Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Steven nyaris terlelap ketika tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Ia membuka mata perlahan, menarik napas dalam, lalu bangkit dan membuka pintu.
Tubuhnya langsung menegang. Sorot matanya berubah dingin saat melihat sosok di hadapannya.
"Ada apa kau kemari?" tanyanya datar.
Grace tersenyum tipis, mengangkat nampan berisi segelas susu. "Aku mengantarkan susu untukmu. Kata orang, minum susu sebelum tidur bisa membuat tidur lebih nyenyak."
Steven melirik sekilas, lalu berbalik dan hendak menutup pintu. "Pergi!"
"Tunggu!" Grace menahan pintu dengan tangannya. "Cobalah sedikit. Aku sudah susah payah membuatnya untukmu."
Steven berhenti, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. Wanita itu menggunakan gaun tidur sutra yang tipis, memperlihatkan lekuk tubuhnya. Steven berdecih pelan, menyunggingkan senyum sinis.
"Apa aku menyuruhmu, hah?" Nada suaranya rendah dan tajam. "Menjijikkan."
Grace mengepalkan tangan, menahan amarah. Namun demi tujuannya, ia tetap memaksa diri untuk tersenyum.
"Aku akan meletakkannya di meja. Jangan lupa diminum, ya." Ia berusaha masuk. Namun, Steven dengan cepat menarik pergelangan tangannya kasar dan mendorongnya keluar hingga, Grace tersungkur di depan pintu.
"Akh!" pekik Grace. Nampannya terlepas dan, susu tumpah membasahi lantai.
"AKU BILANG PERGI!" bentak Steven.
Tubuh Grace bergetar. Tidak lama kemudian, William datang tergesa, disusul Denis dan Rena.
"Ada apa ini?" tanya Denis tegang.
William langsung membantu Grace berdiri, yang kini berpura-pura menangis.
"Ada apa, sayang? Kenapa kau menangis?" tanyanya lembut.
"A-aku hanya mengantarkan susu untuknya... " isak Grace. "Tapi... dia justru mendorongku."
William menggeram. Ia menarik Grace ke belakangnya lalu menunjuk Steven dengan tajam.
"Apa yang kau lakukan, hah?! Dia sudah berbaik hati mengantar susu untukmu! Tapi kau malah menyakitinya? Cepat minta maaf!"
Steven menyeringai tipis, lalu melipat tangan di dada. "Kalian benar-benar tidak tahu malu," ucapnya dingin.
"Kau—"
"Steve," sela Denis menahan emosi, "Papa tahu, kau tidak suka diganggu. Tapi, Grace hanya berniat baik. Dia juga mengantarkan susu untuk kami. Kalau kau tidak mau, seharusnya kau tidak bersikap kasar padanya."
"Papa benar," sambung William. "Cepat minta maaf pada Grace!"
"Aku tidak mau," jawab Steven singkat.
"Kau—"
Tiba-tiba, Freya muncul dari ujung lorong. Tanpa ragu, ia menarik Steven ke belakangnya, lalu menangkap jari William dan memelintirnya keras.
KRAK!
"ARGH!!" William menjerit kesakitan.
Belum cukup sampai di situ, Freya menendang kakinya hingga pria itu jatuh berlutut.
"Jariku! Lepaskan! Sakit!" teriak William.
"Minta maaf pada Tuan Steven!" bentak Freya.
Steven tertegun sesaat, lalu menaikkan alisnya. Detik berikutnya, senyum tipis terukir di bibirnya.
"Aku tidak mau!" teriak William.
"Tidak mau?" Freya menekan jari William lebih kuat.
"ARGHHH!!"
"Lepaskan tangan putraku!" Rena berusaha menarik Freya. Namun, Freya menoleh tajam.
"Kau juga mau?"
"A-aku... " Rena mundur pucat dan menarik lengan Denis.
"S-Steven, tolong suruh bodyguard mu melepaskan William," pinta Denis panik.
"Kenapa harus aku?" Steven menjawab santai. "Minta saja padanya langsung."
"Kau—" Denis menelan ludah, lalu menatap putranya. "Will, cepat minta maaf pada kakakmu."
"T-tidak, aku ti— ARGHH!" William kembali menjerit, saat Freya tiba-tiba menekan lebih kuat jarinya.
"Cepat!" bentak Denis.
"B-baik! Baik! Aku minta maaf!" teriak William.
"Aku tidak dengar," ujar Freya dingin.
"AKU MINTA MAAF! PUAS?!" teriak William.
Freya akhirnya melepaskan tangannya.
Rena dan Grace segera membantu William berdiri. "Kau tidak apa-apa, sayang?" tanya Rena khawatir.
"Jariku, Ma... " rengek William.
Freya memutar bola mata. "Ya Tuhan, kenapa dulu aku bisa jatuh cinta pada pria selemah ini," batinnya muak.
"Ayo, kita ke rumah sakit!" ajak Rena.
Namun William menolak. Ia justru menoleh tajam ke arah Steven. "Kau harus bertanggung jawab atas apa yang anak buahmu lakukan padaku."
"Apa—" Freya hendak maju lagi, membuat William refleks mundur. Namun, Steven segera menahannya.
"Berapa yang kau inginkan?" tanyanya datar.
"L-lima puluh juta," jawab William ragu.
Steven berdecak pelan. "Miko!"
Miko yang sejak tadi diam di sisinya, membungkuk patuh. "Baik, Tuan." Setelahnya, ia dan Freya mengikuti Steven yang berjalan melewati mereka tanpa menoleh lagi.
...****************...
Di sepanjang perjalanan, Miko tidak henti-hentinya memuji Freya. Selama ini, ia selalu menahan diri, menunggu perintah dari Steven. Tapi, Freya justru bergerak cepat, mengambil tindakan untuk melindungi Steven.
"Kau benar-benar hebat, Boy. Kau membuat mereka ketakutan. Aku sangat puas melihatnya. Sudah lama aku ingin melakukan itu, tapi... " Miko melirik ke kaca spion, lalu beralih melirik Freya sekilas. "Kau tahu sendiri, kan?" bisiknya.
"Aku sudah tidak tahan," sahut Freya jujur. "Mereka benar-benar menyebalkan." Nada suaranya mengandung kepuasan kecil setelah memberi William pelajaran.
Di kursi belakang, Steven kembali memejamkan mata. Awalnya, ia setuju menginap karena ingin tahu tujuan keluarga Denis. Namun sekarang, ia memutuskan untuk pulang setelah apa yang terjadi.
Meski begitu, diam-diam, sudut bibirnya terangkat tipis, nyaris tidak terlihat, mendengar percakapan asisten dan Bodyguard nya. Namun, senyum itu tidak bertahan lama.
Tiba-tiba, ia membuka mata. Dadanya terasa panas.
"Ngh!" Steven mengepalkan tangannya erat. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. "Kenapa tiba-tiba tubuhku... "
Rasa tidak nyaman itu makin kuat, menjalar perlahan, membuat napasnya sedikit berat. "Sial! Apa yang terjadi?" batinnya.
Miko yang melihat dari kaca spion langsung mengerutkan keningnya. "Tuan, Anda tidak apa-apa?"
Steven menggeleng pelan, mencoba menahan gejolak aneh yang membakar tubuhnya dari dalam.
"Sial, kenapa bisa begini?" batinnya geram. Ia berusaha mengingat apa saja yang terjadi di rumah Denis.
Setelah makan malam, ia tidak menyentuh makanan atau minuman apapun. Bahkan, ia menolak susu yang di tawarkan Grace.
"Kalau begitu, kenapa... " Pikirannya berputar cepat. Lalu, sesuatu terlintas di kepalanya. "Lilin aromaterapi," gumamnya pelan.
Begitu tiba di rumah, Steven langsung turun dari mobil bahkan sebelum Miko sempat membuka pintu untuknya.
Langkahnya cepat, nyaris tergesa, lalu menghilang di balik pintu utama tanpa menoleh sedikit pun pada dua anak buahnya.
"Tuan Steven kenapa?" gumam Freya pelan.
"Mungkin tuan ingin cepat-cepat istirahat," jawab Miko santai, sama sekali tanpa rasa curiga. Ia kemudian memarkir mobil dan beranjak menuju dapur.
Berbeda dengan Miko, Freya justru mengikuti Steven. Ada sesuatu yang tidak beres.
Ia melihat jelas, pria itu beberapa kali mengusap tengkuknya, bahunya tegang, langkahnya sedikit limbung, seolah menahan sesuatu.
Steven membuka pintu kamarnya dengan kasar, masuk, lalu hendak menutupnya kembali. Namun, Freya lebih cepat menahan pintu dengan tangannya.
"Tuan, Anda baik-baik saja?" tanyanya cemas.
Steven menggeleng cepat, rahangnya mengeras, napasnya terdengar berat.
"Pergi! Jangan ganggu aku!" Ia mendorong pintu, berusaha menutupnya. Namun, Freya kembali menahannya.
"Tidak! Anda terlihat tidak baik-baik saja."
Steven mengusap tengkuknya dengan kasar. Dadanya naik turun tidak teratur, sorot matanya menggelap, menahan sesuatu yang terasa semakin sulit dikendalikan.
Lalu, tanpa peringatan, tangannya mencengkeram pergelangan Freya, menariknya masuk ke dalam kamar dengan kuat, kemudian pintu tertutup keras di belakang mereka.
BRAKH!