Shanaya berdiri di tepi taman halaman rumahnya, angin malam membelai sayap-sayap keabadiannya yang tersembunyi. Bintang mendekatinya, matanya memancarkan cinta yang tak terbantahkan. "Shanaya, aku tahu kita berbeda, tapi aku tidak peduli. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu," katanya dengan suara lembut.
Shanaya menoleh, mencoba menyembunyikan air matanya "Bintang, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Aku...aku bukan seperti kamu. Aku memiliki rahasia yang tidak bisa kamu terima..." Shanaya mengangkat tangan, menghentikan Bintang yang ingin mendekat. "Tolong, jangan membuat ini lebih sulit daripada yang seharusnya. Aku tidak bisa menjadi yang kamu inginkan..."
Bintang terlihat hancur, tapi dia tidak menyerah. "Aku tidak peduli dengan apa yang kamu sembunyikan, Shanaya. Aku hanya ingin kamu..."
Apakah Shanaya akan membuka hatinya untuk Bintang atau justru pergi ke langit ketujuh dan meninggalkan Bintang seorang diri di malam yang sunyi ini? Ikuti terus kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2. "Main Basket Bareng"
Hari baru di kampus, Shanaya dan Bintang berjalan berdua ke ruang kelas sastra A1 untuk masuk mata kuliah Analisis Puisi. Mereka duduk di barisan depan, sambil ngobrol tentang puisi yang akan dibahas hari ini.
Zaneta, Firly, dan Olivia duduk di barisan belakang, dengan ekspresi yang tidak terlalu suka.
"Gue gak paham apa yang pak Hendra omongin," kata Zaneta, sambil membalik-balik bukunya
Firly tersenyum ke arah Zaneta, "Gue juga, Zan. Tapi gue suka puisi yang kita bahas hari ini..."
Olivia menambahkan, "Gue juga! Puisi itu sangat indah..."
Dosen masuk ke kelas, seorang pria yang sangat antusias yang tak lain bernama Hendra Pradinata.
"Selamaat pagi, semuanya. Hari ini kita akan membahas puisi karya Sapardi Djoko Damono..."
Kelas menjadi sunyi, semua mata tertuju pada Pak Hendra. Bintang mengangkat tangan, "Pak, apa makna dari puisi ini?"
Pak Hendra tersenyum puas, "Ah, pertanyaan yang bagus, Bintang! Puisi ini berbicara tentang cinta dan kehilangan..."
Shanaya juga mengangkat tangan, "Pak, apa hubungan antara puisi ini dengan kehidupan nyata?"
Pak Hendra menjawab, "Puisi ini bisa dihubungkan dengan pengalaman hidup kita sendiri. Kita semua pernah merasakan cinta dan kehilangan..."
Joe, Felix, dan Nathaniel yang duduk di barisan tengah, mulai berdiskusi tentang puisi itu.
"Gue gak paham, apa yang Pak Hendra maksud," ucap Joe sembari memainkan pena ditangannya
Felix menjawab, "Gue juga gak paham, tapi gue suka baca puisi ini..."
Nathaniel menambahkan, "Gue setuju, puisi ini dalam banget maknanya..."
Kelas berakhir, Shanaya dan Bintang keluar dari kelas dengan tersenyum puas yang di ikuti oleh Joe, Felix dan Nathaniel.
"Gue suka mata kuliah ini," ucap Shanaya tampak sumringah
Bintang tersenyum, "Gue juga, Shan. Loe pinter banget..."
Setelah kelas selesai, Joe, Nathaniel, dan Felix mengajak Bintang untuk main basket di lapangan basket seperti biasa.
"Woiy, Bintang! Main basket yuk..." seru Joe pada Bintang
Bintang yang sedang ngobrol dengan Shanaya, menoleh ke arah mereka.
"Ok boleh tapi gue ajak Shanaya ikut, boleh?" ucapnya spontan
Joe, Nathaniel, dan Felix saling menoleh satu sama lain meminta pendapat, namun mereka langsung setuju.
"Boleh banget. Ajak aja biar rame!" ucap Felix bersambut hangat
Shanaya yang tadinya ragu, akhirnya setuju. "Oke, gue ikut," ucapnya dengan senyum sumringah
Mereka berlima menuju lapangan basket, dengan semangat yang tinggi. Shanaya yang masih baru pindahan beberapa minggu ini, merasa sedikit canggung karena belum mengenal banyak orang disini. Tapi Bintang yang berada di sebelahnya, membuatnya merasa lebih nyaman.
Di lapangan, Joe, Nathaniel, dan Felix langsung memulai permainan usai saling berkenalan ulang dengan Shanaya. Bintang yang tahu Shanaya belum pernah bermain basket, mengajarinya dasar-dasar permainan.
"Gue tunjukin, Shanaya," ucapnya dengan senyum hangat
Shanaya yang cepat tanggap, langsung bisa mengikuti. Mereka bermain basket dengan seru, sambil tertawa dan berteriak. Zaneta yang kebetulan lewat dari kantin, melihat mereka berlima dengan ekspresi yang tidak suka.
Zaneta menggerutu dan menghentakkan kakinya,
"Ihhh...ngeselin banget sih Bintang, kenapa harus ajak dia juga?" ucapnya sendiri
Ekspresinya semakin tidak suka melihat Shanaya yang bisa masuk ke dalam kelompok teman-teman Bintang dengan cepat.
Sementara itu, di lapangan basket, Bintang, Shanaya, Joe, Nathaniel, dan Felix masih asyik bermain dengan riang. Mereka berteriak dan tertawa, menikmati permainan basket bersama. Bola basket memantul di lantai, dan Shanaya berhasil memasukkan bola ke dalam keranjang, membuat teman-temannya bertepuk tangan.
"Yes! Shanaya loe bisa akhirnya!" seru Bintang, sambil mengacungkan dua jempol
Shanaya tersenyum, "Makasih, Bintang... Gue masih harus banyak belajar dari kalian..."
Mereka terus bermain, dengan suasana yang semakin hangat dan menyenangkan.
Tak hanya Bintang, tapi ketiga temannya pun memuji Shanaya yang cepat tanggap dan mengajak Shanaya untuk bergabung menjadi tim basket mereka.
"Keren, Shanaya. Loe bisa main basket juga ternyata..." ucap Joe, sambil menepuk punggung Shanaya
Nathaniel menambahkan, "Gue gak nyangka loe bisa masukin bola kayak gitu. Keren asli..."
Felix yang tadinya terdiam, akhirnya angkat bicara, "Shanaya kayaknya loe bisa jadi andalan tim kita..."
Shanaya tersenyum, merasa senang karena bisa diterima oleh teman-teman Bintang.
"Makasih, guys. Gue masih banyak belajar dari loe semua belum jago-jago banget," ucapnya pesimis
Bintang yang berdiri di sebelah Shanaya, mengacungkan jempol lagi, " Shanaya pokoknya loe keren banget..."
Mereka terus bermain, dengan suasana yang semakin hangat dan menyenangkan. Zaneta yang masih menggerutu di pinggir lapangan, semakin tidak suka melihat Shanaya yang semakin diterima oleh teman-teman Bintang.
Permainan basket mereka itu kini menjadi pusat perhatian semua kalangan mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Banyak yang berhenti sejenak untuk menonton, termasuk beberapa mahasiswa yang sedang duduk di bawah pohon. Bahkan, Pak Budi, dosen Penjas, yang kebetulan lewat, tidak sengaja melihat mereka bermain.
Pak Budi yang tadinya serius sembari menerima telepon, tersenyum melihat permainan basket yang seru itu. "Wah, anak-anak itu mainnya keren juga!" ucapnya seorang sendiri
Zaneta yang masih menggerutu, semakin tidak suka ketika melihat Pak Budi memperhatikan Shanaya dan teman-teman satu geng Bintang.
"Sialan, kenapa harus dilihatin banyak orang coba..." gumamnya kian kesal
Shanaya dan teman-temannya tidak menyadari bahwa mereka sedang menjadi pusat perhatian. Mereka terus bermain, dengan semangat yang tinggi dan suasana yang semakin hangat.
Semua orang yang menyaksikan permainan basket Shanaya dan teman-temannya, tidak bisa tidak bertepuk tangan. "Bravo! Keren!" seru beberapa mahasiswa
Pak Budi, dosen Penjas, juga ikut bertepuk tangan, sambil tersenyum.
"Wah, anak-anak itu memang berbakat! Aku ingin mereka bergabung dengan tim ekstrakurikuler basket kampus!" ucapnya kepada dirinya sendiri.l
Shanaya, Bintang, Joe, Nathaniel, dan Felix berhenti bermain, sambil tersenyum dan berpeluh. Mereka tidak menyangka bahwa permainan mereka bisa menarik perhatian begitu banyak orang.
Pak Budi mendekati mereka, dengan senyum yang lebar. "Kalian berlima sangat berbakat! Bapak ingin mengajak kalian bergabung dengan tim ekstrakurikuler basket kampus. Apa kalian mau?"
Mereka berlima saling menatap, lalu mengangguk serempak. "Mau, Pak!" seru mereka
Pak Budi tersenyum, "Bagus! Saya tunggu kalian di lapangan besok sore. Kita akan mulai latihan..."
Zaneta yang masih menggerutu, semakin tidak suka melihat Shanaya dan teman-temannya diterima oleh Pak Budi begitu saja.
Shanaya, Bintang, Joe, Nathaniel, dan Felix masih berdiri di lapangan, sambil tersenyum dan dipenuhi peluh. Mereka masih tidak percaya bahwa mereka direkrut oleh Pak Budi untuk bergabung dengan tim ekstrakurikuler basket kampus.
"Gue gak nyangka, kita benar-benar direkrut..." seru Bintang, sambil mengacungkan jempol
Shanaya masih tersenyum tak percaya, "Gue juga gak percaya. Kita cuma main basket biasa aja kan tadi..."
Joe menambahkan, "Gue sih cuma pengen main basket aja, gak nyangka bakal jadi tim ekskul..."
Nathaniel dan Felix juga masih tersenyum, "Gue juga sama, gak nyangka banget..."
Mereka berlima saling menatap, lalu tertawa bersama. "Besok sore kita latihan ya, guys semangat!" ucap Bintang
Mereka berlima mengangguk serempak, sambil tersenyum dan masih dipenuhi peluh. Zaneta yang masih menggerutu di pinggir lapangan, semakin tidak suka melihat Shanaya dan teman-temannya begitu bahagia.
Dirinya berusaha mencari cara untuk menggagalkan setiap rencana mereka terlebih dirinya tidak menyukai jika Shanaya jauh lebih hebat dibandingkan dirinya.