Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan di Lapangan Berkuda
Rio yang baru sampai di kamar hotel setelah berkegiatan sehubungan mengetahui langsung persiapan produksi alat kesehatan itu, membuka pesan yang dikirim Didit.
Terdapat foto Didit bersama Rayi di atas punggung kuda masing-masing.
Rio tersenyum menatap foto keduanya.
(Kak Rio cantik nggak gadis penolongku ini)
Rio mesem membaca pesan dari Didit. Tangannya langsung membalas.
(Pastinya cantik dong)
Lalu jempolnya menekan tanda kirim di handphonenya.
Ah Rio sungguh tak tahu jika foto gadis di atas punggung kuda yang bersama Didit itu adalah Rayi gadis yang beberapa hari lalu dinikahinya.
Terang saja Rio tak menyadari tentang seorang Rayi, karena dia tak menyukai pernikahannya, bahkan sangat menolak gadis delapan belas tahun yang dijodohkan dengannya. Makanya dia tak sudi dan tak ada keinginan untuk memandang pengantinnya waktu itu. Bahkan saat berbicara dengan suara dingin, dan kalimat yang bisa menyinggung perasaan gadis yang telah jadi istrinya itu, dia juga enggan memandangnya.
Selain tak tertarik juga tak ingin tahu seperti apa istri yang tak dicintainya itu. Karena baginya pernikahannya hanya formalitas untuk patuh pada kakek Brata, dan menurutnya tiba waktunya juga pernikahannya bubar.
Karena berpikir tak akan pernah mencintai gadis delapan belas tahun yang dianggapnya kecentilan karena mau saja dijodohkan itu, makanya Rio pun tak mencaritahu siapa calon istrinya.
Yang didengarnya dari kakeknya bahwa gadis itu cucu dari sahabat kakek Brata. Kakek Brata sudah terikat janji pada sahabatnya yang pernah menyelamatkan jiwanya. Dan gadis itu masih berkuliah pada semester awal. Lainnya tak ada keterangan dari kakeknya. Selain nasehat bahwa dirinya bisa menerima gadis itu dan secara perlahan dapat mencintainya.
Dan saat ini foto istri yang tak pernah diketahuinya itu terpampang di layar handphonenya, dan hati kecilnya mengakui kalau gadis yang dicari adik misannya itu memang cantik dan manis.
Pintar juga sepupuku ini. Tahu penolongnya cantik dan manis langsung saja dipepet, batin Didit.
Ting
Handphone Didit menandakan ada pesan masuk. Segera dia membuka layar pesan. Bibirnya tersenyum melihat balasan dari Rio dan memuji Rayi.
Sambil senyum-senyum Didit memasukkan handphone ke saku jaketnya.
"Hai ... ternyata kamu juara dua kali di club Satya ini, ya, terus juara umum dua kali antar club, wah hebat euy ... " ujar Didit menatap kagum pada Rayi dengan sikap jujur tanpa modus.
"Wah Kak Didit menyelidiki aku, ya ..." ujar Rayi sambil mengajak kuda kesayangannya menepi supaya tak mengganggu mereka yang sedang berkuda di dalam lapangan.
Didit tertawa kecil sambil memberi isyarat pada kuda tunggangannya yang bulunya berwarna coklat dan bersih terawat itu, mengikuti arah kuda Rayi.
"Kebetulan saja, kok,"
Kini kedua kuda Rayi serta Didit sudah berafa di pinggir lapangan untuk mengaso.
"Oh ya Kak Didit juga anggota club di sini?"
Didit mengangguk.
"Kok aku nggak pernah lihat, ya?" Bisik hati Rayi, atau aku tak begitu fokus pada anggota?
"Aku absen sekitar empat bulan karena banyak kegiatan lain, makanya saat pertama menunggang si coklat ini dia mungkin marah dan ngambek karena nggak kutengok empat bulan, jadi dia lari deh kencang dan kebetulan aku udah empat bulan fakum kayak kagok dan kesulitan menaklukkannya, sampai kamu menolongku ..." cerita Didit.
"Oh begitu ..." senyum Rayi tersungging. Pantas saja dia tak kenal Didit, lagipula dirinya juga tak kenal semua anggota, tapi sejak kakeknya meninggal otomatis dia yang mengambil alih kepemilikan sekaligus pimpinan club kakeknya ini, harusnya memperhatikan anggota club, minimal mengenal mereka.
"Aku harus lebih fokus lagi pada anggota club, tak hanya mengenal mereka di atas kertas, tapi juga harus mengenal secara fisik." Batin Rayi merasa dirinya belum bisa menyamai kakek Satya yang mengenal nama anggita club di luar kepala, bahkan juga berinteraksi dengan mereka setiap bertemu di lapangan latihan pacuan kuda miliknya.
"Aku sudah hampir dua tahun anggota di sini dan menitip kuda coklatku di istal club ini," cerita Didit lagi.
"Berarti sudah cukup lama juga ya kamu di club ini," ujar Rayi semakin merasa kurang perhatian pada anggota club.
"Ya sebenarnya sejak kecil aku suka berkuda, tapi ya hanya sesekali saja ikut papaku berkuda, lalu aku juga banyak kegiatan lain, balapan mobil, futsal, ya kegiatan anak mudalah, tapi tiga tahun lalu aku kok merasa sangat tertantang duduk di atas kuda yang sedang lari, makanya aku pesan kuda pada pemilik pacuan ini, dan yang tadinya hanya seminggu sekali berkuda, jadi lebih sering dapat waktu daripada hobbyku yang lain,:
"Oh ya?" Rayi mendengarkan cerita Didit dengan antusias menyambut cerita pemuda itu karena ketertarikannya pada olah raga berkuda.
"Ya dan aku mulai latihan serius dan mendapat bimbingan langsung dari pak Satya tentang teori berkuda, sayang beliau sudah tiada ..." terlihat rona sedih di raut muka Didit, "Semoga almarhum tenang di sana dan mendapat tempat layak karena beliau orang yang sabar dan sangat sabar ketika memberi pelatihan pada anggota club, bahkan seringkali memberi pinjaman kuda tanpa biaya sewa pada anggota baru ..." lanjutnya mengenang kebaikan kakek Satya yang membuat Rayi terharu.
Rayi jangan ditanya lagi hatinya langsung mencolos perih saat kakeknya disebut oleh Didit. Namun dia berusaha untuk tidak larut dalam kesedihan.
"Kakek tenang di sana, ya, banyak yang mendoakan Kakek ..." batin Rayi, namun walau tak menitikkan air mata tak urung wajah cerianya jadi sendu.
"Oh ya kamu sendiri mulai berkuda kapan?" Didit menatap Rayi lekat seakan ingin menelusuri pori-pori wajah gadis yang menarik hatinya itu.
Rayi tersenyum dan terbayang saat dirinya masih berumur tiga tahun sudah berada di punggung kuda bersama kakek Satya.
"Dari kecil aku udah senang naik kuda," ujar Rayi membayangkan dirinya yang masih usia tujuh tahun sudah berani duduk di punggung kuda yang berlari, dan di samping kanannya kakek Satya mengawasi duduk di punggung kuda lainnya.
"Serius?!" Didit melebarkan kedua matanya.
"Ya dong masa bercanda, aku, tuh umur tiga tahun udah kenal kuda udah sering berkuda dengan kakek aku, dan ketika umur tujuh tahun aku untuk pertama kalinya naik kuda sendirian,"
"Wow keluargamu pecinta olah raga berkuda?"
"Ya kakek aku," angguk Rayi tanpa menjelaskan siapa kakeknya.
"Pantas kamu tuh berapa kali juara ..." decak Didit kagum pada Rayi.
"Ya begitulah ..." angguk Rayi tersenyum teringat pada kakeknya.
"Papamu juga suka berkuda?" Didit tanpa tahu telah mengingatkan tentang ayah yang tak pernah dikenal Rayi.
Tiba-tiba saja wajah Rayi berubah jadi sedih dan sepasang mata beningnya meredup. Teringat cerita kakeknya.
"Jika suatu hati Rayi bertemu dengan papa, terima dia sebagai ayah kandung, dan maafkan khilafnya yang telah membuat cucu cantik Kakek ini tak mengenal papa," lalu kakeknya bercerita jika papanya itu sangat mencintai mamanya, "Umur orang tak ada yang tahu Rayi, mama kamu itu meninggal saat melahirkanmu, Nak, putri Kakek itu perdarahan hebat ..."
"Kek ..."
"Papamu berteriak seperti menolak takdir dan parahnya lagi dia menyalahkan dirimu yang jadi penyebab meninggalnya Ratri dan tak pernah mau menyentuhmu. Setelah empat puluh hari ibumu meninggal papamu kembali belayar dan tak pernah kembali lagi ..."
"Rayi ..." panggil Didit.
"Oh ... Ya ... Eng papaku ... Ya papaku pelaut ... Dan mamaku kata kakek juga sejak kecil gemar menunggang kuda ..." terbata suara Rayi, ah Papa dimana engkau kenapa nggak mau sayang sama aku, maafkan jika aku jadi penyebab mama meninggal batinnya pilu.
"Wah kalau begitu kamu jago kuda udah dari sononya, udah turunan ..." Didit tertawa.
Tapi Rayi masih mengenang ibu yang tak pernah dikenalnya, papa yang juga tak pernah memberinya kasih sayang.
"Apa mama kamu masih sering berkuda sampai sekarang?" Didit tak menyadari jika Rayi tengah bersedih mengenang kedua orang tuanya yang meninggalkannya dengan cara yang berbeda.
Kepala Rayi menggeleng dan tanpa sadar kini air mata mengalir begitu saja di kedua pipinya.
Didit terkejut.
"Rayi kamu kenapa?!" Tentu saja Didit terkejut karena tak mengira gadis yang tampak periang jago berkuda itu tahu-tahu menangis.
Rayi langsung menghapus air mata dengan lengan bajunya karena tak bawa tissue atau saputangan.
"Yuk latihan lagi ...!" Rayi langsung menepuk punggung kudanya dan menarik tali kekang si Coklat Susu, dan kuda yang sudah empat tahun bersamanya itu langsung mengangkat kedua kaki depan dan mulai berlari. Makin lama larinya makin jauh.
Didit yang belum mengerti segera pula memerintahkan.kuda coklatnya menyusul kuda yang membawa Rayi yang sudah melesat di depan.
suka banget alurnya