Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.
Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.
Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Panjang Tanpa Belas Kasihan
Shasha melangkah keluar dari kamar mandi dengan pakaiannya yang setengah basah. Ia baru saja menyelesaikan ritual mandinya, berusaha menyegarkan diri di tengah situasi yang menyesakkan ini. Sambil berjalan, jemarinya menyentuh permukaan pakaian yang dikenakannya. Sejak diculik kemarin, ia belum berganti pakaian sama sekali. Meski tubuhnya sudah bersih terkena air, rasa tidak nyaman tetap menghinggapinya karena harus mengenakan baju yang sama.
Ia menunduk, menatap kakinya yang telanjang. Di kamar mewah ini, tidak ada alas kaki yang disediakan. Bahkan sepatunya yang ia pakai sejak kemarin entah disembunyikan di mana oleh para penculik itu. Pandangannya kemudian terkunci pada bekas luka goresan di kakinya yang mulai mengering. Shasha mendesah pasrah. Untungnya hanya goresan kecil, bukan luka parah yang akan menghambat geraknya jika ia menemukan celah untuk kabur.
Tiba-tiba, suara kunci diputar terdengar dari balik pintu. Shasha segera mendekat dengan penuh harap. Ia berharap pria yang mengantarkan makanan siang tadi akan kembali muncul. Di mata Shasha, pria itu tampak jauh lebih manusiawi dan bersahabat dibandingkan dengan pria bernama Jake.
Namun baru beberapa langkah, tubuh Shasha mendadak kaku. Langkahnya sontak mundur dengan raut ketakutan. Begitu pintu terbuka, sosok yang muncul bukanlah Kevin, melainkan Jake.
“M-M-mau apa kau?” tanya Shasha dengan suara bergetar.
Jake menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang selalu membuat bulu kuduk Shasha berdiri, “Bukannya kau ingin bertahan hidup?” ucapnya dingin sambil menunjukkan nampan berisi makanan di tangannya.
Shasha mengerutkan dahi. Ia mendongak, matanya menyapu setiap sudut langit-langit mencari kamera pengawas. Bagaimana mungkin pria itu tahu persis apa yang ia katakan pada dirinya sendiri siang tadi?
“Di sana,” ucap Jake datar sambil menunjuk ke arah kamera tersembunyi yang tertanam di pojok langit-langit.
Tatapan Shasha terfokus pada sinar merah kecil yang berkedip teratur di sana. Ia kembali menatap Jake dengan tajam, “Kau mengawasiku?”
Jake tidak menanggapi protesnya. Ia melangkah tenang menuju meja di depan ranjang dan meletakkan nampan itu di sana, “Makan malam untukmu,” ucapnya sembari menatap Shasha, “Habiskan. Atau tidak akan ada jatah makan malam lagi untukmu.”
Setelah berkata demikian, Jake meneliti penampilan Shasha dari ujung kepala hingga kaki. Tatapannya sulit diartikan, namun terasa sangat mengintimidasi.
“K-kenapa kau menatapku seperti itu?” Shasha refleks menyilangkan tangan di depan dada untuk menutupi tubuhnya.
“Aku punya mata. Tentu saja digunakan untuk melihat wanita penggoda sepertimu.”
“Wanita penggoda?” Shasha mengulang kalimat itu dengan nada tidak percaya. Ia menurunkan tangannya, mencoba berpikir keras, “Kau menyebutku wanita penggoda atas dasar apa? Aku bahkan tidak mengenalmu sama sekali!”
Jake justru melangkah maju mendekati Shasha. Shasha otomatis mundur hingga punggungnya nyaris menyentuh dinding, namun dengan cepat Jake merengkuh pinggangnya. Tubuh mereka menempel rapat. Wajah mereka begitu dekat hingga Shasha bisa merasakan hembusan napas Jake yang hangat namun beraroma ancaman.
“Lepaskan aku!” Shasha memukul dada Jake yang keras dan kokoh, namun Jake justru mengeratkan dekapannya.
“Hanya wanita dari desa yang tidak punya apa-apa lalu datang ke kota, bukankah sudah jelas apa tujuannya?” desis Jake tepat di depan wajah Shasha.
Tidak menghiraukan posisi tubuh mereka yang intim, Shasha menatap Jake dengan kemarahan yang meluap, “Kau memfitnahku! Kau tidak tahu apa-apa!”
“Aku sudah tahu semuanya. Bahkan kondisi keluargamu yang menyedihkan,” bisik Jake pelan namun tajam.
“Kau menyelidikiku?”
“Hanya wanita biasa sepertimu, tidak sulit bagiku untuk mencari informasi. Pamanmu kecanduan judi, bukan?”
Shasha terdiam, menatap Jake dengan tatapan horor. Pria di hadapannya ini benar-benar berbahaya dan memiliki jaringan yang luas, “K-kau tahu semuanya?”
Jake memajukan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan, “Takut?”
Shasha menggeleng gugup, meski bibirnya terkatup rapat menahan isak.
Melihat kehancuran di mata gadis itu, Jake langsung menyeringai puas, “Kau hanyalah seekor semut. Jika kuinjak, tidak akan ada bedanya apakah kau hidup atau mati.”
Tanpa aba-aba, Jake melepaskan rangkulannya dengan kasar hingga tubuh Shasha kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di lantai.
“Aw!” rintih Shasha saat merasakan nyeri yang menghunjam bokongnya. Ia mendongak tajam, melihat pria itu yang kini sedang mengusap tangannya dengan jijik, seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
Jake kemudian menatap Shasha yang berada di bawahnya, lalu tanpa belas kasihan, ia menginjak punggung tangan Shasha dengan sepatu pantofelnya yang keras.
“AAAAA! SAKIT! LEPASKAN!” teriak Shasha histeris.
Jake justru senang ketika mendengar rintihan kesakitan itu. Ia menekan kakinya sedikit lebih keras sebelum akhirnya mengangkatnya kembali.
“Patuhlah, jika kau tidak ingin nyawamu yang satu-satunya itu kurenggut sekarang juga,” ucap Jake dengan nada final. Ia kemudian berbalik, berjalan keluar kamar, dan mengunci pintu itu kembali.
Setelah pria itu pergi, Shasha memegangi punggung tangannya yang memerah dan berdenyut hebat akibat injakan Jake. Tangisannya pecah seketika di kesunyian kamar itu. Ia merasa hancur. Kenapa hidup yang sudah berat ini justru mempertemukannya dengan pria sekejam Jake?
Hanya sesaat, ia langsung berusaha mengontrol napasnya yang menderu. Ia menyadari bahwa menangis tidak akan memberinya jalan keluar. Air mata tidak akan melunakkan hati iblis yang sedang mempermainkannya itu.
“Bima...” bisik Shasha tanpa sadar.
Harapan kecil muncul agar sahabatnya itu datang menyelamatkannya, namun logika segera membuyarkan angan-angan itu. Jika Bima berhadapan dengan pria penuh kuasa seperti Jake, Bima hanya akan menjadi korban berikutnya.
“Tidak. Lebih baik kau tidak datang,” ucap Shasha getir sambil terus mengusap punggung tangannya yang masih berdenyut nyeri.
Dengan langkah gontai, ia bangkit berdiri. Ia harus kuat. Pandangannya terjatuh pada nampan makanan yang baru saja ditaruh Jake. Di sana terdapat sebuah mangkuk besar berbahan keramik dengan penutup dan segelas susu. Rasa lapar yang tadinya menyiksa mendadak berubah menjadi rasa ingin tahu yang mencekam. Perlahan, tangannya membuka tutup mangkuk itu.
Seketika mata Shasha melotot, jantungnya seolah berhenti berdetak.
“AAAAAA!”
Jeritannya memecah kesunyian mansion. Ia melempar penutup mangkuk itu hingga hancur berkeping-keping di atas lantai. Di dalam mangkuk itu, belasan ular kecil merayap saling melilit, mengeluarkan suara desisan yang mengerikan. Ular-ular itu mulai tumpah keluar dari mangkuk, bergerak lincah ke segala arah di lantai kamar.
“ENYAHLAH! JANGAN MENDEKATIKU!” teriak Shasha histeris. Ketakutan terbesarnya kini ada di depan mata.
Ia mundur secepat mungkin, dan saat melihat pintu kamar mandi, ia segera melesat masuk, membanting pintu, dan menguncinya rapat-rapat. Ia bersandar pada pintu dengan napas tersengal, bersyukur setidaknya ada pembatas antara dirinya dan hewan-hewan melata itu.
“Dasar pria kejam!” umpatnya dengan amarah yang meluap, “Dia menyuruhku menghabiskannya... padahal jelas-jelas berisi ular.”
Namun ketenangan itu hanya bertahan sesaat. Lampu di dalam kamar mandi mulai berkedip-kedip tidak stabil, “Apa listriknya akan padam?” tanyanya cemas.
Dan benar saja, dalam hitungan detik, lampu padam sepenuhnya, menenggelamkan Shasha dalam kegelapan total.
Ia mencoba membuka sedikit celah pintu untuk melihat kondisi kamar, namun di sana pun juga sama gelapnya. Mengingat ular-ular yang berkeliaran di luar sana dalam kegelapan, Shasha langsung menutup pintu kembali. Ia memilih terjebak di kamar mandi yang sempit dan dingin ini daripada harus digigit ular di luar sana.
“Hanya semalam. Hanya semalam...” gumamnya menghibur diri sendiri, meski suaranya bergetar hebat.
Ia duduk meringkuk di lantai keramik yang dingin, menyandarkan punggungnya di pintu sambil memeluk tubuhnya sendiri erat-erat. Waktu seolah berjalan sangat lambat. Suhu di dalam kamar mandi juga ikut menurun drastis, seolah sistem pendingin udara diatur khusus untuk menyiksanya.
Shasha terus menggigil. Tangannya mulai terasa kaku dan kulitnya keriput karena suhu ekstrem.
“Dingin... aku sudah tidak tahan lagi....”
Kepalanya terasa sangat pusing, berat, dan berputar. Oksigen di dalam ruangan sempit itu terasa menipis. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berbisik lemah.
“T... tolong... a... a... ku.”
Kesadarannya perlahan meredup. Tubuh Shasha terkulai, jatuh pingsan di atas lantai kamar mandi yang dingin.