miliki untuk tidak menimbulkan keributan.
***
Tak seperti biasanya, kejadian yang menimpanya barusan membuat hati Aurora tak bisa tenang begitu saja. Apa yang Kenzo lakukan benar sudah keterlaluan dan membuat Aurora tak bisa tinggal diam begitu saja. Dia, harus segera membicarakan masalah ini kepada kedua orang tuanya sebelum Kenzo bertindak lebih jauh dan membahayakan nyawanya.
Membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur karena tak kunjung bisa tertidur, Aurora di kejutkan dengan ketukan pintu kamarnya yang terdengar lalu di susul permintaan izin dari sang ibu.
"Masuk aja Ma, gak di kunci kok." Ucap Aurora sedikit berteriak mengizinkan seraya merubah posisinya menjadi duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Mama pikir kamu belum pulang." Ucap Ny. Airin saat memasuki kamar sang anak dan melangkah mendekat lalu duduk di pinggir ranjang menghadap Aurora.
"Baru aja kok Ma. Mama juga baru pulang?" Ucap Aurora balik bertanya. Melihat pakaian sang ibu yang masih sama seperti tadi pagi membuat Aurora dengan mudah bisa menebaknya.
"Iya sayang."
"Kenapa, hm?" Tanya Ny. Airin seraya mengusap pipi Aurora dan menyelipkan anak rambut yang berantakan ke belakang telinga.
Sebagai seorang ibu, Ny. Airin tentu tahu dan bisa merasakannya jika ada sesuatu yang tengah mengganggu sang putri satu-satunya. Terlebih, Aurora bukanlah seseorang yang pandai menyembunyikan perasaannya jika di hadapan orang-orang terdekatnya.
"Ara mau cerita. Tapi Mama jangan marah."
"Emang pernah Mama marah sama kamu?" Aurora menggeleng.
"Terus, kenapa takut gitu?" Senyum menenangkan dan kenyamanan yang Ny. Airin berikan membuat Aurora semakin yakin untuk menceritakan semuanya pada sang ibu.
"Karena Ara udah bohongin Mama sama Papa." Jujur Aurora tertunduk lesu.
"Bohong tentang apa? Asalkan itu masih bisa ditolerir Mama gak akan marah kok."
"Sebenernya, Ara udah sempet pacaran sama seseorang."
"Bagus dong... Terus, apa yang jadi masalahnya?"
"Kita udah putus hampir 6 bulanan yang lalu karena dia yang selingkuh. Namanya Kenzo Alexander. Satu kampus sama Ara tapi beda jurusan."
"Terus?"
"Sampek sekarang, Kenzo belum mau terima kalo kita udah selesai. Dia terus gangguin Ara dan paksa Ara buat ikut sama dia pas Ara di kampus."
"Kenapa Ara gak pernah cerita sama Mama atau Papa soal ini dari awal?"
Walau sedikit kecewa karena sang anak yang tak jujur lebih awal padanya, namun Ny. Airin tak bisa menunjukkan kemarahannya begitu saja. Karena yang dibutuhkan Aurora saat ini adalah tempat bersandar untuk mencurahkan isi hatinya.
"Karena Ara pikir Kenzo bakalan berhenti dengan sendirinya. Teman-teman Ara yang lain juga sering bantuan Ara buat jauh dari Kenzo kok. Tapi...."
"Tapi apa?" Tanya Ny. Airin karena Aurora yang menggantungkan kalimat terakhirnya.
"Tadi pas kita lagi jalan di paser malem, Kenzo tiba-tiba muncul dan sempet mau bawa Ara. Tapi gak jadi karena Luca dateng nyelametin."
"Itu artinya, dia udah mulai keterlaluan sayang. Dia bisa aja ikutin kamu kemanapun kamu pergi."
"Ara takut Ma."
"Nanti, kita cari solusinya sama-sama ya? Biar Mama yang omongin masalah ini sama Papa."
"Papa gak akan marah kan Ma?"
"Gak sayang, kamu tenang aja."
Perasaan lega langsung Aurora dapatkan setelah semua beban dalam pikiran bisa tersalurkan. Membaginya dengan sang ibu memang tak pernah salah karena Ny. Airin yang selalu bisa memberi solusi serta kenyamanan dan ketenangan.
Tak hanya bertindak sebagai seorang ibu, Ny. Airin juga memposisikan dirinya sebagai seorang teman, sahabat, ataupun guru di saat Aurora membutuhkan sosoknya di sampingnya.
Melepas pandangnya dari wajah sang anak, perhatian Ny. Airin teralihkan pada sesuatu yang ada di atas meja sebelah tempat tidur. Masih terbungkus rapih di dalam plastik dan belum tersentuh.
"Itu, kamu yang beli?" Tanya Ny. Airin menatap arumanis berbentuk bebek itu.
"Gak. Luca yang beli."
"Ohh.... Lucu ya. Buat apa coba dia kasih begituan buat kamu." Ucap Ny. Airin terkekeh.
"Gak tau."
"Ya udah, sekarang kamu istirahat. Besok kita bicarain lagi sama Papa." Suruh Ny. Airin seraya berdiri karena hari sudah malam. Dirinya pun juga butuh istirahat setelah seharian bekerja.
"Makasih Ma." Ucap Aurora seraya memposisikan dirinya untuk berbaring dan menarik selimut.
"Sama-sama sayang. Have a nice dream,"
Sebagai penutup yang sudah menjadi kebiasaan, Ny. Airin tak lupa mengecup kening sang anak sebelum dia mematikan lampu tidur dan pergi meninggalkan kamar Aurora.