Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan Yang Tak Terhidang
Sore itu, Jakarta seperti sedang berbaik hati. Langit di atas kawasan Jakarta Selatan berwarna jingga keunguan, bersih tanpa mendung, memantul cantik pada kaca-kaca gedung tinggi.
Arini melangkah keluar dari sebuah butik dengan perasaan yang sangat ringan. Di jemarinya, sebuah tas belanja kecil berbahan beludru terasa mantap. Di dalamnya terdapat sebuah scarf sutra bermotif klasik, hadiah sederhana untuk Adrian.
Arini tersenyum tipis.
Hari ini bukan hari ulang tahun pernikahan, tapi tepat tujuh tahun sejak pertama kali mereka bertemu di sebuah galeri seni. Arini masih ingat betul pertemuan antara dirinya dan Andrian jalan itu. Baginya, kebahagiaan bukanlah ledakan kembang api, melainkan ketenangan yang terjaga setiap harinya.
"Langsung pulang ya, Pak. Saya ingin menyiapkan makan malam sendiri," ucap Arini lembut saat memasuki mobil.
Di sepanjang perjalanan, ia menatap keluar jendela. Pikirannya sudah melayang ke dapur rumah mereka yang bersih. Ia membayangkan aroma daging panggang dan denting gelas kristal.
Ia ingin mengejutkan Adrian. Pria itu belakangan ini tampak begitu lelah dengan urusan kantor, dan Arini merasa sudah menjadi tugasnya untuk menjadi rumah yang paling nyaman bagi suaminya.
Mobil berhenti dengan halus di depan gerbang kayu jati yang tinggi. Arini turun, menghirup aroma melati yang ia tanam di halaman depan. Rumah itu sunyi, namun tampak megah di bawah lampu taman yang mulai menyala otomatis. Saat ia melangkah masuk ke teras, dahinya berkerut kecil. Sepatu kulit Adrian, Oxford cokelat yang selalu mengilap itu sudah berada di rak.
Dia pulang lebih awal, batin Arini. Ada rasa senang yang melonjak di dadanya. Mungkin semesta sedang mendukung rencana kejutannya.
Arini membuka pintu utama dengan sangat pelan. Ia tidak ingin suara langkah kakinya merusak suasana. Keadaan rumah sangat hening, hanya ada desis halus dari mesin pendingin ruangan yang bekerja di balik dinding.
Arini berjalan melewati ruang tamu yang tertata sempurna, menuju lorong yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang kerja pribadi Adrian, ruangan yang selalu Adrian sebut sebagai "benteng konsentrasinya."
Namun, langkah Arini terhenti di tengah lorong.
Bukan karena suara keras, melainkan karena sebuah suara yang tak seharusnya ada di sana. Sebuah tawa kecil yang manja, diikuti oleh bisikan yang terdengar begitu akrab. Suara itu bukan miliknya, tapi terdengar dari balik pintu ruang kerja yang tidak tertutup rapat.
Jantung Arini mulai berdetak tidak beraturan, seperti genderang yang dipukul serampangan. Ia merasa ada hawa dingin yang tiba-tiba menyengat tengkuknya. Dengan gerakan yang sangat lambat, seolah waktu sedang melambat untuk menyiksanya, Arini mendekat. Ia menempelkan tubuhnya pada dinding lorong yang gelap, lalu mengintip melalui celah pintu yang terbuka sekitar lima sentimeter.
Di balik sana, dunianya yang selama ini ia bangun dengan kebahagiaan, runtuh tanpa suara.
Ia melihat Adrian. Suaminya yang selalu terlihat kaku, berwibawa, dan dingin di depan orang lain, kini tengah terduduk di kursi kebesarannya.
Namun ia tidak sendiri. Seorang wanita muda dengan pakaian yang jauh dari kata sopan tengah duduk di pangkuannya. Tangan Adrian, tangan yang sama yang tadi pagi mengusap kening Arini sebelum berangkat kerja kini membelai pinggang wanita itu dengan penuh nafsu.
Wanita itu tertawa lagi, sebuah tawa yang terdengar sangat menjijikkan di telinga Arini. Adrian kemudian memiringkan wajahnya, mencium leher wanita itu dengan intensitas yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Arini rasakan lagi.
Arini merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Dadanya sesak, seolah ada beban ribuan ton yang menghimpitnya. Tas belanja di tangannya bergetar hebat. Namun, didikan kelas atas dan keanggunan yang telah mendarah daging membuatnya tetap tegak. Ia tidak berteriak. Ia tidak mendobrak pintu itu lalu menjambak rambut si wanita.
Ia hanya berdiri di sana, di balik kegelapan, memperhatikan setiap detail pengkhianatan itu dengan mata yang perlahan-lahan berubah sedingin es.
Arini mundur perlahan, setapak demi setapak, hingga ia kembali ke ruang tengah. Ia menatap meja makan kayu jati yang masih kosong, yang beberapa menit lalu ia bayangkan akan penuh dengan cinta. Tangannya merogoh tas tangan miliknya, menyentuh sebuah surat usang yang tadi pagi ia temukan secara tidak sengaja di bawah karpet mobil Adrian saat ia mencari antingnya yang jatuh.
Surat itu berisi tulisan tangan yang berantakan, membicarakan tentang rahasia masa lalu yang seharusnya sudah terkubur. Awalnya Arini ingin menanyakannya baik-baik pada Adrian malam ini. Namun sekarang, surat itu bukan lagi sekadar pertanyaan, surat itu adalah senjata.
Arini menarik napas dalam-dalam, menelan seluruh rasa sakit dan sisa cinta yang masih ada, lalu membuangnya lewat satu hembusan napas yang panjang. Saat ia membuka matanya kembali, tak ada lagi Arini yang lembut. Yang tersisa hanyalah seorang wanita yang baru saja sadar bahwa rumahnya hanyalah sebuah panggung sandiwara.
"Makan malamnya akan tetap ada, Adrian," bisiknya pada keheningan rumah yang mencekam. "Tapi aku akan memastikan, kaulah yang akan tersedak oleh hidanganmu sendiri."
Arini jatuh tersungkur. Air matanya jatuh perlahan, semakin deras. Jantungnya berdegup tak karuan, dunianya sudah runtuh, benar-benar runtuh.
Kebahagiaan, cinta yang telah ia bangun dengan Adrian selama 7 tahun ini lenyap begitu saja malam ini. Tidak, bukan sejak malam ini. Bahkan mungkin sebelum malam ini, cinta Adrian untuknya hanya senyum palsu yang menyimpan rahasia dibaliknya.
"Aku benar-benar ngga nyangka, Andrian." batin Arini lemas.
Ia perlahan berdiri, meninggalkan ruangan itu dengan suara pelan. Begitu keluar dari rumah itu, Arini dengan cepat menghampiri mobilnya.
Arini menyalakan mobil itu dan segera pergi dari sana. Dengan kecepatan penuh ia membawa mobil itu membelah jalanan di tengah Kota Jakarta tanpa arah, tanpa tujuan.
Di matanya hanya ada bayangan suaminya yang tengah mendekap wanita lain. Bayangan itu menari-nari, mengaburkan pandangannya yang mulai basah oleh air mata yang akhirnya pecah. Ia merasa dikhianati oleh setiap janji yang pernah diucapkan Adrian di bawah atap rumah mereka.
Kecepatan mobilnya terus bertambah.
Angka di spidometer merayap naik menembus batas kewarasan. Arini merasa dunianya sudah kiamat, hingga pandangannya mendadak memudar akibat air mata yang menggenang. Dunia di sekitarnya terasa berputar, kepalanya berdenyut nyeri seolah-olah ditarik oleh ribuan beban.
Tiba-tiba, dari arah persimpangan yang gelap, sebuah kilatan cahaya lampu depan motor menyambar retinanya dengan tajam.
"Astaga!" Arini tersentak.
Kesadarannya kembali dalam satu detik yang fatal. Ia melihat motor itu sudah sangat dekat, tepat di depan moncong mobilnya. Dengan insting bertahan hidup yang masih tersisa, Arini membanting kemudi ke arah kiri sambil menginjak pedal rem sekuat tenaga.
CIIIITTTTTTT!
Suara gesekan ban dengan aspal menjerit memekakkan telinga, membelah kesunyian malam. Mobilnya terpelanting, berputar liar di atas jalanan yang licin sebelum akhirnya terhenti hanya beberapa sentimeter dari trotoar beton. Pengendara motor itu sempat limbung, namun berhasil menyeimbangkan diri dan berlalu pergi sambil meneriakkan makian yang tak terdengar jelas.
Arini terdiam di balik kemudi. Napasnya memburu, pendek-pendek dan menyakitkan. Tangannya masih mencengkeram erat setir mobil hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup begitu kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia masih hidup. Ia tidak menabrak siapa pun.