NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:130
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Elusan Kepala dan Rahasia Wali Kelas

Teeet! Teeet! Teeet!

Bel panjang tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar menggema di seluruh penjuru SMA Cendekia. Bagi sebagian besar siswa, ini adalah suara surga. Suara kebebasan.

Di kelas X-A, suara gemerincing buku yang dimasukkan ke dalam tas dan derit kursi yang didorong ke belakang mendominasi ruangan.

Aku menutup buku paket Matematika dengan tenang, memasukkannya ke dalam tas. Di sebelahku, Zea bergerak dengan kecepatan kilat. Dalam hitungan detik, tasnya sudah rapi, dan dia sudah memutar tubuhnya menghadapku sepenuhnya.

"Cal!" panggilnya dengan mata berbinar, senyum manis andalannya sudah terpasang.

Aku menoleh. "Apa?"

"Ayo belajar bareng!" ajaknya antusias. Kedua tangannya tertangkup di depan dada, gaya memohon yang sepertinya sering dia gunakan untuk meluluhkan hati laki-laki. "Ulangan harian Matematika kan minggu depan. Kamu tadi janji mau ngajarin aku lagi. Gimana kalau kita ke kafe sekarang?"

Tawaran yang menarik. Menghabiskan sore dengan sop ayam atau kopi sambil melihat Zea yang frustrasi mengerjakan soal logaritma sebenarnya cukup menghibur.

Tapi sayangnya, ada tugas negara.

"Nggak bisa sekarang, Ze," tolakku lembut sambil menyandang tas. "Aku dipanggil ke ruang guru."

Senyum Zea langsung luntur, digantikan oleh bibir yang mengerucut cemberut. Bahunya turun lemas secara dramatis.

"Yaaah... kok gitu sih?" keluhnya manja. Dia menatapku dengan tatapan puppy eyes yang mematikan. "Padahal aku udah semangat banget lho. Masa kamu lebih milih ketemu guru-guru botak daripada sama aku? Ayolah, Cal... sebentar aja? Plis?"

Aku menghela napas. Dia mulai rewel.

Biasanya, aku akan mendebatnya dengan logika atau meninggalkannya begitu saja. Tapi entah kenapa, hari ini aku teringat salah satu buku psikologi perilaku manusia yang pernah kubaca iseng di perpustakaan Papa.

Bab 4: Penanganan Konflik Afeksi. 'Salah satu cara paling efektif untuk menenangkan lawan bicara wanita yang sedang menuntut perhatian adalah dengan memberikan validasi fisik non-seksual yang menenangkan, seperti sentuhan di kepala, untuk memicu pelepasan hormon oksitosin.'

Apakah teori itu benar? Entahlah. Tapi tidak ada salahnya dicoba.

Tanpa bicara, aku mengangkat tangan kananku.

Zea yang masih cemberut menatap tanganku bingung.

Aku meletakkan telapak tanganku di atas puncak kepalanya. Rambut pendeknya terasa halus di sela-sela jariku. Dengan gerakan pelan dan canggung—karena ini pertama kalinya aku melakukannya—aku mengusap kepalanya lembut, lalu turun sedikit merapikan poninya.

"Jangan rewel," ucapku pelan, suaraku sedikit lebih rendah dari biasanya.

Hening.

Tubuh Zea membeku seketika. Matanya membelalak lebar, menatapku tak percaya.

Detik berikutnya, wajahnya memerah padam dengan kecepatan yang mengagumkan. Merah itu menjalar dari pipi hingga ke telinga dan lehernya. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia seperti komputer yang mengalami blue screen.

Efektif. Sangat efektif.

Aku menarik tanganku kembali, memasukkannya ke saku celana seolah tidak terjadi apa-apa.

"Aku harus nemuin Bu Zeni dulu," lanjutku tenang. "Kalau urusanku udah selesai, nanti aku hubungin kamu lagi."

Zea masih mematung. Dia hanya bisa mengangguk kaku seperti robot rusak. "I-iya... o-oke..."

Aku menahan senyum geli melihat reaksinya, lalu berjalan melewati mejanya menuju pintu keluar kelas. Rafan yang melihat kejadian itu dari meja barunya (sebelah Rara) hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil memberikan tepuk tangan tanpa suara.

Ruang Guru SMA Cendekia terletak di lantai satu, di sayap kiri gedung utama.

Begitu aku membuka pintu kaca, hawa dingin AC sentral langsung menyapa. Ruangan itu luas, berisi puluhan meja kerja yang disekat-sekat. Aroma kopi hitam dan tumpukan kertas mendominasi udara.

Ada sekitar lima belas guru yang masih berada di sana, sibuk mengoreksi tugas atau mengobrol santai.

Aku berjalan melintasi lorong antar-meja, mengabaikan tatapan beberapa guru yang mengenalku sebagai "Siswa yang mengalahkan Kevin".

Mataku mencari sosok wali kelasku. Di ujung utara ruangan, dekat jendela besar yang menghadap taman, Bu Zeni sedang duduk memeriksa berkas di laptopnya.

"Permisi, Bu," sapaku sopan.

Bu Zeni mendongak. Senyum ramahnya merekah. "Ah, Callen. Tepat waktu sekali. Sini, duduk."

Dia menunjuk kursi plastik di samping mejanya. Aku duduk, meletakkan tasku di pangkuan.

"Ada apa Ibu memanggil saya?" tanyaku to the point.

Bu Zeni menutup laptopnya, lalu menatapku dengan tatapan yang berbeda dari saat di kelas. Di kelas, dia adalah guru muda yang asyik. Tapi sekarang, tatapannya tajam, cerdas, dan penuh wibawa. Tatapan seorang pendidik senior.

"Callen, Ibu mau bicara jujur sama kamu," bukanya, suaranya tenang namun serius. "Sebagai wali kelas 10-A, Ibu punya kekhawatiran soal Festival Olahraga beberapa hari lagi."

Aku diam mendengarkan.

"Kelas kita cuma punya 15 siswa," lanjut Bu Zeni. "Sementara kelas lain punya 30 sampai 36 siswa. Dalam kompetisi yang membutuhkan banyak cabang olahraga seperti ini, kuantitas itu penting. Stamina teman-temanmu akan terkuras habis karena satu orang mungkin harus merangkap dua atau tiga lomba sekaligus."

"Saya paham, Bu. Tapi teman-teman cukup atletis. Kevin dan Rafan bisa diandalkan," jawabku diplomatis.

Bu Zeni tersenyum tipis, menyandarkan dagunya di tangan.

"Benar. Tapi cedera bisa terjadi kapan saja. Kevin sakit hari ini. Rafan bukan tipe yang punya stamina monster," ucap Bu Zeni penuh arti.

Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arahku.

"Ibu berharap... jika nanti ada teman sekelasmu yang tidak bisa lanjut, entah karena sakit, cedera, atau kelelahan... kamu bersedia turun tangan menggantikan mereka. Di cabang apa pun."

Aku mengerutkan kening. "Kenapa Ibu yakin saya bisa? Saya cuma siswa biasa, Bu."

Bu Zeni tertawa kecil. Tawa yang menyiratkan 'jangan bohong sama saya'.

"Callen, Callen... Kamu mungkin lupa, atau mungkin tidak sadar," kata Bu Zeni sambil membuka laci mejanya, mengambil sebuah map biru. "Sebelum pindah tugas ke SMA Cendekia tahun lalu, Ibu menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan di SMP Negeri tempat kamu sekolah dulu."

Mataku sedikit membelalak. Fakta ini baru bagiku. Aku tidak pernah memperhatikan struktur pejabat sekolah di SMP karena aku terlalu sibuk menjadi 'hantu'.

"Ibu melihat nilaimu," Bu Zeni menepuk map itu. "Ibu melihat bagaimana kamu sengaja menjawab salah di soal-soal mudah, tapi menjawab benar di soal-soal olimpiade yang iseng diselipkan guru Fisika di ujian akhir. Ibu tahu kamu menahan diri."

Bu Zeni menatapku lekat.

"Ibu paham kalau kamu tidak ingin menonjol. Itu hak kamu. Tapi... kelas ini butuh pilar yang kuat. Dan Ibu tahu, pilar itu bukan Kevin, bukan Rafan. Tapi kamu."

Aku terdiam. Rahasiaku ternyata sudah bocor bahkan sebelum aku masuk SMA ini. Menjadi 'biasa' ternyata lebih sulit daripada menjadi jenius.

Aku menghela napas panjang, lalu mengangguk hormat.

"Baik, Bu," jawabku serius. "Saya tidak janji bisa memenangkan semuanya. Tapi jika keadaan mendesak, saya usahakan untuk menutup kekurangan tim."

Senyum Bu Zeni melebar puas. "Itu jawaban yang Ibu tunggu."

Tiba-tiba, sebuah tangan besar menepuk punggungku keras.

Buk!

"Hahaha! Nah, ini dia kartu as kita!"

Aku menoleh. Pak Bambang, guru olahraga berbadan tegap itu sudah berdiri di belakangku dengan wajah sumringah. Dia baru saja masuk dari pintu samping.

"Gimana, Bu Zeni? Udah dikasih wejangan?" tanya Pak Bambang semangat.

"Sudah, Pak. Callen bersedia jadi 'cadangan utama' kita," jawab Bu Zeni.

Pak Bambang mengacungkan jempol padaku. "Bagus! Saya liat rekaman CCTV lapangan basket kemarin sore, Cal. Gerakanmu itu... footwork-nya bukan kaleng-kaleng. Itu teknik bela diri yang diaplikasikan ke basket. Saya suka!"

Aku hanya tersenyum kecut. Ternyata CCTV sekolah ini berfungsi dengan sangat baik.

"Siapkan fisikmu, Nak. Pekan Olahraga ini bakal brutal. Kelas 12 nggak bakal ngasih ampun ke anak baru," pesan Pak Bambang.

"Siap, Pak."

Setelah berbincang sebentar tentang teknis pendaftaran ulang, aku akhirnya pamit undur diri.

Aku berjalan keluar dari Ruang Guru dengan perasaan campur aduk. Satu sisi, aku malas terlibat lebih jauh. Tapi di sisi lain, ada rasa tanggung jawab aneh terhadap kelas kecilku itu.

Saat sampai di lobi sekolah yang mulai sepi, ponsel di saku celanaku bergetar.

Aku mengambilnya. Sebuah pesan WhatsApp masuk.

Zea (Manajer Bawel): 📍 Location: Pondok Cafe Kanka "Cal, aku udah sampe nih. Aku pesenin meja yang ada sofanya biar enak belajarnya. Dateng yaaa? Jam 16.00 aku tunggu! Awas kalau bohong! 😤"

Aku melirik jam tangan. Pukul 15.45. Masih ada waktu 15 menit.

"Belajar katanya..." gumamku sinis, tapi sudut bibirku terangkat.

Aku tahu betul ini cuma alibi. Mana ada orang belajar di kafe estetik yang lampunya remang-remang? Dia pasti cuma mau modus mengobrol atau memintaku menceritakan soal Paris.

Jari jempolku mengetik balasan singkat.

Me: OTW.

Aku memasukkan ponsel, lalu berjalan menuju parkiran sepeda.

Hari ini, Callen si Jenius Rendahan punya dua misi: Menjadi pilar bayangan bagi kelasnya, dan menjadi 'guru privat' bagi gadis yang baru saja dibuatnya salah tingkah setengah mati.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!