NovelToon NovelToon
LEGENDA DEWI KEMATIAN

LEGENDA DEWI KEMATIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: adicipto

Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.

Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.

Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.

Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 9

Han Long memimpin barisan itu dengan wajah muram. Tidak ada teriakan. Hanya langkah-langkah berat dan nafas tertahan. Para pendekar yang tersisa mengangkat tubuh rekan-rekan mereka yang telah menjadi mayat. Ada yang masih utuh, ada yang berlumuran darah, dan ada pula yang dibungkus kain seadanya karena tubuhnya sudah tak layak dipandang.

Tidak satupun dari mereka menoleh ke belakang.

Bayangan kipas hitam dan mata merah darah masih membekas dalam benak mereka. Bahkan saat meninggalkan lembah, aura ketakutan itu masih menempel, seolah kematian sendiri mengantar mereka pergi.

Begitu barisan Awan Mengalir lenyap di balik jalur gunung, suasana Lembah Teratai berubah drastis.

Tangisan seketikq pecah, isak tertahan yang sejak tadi ditekan akhirnya meledak. Murid-murid berlutut di samping tubuh rekan seperguruan mereka. Ada yang mengguncang tubuh yang sudah dingin sambil memanggil nama. Ada yang menunduk diam, menggenggam senjata yang patah, air mata menetes tanpa suara.

Sekitar tiga puluh murid Lembah Teratai gugur malam itu. Pendekar Terlatih dan Pendekar Ahli yang seharusnya masih memiliki masa depan panjang kini hanya tinggal nama. Beberapa tetua berdiri dengan wajah kelam, pakaian mereka robek, tubuh mereka dipenuhi luka. Namun kesepuluh tetua tingkat Pendekar Guru hingga Guru Suci masih hidup, meski sebagian harus dipapah karena cedera dalam.

Kerugian terbesar bukan pada jumlah, melainkan pada hati.

Di pihak Awan Mengalir, jumlah korban tidak jauh berbeda. Namun dua tetua mereka gugur. Dua pilar yang seharusnya menjadi penyangga perguruan telah hancur tanpa sisa. Secara tak terbantahkan, pihak penyerang lah yang kalah telak.

Ziang Guang berdiri di tengah halaman, menatap suasana itu dengan mata berat. Tangannya mengepal, urat-uratnya menegang. Lalu ia menoleh.

“ Ayo ikut denganku ”

Ucapannya diarahkan pada sosok gadis bergaun hitam yang berdiri tidak jauh darinya. Dewi Kematian. Sosok yang mengubah arus pertempuran dan menyelamatkan Lembah Teratai dari kehancuran total.

Mereka berjalan meninggalkan halaman, melewati lorong-lorong sunyi yang kini hanya diisi bau darah dan dupa pengusir roh. Kediaman Ziang Guang berada cukup jauh di belakang sekte, sebuah rumah sederhana yang dikelilingi pepohonan tua.

Begitu pintu ditutup, perubahan itu terjadi. Aura gelap memudar. Kabut hitam lenyap. Mata merah darah sang Dewi perlahan menghilang, berganti dengan mata normal yang jernih dan indah. Wajahnya terlihat pucat, nafasnya sedikit lebih pelan. Gadis yang tadi berdiri di tengah pembantaian kini tampak rapuh, lugu, dan tenang.

“ Yi’er, terima kasih ”

Suara Ziang Guang terdengar lebih berat dari biasanya.

“ Jika kamu tidak datang, dua tetua itu akan membantai jauh lebih banyak murid Lembah Teratai ”

Cao Yi tersenyum kecil. Senyum yang tidak memiliki bayangan kegelapan sedikit pun.

“ Ah, Paman bicara apa ”

Ia menggeleng pelan.

“ Sudah menjadi kewajibanku menolong paman ”

Ziang Guang menunjuknya sambil tertawa kecil, lalu menarik nafas panjang. Tawa itu cepat memudar, digantikan kelelahan yang menumpuk selama bertahun-tahun.

“ Aku hanya ingin hidup tenang setelah pensiun dari militer ”

Ucapannya pelan.

“ Tapi keberadaanku disini justru membuat perguruan ini hampir hancur ”

Nada penyesalan begitu jelas.

“ Paman jangan menyalahkan diri sendiri ”

Cao Yi menatapnya dengan sungguh-sungguh.

“ Andai paman tidak di sini pun, besar kemungkinan mereka tetap menyerang. Dendam mereka tidak akan hilang hanya karena paman bersembunyi ”

Ziang Guang terdiam.

Ucapan itu masuk akal. Perguruan Awan Mengalir telah menaruh dendam terlalu dalam. Jika tidak menemukan Ziang Guang, mereka akan melampiaskan amarah pada Lembah Teratai.

“ Oh ya ”

Ziang Guang baru tersadar.

“ Bagaimana kabar ayahmu ”

“ Ayah baik-baik saja ”

Jawab Cao Yi lembut.

“ Beliau baru kembali dari perbatasan siang tadi ”

Ziang Guang mengangguk pelan. Ingatannya melayang ke masa lalu. Hubungannya dengan Cao Xiang bukan sekadar rekan. Setelah insiden kelam yang merenggut istri Cao Xiang dan kekacauan perebutan tahta, mereka telah berjuang bersama, berdarah bersama, dan bertahan bersama.

“ Tidak kusangka waktu berlalu secepat ini ”

Ucap Ziang Guang lirih.

“ Sudah sepuluh tahun sejak Dewa Liu Bai dan istrinya kembali ke dunia mereka. Dan kamu… menerima warisan Dewi Zia Yuxi ”

Cao Yi terdiam.

Kenangan lama menyeruak.

Masa kecil yang diwarnai api dan darah. Kehilangan ibunya. Kekacauan istana. Lalu tangan hangat seorang Dewi yang turun dari langit, memberinya kekuatan yang tak pernah ia minta.

Kekuatan yang menyelamatkannya, dan kekuatan yang mengutuknya menjadi sangat haus darah.

“Kak Zia, kapan kakak datang lagi ke dunia ini.”Batin Cao Yi.

Di balik kekuatan mengerikan itu, ia tetap manusia. Tetap seorang gadis yang bisa merasa lelah, kesepian, dan sakit. Gadis yang tersenyum lembut di hadapan orang yang ia percaya, meski bayangan kematian selalu mengikuti langkahnya.

Keesokan harinya, kabar penyerangan Perguruan Awan Mengalir ke Perguruan Lembah Teratai menyebar secepat api yang disiram angin kencang.

Belum matahari mencapai puncaknya, nama kedua perguruan itu sudah menjadi topik utama di rumah minum, pasar senjata, penginapan para pendekar, hingga lorong-lorong gelap tempat para pembunuh bernaung. Tidak ada yang benar-benar mengetahui alasan pasti penyerangan tersebut, namun hampir semua orang memiliki satu kesimpulan yang sama.

Balas dendam.

Nama Ziang Guang kembali disebut-sebut setelah dua tahun menghilang dari panggung dunia persilatan. Banyak yang langsung mengaitkan serangan itu dengan masa lalunya sebagai Jenderal Perang Kerajaan Liungyi, ketika tangannya berlumuran darah para pemberontak dan pengkhianat.

Namun yang menjadi bahan cibiran justru bukan Lembah Teratai, melainkan Perguruan Awan Mengalir.

Datang dengan kekuatan besar, bergerak diam-diam, mengusung dendam lama, namun justru pulang dengan kepala tertunduk dan membawa mayat tetua dan rekan mereka mereka sendiri.

Di sebuah rumah minum yang ramai oleh pendekar pengembara, obrolan tentang peristiwa itu terdengar tanpa henti.

“ Secara pondasi, Awan Mengalir jelas lebih unggul ”

Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berbicara sambil menepuk meja.

“ Dua belas tetua tingkat Guru hingga Guru Suci, sementara Lembah Teratai hanya punya sepuluh. Seharusnya hasilnya sudah bisa ditebak ”

Pendekar di hadapannya mengangguk, lalu menyeringai tipis.

“ Tapi sekarang keadaannya berubah. Dua tetua Awan Mengalir tewas. Jumlah mereka jadi seimbang ”

“ Itu yang membuat mereka jadi bahan tertawaan ”

Seorang pendekar lain menyela.

“ Datang dengan keunggulan, pulang dengan kekurangan ”

“ Kabarnya, yang membunuh dua tetua itu bukan tetua Lembah Teratai ”

Nada suara pria itu merendah, seolah membicarakan sesuatu yang tabu.

“ Melainkan Dewi Kematian ”

Suasana meja itu mendadak senyap sesaat.

Beberapa orang saling pandang. Ada yang menelan ludah.

“ Dewi Kematian benar-benar muncul ”

Seseorang bergumam tidak percaya.

“ Kalau begitu, rumor selama ini bukan isapan jempol ”

“ Tapi sebenarnya, Dewi Kematian itu berada di tingkat apa ”

Seorang pendekar muda bertanya dengan rasa penasaran bercampur takut.

“ Dua Pendekar Guru tewas dengan mudah. Bahkan tanpa perlawanan berarti ”

Pria di sebelahnya tertawa pendek, nadanya kaku.

“ Siapa yang tahu ”

Ia mengangkat bahu.

“ Kalau kamu benar-benar ingin tahu, caranya gampang. Jadilah pendekar jahat, bunuh orang tak berdosa, lalu tunggu saja ”

Ia mencondongkan tubuh.

“ Dewi Kematian pasti datang mencarimu. Setelah itu, kamu bisa mengukur sendiri tingkat kekuatannya ”

Pendekar muda itu langsung mengibaskan tangan.

“ Gila. Itu namanya bunuh diri ”

Tawa pecah di meja itu. Namun tawa mereka terdengar dipaksakan, seolah menutupi rasa ngeri yang merayap di dada masing-masing.

Tidak jauh dari rumah minum itu, seorang pria bertubuh tegap melangkah melewati keramaian.

Cao Xiang.

Ia mengenakan pakaian sederhana tanpa tanda kebesaran militer, namun aura seorang Jenderal tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan. Langkahnya terhenti sesaat ketika obrolan itu sampai ke telinganya.

Dewi Kematian.

Nama itu bergaung di kepalanya, ia menghela nafas panjang.

Semalam, kelelahan perjalanan dan tekanan di perbatasan membuatnya langsung terlelap begitu tiba di kota. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa pada saat yang sama, Lembah Teratai tengah diselimuti darah dan kematian.

“ Untung saja Yi’er datang tepat waktu ”

Gumamnya pelan.

“ Jika tidak, entah berapa banyak nyawa yang akan melayang di tangan Perguruan Awan Mengalir itu”

Bayangan putrinya melintas di benaknya. Wajah lembut. Senyum tenang. Dan sisi lain yang hanya diketahui oleh segelintir orang.

Cao Xiang mengepalkan tangan.

Tidak ada kebanggaan dalam hatinya. Yang ada hanyalah kekhawatiran seorang ayah yang menyadari betapa berbahayanya jalan yang harus dilalui anaknya.

Ia segera melangkah pergi, meninggalkan suara tawa para pendekar di belakangnya, menuju arah Istana.

1
algore
joz
algore
jos
Dania
misi
algore
tumben cuma sedikit babnya hehe
Mujib
/Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
😅😅😅😅
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
🤣🤣🤣🤣
Mujib
👀👀👀👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!