Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Kota Seribu Topeng dan Lelang Budak Darah
Setelah tiga hari menembus semak berduri dan menghindari patroli udara dari Sekte Cahaya Suci, Jiangzhu akhirnya melihat siluet itu. Di cakrawala yang selalu tertutup mendung kelabu, berdiri sebuah kota yang tidak memiliki tembok pelindung megah. Kota Seribu Topeng lebih mirip seperti tumpukan sampah raksasa yang disusun menjadi bangunan-bangunan tinggi yang miring dan saling berhimpitan.
Bau tempat ini sampai ke hidung Jiangzhu bahkan dari jarak satu mil. Bau keringat manusia, asap pembakaran batu energi murah, dan aroma amis dari pasar jagal.
"Selamat datang di lubang kotoran yang paling indah di Benua Longyuan," suara Penatua Mo terdengar di benak Jiangzhu, kali ini nadanya sedikit lebih bersemangat. "Ingat, di sini tidak ada yang peduli siapa ayahmu atau dari sekte mana kau berasal. Di sini, kau dihargai berdasarkan berapa banyak nyawa yang bisa kau ambil sebelum sarapan."
Jiangzhu tidak menjawab. Ia menarik tudung jubahnya yang kotor hasil rampasan dari pemburu hadiah yang ia temui di jalan untuk menutupi wajahnya yang kini memiliki aura keunguan samar. Di dalam ruang jiwanya, Li’er tetap diam, namun Jiangzhu bisa merasakan hawa dingin yang merayap di punggungnya setiap kali ia melihat kerumunan orang.
Gerbang kota itu hanyalah sebuah lengkungan kayu busuk yang dijaga oleh dua pria berotot dengan tato ular di sekujur wajahnya. Mereka tidak meminta surat identitas.
"Dua keping perak untuk masuk, atau satu telinga jika kau bokek," gerutu salah satu penjaga sambil memainkan pisau belatinya.
Jiangzhu melemparkan dua keping perak tanpa bicara. Ia tidak ingin mencari masalah di gerbang.
Begitu melangkah masuk, ia merasa seperti masuk ke dalam perut binatang buas. Jalanan sempit itu dipenuhi oleh orang-orang dengan berbagai jenis topeng mulai dari topeng porselen yang indah hingga topeng kain yang sudah menghitam karena daki. Suara teriakan pedagang, denting pedang dari arena judi, dan tawa wanita dari rumah-rumah bordil menciptakan kebisingan yang memusingkan.
"Kenapa semua orang memakai topeng?" bisik Jiangzhu.
"Karena di sini, wajah adalah kelemahan," jawab Penatua Mo. "Jika kau tidak punya wajah, musuhmu tidak bisa mencari keluargamu. Dan jika kau mati di selokan, kau mati sebagai bukan siapa-siapa. Itu adalah kemewahan bagi orang-orang seperti kita."
Jiangzhu berjalan menyusuri jalanan yang becek oleh air limbah. Tujuannya adalah sebuah penginapan kecil bernama ‘Gelas Retak’ yang direkomendasikan Mo. Namun, langkahnya terhenti saat ia melewati sebuah alun-alun terbuka yang dikerumuni banyak orang.
Di tengah alun-alun, terdapat panggung kayu yang tinggi. Di atasnya, beberapa rantai besi menjuntai, mengikat tangan dan kaki orang-orang yang tampak layu dan penuh luka.
"Lelang Budak Darah baru saja dimulai!" teriak seorang pria gemuk dengan topeng babi emas. "Lihatlah koleksi hari ini! Gadis-gadis dengan garis keturunan spiritual yang murni, atau prajurit-prajurit gagal yang bisa kalian jadikan samsak latihan! Harga pembuka hanya sepuluh batu energi!"
Jiangzhu menatap panggung itu dengan dingin. Ia sudah melihat cukup banyak kekejaman, tapi melihat manusia dijual seperti ternak tetap membuat perutnya mual. Ia baru saja akan pergi ketika matanya tertuju pada seorang budak di pojok panggung.
Itu adalah seorang gadis kecil, mungkin usianya tidak lebih dari sepuluh tahun. Rambutnya perak kusam dan matanya... matanya berwarna biru jernih yang tampak sangat kontras dengan kotoran di wajahnya.
Deg.
Sesuatu di dalam dada Jiangzhu bergetar. Li’er, yang tadinya diam di ruang jiwanya, tiba-tiba memancarkan hawa dingin yang sangat tajam.
"Ambil... dia..." bisik Li’er. Suaranya tidak lagi datar, ada nada urgensi yang aneh.
"Apa maksudmu?" tanya Jiangzhu kaget. "Aku sendiri saja sedang diburu, sekarang kau ingin aku membeli budak?"
"Dia... bukan manusia biasa," potong Penatua Mo, suaranya kini terdengar serius. "Bocah, jika sekte besar tahu ada anak seperti itu di sini, mereka akan membantai seluruh kota ini hanya untuk mengambilnya."
Jiangzhu mengepalkan tangannya di balik jubah. Ia tahu membeli anak itu berarti menarik perhatian besar pada dirinya sendiri. Saat ini, ia hanya punya sisa uang perak dan beberapa batu energi dari Lu Chen.
"Sepuluh batu energi! Ada yang lebih tinggi?" teriak si pria topeng babi.
"Lima belas!" seorang pria tua bungkuk dengan topeng serigala mengangkat tangan, matanya menatap gadis kecil itu dengan nafsu yang menjijikkan.
"Dua puluh!" teriak yang lain.
Jiangzhu merasakan amarah mulai naik ke lehernya. Ia teringat dirinya sendiri yang dulu sering dihina dan hampir dijual oleh kepala desanya sendiri ketika orang tua angkatnya meninggal.
"Tiga puluh batu energi!" teriak Jiangzhu, suaranya menggelegar di alun-alun, membuat kerumunan itu mendadak sunyi.
Pria topeng babi itu menoleh ke arah Jiangzhu. "Oho! Tiga puluh batu dari pria misterius bertudung! Ada yang berani melawan?"
Pria tua bertopeng serigala itu menoleh ke arah Jiangzhu, matanya menyipit penuh kebencian. "Lima puluh! Jangan mencoba bermain-main denganku, Nak. Aku adalah anggota dari Gang Tengkorak Hijau."
Jiangzhu tidak peduli dengan ancaman itu. Ia melangkah maju, membiarkan auranya sedikit bocor aura dingin yang bercampur dengan hawa kematian Li’er. Orang-orang di sekitarnya secara tidak sadar mundur, merasa bulu kuduk mereka berdiri.
"Satu keping emas dan seratus batu energi," kata Jiangzhu datar.
Ia tidak punya uang sebanyak itu, tapi ia punya sesuatu yang lebih berharga. Ia melemparkan sebuah cincin penyimpanan milik Lu Chen yang masih berisi beberapa artefak kecil ke atas panggung.
Pria topeng babi memeriksa cincin itu, dan matanya membelalak. "Ini... ini adalah barang dari Sekte Cahaya Suci! Baiklah! Pemenangnya adalah pria bertudung!"
Jiangzhu berjalan naik ke panggung di bawah tatapan tajam dan penuh tanya dari kerumunan. Ia mendekati gadis kecil itu. Saat mata mereka bertemu, Jiangzhu merasakan tarikan yang kuat seolah-olah jiwa mereka terhubung oleh benang yang sama.
Ia memotong rantai gadis itu dengan satu jentikan energi.
"Siapa namamu?" tanya Jiangzhu pelan.
Gadis itu gemetar, namun ia tidak menangis. "Tidak... tidak punya nama. Mereka memanggilku Nomor Sembilan."
"Mulai sekarang, namamu adalah Awan," kata Jiangzhu sambil melepaskan jubah luarnya dan membungkus tubuh kecil gadis itu. "Dan siapa pun yang mencoba menyentuhmu, akan aku kirim ke neraka lebih dulu."
Pria tua bertopeng serigala itu berdiri dari kursinya, tangannya memegang gagang pedang. "Kau pikir kau bisa pergi begitu saja setelah menghinaku di depan umum?"
Jiangzhu menoleh perlahan, mata keunguannya berkilat di balik bayangan tudung. "Jika kau ingin mati sekarang, silakan maju. Aku sedang tidak punya banyak waktu untuk membuang mayat."
Tekanan aura yang dilepaskan Jiangzhu membuat pria tua itu membeku. Ia merasakan kematian berdiri tepat di belakang punggungnya. Dengan tangan gemetar, ia akhirnya duduk kembali, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.
Jiangzhu menggendong Awan dan turun dari panggung, berjalan menembus kerumunan yang kini memberinya jalan seolah-olah ia adalah seorang pangeran iblis.
"Selamat, Bocah," goda Penatua Mo. "Kau baru saja membeli masalah terbesar dalam hidupmu. Tapi hei, setidaknya sekarang kau punya seseorang untuk mencuci pakaianmu."
Jiangzhu tidak menanggapi. Ia tahu, mulai saat ini, Kota Seribu Topeng bukan lagi tempat persembunyiannya, melainkan medan pertempuran barunya.