Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.
Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.
Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Mendapatkan Kamar Pribadi
Jari kelingking Sander terasa panas, seolah tersambar api, ia merasa sentuhan Fasha jauh lebih mengganggu daripada sekadar sentuhan biasa.
Sander refleks menarik tangannya.
Fasha menatap kosong, air matanya jatuh satu per satu.
“Maaf… aku tidak akan memanggilmu suami lagi… jangan marah…”
Ia berusaha tersenyum, mencoba terlihat baik-baik saja, tetapi justru tampak semakin rapuh.
Sander terdiam sejenak, lalu membuka laci dan melemparkan sesuatu ke arahnya.
Itu adalah sebuah permen.
“Aku tidak akan mengusirmu.” jawab Sander dengan wajah yang masih menatap jijik pada Fasha.
Saat Fasha merobek bungkus permen jeruk yang ia berikan dengan gigi, permen itu memanjang seperti benang dari sudut bibirnya. Ia mendorongnya masuk dengan lidah, lalu tersenyum polos.
“Kakak, ini manis sekali… tapi lengket di gigiku.”
Lengket?
Sander mengambil sisa permen dari sakunya dan melihat tanggal kedaluwarsanya.
Sudah lewat setahun.
“Buang saja. Itu sudah kedaluwarsa.”
“Tidak. Ini enak.”
Sander langsung membungkus sisa permen itu dan membuangnya ke tempat sampah. Ia lalu memanggil asisten rumah tangga.
Mulai besok, mereka akan datang setiap hari pada jam tertentu, membawa makanan ringan bergizi yang ramah untuk lambung.
“Fasha, kamu bisa jalan?”
“Bisa… bisa.”
Entah sejak kapan, sandal di dekat sofa sudah diganti dengan sandal berbentuk beruang cokelat.
Fasha memakainya, lalu mengangkat kakinya sedikit, memamerkannya dengan bangga.
“Kakak… ini lucu sekali.”
Sander memalingkan wajah.
Pipi Fasha yang menggembung karena permen jauh lebih mencolok daripada sandal itu.
Kakinya masih terbalut perban. Ia melompat kecil dengan satu kaki untuk mengejar Sander, tetapi tak lama kemudian napasnya terengah.
Kondisi fisiknya memang buruk sehingga Sander tanpa sadar memperlambat langkahnya.
“Kakak… bisa gendong aku? Aku terluka…”
Nada Fasha sangat serius, bahkan kedua tangannya sudah siap melingkar di belakang punggungnya sendiri.
Melihat Sander terus berjalan, Fasha mengumpulkan keberanian, meraih ujung kemeja pria itu. Saat Sander menoleh, ia menatapnya dengan mata polos penuh harap.
Beberapa detik mereka saling menatap.
Sander tidak berkata apa-apa.
Ding.
Pintu lift terbuka. Fasha masuk dan berdiri tepat di belakangnya, jarinya masih mencengkeram ujung kemeja itu.
“Kamu akan tinggal di sini mulai sekarang. Kalau butuh apa pun, bilang.”
Kamar tidurnya bernuansa lembut. Namun sprei dan selimutnya bergambar kelinci-kelinci kecil, dan di sisi bantal ada boneka kucing berbulu halus.
Fasha langsung memeluk boneka itu.
“Kakak, ini kucing…”
“Chris yang membelinya.”
Fasha mengerucutkan bibir, lalu tersenyum diam-diam. Ia tahu, Chris pasti bertanya dulu sebelum membeli.
“Kopermu sudah sampai.”
Sander mengangkat koper itu dengan satu tangan, seolah isinya ringan.
Saat dibuka, separuhnya berisi barang-barang kecil. Pakaian hanya dua pasang, warnanya sudah pudar karena terlalu sering dicuci.
Ada boneka beruang cokelat dengan jahitan kasar di beberapa bagian, seperti hampir kehilangan isinya.
Yang paling berharga di antara semuanya adalah sebuah bros perak bermotif sederhana—anggun dan bersahaja.
“Kakak… ini untukmu.”
Sander tertegun. Fasha langsung menyelipkan bros itu ke saku dadanya.
“Beruang kecil, ini adikmu. Mulai sekarang kalian sahabat,” katanya sambil menyandarkan boneka kucing ke bahu beruang itu.
“Fasha, aku tidak bisa menerima ini.”
“Kakak, ini tidak kotor… bukan barang curian… ini pemberian dari ibuku… ini bersih…”
Air mata Fasha kembali jatuh, deras dan tanpa peringatan.
“Bukan soal itu. Ini terlalu berharga.”
Itu mungkin satu-satunya benda bernilai yang Fasha miliki dan itu membuat Sander tidak mau mengambilnya.
“Tidak apa-apa… aku mau memberikannya ke Kakak…”
Jelas, jika ia tidak menerima, Fasha akan menangis lagi.
Sander menghela napas pelan.
“Aku simpan dulu. Kamu bisa mengambilnya kapan saja.”
Wajah Fasha langsung cerah.
“Dan satu lagi,” tambah Sander, “kamu tidak boleh masuk ke ruang kerjaku. Tapi selain itu, kamu bebas pergi ke mana saja di rumah ini.”
'Yes! Artinya aku nggak akan diusir, kan? Sander bahkan memberikan aku kamar!'