NovelToon NovelToon
Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aizu1211

Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Lampu ruang operasi akhirnya padam tanpa suara.

Tidak ada bel. Tidak ada pengumuman. Hanya perubahan kecil yang nyaris tak disadari, seolah ruang itu sendiri menarik napas panjang setelah menahannya terlalu lama. Alya menyadarinya bukan karena melihat lampu mati, melainkan karena pintu ruang operasi terbuka dan seorang dokter keluar dengan langkah yang tidak tergesa.

Alya berdiri menghampiri dokter itu.

Wajah dokter itu tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja keluar dari ruang yang menentukan hidup seseorang. Alya menelan ludah, merasakan tenggorokannya kering. Ia berdiri tegak, meski lututnya terasa lemah.

“Operasinya selesai,” kata dokter itu.

Alya tidak langsung bernapas lega. Ia menunggu kalimat berikutnya, karena hidup tidak pernah berhenti di satu atau dua kata saja.

“Secara prosedur, berjalan sesuai rencana. Ada penyumbatan cukup serius, tapi sudah kami tangani. Kondisinya stabil untuk saat ini.”

Untuk saat ini.

Kata-kata itu menempel lebih lama daripada yang lain.

Alya mengangguk cepat, terlalu cepat. “Papa saya… sadar?”

“Belum. Masih dalam pengaruh anestesi. Akan dipindahkan ke ICU untuk observasi.”

“ICU?” suara Alya sedikit naik.

“Ya. Minimal satu kali dua puluh empat jam.”

Alya mengangguk lagi. Ia mengucapkan terima kasih, meski kalimat itu keluar hampir otomatis. Dokter itu menjelaskan beberapa hal teknis—angka, istilah medis, kemungkinan risiko—dan Alya mendengarkannya seperti seseorang yang berdiri di bawah hujan tanpa payung. Ia mendengar, tapi tidak sepenuhnya menyerap.

Yang penting satu, papanya selamat dari ruangan itu.

Saat dokter pergi, Alya akhirnya duduk. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, menahan napas yang selama ini tertahan. Tangisnya tidak langsung keluar. Tubuhnya terlalu lelah untuk reaksi yang besar.

“Papa kuat,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri.

Beberapa menit kemudian, perhatian mereka terpecah. Mama Alya dibawa keluar dari ruang observasi lain, bersama Viko, mereka berbagi tugas.

Mamanya masih terbaring di ranjang dorong. Wajahnya pucat, matanya terpejam. Seorang perawat menjelaskan bahwa tekanan darah mama Alya turun drastis akibat kelelahan dan shock emosional.

“Beliau butuh istirahat,” kata perawat itu. “Kami akan jadwalkan rawat inap.”

Kenyataan itu menghantam Alya dengan cara yang berbeda. Papanya baru saja keluar dari operasi besar. Mamanya kini terbaring, tidak sadarkan diri. Dua orang yang selama ini menjadi pusat hidupnya kini sama-sama berada di ranjang rumah sakit.

Alya berdiri di antara dua pintu yang sama-sama tertutup.

Malam itu berjalan lambat, seperti hari yang menolak berakhir. Alya berpindah dari satu ruang tunggu ke ruang lain. Ia menandatangani beberapa dokumen, menjawab pertanyaan perawat, menerima penjelasan dokter jaga. Semua dilakukan dengan wajah yang tenang, meski di dalam dirinya ada sesuatu yang terus runtuh pelan-pelan.

Sekitar pukul dua dini hari, papa Alya dipindahkan ke ICU. Alya berdiri di balik kaca, memperhatikan tubuh papanya yang terhubung dengan berbagai alat. Napasnya teratur, tapi wajahnya tampak asing lebih tua, dan... rapuh.

Alya menempelkan telapak tangannya ke kaca.

“Papa,” katanya pelan, meski tahu papanya tidak mendengar.

Di ruang lain, mamanya mulai sadar. Alya duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan mamanya yang dingin.

“Kamu di sini?” suara mamanya serak.

“Iya, Ma,” jawab Alya cepat. “Aku di sini.”

Mamanya menatapnya lama, seolah baru benar-benar melihat Alya setelah waktu yang panjang. “Papamu…?”

“Operasinya selesai,” kata Alya, memilih kata-kata dengan hati-hati. “Sekarang di ICU.”

Mamanya memejamkan mata, air mata keluar tanpa suara. Alya tidak mencoba menghentikannya. Ia hanya mengusap punggung tangan mamanya pelan.

Menjelang subuh, rumah sakit mulai lebih tenang. Aktivitas berkurang, suara langkah kaki lebih jarang. Alya duduk sendirian di bangku koridor, punggungnya bersandar ke dinding. Ia merasa kelelahan yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.

Bukan sekadar kurang tidur, melainkan kelelahan yang datang setelah terlalu lama menahan diri.

Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya. Ada beberapa pesan tak terjawab dari kantor, ia abaikan. Ada satu pesan dari Reyhan yang masuk beberapa jam lalu, dikirim tanpa menuntut balasan.

Sepertinya pria itu sudah mendengar kabar tentang Alya..

"Semoga semuanya baik-baik saja malam ini."

Alya membaca pesan itu lama. Ia tidak membalas. Bukan karena tidak ingin, melainkan karena ia tidak tahu harus berkata apa. Tidak ada kalimat yang cukup mewakili malam itu.

Pagi datang dengan cahaya pucat. Alya belum pulang. Ia hanya mencuci muka di kamar mandi rumah sakit, merapikan rambut seadanya. Ia merasa seperti orang lain ketika melihat pantulan dirinya di cermin, mata sembab, wajah pucat, bahu yang turun.

Ia kembali ke ICU saat jam kunjungan dibuka. Berdiri lagi di balik kaca, mengamati papanya. Kali ini, dadanya tidak sesak seperti malam tadi. Masih takut, tapi lebih teratur.

Dokter jaga menjelaskan bahwa kondisi papanya stabil, tapi belum bisa disebut aman. Ada kemungkinan komplikasi. Ada juga kemungkinan pemulihan yang baik. Semuanya bergantung pada waktu.

Waktu lagi-lagi menjadi sesuatu yang tidak bisa dikendalikan Alya.

Siang itu, Alya akhirnya pulang sebentar. Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk mandi dan mengambil pakaian. Rumah terasa terlalu sunyi. Mereka ber empat resmi pindah ke rumah sakit.

Ia berdiri di ruang tamu, memandang sofa tempat papanya biasa duduk. Untuk pertama kalinya, ia menangis tanpa menahan suara.

Tangis itu singkat, tapi jujur.

Di kantor, Alya mengirim pesan singkat ke atasannya, meminta izin cuti beberapa hari. Balasan datang cepat dan singkat. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada keberatan. Alya merasa lega dengan cara yang aneh, seolah satu beban kecil berhasil diturunkan.

Sore hari, ia kembali ke rumah sakit. Mamanya sudah lebih stabil, tapi masih harus dirawat. Papanya masih di ICU. Alya kembali duduk di kursi yang sama seperti kemarin, tapi rasanya berbeda. Tidak lagi di ujung panik, melainkan di tengah kelelahan yang panjang.

Ia menyadari satu hal, hidup tidak kembali normal hanya karena krisis terlewati. Ada sisa-sisa yang harus dibereskan. Ada perubahan yang tidak bisa dihindari.

Malam itu, Alya akhirnya membalas pesan Reyhan.

Terima kasih. Operasinya sudah selesai. Masih butuh observasi.

Balasan itu dikirim tanpa harapan percakapan lanjutan. Reyhan membalas beberapa menit kemudian.

Syukurlah. Jaga diri kamu juga.

Alya membaca kalimat itu beberapa kali. Ia tidak menjawab lagi. Namun untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, ia merasa tidak sepenuhnya sendirian.

Hari berakhir tanpa peristiwa besar. Tidak ada lonjakan emosi. Tidak ada kabar buruk. Tidak ada kabar baik yang benar-benar menenangkan. Hanya kesinambungan dari bertahan.

Alya berdiri di lorong rumah sakit, memandang keluar jendela. Lampu-lampu kota menyala seperti biasa. Hidup berjalan, bahkan ketika seseorang ingin berhenti sejenak.

Ia tahu besok tidak akan lebih mudah. Ia juga tahu ia tidak bisa lagi berpura-pura semuanya akan kembali seperti semula.

Namun malam itu, di antara kelelahan dan ketidakpastian, Alya menemukan satu pijakan kecil: bahwa ia masih berdiri. Dan untuk saat ini, itu cukup.

TBC

1
Yuni Ngsih
Authooooor ku lg asyik baca dipotong sedih ,karena ceritra ini ada contoh" fakta dlm pek sbg PNS...ok
Elvia Rusdi
Thor. ..Baru Nemu nih karya mu Thor...marathon baca sampui bab trakhir up...baru 4 bab...cerita nya bagus .
Yuni Ngsih
Aùthooor ceritramu kreeeeen banget ,nah itulah seorang PNS yg tanggung jawab terhadap pekerjaan & klwrga hebat peran utamanya Aliya ...mencerminkan anak yg berbakti ,jd bisa menjadi contoh " bg pmbaca kawula muda ....semangat ....& lanjut Thor...ok
Adhiefhaz Fhatim
😍
Adhiefhaz Fhatim
lanjut kk...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!