NovelToon NovelToon
Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Handayani Sr.

Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.

Tidak ada yang berani menentangnya.

Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.

Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:

kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.

Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.

Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Di tempat lain Seorang wanita sedang panik, karena dia merasa ada yang mengawasi nya.

"Sial, apa Lucane sudah tau aku yang melakukan itu" gumam nya

"Apa yang harus ku lakukan, aku tidak bisa berdiam diri saja di sini" ucap nya mondar mandir di dalam apartemennya.

"Baiklah aku harus meninggalkan tempat ini" ucap nya Lalu mulai menyusun barang penting. wanita itu adalah Elena, dia menjadi target Lucane karena berani menyinggung nya.

* * * *

Setelah makan siang, udara di rumah Nana terasa terlalu hangat untuk hati Jema. Jadi ketika saatnya pamit, ia merasa sedikit lega meski lawan jalannya adalah pria paling dingin yang pernah ia kenal.

Lucane berjalan di sampingnya dengan langkah mantap. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Seakan batas itu sudah otomatis diatur oleh pikirannya yang perfeksionis.

Mobil hitam mewah membawa mereka menuju pusat kota. Liam sudah mengurus semua detail acara, jadi tugas mereka tinggal satu memilih gaun dan cincin untuk sebuah pernikahan yang… bahkan bukan cinta.

Dalam Mobil Lucane melirik Jema sekilas.

“Pernikahan nanti akan sangat privat. Jika kau ingin mengundang rekan atau temanmu, kau bisa melakukannya hanya tiga orang.”

Jema membalikkan wajah, menatap ke luar jendela.

Senyumnya hambar, ada ketidak sengajaan kejujuran yang keluar.

“Aku juga tidak punya teman.”

Nada suaranya ringan… tapi tidak kosong.

Lucane menatapnya sejenak, lalu kembali diam.

* * * *

Sesampainya di Pusat Kota, Butik the gold

Mobil berhenti di depan butik yang tampak seperti museum haute couture. Kaca besar memantulkan cahaya, patung-patung manekin mengenakan gaun haute couture yang harganya mungkin bisa membeli rumah.

“Ini terlalu mewah,” gumam Jema pelan.

Walaupun matanya berbinar.

Saat mereka masuk, pelayan butik langsung menghampiri dengan senyum profesional.

“Selamat datang, Tuan Alexander. Nona. Kami sudah menyiapkan beberapa koleksi sesuai permintaan.”

'Astaga… dia bahkan sudah pilih gaya gaunku?

Si dingin ini ternyata perfeksionis tingkat dewa.'

Jema mengikuti pelayan ke ruang fitting VIP, di mana tiga gaun telah dipajang dengan pencahayaan khusus.

Gaun pertama warna putih satin, lembut, elegan, dengan potongan minimalis yang sangat cocok untuk figur Jema yang anggun tapi berbahaya.

Gaun kedua silhouette mermaid, bertabur payet halus, memeluk tubuh dengan sangat indah.

Gaun ketiga model off-shoulder dengan detail lace dan ekor panjang yang dramatis.

Jema menelan ludah.

Bahkan ia yang bar-bar bisa merasa gugup.

“Yang mana yang kau suka?” tanya Lucane tenang.

“Tau dari mana aku suka semuanya?” bantah Jema, tapi menggigit bibir sambil menatap gaun mermaid.

Pelayan tersenyum. “Ingin mencoba, Nona?”

dan Jema pun mengangguk.

Gaun pertama ia coba dan Jema harus mengakui, gaun itu membuatnya tampak lembut, padahal ia keras kepala.

Gaun kedua wow. Jema melihat pantulan dirinya di cermin dan hampir lupa bernapas.

“Kenapa aku terlihat seperti wanita normal,” bisiknya panik pada pelayan.

“Karena Anda memang cantik, Nona.”

Gaun ketiga sangat megah, tapi tidak terlalu ‘Jema’.

Saat ia keluar memperlihatkan gaun kedua, Lucane langsung menatap… lama.

Bukan tatapan pria jatuh cinta tapi tatapan pria yang menilai kualitas.

“Terlalu ketat?”

“Sangat pas,” jawab Lucane singkat.

Jema mendengus, tetapi merah sedikit di kuping.

“Aku ambil yang ini.”

Meskipun suaranya ketus.

* * * *

Mereka berjalan menuju toko perhiasan mewah yang hanya bisa masuk dengan appointment. Interiornya putih bersih, kaca berkilau, dan penjaga bersarung tangan putih.

Liam sudah lebih dulu ke sana, memastikan pilihan cincin disiapkan.

Di hadapan mereka, tiga kotak beludru hitam terbuka,

Cincin platinum dengan berlian solitaire, elegan dan berkelas.

Cincin rose gold dengan ukiran halus, tampak lembut namun unik.

Cincin custom dengan dua batu berlian kecil, melambangkan dua pribadi yang berbeda tapi saling mengikat.

Jema menatap ketiganya.

Lucane menatap Jema.

“Pilih,” ujar Lucane.

Jema menunjuk cincin nomor tiga. “Yang ini. Dua batu. Kita beda, tapi ya… terpaksa bersama.”

Pelayan hampir tertawa, tapi menahan diri.

Lucane hanya mengangguk.

Saat cincin dicoba ke jarinya, Jema memandang pantulan di kaca.

Wajahnya terlihat dewasa… dan sedikit rapuh.

Lucane tiba-tiba berkata pelan, “Ukurannya pas.”

Jema menoleh. “Ya… aku tahu.”

Tidak lama kemudian, mereka selesai.

Gaun telah dipilih. Cincin telah dipilih. Dan langkah menuju pernikahan yang aneh ini semakin dekat.

Di antara mereka…

Sunyi, tegang, tapi entah kenapa terasa kurang asing dibanding sebelumnya.

Permainan ini mulai berubah.

Perlahan. Namun pasti.

* * * *Setelah semua nya selesai, Lucane mengantar Jema pulang tanpa banyak bicara. Mobil berjalan mulus melewati jalanan kota, tapi suasananya jauh dari tenang. Ponsel Lucane beberapa kali bergetar, wajahnya berubah serius setiap membaca pesan baru.

Liam menelponnya, suaranya terdengar terdesak.

“Tuan, pergerakan Elena sudah terbaca. Bocoran data dan rekaman mengarah kuat ke dia.”

Lucane menutup telepon dengan rahang mengeras.

Jema melihat sekilas, tapi tidak mau terlibat.

Masalah keluarga kaya tidak ada yang normal di antara mereka.

Begitu mobil berhenti di depan apartemen Jema, ia keluar tanpa menoleh.

Lucane hanya menatap punggungnya sebentar sebelum pergi.

* * * *

Jema membanting tubuhnya ke ranjang begitu pintu tertutup. Lampu kamar redup, hanya suara AC yang terdengar.

Ia memandang langit-langit, seolah jawaban hidup bisa muncul di sana.

“Pernikahan… dengan seseorang yang bahkan aku tidak kenal,” gumamnya.

Suaranya datar, tapi ada getir yang terselip.

“Apa hidup selucu ini…”

Ia tertawa kecil, tawa yang jauh dari bahagia.

Beberapa hari ini pikirannya kacau. Dan yang membuatnya semakin tidak nyaman adalah satu hal yang sudah ia perhatikan sejak awal:

Ia sedang diawasi.

Langkah kaki yang sama mengikuti di trotoar.

Bayangan di koridor apartemen.

Motor yang berhenti terlalu lama di bawah.

Dan tatapan orang asing yang terlalu lama menatap elevator.

Jema menghela napas panjang, memijit pelipis.

“Apa mereka benar-benar tidak bisa melepasku?” gumamnya.

Nada suaranya berubah dingin suara seorang mantan pembunuh bayaran yang sudah muak.

Ia meraih ponselnya dari meja samping, membuka kontak lama yang sudah dikubur sejak ia berhenti dari dunia gelap itu. Nama yang muncul membuat dadanya sedikit sesak:

“KITE, Squad Lama”

Teman terdekatnya dulu.

Teman yang tahu sisi dirinya yang paling brutal dan paling lemah sekaligus.

Jema menekan panggilan.

Nada sambung berdering dua kali.

“Yo,” suara berat dan santai menjawab.

“Ternyata nomor ini masih bisa kupakai?”

Jema menghela napas. “Kite… aku butuh bantuan. Ada yang mengawasi aku. Dan aku tidak suka.”

Keheningan sesaat. Lalu suara Kite berubah serius.

“Lokasi?”

“Apartemenku.”

“Baik. Jangan kemana-mana. Jangan buka pintu untuk siapa pun. Akan aku bereskan.”

Nada itu tegas. Tidak main-main. Mereka punya bahasa sendiri.

Jema memejamkan mata.

Tersenyum tipis… untuk pertama kalinya hari itu.

Jika masa lalu datang mengejar… maka Jema yang sebenarnya juga bisa kembali.

* * * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!