"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Malam semakin larut, dan amukan badai di luar sana membuat Ocean Empress bergoyang lebih ritmis.
Gladis masih terjaga, matanya terpaku pada jendela besar yang kini hanya menampilkan kegelapan pekat yang sesekali diterangi kilatan petir.
Laut yang luas itu tampak seperti monster yang siap menelan apa saja.
Di sisi lain kapal, di dalam kabin kelas satu yang mewah namun terasa menyesakkan, Alex duduk di tepi tempat tidur dengan wajah yang masih memar.
Ia baru saja memutuskan sambungan telepon dari Dayu.
"Habisi Gladis. Buat seolah-olah itu kecelakaan jatuh dari dek karena badai. Aku tidak peduli bagaimana caranya, yang penting warisan itu jatuh ke tangan kita!" ucap Dayu.
Alex menyeringai tipis sambil mengusap hidungnya yang nyeri.
"Tenang saja, Om. Gadis itu tidak akan pernah menginjakkan kaki di daratan lagi. Tapi tidak malam ini, karena pengawasan Arkan terlalu ketat."
Alex tahi jika ia menyerang saat ini sama saja dengan bunuh diri.
Arkan bukan lawan sembarangan dan ia harus menunggu saat nakhoda itu lengah, mungkin saat Arkan sedang sibuk dengan urusan birokrasi di pelabuhan persinggahan nanti.
Sementara itu di dalam kabin, Gladis merasa lelah secara mental.
Tubuhnya yang mungil akhirnya menyerah pada rasa kantuk yang berat.
Ia menarik selimut hingga ke dada, memeluk bantal besar yang ia jadikan guling dengan erat, seolah bantal itu adalah pelindung terakhirnya.
Napasnya mulai teratur, wajahnya yang tadi tegang perlahan mulai rileks dalam balutan mimpi yang kelam.
Di ruang anjungan yang dingin, Arkan sedang berdiri di depan layar monitor pengawas.
Di salah satu sudut layar, terdapat tampilan CCTV kabin pribadinya. Ia melihat Gladis yang sudah tertidur lelap.
Sudut bibir Arkan terangkat, membentuk sebuah senyum tipis yang sangat jarang ia perlihatkan pada siapa pun.
Tatapan matanya yang biasanya sedingin es, kini berubah menjadi sangat hangat dan protektif.
"Tidurlah yang nyenyak, istriku," bisik Arkan sangat pelan, hampir tenggelam oleh deru mesin kapal.
"Biar aku yang menghadapi badai ini. Biar aku yang menjagamu dari serigala-serigala yang mengincarmu."
Arkan memutar kursinya kembali ke arah radar dan kembali bekerja.
"Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini?" gumam Arkan.
Arkan yang khawatir dengan istrinya yang berada di kabin sendirian
Ia pun mengeluarkan perintah melalui radio pribadinya kepada Gerald.
"Gerald, perketat penjagaan di dek lima dan area sekitar kabin pribadiku. Jika pria bernama Alex itu keluar dari kamarnya setelah jam dua belas malam, segera amankan tanpa suara. Paham?"
"Siap, Kapten!" sahut Gerald di seberang sana.
Kapal terus membelah ombak, membawa rahasia besar di dalamnya.
Di bawah lindungan Arkan, Gladis tidur tanpa tahu bahwa nyawanya sedang dipertaruhkan, dan bahwa suaminya adalah pelindung paling berbahaya yang pernah ada.
Udara di dalam kabin terasa sejuk, sangat kontras dengan suasana di anjungan yang penuh tekanan sepanjang malam.
Pukul empat pagi adalah waktu di mana laut biasanya mencapai titik paling sunyi, meski mesin kapal masih menderu halus sebagai denyut nadi Ocean Empress.
Arkan melangkah masuk dengan sisa-sisa wibawa yang sedikit melemas karena kelelahan.
Setelah memberikan instruksi terakhir pada Gerald di depan pintu, ia mengunci rapat ruang pribadinya.
Pandangannya langsung tertuju pada tempat tidur besar di sudut ruangan.
Di sana, Gladis masih terlelap dalam posisi yang sama seperti semalam.
Ia meringkuk seperti anak kecil yang mencari perlindungan, dengan bantal yang dipeluk erat di dadanya.
Rambutnya yang sedikit berantakan di atas seprai biru gelap membuat wajahnya terlihat sangat polos dan rapuh.
Arkan melepas sepatu pantofelnya tanpa suara. Ia menanggalkan kemeja seragam putihnya yang kaku, menyisakan kaus dalam hitam yang melekat pada tubuh tegap dan atletisnya.
Kelelahan setelah bertarung dengan badai semalaman akhirnya menuntut haknya.
Ia naik ke atas tempat tidur dengan sangat perlahan, tidak ingin mengusik tidur lelap gadis itu.
Kasur yang empuk itu sedikit tenggelam di bawah bobot tubuh Arkan.
Arkan berbaring miring, menghadap ke arah Gladis.
Dalam jarak sedekat ini, ia bisa mendengar deru napas Gladis yang teratur.
Aroma sabun dan wangi alami tubuh Gladis terasa jauh lebih menenangkan bagi Arkan daripada aroma kopi pahit yang ia minum semalaman.
Tangannya yang besar dan kasar perlahan terulur, jemarinya membelai lembut helai rambut yang menutupi kening Gladis.
"Kamu tidak tahu seberapa besar bahaya yang mengincarmu di luar sana, Gladis," bisik Arkan hampir tak terdengar.
Kemudian Arkan menarik selimut untuk menutupi bahu istrinya, lalu ia sendiri memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun pelayarannya, Arkan tidur bukan karena tugasnya selesai, tapi karena ia merasa telah pulang ke pelabuhan yang tepat.
Tanpa sadar, dalam tidurnya yang masih gelisah, Gladis bergerak mendekat ke arah sumber panas di sampingnya.
Ia mencari kehangatan dan secara naluriah menyandarkan kepalanya di lengan kokoh Arkan.
Arkan tersenyum dalam kantuknya dan melingkarkan lengannya di bahu Gladis, mendekapnya posesif.
Di tengah samudra yang luas ini, dalam kabin yang terkunci rapat, Arkan bersumpah dalam hatinya untuk melindungi Gladis dari Alex, Dayu, atau siapa pun yang mencoba menyentuh istrinya harus melangkahi mayat sang Kapten terlebih dahulu.
Detik demi detik berlalu, cahaya matahari pagi mulai menyusup melalui celah tirai kabin, menyinari wajah Gladis yang perlahan terbangun.
Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Arkan yang tertidur pulas hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.
Garis-garis tegas di wajah pria itu tampak lebih rileks saat tidur, namun lengan kokohnya yang masih melingkar protektif di pinggang Gladis membuat jantung gadis itu berdegup kencang.
Dengan gerakan sangat hati-hati, Gladis melepaskan diri.
Ia tidak ingin membangunkan Arkan yang masih tertidur pulas.
Gladis segera menyelinap ke kamar mandi, membersihkan diri, dan bersiap-siap.
Rasa lapar mulai melilit perutnya. Ia membayangkan lezatnya roti panggang mentega yang hangat dan secangkir kopi susu di restoran dek tengah.
"Hanya sebentar, dia pasti tidak akan sadar," gumam Gladis pelan sambil melangkah keluar kabin.
Namun, harapannya untuk sarapan dengan tenang hancur saat ia tiba di koridor utama.
Kerumunan penumpang tampak mengerumuni seorang wanita paruh baya bergaun sutra yang sedang histeris.
"Cincinku! Berlian pemberian mendiang suamiku! Tadi masih ada di jemariku saat aku berjalan di lorong ini! Pasti ada yang mengambilnya!" teriak wanita itu panik.
Gladis yang secara naluriah ingin membantu, ikut menyisir lantai dengan matanya.
Tepat di dekat sudut karpet merah yang tebal, ia melihat sesuatu yang berkilau. Ia berjongkok dan memungut benda itu.
"Ini, Bu. Saya menemukannya di sudut sana," ucap Gladis ramah sambil menyodorkan cincin itu.
Alih-alih ucapan terima kasih, wanita itu justru menyambar cincinnya dan menunjuk wajah Gladis dengan telunjuk gemetar.
"Kamu! Kamu yang mengambilnya, kan? Kamu ketahuan lalu pura-pura menemukannya agar tidak dilaporkan!"
"Apa?! Tidak, Bu! Saya benar-benar baru menemukannya di lantai!" Gladis tertegun, wajahnya memanas karena tuduhan yang tak berdasar itu.
"Jangan bohong! Penampilanmu mencurigakan, berkeliaran pagi-pagi begini!" teriak wanita itu lagi.
Kerumunan mulai berbisik-bisik sinis, menatap Gladis seolah ia adalah seorang kriminal.
Kegaduhan itu berakhir saat derap langkah sepatu pantofel yang tegas menggema di koridor.
Arkan yang sudah bangun, langsung datang dengan seragam lengkap, auranya begitu dingin dan mengintimidasi hingga kerumunan itu langsung memberi jalan.
"Ada apa ini?" tanya Arkan, suaranya bariton dan penuh otoritas.
"Kapten! Gadis ini mencuri cincinku! Dia baru mengembalikannya setelah aku berteriak!" lapor si wanita paruh baya itu dengan nada menuntut.
Arkan menatap Gladis dengan tatapannya yang sangat tajam.
"Aku tidak mencuri, Arkan! Aku bersumpah, aku baru saja menemukannya di bawah sana!" ucap Gladis dengan suara bergetar.
Air matanya mulai menggenang karena rasa malu yang luar biasa di depan banyak orang.
Arkan terdiam sejenak dengan wajah yang sangat dingin.
"Sampai bukti dari rekaman CCTV diperiksa dan masalah ini jelas, Gladis harus tetap berada di dalam kabin. Ini prosedur standar kapal."
Gladis membelalakkan matanya saat mendengar perkataan dari Arkan.
"Apa? Jadi kamu tidak percaya padaku? Kamu lebih memilih prosedur daripada kebenaran?"
"Ini tentang menjaga ketertiban di atas kapal, Gladis. Ikut petugas sekarang," ucap Arkan tanpa emosi, suaranya sedingin es di kutub utara.
Dua petugas keamanan mendekat ke arah Gladis yang berdiri di hadapan Arkan.
Gladis menepis tangan mereka, matanya menatap Arkan dengan luka yang mendalam.
"Kamu benar-benar kejam, Arkan. Kamu lebih buruk dari badai mana pun."
Gladis digiring kembali ke kabin pribadinya. Mereka menutup dan mengunci pintu dari luar.
Di dalam kesunyian kamar yang luas itu, Gladis terduduk di tepi ranjang.
Ia menatap tangannya yang tadi memungut cincin itu dengan pandangan kosong.
Ia merasa dikhianati oleh orang yang seharusnya menjadi pelindungnya. Namun, yang tidak Gladis ketahui adalah di luar sana, Arkan segera menuju ruang monitor dengan kilat amarah di matanya.
"Tunjukkan rekaman koridor itu sekarang," perintah Arkan pada petugas CCTV dengan nada rendah yang mengerikan.
"Jika aku menemukan ada yang sengaja menjebaknya, orang itu tidak akan pernah melihat matahari terbit besok pagi."
lanjut💪💪
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget