Plakkk
"Kau berhutang budi seumur hidupmu! Karena kau mencuri nutrisi milik Aurora sewaktu didalam rahim Mommy mu! Hingga menyebabkan Aurora mempunyai fisik yang lemah dan selalu sakit-sakitan sedari kecil, jangan pernikahan ini bahkan nyawamu pun tak cukup untuk membayarnya!" Teriak Arga sang Ayah dari 5 bersaudara.
"Alasan itu lagi, apakah Bintang bisa mencuri! Kalian pikirkan sewaktu itu aku masih berupa segumpal darah, lalu janin yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri!" Sahut Bintang dengan tersenyum getir.
"Akan aku ambil semua yang telah aku berikan pada kalian dengan tanganku sendiri!!! Bahkan jikapun aku harus mati! Aku tidak akan rela membiarkan kalian menikmati hasil keringat dan kerja kerasku!" Ucap Bintang sambil
menggerakkan samurai ditangannya dengan lincah membantai seluruh keluarga Miller walaupun dirinya tahu jika dirinya telah diracun oleh Aurora.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Kedatangan Keluarga Miller
"Bagaimana bisa saat kejadian itu kau bisa ada disana?" Tanya Xavier yang sudah menghimpit tubuh mungil Bintang Kedinding kamar itu.
"Maaf Tuan muda, apa Anda sedang mencoba menginterogasi Bintang?" Tanya Bintang sambil mendongakkan kepalanya, selisih mereka yang jauh membuat Bintang harus mendongak jika ingin menatap wajahnya, ya Bintang hanya sedada Xavier.
"Menurutmu? Secara logika, disana banyak orang yang datang mengapa hanya kau saja yang menyadari cuaca saat itu?" Tanya Xavier sambil meraih dagu mungil Bintang lalu mendongakkan kepalanya.
"Apakah Tuan muda ini sedang mencurigai Bintang?" Tanya Bintang dengan senyum getir.
"Apa yang Anda takutkan dari Bintang yang seorang gadis kecil yang baru berusia 16 tahun yang tidak mempunyai kekuatan ataupun koneksi apapun," Ucap Bintang dengan suara yang bergetar.
"Apakah menurut Anda Bintang mempunyai kekuatan untuk memprovokasi atau membayar orang? Untuk merancang kecelakaan itu? Lalu, setelah itu Bintang datang menyelamatkan Axel, hingga Bintang bisa mendapatkan keuntungan berupa perhatian dan simpati dari Nenek dan kak Axel?" Ucap Bintang lagi dengan suara yang melirih pelan.
"Bintang masih sayang pada nyawa Bintang Tuan muda Xavier, jadi tenanglah Bintang tidak akan membuat konspirasi sebesar itu..." Ucapnya lagi sambil tertawa getir dan dengan suara yang mulai serak dan tangan yang mengusap air mata.
"Kau... Kau, maka dari itu jangan mencoba melanggar garis bawah kesabaran ku." Ucap Xavier yang tampak mulai gusar menatap pada Bintang yang mulai meneteskan air matanya.
"Jika Bintang katakan masuk dalam keluarga Alexander hanya untuk bertahan hidup dan demi menjaga kewarasan otak Bintang, apa Anda akan percaya? Akh sudahlah..." Sambungnya lagi sambil memejamkan matanya, lalu tangan yang menahan tangan Xavier Dia lepaskan.
Melihat ekspresi wajah Bintang yang tampak lelah dan pasrah, serta mata bening yang memancarkan ketulusan itu mulai berair, membaut Xavier seketika menarik tangannya dan melangkah mundur.
"Adik Bintang! Coba lihat apa yang aku bawa... Kue kering yang dibuat khusus oleh Nenek, coba cicipi bagaiman rasanya?" Ucap Axel berlari mendekat sambil memperlihatkan isi kotak yang dia bawa.
Lalu segera mengambil satu kue dan menyodorkannya kedepan mulut Bintang.
Bintang melirik sesaat pada Xavier yang tampak tengah memperhatikan interaksi mereka, dengan terpaksa Bintang membuka mulutnya menerima suapan dari Axel.
"Bagaiman? Enak? Apa kau suka?" Tanya Axel beruntun dengan tidak sabar.
"Terima kasih Tuan muda Axel," Ucap Bintang dengan wajah yang bersinar dan mengangkat kedua ibu jarinya pada Axel.
"Heiii... Tuan muda lagi, sudah aku katakan panggil aku Kakak!" Ucap Axel kesal.
"Hehehe... Iya, maaf Bintang lupa, terima kasih Kak Axel..." Ucap Bintang dengan raut wajah yang tertekan sambil melirik Xavier kembali dengan takut-takut.
"Aihhh... Gadis pintar... Ayo ikut aku, kita akan mempersiapkan apa saja untuk sekolah nanti, jika ada yang kurang kita akan berbelanja besok, sekalian membeli kado untuk ulang tahun Nenek lusa." Ucap Axel sambil menarik tangan Bintang membuat mata Xavier langsung melotot.
"Lho ada kak Xavier... Halo Kak, kakak ingin kue juga." Ucap Axel terkejut saat berbalik melihat Xavier yang berdiri santai bersandar di pilar.
Lalu, Axel menyodorkan kotak yang ditangannya pada Xavier, Xavier hanya melirik saja setelah itu berjalan dengan mendengus pelan.
Axel dan Bintang hanya saling melirik saja, lalu mengangkat bahunya bersamaan lalu melangkah bersamaan menuju kekamar masing-masing.
*
*
*
"Nona... Ada tamu yang datang mencari Anda? Mereka mengatakan jika mereka adalah Kakak Anda, tiga Tuan muda Miller." Ucap seorang pelayan itu dengan sopan pada Bintang yang masih berada diikamarnya.
"Sebentar, Bik," Sahut Bintang sambil menaruh bukunya.
"Dimana mereka?" Tanya Bintang sambil berdiri dan menepuk-nepuk bajunya yang tampak sedikit kusut.
"Mereka menunggu Nona depan," Sahut pelayan itu sambil membungkukkan tubuhnya lalu melangkah pergi dari ruangan itu.
Dewa, Saka dan Kalla langsung berdiri saat mendengar suara langkah yang mendekat, dan saat mereka menoleh.
Disana terlihat Bintang yang tampak imut mengenakan setelan rok sebetis dengan model leher blezer berwarna pink sakura.
Selama ini mereka belum pernah melihat si bungsu itu mengenakan pakaian bagus, selalu lusuh dan tak jarang robek disana sini, lalu dengan sabarnya Bintang akan menambal pakaian itu atau menjahitnya.
Mereka tidak pernah malu jika Bintang mengenakan pakaian seperti itu, karena mereka selalu mengurung dan meninggalkan Bintang dirumah saja. Jika pun dibawa keluar maka statusnya akan disebut sebagai Pelayan.
"Itukah etikamu saat bertemu saudaramu? Baru beberapa hari tinggal dikeluarga Alexander, kau sudah lupa siapa dirimu." Ucap Kalla dengan sinis.
"Sombong sekali, hingga saat bertemu dengan saudara saja seperti orang asing saja." Ucap Saka dengan mencibir tidak suka.
"Iya... Kau tahu sudah berapa lama kami menunggu! Berani sekali kau memperlakukan kami seperti ini!" Teriak Saka dengan emosi, membuat Bintang langsung mengeratkan kepalan tangannya dengan erat, dan setelah Bintang bisa mengendalikan diri, barulah dirinya melangkah mendekat.
"Hai Kak Dewa, hai Kak Saka, hai Kak Kalla..." Sapa Bintang dengan suara yang dingin.
"Oh ya... Ada apa kalian datang kesini?" Tanya Bintang.
"Kami butuh dukungan keluarga Alexander untuk bisnis Kakak keduamu, dan kuota belajar di perguruan tinggi elit, agar cita-cita Kakak bisa cepat tercapai, dan jalur bimbingan khusus untuk kami, kau tahukan jika Aurora sangat suka belajar?." Ucap Dewa dengan suara yang bernada memerintah.
"Maaf Kak, bukannya Bintang tidak mau membantu, tapi, posisi Bintang juga disini sedang sulit, tapi nanti akan coba Bintang bicarakan dengan Nenek." Sahut Bintang dengan geram.
Baru ini dia sadar, jika keluarganya ini sungguh sangat menjijikkan, mereka sedang meminta tolong, tapi seolah Bintang lah yang membutuhkan mereka.
Jika dulu hatinya memang tertutup dan buta sehingga tidak menyadari sifat semua saudaranya ini.
Seandainya dulu Dia bisa mengerti dan melihat sifat dan apa arti dirinya bagi saudaranya, mungkin tidak akan ada kehidupan kedua ini, pasti dirinya sudah memilih keluar dari keluarga Miller sedari awal.