NovelToon NovelToon
Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Sistem / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Lil Miyu

Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
​Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
​Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
​Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
​Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: ES BATU YANG TERBAKAR

Langit sudah berwarna oranye kemerahan yang pekat, tertutup oleh tajuk-tajuk pohon raksasa yang menjulang tinggi hingga menyisakan cahaya remang yang mencekam. Asher tidak bergerak sedikit pun di depan gerbang kayu desa yang kokoh. Matanya menatap tajam ke arah jalan setapak yang tenggelam di antara akar-akar pohon primordial. Udara di sekitar sang Ksatria Agung itu perlahan mendingin—sebuah tanda bahwa dirinya sedang tidak stabil akibat amarah dan kecemasan yang tertahan.

Perban di lengan kanannya mulai merembes cairan merah segar. Asher mengepalkan tinjunya begitu kuat selama berjam-jam hingga memutih, namun ia sama sekali tidak merasakan perihnya. Pikirannya terus berputar pada detik-detik dimana Aruna meneriakinya di pasar desa pagi tadi.

"Ini... ini perintah mutlak dariku!"

Suara Aruna yang gemetar saat membawa statusnya sebagai Putri Vance terus bergema di kepala Asher. Ia menggeretakkan gigi. Seumur hidupnya, ia adalah pedang terkuat yang hanya tunduk pada perintah Kaisar. Namun hari ini, ia dipaksa tak berdaya oleh air mata seorang gadis tanpa mana di tengah hutan primordial yang mematikan ini. Titah itu menahannya di sini seperti rantai. Ia merasa gagal karena membiarkan Aruna keluar dari dalam desa menuju reruntuhan yang berbahaya tanpanya hanya karena sebuah janji kepatuhan.

"Kau benar-benar menunggu di sini seperti anjing penjaga. Lihat sekitarmu, para warga dan penjaga ketakutan melihat wajah garangmu," suara Scwartz memecah lamunan Asher. Scwartz bersandar di dinding gerbang desa, menatap jalan setapak dengan ekspresi serius.

Asher tidak melirik sedikit pun. Aura dinginnya semakin pekat hingga rumput liar di bawah kakinya seperti ditutupi lapisan es tipis yang merambat. "Pergi, Scwartz. Sebelum aku potong lidahmu."

"Ck...ck...ck... Tensinya tinggi sekali.... Ahem... Barusan aku mendengar laporan di pos penjaga. Mereka menemukan beberapa bangkai Shadow Wolf yang hancur di jalur Timur, dan ada pemburu yang melihat rombongan pria bertopeng dengan aroma racun bergerak di area padang rumput."

Mendengar ciri itu, mata Asher berkilat mematikan. "Viper's Fang..." desisnya. Ia tahu kelompok itu; tikus-tikus bayaran yang tidak punya kehormatan. Ada dorongan liar di dalam dadanya untuk segera pergi dan menghancurkan siapa pun yang berani mengincar Aruna. Ia menyebutnya sebagai "insting membasmi pengganggu", padahal itu adalah amarah murni seorang pria yang merasa terancam.

"Ck, Belum selesai," tambah Scwartz pelan sambil melirik Asher yang tidak seperti biasanya. "Pengintai baru saja melapor bahwa rombongan Putri sekarang dihadang tiga ekor Earth-Crusher Ape di perbatasan hutan."

Seketika, aura membunuh meledak dari tubuh Asher hingga kayu gerbang di dekatnya mengeluarkan suara berderit. Ia langsung melangkah maju satu tindak, namun bayangan wajah Aruna yang memerah tadi kembali muncul di benaknya. Ia menghantamkan tinjunya ke kayu gerbang hingga retak dalam. 'Sialan! Kenapa aku harus diam di sini?!'

Setiap menit yang berlalu terasa seperti bertahun-tahun. Hingga akhirnya, beberapa sosok muncul dari balik rimbunnya semak primordial di kejauhan.

Deg... Deg... Deg... Jantung Asher berdegup kencang saat melihat Aruna. Kondisi rombongan itu sangat berantakan, semuanya tampak kotor dan dipenuhi debu tanah yang tebal. Aruna berjalan dengan langkah berat yang terseret-seret karena lelah, bajunya lecek dan kusam. Namun, yang membuat d4rah Asher benar-benar mendidih adalah fakta bahwa Aruna berjalan dengan diapit ketat oleh Fenrir dan Aerlisto yang berdiri sangat dekat di sisi kiri dan kanannya.

Di belakang mereka, ketiga teman perempuan Aruna juga nampak lusuh. Luna dan Ellyst si gadis rubah tampak memapah Verdy yang memanggul palu besarnya. Verdy juga bertugas menuntun kuda milik Asher yang nampak lesu. Di atas pelana kuda itu, si Oyen duduk dengan angkuh seolah dialah pemenang pertempuran hari ini.

Asher melangkah maju dengan kecepatan yang menakutkan, membelah kerumunan kecil itu. Tanpa kata, ia langsung menyambar pergelangan tangan Aruna dan menariknya paksa ke balik punggung lebarnya yang kokoh.

"Ah?? ASHER?! Kau ngagetin saja!" Aruna langsung berteriak saat itu juga. Ia meronta, mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Asher yang tiba-tiba. "Lepaskan! Kau ini kenapa, sih?! Tiba-tiba datang lalu menarik orang!"

Begitu merasakan Aruna meronta, Asher refleks melonggarkan cengkeramannya agar tidak menyakiti pergelangan tangan Aruna yang nampak memerah, namun ia tetap tidak melepaskan genggamannya. Ia memposisikan dirinya tepat di depan Aruna sebagai perisai hidup, menatap tajam pada dua pria di depannya.

"Mundur. Jangan berdiri terlalu dekat dengan dia," geram Asher rendah. Suaranya penuh ancaman, memberikan batas tegas bahwa jarak di sekitar Aruna adalah wilayah terlarang bagi mereka.

Verdy yang menuntun kuda langsung berhenti mendadak. "Aduh, hawanya... kenapa mendadak jadi musim dingin di sini?" bisiknya pada Luna. Ellish hanya mendengus, telinga rubahnya bergerak-gerak gelisah sambil menatap Asher dengan pandangan tidak suka.

"Heh!" Fenrir mendengus kasar, ia meludah ke samping sambil menatap Asher dengan pandangan meremehkan. "Ksatria Agung yang katanya terkuat di benua, tapi cuma bisa mematung di gerbang desa sementara Auristela harus mandi d4rah? Kalau kau memang hebat, harusnya kau yang ada di sana bertaruh nyawa, bukan malah membiarkan kami yang menjaganya."

Aerlisto tersenyum tipis, tampak sengaja memprovokasi meski wajahnya juga kotor terkena cipratan tanah. "Ksatria Agung, sambutanmu sangat tidak bersahabat. Kami memastikan Putri Auristela selamat, tapi sepertinya kau lebih peduli pada siapa yang berdiri di dekatnya daripada kondisinya sendiri."

Asher baru saja hendak melangkah maju dengan aura es yang membekukan tanah di bawah kakinya, tapi Aruna langsung memukul lengan Asher dengan tangan kirinya yang bebas.

"Cukup! Berhenti mengil4!" semprot Aruna tepat di depan wajah Asher. "Asher, kenapa kau malah mengancam mereka?! Mereka ini yang melindungiku saat pergi membawa kembali si Oyen ma kudamu! Dan kau! Kenapa kau masih menahan tanganku?! Lepaskan!!"

Asher akhirnya melepaskan pergelangan tangan Aruna, namun ia tetap berdiri sangat dekat hingga bayangannya yang besar menutupi seluruh tubuh Aruna. Suaranya memberat karena rasa cemburu yang ia sendiri tidak pahami. "Kenapa kamu jalan kaki bersama mereka? Kenapa membiarkan orang-orang ini berada di radius sedekat itu darimu?"

"Ya karena kudanya cuma satu! Kau pikir aku tega naik kuda sendirian sementara Luna dan yang lainnya mandi debu untuk melindungiku?! Kami ini tim, kami jalan bersama di hutan ini! Apa kau mau aku jadi putri egois?!" Aruna menghentakkan kakinya kesal, mencoba merapikan bajunya yang kotor sambil menatap tajam pada Asher.

Scwartz tertawa terbahak-bahak di belakang. "Piuit... Wah... Luar biasa... Ck... ck... ck... Putri Auristela... Kamu benar-benar menjinakkan si batu ini. Lihat mukanya... Ini pertama kalinya aku melihat dia bertingkah seperti ini. Wih... panas sekali..."

Aruna wajahnya memerah mendengar celetukan Scwartz, Kruuyuuk... Perutnya yang keroncongan saat itu, mengalahkan rasa malunya. Ia menyambar ujung jubah Asher, kali ini ganti dia yang menyeret pria besar itu masuk melewati gerbang desa.

"Sudah! Jangan ada yang bicara lagi! Aku lapar, kakiku mau copot! Semuanya ke rumah pohon sekarang, aku akan panggilkan makanan! Ayo!"

Asher hanya diam, membiarkan dirinya diseret oleh Aruna menuju area pemukiman di mana rumah pohon itu berada. Meski ia tampak patuh ditarik Aruna, matanya tetap memberikan tatapan dingin terakhir pada Fenrir dan Aerlisto. Sebuah peringatan tak tertulis bahwa ia tidak akan membiarkan celah bagi siapa pun untuk mendekati "miliknya".

Ding!

[Terdeteksi kedekatan dengan Asher: 33%

Bonus/catatan: Target sangat lega kamu selamat. Namun, terbakar.]

​'Duh, ini kenapa suasananya jadi makin berat sih?'

1
studibivalvia
asher ini tipe tsundere kah? haha lucu banget
Miyu: sedikit... 🤭
total 1 replies
studibivalvia
siap banget dah 😭
studibivalvia
lucu banget jirr 🤣 kucingnya lapar pengen minta makan tapi sombong mukanya 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!