Apakah kamu percaya cerita Cinderella?
Amina Arafat hanyalah seorang gadis yatim piatu, imigran dari Palestina dan tinggal bersama paman bibinya serta sepupunya di Brussels Belgia. Amina memiliki wajah cantik yang khas, membuat Akira Léopold, putra mahkota kerajaan Belgia, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Amina yang merasa tidak pantas bersanding dengan seorang pangeran dan putra mahkota, mencoba menjauh dari Akira tapi dia salah. Akira adalah keturunan Léopold yang tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bangku sekolah.
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amira Léopod
Istana Brussel Belgia
Akira sedang berdiskusi dengan ayah dan opanya untuk pertahanan maritim Belgia, ketika Isaak datang ke ruang kerja Arsyanendra.
Belgia memiliki Angkatan Laut (disebut Komponen Laut/Marinecomponent/Composante marine di situs resmi Pertahanan Belgia, meskipun sering disebut Komponen Laut) sebagai bagian dari Angkatan Bersenjata Belgia, meskipun armadanya tergolong minimalis dan fokus pada kerja sama internasional dengan negara lain, seperti Belanda, untuk memperbarui frigat dan kapal pemburu ranjaunya.
Angkatan Laut Belgia merupakan salah satu dari lima komponen utama dalam Pertahanan Belgia, bersama Angkatan Darat, Angkatan Udara, Layanan Medis, dan Angkatan Siber. ( Sumber Google )
"Maafkan saya, tapi ada surat resmi dari PBB yang meminta ada pengiriman pasukan pengamanan ke Afrika. Menteri pertahanan, Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri menunggu di depan."
Arsyanendra dan Sean saling berpandangan.
"Persilahkan mereka masuk. Waktunya sangat pas sekali," senyum Arsyanendra.
Isaak membungkuk hormat dan keluar guna mempersilahkan para pejabat penting itu.
***
Sementara itu ....
Amina menatap dingin ke arah Ferina yang tampak mengejeknya.
"Ada apa Fermipan?" tanya Amina mengingat ucapan Akira yang sempat marah dan menyebut Ferina dengan sebutan Fermipan ( thank you mbak Murti ).
"Beraninya kamu memanggil aku seperti itu?" hardik Ferina dan memarkirkan mobilnya dan turun guna menghampiri Amina.
"Kamu memanggil aku anak imigran, aku tidak marah. Lalu kenapa kamu marah aku panggil Fermipan?" balas Amina.
Amina tahu dia harus kuat dan percaya diri karena dia tidak mau ditindas lagi! Bahkan dia hampir lumpuh gara-gara perempuan di depannya.
"Sombong sekali! Mentang-mentang Akira habis kencan sama kamu! Berapa dia membayar pel4cur imigran macam kamu? Paling dia hanya mau tubuhmu tapi .. Dia tidak mungkin menikahimu karena kamu bukan darah bangsawan!" ejek Ferina.
PLAK!
Ferina memegang pipinya yang ditampar Amina. "Kamu berani menampar aku?"
"Menghajarmu juga berani! Kamu dulu sudah membuat aku celaka dan sekarang, kamu tidak akan pernah bisa melakukannya lagi!" balas Amina dengan nafas terengah menahan amarah.
"Hah! Aku laporkan kamu! Keluarga aku adalah keluarga tertua di Belgia! Kami punya hak khusus!" ejek Ferina.
"Laporkan saja! Aku tidak terima juga kamu ejek sebagai pel4cur! Justru kamu sepertinya yang sukarela memberikan tubuhmu ke Akira!" Amina sudah tidak mau dihina terus-terusan terutama oleh Ferina.
PLAK!
Amina memegang pipinya yang ditampar Ferina namun dia tidak menunjukkan rasa sakit.
"Apa kamu memang keturunan bangsawan? Mengingat attitude kamu tidak menunjukkan bahwa kamu seorang bangsawan." Amina menatap tajam ke Ferina.
Ferina mengangkat tangannya lagi untuk menampar Amina ketika sebuah tangan mencengkramnya.
"Lady Ferina von Zuylen. Sudah cukup!"
Ferina menoleh dan tampak Amira Léopod berdiri dibelakangnya dengan wajah galak.
"My ... My Princess?" Ferina pun langsung panik dan Amira menyentak tangan gadis itu.
"Sudah cukup!" Amira menatap ke arah Amina yang terkejut melihat dirinya.
Pantas Mas Akira bucin banget! Wong cantiknya seperti itu! - batin Amira.
"Untuk kali ini, aku maafkan kamu, Lady Ferina. Segera pergi dari sini!" perintah Amira dengan dagu terangkat.
Ferina bergegas pergi dengan mobilnya karena tahu, Amira lebih judes dari Akira. Sudah banyak cerita tentang putri bungsu Raja Arsyanendra yang dikenal tukang berantem di sekolah.
Amira mendengus sebal. "Hih! Harusnya aku hajar sampai babak belur ya!"
"Princess, tidak boleh ...," ucap Imelda, pengawalnya yang usianya sebaya dengan Akira. Amira cocok dengan Imelda karena usianya hanya beda dua tahun darinya.
"Mana si kampret Jonah? Disuruh ngawal mbak Mina malah tidak bantuin!" Amira melihat sekelilingnya sambil berkacak pinggang. "Jonaaaaahhhh!"
Amina melongo melihat kelakuan adik Akira itu sementara Imelda menepuk jidatnya.
"Sa ... Saya datang My Princess!" tampak seorang pria datang tergopoh-gopoh sambil membawa kopi. "Maafkan saya ... Tadi beli kopi dulu karena ngantuk."
Amira menyipitkan matanya. "Kamu itu bagaimana sih?"
"Maafkan saya ...."
"Permisi ... Ini sebenarnya ada apa?" Amina mendekati Amira yang masih memasang wajah judes.
"Mbak Amina ... Akhirnya kita bertemu ya?" senyum Amira yang langsung berubah raut wajahnya dan memeluk Amina yang terkejut dengan sikap putri bandel Belgia itu.
"Eh? My Princess?" ucap Amina bingung sambil melihat ke arah Imelda dan Jonah.
"Coba aku lihat pipi kamu?" Amira mengurai pelukannya dan memegang dagu Amina lalu memeriksanya. "Duh! Memar!"
"Eh? Ini tidak apa-apa, saya kan mau ke rumah sakit jadi ... bisa minta kompres disana ...."
"Tidak bisa begitu! Ayo ikut aku!" Amira lalu menarik tangan Amina.
"Ta ... tapi princess? Apa anda tidak ada kuliah?" tanya Amina bingung.
"Ini hari Sabtu, Mbak! Kuliah libur! Lagipula, aku kena skors juga!" jawab Amira cuek.
Amina terkejut. "Kena skors? Bagaimana bisa?"
"Nona Amina, jika Princess Amira tidak kena skors, seperti masakan tanpa garam," celetuk Imelda yang harus tabah maksimal mengawal tuan putrinya.
"Apa?" Amina tidak mendapatkan jawaban karena dia sudah masuk ke dalam mobil.
***
Istana Brussels Belgia
"Jadi Akira akan memilih ikut ke pasukan perdamaian?" tanya Arsyanendra.
"Benar Yang Mulia. Ini bagus untuk diplomasi bukan?" ucap Perdana Menteri.
Akira mengangguk. "Tidak apa-apa. Bukankah ini bagus? Aku mendapatkan banyak pengalaman?"
"Setidaknya ini masih mending daripada kamu ikut Hell Week!" ucap Sean judes.
Akira hanya nyengir.
"Hell Week, King Father? Bukankah itu pelatihan untuk Navy Seals? Yang Mulia juga pernah ikut kan?" Menteri Pertahanan menatap Arsyanendra.
"Pernah. Seru lho!"
Sean hanya menggelengkan kepalanya.
***
Sementara itu di ruang tengah istana Brussels.
"Tahan dikit ya mbak," ucap Amira sambil menempelkan kompres dingin ke pipi Amina. "Aku baru sadar nama kita mirip hanya beda 'r' dan 'n' doang."
Amina meringis saat kompres itu menempel ke pipinya.
"Terima kasih Princess," senyum Amina ke arah putri bermata biru itu.
"Santai saja ...."
"Mira? Itu siapa?" tanya Zinnia yang datang ke ruang tengah tanpa tahu siapa karena Amina duduk membelakangi.
"Oh Oma ... Ini mbak ...."
Amina pun berdiri lalu berbalik dan membungkuk hormat ke Zinnia.
"Amina? Ada apa? Mira, kenapa Amina bisa kemari?" tanya Zinnia. "Pipi kamu kenapa?"
"Justru karena itu, aku bawa mbak Mina kemari, Oma," jawab Amira.
"Ayo duduk. Cerita padaku." Zinnia membawa Amina duduk dan dua gadis itu pun saling bercerita.
***
Akira berjalan bersama dengan pengawalnya menuju ruang tengah dan dirinya terkejut saat melihat Amina bersama dengan Zinnia serta Amira.
"Mina? Kamu kemari? Kenapa? Katanya mau ke rumah sakit," ucap Akira heboh.
"Mbak Mina kenapa mau ke rumah sakit mas?" tanya Amira bingung.
"Karena hari ini jadwal mendongeng bangsal anak-anak yang kena kanker. Kok kamu bisa ke ... Apa yang terjadi pada pipi kamu? Siapa yang melakukannya!" serunya.
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
The sableng family, yg nyuruh turun genteng aja, mama Rarasati bawa prince Akira 😂😂😂😂😂