"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: TEBING KEMATIAN
Suara ombak yang menghantam karang di bawah tebing pemakaman Manado terdengar seperti geraman monster yang lapar. Di atas sini, di awal tahun 2026 yang kelam ini, napas Stevanus yang bau darah terasa panas di leherku. Detik merah pada bom di pinggangnya terus berkedip, menghitung mundur sisa hidup kami.
03... 02...
"Matilah bersamaku, Yati! Di neraka, kau akan tetap menjadi milikku!" Stevanus meraung, matanya yang gila menatap langit malam seolah sedang menantang Tuhan.
Namun, di tengah keputusasaan itu, bayangan hitam melesat dari balik semak. Maya muncul dengan wajah yang pucat dan mata yang dipenuhi kebencian murni. Dia tidak menyerangku. Belati perak di tangannya terangkat tinggi dan terhujam tepat ke lengan Stevanus yang memegang pemicu bom.
"Jika ada yang mengirimnya ke neraka, itu adalah aku, Stevanus!" jerit Maya. "Kau membunuh anakku demi wanita ini! Kau membuangku seperti sampah!"
Stevanus mengerang kesakitan, pegangannya pada leherku melonggar sedetik. Itu adalah kesempatan satu-satunya. Aku mengumpulkan seluruh tenaga yang tersisa di otot perutku, mengabaikan rasa nyeri yang menyayat rahim, dan menyikut ulu hati Stevanus dengan keras.
Aku terlepas. Aku jatuh berguling di tanah yang becek, menjauh dari tepi jurang tepat saat tangan Stevanus melepaskan pemicunya karena rasa sakit dari tikaman Maya.
01...
"TIDAK!" teriak Ratna dari kejauhan.
BOOOMMM!
Ledakan itu tidak sebesar yang kubayangkan, namun cukup kuat untuk melemparkan Stevanus dan Maya ke arah laut. Cahaya jingga menyambar kegelapan. Aku merasakan gelombang panas menyapu wajahku sebelum tubuhku menghantam batu nisan yang dingin.
Kesadaranku perlahan memudar. Hal terakhir yang kulihat adalah tubuh Stevanus yang terbakar jatuh ke dalam kegelapan abadi jurang itu, menyeret Maya yang tetap mencengkeramnya erat. Mereka pergi bersama ke dasar samudra, terkubur dalam dendam yang mereka ciptakan sendiri.
"Widya! Bangun! Jangan tinggalkan aku sekarang!"
Suara Aris terdengar samar. Aku merasakan tangan yang kasar namun hangat menepuk pipiku. Aku membuka mata perlahan. Langit malam Manado mulai memerah di ufuk timur. Fajar hampir tiba, namun aroma mesiu dan daging terbakar masih menyengat di udara.
Aku terbatuk, memuntahkan darah dan debu. "Aris... mereka..."
"Mereka sudah pergi, Widya. Habis," Aris membantuku duduk. Dia terluka parah, bajunya hancur, tapi matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa.
Aku menoleh ke samping. Ratna, wanita berwajah luka yang mengaku ibuku, terduduk lemas di dekat kobaran api yang mulai mengecil. Di tangannya, dia memegang map wasiat yang sudah hangus sebagian. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—antara kasih sayang yang tulus atau ambisi yang belum padam.
"Yati..." Ratna merangkak mendekat. "Kau selamat, Nak... Syukurlah."
Aku menarik diri darinya. Kepercayaanku sudah hancur menjadi debu. "Jangan mendekat. Aku tidak tahu siapa kau, atau siapa Sarah. Bagiku, kalian berdua hanyalah bagian dari mimpi buruk yang ingin kuhapus."
"Tapi wasiat ini... tanah di desa itu... itu kunci untuk menghancurkan Kencana Group selamanya!" Ratna menyodorkan sisa kertas yang terbakar itu.
Aku mengambil map itu dengan tangan gemetar. Aku menatap sisa-sisa tulisan tangan Ayah di sana. Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu. Di balik lembaran yang terbakar, ada sebuah chip tipis yang tertanam di dalam sampul map. Teknologi penyimpanan data militer yang sangat rahasia.
Inilah yang mereka cari. Bukan sekadar tanah, tapi data yang ada di dalamnya.
"Aris, bawa aku pergi dari sini," kataku dengan nada dingin. "Bawa aku ke rumah sakit. Aku tidak peduli dengan harta ini sekarang. Aku hanya peduli pada bayi ini."
Tiga jam kemudian, di ruang rawat VVIP rumah sakit Manado yang dijaga ketat oleh anak buah Aris. Aku berbaring dengan berbagai selang menempel di tubuhku. Dokter baru saja memberikan kabar bahwa janinku bertahan secara ajaib, meski aku harus menjalani bed rest total selama berbulan-bulan.
Aris masuk ke ruangan dengan wajah sangat serius. Dia menutup pintu dan menguncinya.
"Widya, ada sesuatu yang harus kau lihat," Aris membuka laptopnya dan memasukkan chip yang kutemukan di map tadi.
Layar laptop menampilkan sebuah peta geologi bawah tanah desa kelahiranku. Namun, yang mengejutkan bukan kandungan mineralnya. Ada sebuah fasilitas bawah tanah yang terdeteksi, sebuah bunker tua yang sudah ada sejak zaman perang, dan di dalamnya terdapat ribuan ton emas batangan dan dokumen kepemilikan saham bank-bank sentral dunia yang seharusnya sudah dianggap hilang.
"Ayahmu bukan hanya petani tuan tanah, Widya," Aris berbisik. "Dia adalah penjaga brankas dunia. Dan sekarang, kuncinya ada di tanganmu."
Tiba-tiba, televisi di ruangan rumah sakit menyala secara otomatis. Sebuah berita darurat muncul.
"Ditemukan mayat seorang pria dan wanita di pesisir pantai Manado. Identitas pria dipastikan sebagai pengusaha Stevanus Kencana. Namun, tim forensik menemukan sesuatu yang aneh. Pria tersebut tidak meninggal karena ledakan atau tenggelam..."
Pembawa berita itu melanjutkan dengan suara bergetar, "...Hasil otopsi menunjukkan bahwa jantung Stevanus Kencana telah diambil secara paksa dengan presisi bedah yang sangat tinggi sebelum tubuhnya menyentuh air. Dan di genggaman tangannya, ditemukan sebuah pesan tertulis di atas sobekan kain putih: 'Yati, ini baru babak pemanasan. Ibu yang asli sedang menunggumu di bunker'."
Aku menoleh ke arah Aris. Wajahnya pucat pasi. Di saat yang sama, pintu kamar rumah sakitku digedor dengan irama yang aneh. Irama yang sama dengan detak jantung yang kudengar saat aku dinyatakan mati di ruang operasi.
"Widya... jangan buka pintunya," bisik Aris sambil menarik senjatanya. "Itu bukan manusia."
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...