NovelToon NovelToon
Transmigrasi Jadi Karakter Villain Di Dalam Novel

Transmigrasi Jadi Karakter Villain Di Dalam Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Younglord

Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.

Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.

Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.

Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.

Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

Leon masih menyandarkan tubuhnya yang lelah di batang pohon kebun, menatap langit yang mulai menggelap. Ia baru saja hendak berdiri untuk membersihkan diri saat sebuah bunyi nyaring bergema di kepalanya.

...[ MISI DARURAT ]...

...Tujuan: Selamatkan Eiryn dari bandit!...

...Hadiah: [+100 Poin] dan [????]...

Mata Leon membelalak. Jantungnya mencelos saat membaca informasi lokasi Eiryn yang kini dalam bahaya besar.

"Sial!" umpatnya keras.

Tanpa pikir panjang, ia menyambar sekop yang tergeletak di tanah. Leon berlari sekuat tenaga, mengabaikan rasa nyeri yang mulai menusuk dadanya.

Ia lupa bahwa tubuhnya sangat lemah. Ia lupa bahwa ia tidak punya kemampuan bela diri. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah wajah Eiryn, gadis yang baru saja menangis tulus untuk keselamatannya.

"Eiryn! Eiryn!" teriaknya sambil terus memacu kakinya melewati jalanan desa yang mulai gelap.

"Uhuk!" Leon mendadak tersungkur. Ia terbatuk hebat hingga memuntahkan darah segar yang membasahi telapak tangannya. Dadanya terasa seperti dihantam palu godam.

"Tubuh bobrok sialan!" rutuknya sambil terengah-engah. Ia menyeka darah di bibirnya dengan kasar, lalu mencoba bangkit kembali meski pandangannya mulai berkunang-kunang karena pusing.

Saat itulah, suara teriakan yang sangat dikenalnya menusuk telinga.

"Eiryn!" gumamnya.

Leon kembali berlari menuju sumber suara. Di depan sana, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Eiryn sedang diseret paksa oleh tiga pria kasar menuju gang yang gelap.

"EIRYN!" teriak Leon dengan suara lantang yang menggelegar.

Ketiga bandit itu serempak menoleh. Eiryn yang sudah lemas dengan mata sembap penuh ketakutan pun mendongak.

"Tuan... Muda?" bisik Eiryn tak percaya, air matanya jatuh semakin deras.

"Cih, sialan. Tikus dari mana ini?" ucap bandit berbadan kurus sambil menjilat mata parangnya yang mengilat.

"Lepaskan dia," ucap Leon dengan nada dingin. Tangannya mencengkeram erat gagang sekop, mencoba menutupi tubuhnya yang sebenarnya sudah gemetar karena menahan sakit.

"Yo, apakah anak tampan ini kekasihmu?" tanya bandit gendut itu pada Eiryn sambil tertawa mengejek.

Si bandit jangkung ikut melangkah maju, menatap Leon dengan pandangan lapar. "Hei, Nak. Kebetulan sekali, kami sedang kehabisan daging untuk makan malam."

Leon berdiri tegak, meski napasnya berat, matanya menatap tajam ketiga bandit itu.

Leon mencengkeram gagang sekopnya hingga buku jarinya memutih. Di depannya, Eiryn menggeleng kuat-kuat dengan air mata yang membanjiri pipi.

"Jangan... Tuan Muda, lari!" jerit Eiryn serak.

Sebenarnya dia tidak yakin bisa mengalahkan mereka. Namun, melihat Eiryn yang gemetar dalam dekapan kasar bandit itu, amarahnya membakar rasa takutnya.

Para bandit itu hanya cengengesan, menganggap Leon tak lebih dari lalat pengganggu. Tanpa peringatan, Leon menarik napas dalam dan berlari menyerang si bandit jangkung.

Srak!

Leon mengayunkan sekopnya, namun si jangkung dengan mudah menangkisnya menggunakan pedang. Benturan logam itu menggetarkan tangan Leon yang lemah.

"Hah... hah..." Leon terengah-engah. Hanya satu serangan, dan staminanya sudah terkuras habis.

Si bandit jangkung tertawa meremehkan. "Apa ini? Lemah sekali! Apa kau benar-benar seorang pria?"

Sial, ini semua karena stamina dan daya tahanku yang rendah, gumam Leon. Pandangannya mulai buram, berputar-putar seperti ditarik gravitasi.

"Hei, berhenti membuang waktu! Cepat bunuh saja!" teriak si bandit gendut yang masih mencengkeram erat lengan Eiryn.

"Tuan Muda, jangan pedulikan saya! Pergilah!" jerit Eiryn pilu.

Leon tidak mendengar. Ia kembali memasang kuda-kuda, mencoba menyerang lagi. Namun, kali ini si bandit tidak lagi bermain-main. Dengan satu sentakan kuat, ia memukul sekop Leon hingga terlempar ke udara.

Dan dalam sekejap...

Jleb!

Ujung pedang yang dingin menembus dada Leon.

"Ugh...!"

Dunia seakan berhenti berputar. Leon terbatuk hebat, menyemburkan darah segar yang membasahi baju dan bilah pedang yang tertancap di tubuhnya.

Ia mencengkeram mata pedang itu dengan tangan kosong, mencoba menahan rasa sakit yang menghancurkan kesadarannya.

"Tuan Mudaaaa!" jerit Eiryn pecah, suaranya melengking membelah kesunyian malam.

Si bandit tersenyum gila. Ia menarik pedangnya dengan kasar. "Lemah sekali," ucapnya sambil menjilat darah Leon yang menempel di besi itu.

Tubuh Leon ambruk. Ia jatuh berlutut, lalu perlahan tersungkur di tanah yang dingin.

Apa... aku akan mati di sini? Mata Leon mulai meredup. Samar-samar, ia melihat Eiryn memberontak seperti orang kesurupan.

Maaf... aku tidak bisa menyelamatkanmu...

"Lepaskan! Bajingan!" Eiryn yang biasanya lembut tiba-tiba menggigit tangan si bandit gendut dengan sangat keras.

"Argh! Jalang sialan!" Si bandit gendut menendang Eiryn hingga gadis itu terlempar ke arah Leon.

Eiryn merangkak dengan sisa tenaganya. Ia memeluk tubuh Leon yang sudah bersimbah darah. "Tuan... jangan tinggalkan saya... bangun, Tuan!" Isak tangisnya memenuhi gang gelap itu, jemarinya yang gemetar berusaha menyumbat luka di dada Leon yang terus mengalirkan darah.

"Seret mereka berdua! Kita habisi di markas!" perintah si bandit gendut sambil memegangi tangannya yang berdarah.

Namun, tepat saat si jangkung hendak menjambak rambut Eiryn...

...[Kondisi Terpenuhi]...

...[Attribute Khusus Terbuka: Demonic Level ???]...

...[Semua Stats Meningkat 2× lipatp Sementara!]...

Tiba-tiba, suhu di tempat itu merosot tajam. Aura merah gelap yang pekat mulai merembes keluar dari pori-pori kulit Leon.

"Apa-apaan ini?!" Si jangkung mundur selangkah.

Aura itu semakin tebal, meluap bagaikan api hitam yang membara. Tekanannya begitu kuat hingga mementalkan Eiryn ke belakang sampai ia jatuh pingsan. Ketiga bandit itu pun terdorong mundur, wajah mereka memucat seketika.

Tubuh Leon yang tadinya terkapar, perlahan terangkat ke udara secara horizontal. Kepalanya tegak dengan kaku, lalu matanya terbuka perlahan.

Sret!

Mata itu memancarkan efek cahaya merah gelap. Pupilnya yang hitam kini berubah menjadi merah darah yang menyala.

Fwuhhh...

Uap aura merah gelap keluar dari mulut Leon saat ia mengembuskan napas.

Ketiga bandit itu gemetar hebat. Mereka terdiam, nyali mereka menciut seketika.

"Si-sial... apa yang terjadi?!"

"Bos, apa kita harus lari?"

"Te-tenanglah! Jangan takut!" teriak si gendut, meski kakinya sendiri gemetar hebat.

"Tapi Bos... auranya... ini terasa seperti aura Rank A!"

Leon yang melayang di udara hanya menatap mereka dengan tatapan kosong nan dingin, seolah sedang menatap tumpukan daging yang siap dicacah.

Tubuh Leon yang melayang perlahan turun. Ujung sepatunya menyentuh tanah tanpa suara, namun tanah di bawahnya retak seketika.

"Cih, jangan menakut-nakuti kami!" teriak bandit jangkung itu sambil menerjang. Ia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga ke arah leher Leon.

Wusss!

Leon tidak menghindar. Dengan gerakan secepat kilat, ia menangkap mata pedang yang tajam itu dengan tangan kosong.

Krak!

Telapak tangan Leon tidak tergores sedikit pun. Justru pedang baja itu retak di bawah cengkeramannya. Bandit jangkung itu melotot, matanya hampir keluar dari kelopaknya karena tidak percaya.

"B-bagaimana mungkin?!"

Tanpa sepatah kata pun, tangan kiri Leon menyambar dahi si bandit. Cengkeramannya begitu kuat hingga tengkorak pria itu terdengar retak.

Aura merah gelap menyambar tubuh si bandit seperti akar pohon yang lapar. Pria itu bahkan tidak sempat berteriak.

Tubuhnya menyusut, mengering dalam hitungan detik, dan perlahan hancur menjadi debu hitam yang tertiup angin.

Dan luka lubang di dadanya menutup dengan cepat, dagingnya tumbuh kembali seolah-olah ia tidak pernah tertusuk.

"Monster... Dia monster!" teriak si bandit kurus dengan wajah pucat pasi. Ia kencing di celana karena ngeri.

Si bandit gendut mencoba lari, namun Leon menoleh dengan senyum tipis yang sangat mengerikan. Ia melesat—bukan berlari, tapi seperti bayangan merah yang berpindah tempat.

Bugh!

Satu pukulan Leon menghantam perut si bandit kurus hingga ia terangkat dari tanah. Belum sempat jatuh, Leon mencengkeram lehernya dan mengangkatnya ke udara dengan satu tangan.

"T-tolong... ampuni aku" rintih si bandit kurus dengan mata melotot.

Leon tidak peduli. Aura merah di tangannya merambat naik ke wajah si bandit. Sekali lagi, proses mengerikan itu terjadi. Kulit bandit itu menghitam dan hancur menjadi abu di tangan Leon dalam sekejap mata.

Kini tersisa si bandit gendut. Ia jatuh terduduk, merangkak mundur sambil menangis histeris. Di depannya, Leon berdiri dengan aura yang semakin menggila, menatap mangsa terakhirnya dengan haus darah yang tak terbendung.

Melihat rekannya lenyap menjadi debu, nyali si bandit gendut menciut habis. Ia tidak peduli lagi dengan apapun. Dengan napas tersengal, ia memutar tubuh dan lari terbirit-birit ke arah kegelapan hutan.

"Monster! Itu monster!" teriaknya histeris sambil terhuyung-huyung.

Leon yang masih dalam posisi berdiri kaku, perlahan menarik sudut bibirnya. Sebuah seringai tipis yang mengerikan muncul di wajahnya yang pucat.

Wusss!

Dalam sekejap mata, Leon menghilang dari posisinya. Ia bergerak begitu cepat hingga hanya menyisakan jejak uap merah di udara.

Greb!

Langkah si bandit gendut terhenti mendadak. Sebuah tangan yang terasa sedingin es mencengkeram bagian belakang kepalanya dengan sangat kuat. Tubuh besar bandit itu tersentak ke belakang, terkunci sepenuhnya.

"Lari?"

1
Mr. Wilhelm
Emm ... Keknya ini termasuk Plot armor gk sih? 🤔
Manstor
Nih aku kasih bintang 5 ya thor untuk ceritanya, aku harap novelnya bisa sampai tamat ya~ soalnya seru banget👍👍
SilentLore: Tentu aja pasti, Makasih banyak yaa🙏
total 1 replies
Manstor
waduh🙈
Manstor
Wah seru nih🤩👍
SilentLore: Maksih kaka🙏 udah tertarik baca
total 1 replies
Ryukia
ceritanya menarik
SilentLore: Terima kasih banyak!
Senang sekali kalau ceritanya bisa bikin kakak tertarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!