Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM KELULUSAN ITU...
🌼🌼🌼🌼🌼
Langit Jakarta sore itu meredup, menyisakan semburat jingga keunguan yang memantul pada kaca-kaca gedung pencakar langit. Bagi Melisa, pemandangan itu tak lebih dari jeruji besi yang memenjarakan napasnya. Tepat pukul lima, ia harus beranjak.
Ia membungkuk, mengecup punggung tangan Narendra yang terasa dingin dan kaku. "Aku pergi dulu, Mas. Besok pagi aku kembali. Tunggu aku, ya?" bisiknya lirih ke telinga suaminya, berharap ada secercah respons dari balik koma yang panjang itu. Namun, hanya bunyi mesin ventilator yang menyahut, teratur dan tak berperasaan.
Satu jam kemudian, pintu sebuah penthouse di kawasan elit terbuka. Aroma truffle dan anggur merah yang mahal segera menyerbu indra penciumannya. Harvey sudah duduk di sana, menyesap cairan merah dari gelas kristalnya. Ia tidak lagi mengenakan jas putih dokter yang berwibawa, melainkan kaos polo santai yang justru membuat auranya terasa makin dominan.
"Kau terlambat dua menit," ucap Harvey tanpa menoleh.
"Macet, Harvey. Aku sudah berusaha secepat mungkin," sahut Melisa pelan.
Harvey meletakkan gelasnya dengan denting yang tajam. "Dua menit adalah waktu yang cukup untuk menghentikan aliran oksigen ke otak seseorang, Melisa. Ingat itu."
Melisa menelan ludah, dadanya sesak. "Aku minta maaf."
"Bersihkan dirimu," perintah Harvey dingin. "Aku tidak ingin sisa-sisa bau rumah sakit dan sentuhan suamimu menempel di kursiku saat kita makan malam. Cepat."
Melisa bergegas ke kamar mandi. Di bawah kucuran air panas, ia menggosok kulitnya dengan kasar, seolah ingin menguliti memori tentang Harvey dan rasa bersalah pada Narendra sekaligus. Setelah selesai, ia mengenakan gaun sutra tipis—pilihan Harvey—yang membalut tubuhnya dengan provokatif namun tetap terlihat elegan.
Di meja makan, kesunyian terasa begitu menyesakkan. Hanya suara denting alat makan yang beradu dengan piring porselen.
"Bagaimana kabar suamimu hari ini?" tanya Harvey tiba-tiba.
Melisa tersentak, tangannya sedikit gemetar. "S-stabil. Tadi perawat bilang saturasinya bagus. Bahkan... aku merasa jarinya sedikit bergerak saat aku berpamitan tadi."
Harvey tertawa sinis, tawa yang tak sampai ke matanya. "Gerakan involunter. Itu hanya refleks saraf, Melisa. Jangan naif. Secara medis, dia hanyalah mayat yang masih bernapas karena bantuan uangku."
"Kenapa kau harus sekejam itu?" suara Melisa mulai meninggi. "Kau seorang dokter! Bukankah tugasmu memberi harapan, bukan menghancurkannya?"
Harvey meletakkan garpunya, lalu berdiri perlahan. Ia melangkah memutari meja, berhenti tepat di belakang kursi Melisa. Tangannya mendarat di bahu Melisa, meremasnya dengan tekanan yang membuat wanita itu meringis.
"Aku dokter di rumah sakit, tapi di sini... aku adalah pria yang kau hancurkan sepuluh tahun lalu," bisik Harvey di dekat telinganya. "Harapan hanya untuk mereka yang jujur. Dan kau? Kau tidak lebih dari pengkhianat yang sedang mencicil penebusan dosa."
Harvey memutar kursi Melisa hingga mereka berhadapan. Ia membungkuk, mengunci tatapan Melisa yang mulai berkaca-kaca.
"Malam ini," suara Harvey berubah rendah dan berbahaya, "aku tidak ingin mendengar nama Narendra. Jika kau menyebut namanya sekali saja saat aku menyentuhmu, aku akan menelepon rumah sakit dan memerintahkan mereka mematikan ventilatornya besok pagi. Kau paham?"
Melisa terkesiap, napasnya tertahan di tenggorokan. "Kau... kau iblis, Harvey."
"Aku diciptakan olehmu, Sayang," balas Harvey sebelum menariknya berdiri dan membimbingnya dengan paksa menuju kamar utama.
Begitu pintu tertutup, semua kemarahan dan obsesi yang terpendam selama bertahun-tahun meledak. Harvey menarik Melisa ke dalam pelukannya, menciumnya dengan intensitas yang hampir menghancurkan. Melisa hanya bisa pasrah, membiarkan tubuhnya dikuasai sementara hatinya menjerit memohon ampun pada Tuhan dan suaminya yang sedang berjuang di ambang maut.
Namun, di tengah pergulatan yang menyesakkan itu, saat Harvey bergerak dengan gairah yang menuntut, pertahanan Melisa runtuh. Ia tidak bisa lagi menahan beban yang menghimpit dadanya selama ini. Isak tangisnya pecah, lebih keras dari desah napasnya.
Ia mencengkeram bahu Harvey, mencoba mendorongnya sedikit. "Berhenti... Harvey, tolong berhenti..."
Harvey terdiam, wajahnya hanya berjarak beberapa senti. Matanya merah, dipenuhi campuran antara amarah dan hasrat. "Apa lagi, Melisa? Ingin memohon ampun agar aku melepaskanmu?"
"Malam itu..." Melisa terisak hebat, air matanya membasahi bantal sutra. "Malam kelulusan sepuluh tahun lalu... aku tidak pernah ingin pergi darimu."
"Bohong!" bentak Harvey. "Kau menghilang tanpa kata dan muncul kembali sebagai istri Narendra!"
"Aku tidak punya pilihan!" teriak Melisa histeris. "Sore itu, ibumu datang ke rumahku. Dia mencaci ibuku di depan mataku. Dia menyebut ibuku buruh cuci rendahan yang tidak tahu diri karena membiarkan anaknya menggoda calon pewaris keluarga Andreas!"
Tubuh Harvey mendadak kaku. Ia tak bergerak, namun tatapannya tetap mengunci Melisa.
"Ibumu tahu tentang hutang mendiang ayahku yang sangat besar pada keluargamu," lanjut Melisa dengan suara bergetar. "Dia mengancam, Harvey. Jika aku tidak meninggalkanmu dan menghilang malam itu juga, dia akan menjebloskan ibuku ke penjara. Dia akan membuat kami hidup di jalanan sebagai gelandangan!"
Keheningan yang mencekam menyelimuti kamar itu. Hanya suara detak jam dinding dan napas Melisa yang tersengal-sengal yang terdengar.
"Kau... kau mengarang cerita," desis Harvey, meski suaranya mulai goyah.
"Aku mencintaimu, Harvey! Sangat mencintaimu hingga aku rela kau membenciku seumur hidup asalkan ibuku selamat!" Melisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya terguncang hebat. "Aku menikah dengan Narendra karena dialah satu-satunya orang yang mau membantuku melunasi sisa hutang itu secara diam-diam. Dia menyelamatkanku saat keluargamu menghancurkanku!"
Harvey terpaku. Tangannya yang tadi mencengkeram pergelangan tangan Melisa perlahan melonggar, lalu jatuh terkulai di sisi tubuh Melisa. Kenangan tentang ibunya yang otoriter dan kebencian keluarganya pada perbedaan kasta tiba-tiba berkelebat di benaknya. Selama bertahun-tahun, ia merawat dendam, membangun dinding kebencian karena merasa dicampakkan demi kemapanan. Ia tidak pernah tahu bahwa ada nyawa dan harga diri yang sedang dipertaruhkan di balik perpisahan itu.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?" suara Harvey pecah, berubah menjadi bisikan yang penuh kepedihan.
"Bagaimana bisa? Aku hanyalah anak buruh cuci, Harvey. Dan kau adalah pangeran mereka. Jika aku mengadu padamu, ibumu akan semakin murka dan menghancurkan kami lebih dalam," Melisa menatap Harvey dengan mata sembab. "Selama bertahun-tahun aku menanggung kebencianmu sendirian. Dan sekarang, aku di sini, menyerahkan sisa harga diriku padamu hanya untuk menyelamatkan pria yang pernah melindungiku dari keluargamu sendiri."
Harvey terdiam seribu bahasa. Kemenangan yang ia rasakan selama beberapa malam terakhir—merasa telah berhasil menjinakkan wanita yang mengkhianatinya—kini terasa seperti racun yang membakar kerongkongannya. Ia menatap wanita di bawahnya, bukan sebagai tawanan, melainkan sebagai korban dari kekejaman yang tak pernah ia sadari.
Perlahan, Harvey melepaskan Melisa. Ia berbaring di sampingnya, menarik selimut untuk menutupi tubuh Melisa yang gemetar, lalu menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Tidak ada lagi gairah, tidak ada lagi dendam yang membara. Yang tersisa hanyalah ruang hampa yang dipenuhi isak tangis Melisa dan penyesalan yang mulai merayap pelan, menusuk jantungnya lebih dalam dari luka mana pun.
"Maafkan aku," bisik Harvey hampir tak terdengar, namun Melisa sudah terlalu lelah untuk menjawab.
***
Bersambung...
......................
......Sebelum lanjut, bantu author lebih semangat dengan memberikan Like, komen, vote, dan gift semampu kalian ya 🥰🥰🥰......