NovelToon NovelToon
JANDA-JANDA UNDERCOVER

JANDA-JANDA UNDERCOVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Arsila

siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.

​Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat Umum Pensiunan dan Aroma Rahasia di Pasar Subuh

​Sisa-sisa bubuk kunyit dan cabai dari pertempuran kemarin masih menyisakan aroma pedas yang menggantung di koridor lantai tiga. Maya sedang sibuk merekam video "A Day in My Life" versi pasca-penyerbuan, menunjukkan cara membersihkan noda EMP pada dinding apartemen menggunakan skincare yang sudah kedaluwarsa karena menurutnya, asamnya pas untuk meluruhkan residu logam.

​Bude Narsih tetap pada posisinya, namun kali ini ia tidak memegang canting. Ia sedang menyusun daftar nama di atas kertas merang tua menggunakan kode sandi yang hanya dipahami oleh angkatan intelijen tahun 80-an.

​"Siska," panggil Bude Narsih tanpa mengalihkan pandangan. "Bahan soto ayamnya sudah habis. Pergilah ke Pasar Senen. Cari kios Pak Haji mamat. Bilang padanya kau butuh 'Kunyit Hitam dari Pegunungan Meratus'. Dia akan tahu siapa yang mengirimmu."

​Siska Paramita mengangguk. Ia melepas celemeknya dan mengenakan jaket bomber yang di balik lipatannya terselip sutil titanium andalannya. "Siap, Bude. Bella, Raka, gue cabut bentar ya."

​Bella yang sedang membantu Raka memasang ulang kabel serat optik hanya mengangkat jempolnya. "Hati-hati, Sis. Sisa-sisa Unit Pembersih mungkin masih ada yang berkeliaran mencari informasi."

​Pasar Senen di waktu subuh adalah labirin manusia, bau amis daging, dan teriakan pedagang yang saling bersahutan. Siska bergerak dengan luwes, insting kulinernya membimbingnya melewati tumpukan sayur, sementara insting agensinya tetap waspada pada setiap bayangan yang bergerak terlalu cepat.

​Ia sampai di kios Pak Haji Mamat. Namun, di depan kios itu, berdiri seorang pria yang menarik perhatiannya. Pria itu tampak berusia akhir 40-an, mengenakan jaket parka hijau tua yang fungsional, celana kargo, dan sepatu bot yang bersih terlalu bersih untuk seseorang yang berbelanja di pasar subuh yang becek.

​Pria itu sedang menimbang sebongkah daging has dalam dengan ketelitian yang tidak wajar. Ia membolak-balik daging itu, menekan seratnya, dan mencium aromanya seolah-olah sedang memeriksa barang bukti forensik.

​"Seratnya kurang rapat, Pak Haji. Sapi ini sepertinya terlalu banyak diberi pakan jagung instan. pH-nya kemungkinan di atas 6.2. Kalau dibuat rendang, airnya bakal keluar terlalu banyak dan bumbunya nggak akan meresap sampai ke inti molekul," ujar pria itu dengan suara berat dan tenang.

​Siska tertegun. Siapa pria ini? Bicara daging pakai hitungan pH?

​"Permisi," sela Siska. "Pak Haji, saya utusan Bude Narsih. Saya butuh Kunyit Hitam Meratus."

​Pria itu menoleh. Matanya yang tajam namun memiliki ketenangan samudera menatap Siska. Ada jeda sesaat di mana keduanya saling memindai bukan sebagai pria dan wanita, tapi sebagai dua predator yang mengenali keberadaan satu sama lain.

​"Utusan Ningsih?" pria itu bertanya. Ia meletakkan dagingnya. "Aku baru saja akan menanyakan hal yang sama. Aku Darma. Dan kau pasti Siska, si 'Chef' yang menghancurkan sistem logistik Silvia dengan saus pedas?"

​Sebelum Siska sempat menjawab, telinga tajamnya menangkap suara dengung frekuensi tinggi yang sangat halus. Suara itu bukan berasal dari kipas angin kios, melainkan dari arah langit-langit pasar yang gelap.

​"Tiarap!" teriak Darma.

​Dengan gerakan yang sangat sinkron, Darma menarik lengan Siska dan mereka berlindung di balik meja beton penjual daging tepat saat tiga buah mikro-drone seukuran lebah meluncur dari kegelapan. Drone itu tidak membawa peledak, tapi membawa jarum suntik berisi neurotoksin cair.

​"Unit Pembersih masih punya sisa-sisa mainan," gerutu Darma. Ia mengeluarkan sebuah botol semprotan kecil dari sakunya. "Siska, bantu aku alihkan perhatian mereka. Kau punya sesuatu yang tajam?"

​Siska menyeringai, mengeluarkan sutil titaniumnya. "Selalu."

​Siska melompat keluar dari balik meja, melakukan gerakan salto rendah dan melemparkan dua butir bawang putih yang sudah ia modifikasi dengan pelapis tembaga. Drone itu mendeteksi panas dari bawang putih tersebut dan mengejarnya. Di saat itulah, Darma menyemprotkan cairan dari botolnya ke udara.

​Cairan itu bereaksi dengan kelembapan pasar, menciptakan awan ionik yang mengacaukan sinyal navigasi drone. Secara teknis, Darma menggunakan larutan elektrolit dengan konsentrasi molaritas tinggi.

Drone-drone itu kehilangan kendali, berputar-putar di udara sebelum akhirnya jatuh dan hancur di atas tumpukan kepala ikan.

​Darma berdiri, merapikan jaketnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Maaf soal itu. Sepertinya pertemuan kita harus sedikit lebih formal di apartemen."

​​Siska dan Darma kembali ke Puri Kencana dengan membawa dua kantong besar bahan soto dan beberapa perangkat intelijen yang disamarkan sebagai belanjaan pasar. Sepanjang jalan, Siska baru mengetahui siapa sebenarnya Darma.

​Darma adalah mantan kepala divisi Sabotase Kimia dan Logistik Agensi pria yang dulunya merancang racun yang tidak terdeteksi dan bahan peledak dari bahan bangunan biasa. Ia adalah rekan seangkatan Bella yang menghilang setelah operasi di Libya sepuluh tahun lalu.

​"Darma!" seru Bella saat melihat pria itu masuk ke unit 301. "Gue pikir lo udah jadi umpan hiu di Tripoli."

​"Hampir, Bel. Tapi ternyata hiu nggak suka rasa daging gue yang terlalu banyak kandungan kafein," canda Darma sambil menjabat tangan Bella dengan erat.

​Maya langsung mendekat, matanya berbinar melihat "pemandangan" baru. "Wah, wah... siapa ini? Kok ganteng-ganteng bawa kunyit? Siska, lo pinter ya nyari asisten pasar!"

​"Ini Darma, May. Dia salah satu legenda yang dipanggil Bude," jelas Siska sambil mulai menyiapkan bahan soto di dapur.

​Darma berjalan menuju dapur, memperhatikan cara Siska menyusun bumbunya. "Siska, teknik penghalusan bumbu lo... lo pake perbandingan 3:1 untuk bawang merah dan putih ya? Menarik. Tapi kalau lo tambahkan sedikit asam jawa pada suhu 80°C , itu akan menstabilkan enzim dalam daging ayamnya."

​Siska menoleh, memberikan sutilnya pada Darma. "Mau coba bantu atau cuma mau jadi komentator?"

​Darma tersenyum, melipat lengan kemejanya, dan mulai mengulek bumbu dengan kekuatan dan presisi yang membuat Maya berbisik pada Bella, "Bel, kayaknya Siska dapet lawan seimbang di dapur. Dan mungkin... di hati?"

​Bella hanya mendengus, namun ada senyum tipis di wajahnya.

​Malam itu, lantai tiga berubah menjadi ruang rapat paling berbahaya di Jakarta. Selain Darma, telah hadir empat pensiunan lainnya yang menyamar sebagai penghuni baru, tukang AC, dan kurir makanan. Mereka duduk melingkar di ruang tamu Siska, menikmati semangkuk soto ayam yang aromanya sangat menggugah selera.

​Bude Narsih memimpin rapat. "Dewan Kepatuhan tidak akan berhenti. Mereka telah mengaktifkan protokol 'Unstitched'. Mereka akan menghapus semua catatan keberadaan kita, bukan secara digital, tapi secara fisik. Mereka akan meratakan apartemen ini kalau perlu."

​Darma meletakkan mangkuk sotonya. "Saya sudah memeriksa struktur bangunan ini. Kita bisa memasang sistem pertahanan Non-Lethal di sepanjang pipa air. Saya butuh ekstrak cabai habanero dosis tinggi dari Siska dan beberapa komponen dari kulkas Maya."

​"Kulkas aku?!" seru Maya. "Isinya cuma masker wajah sama cokelat!"

​"Sensor suhu di kulkasmu bisa dimodifikasi jadi pemicu termal, May," jelas Darma tenang.

​Siska menatap Darma. Ada kekaguman yang muncul di matanya. Pria ini memahami dunia kuliner dengan cara yang sama seperti ia memahami senjata. Selama bertahun-tahun, Siska merasa hanya dia yang mengerti betapa pentingnya detail kecil dalam sebuah campuran. Sekarang, ia menemukan seseorang yang bicara dengan bahasa yang sama.

​"Gue punya stok ekstrak habanero di gudang bawah," ujar Siska. "Berapa liter yang lo butuhin?"

​"Sepuluh liter. Kita akan buat sistem 'Hujan Pedas' di koridor kalau mereka berani masuk lagi," jawab Darma sambil menatap Siska. "Dan Siska... soto ini luar biasa. Persis seperti yang diceritakan Master Tailor di catatannya."

​Siska merasakan pipinya sedikit menghangat sesuatu yang sangat jarang terjadi sejak ia memutuskan untuk menjadi janda mandiri. "Itu... cuma soto biasa. Karena bahannya segar aja."

​Setelah rapat selesai dan para pensiunan lainnya kembali ke posisi masing-masing, Darma membantu Siska mencuci piring di dapur. Suasana sangat sunyi, hanya suara air yang mengalir.

​"Siska," panggil Darma pelan. "Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bicara soal kehidupan pribadi. Tapi setelah sepuluh tahun hidup dalam pelarian dan penyamaran, soto tadi adalah hal pertama yang membuatku merasa... pulang."

​Siska berhenti mengelap piring. Ia menatap ke luar jendela balkon, di mana Raka dan Bella sedang berjaga di kegelapan. "Kita semua punya luka masa lalu, Darma. Di sini, kita coba menjahit luka-luka itu bareng-bareng. Pakai daster, pakai rendang, pakai apa pun yang bisa bikin kita ngerasa jadi manusia lagi."

​Darma mengangguk, meletakkan piring terakhir. "Kalau begitu, biarkan aku membantumu menjahitnya. Mulai dari sistem pertahanan apartemen ini, sampai... mungkin resep rendang yang belum sempat lo ajarin ke gue."

​Siska tersenyum, senyum yang menunjukkan bahwa benteng pertahanannya mulai terbuka sedikit. "Oke. Tapi satu syarat: jangan pernah protes kalau gue pake micin. Gue penganut aliran 'Gurih adalah Kunci'."

​Darma tertawa lepas, suara tawa yang mengisi dapur Siska dengan kehangatan baru.

​Di luar apartemen, di dalam sebuah mobil sedan hitam yang terparkir jauh di bawah pohon rindang, dua orang agen Dewan Kepatuhan sedang memperhatikan jendela lantai tiga yang masih menyala.

​"Mereka mengumpulkan para legenda," ujar salah satu agen.

​"Biarkan saja," jawab rekannya sambil menyesap kopi hitam. "Semakin banyak yang berkumpul, semakin mudah bagi kita untuk memutus semua benangnya sekaligus. Beritahu pusat, operasi 'Great Harvest' dimulai besok malam."

​Pertempuran besar sudah di depan mata. Namun di lantai tiga Puri Kencana, Siska dan Darma masih berdiri di dapur, merencanakan "bumbu" apa yang akan mereka gunakan untuk menyambut tamu-tamu tak diundang itu. Aliansi baru telah terbentuk, dan kali ini, musuh tidak hanya harus berhadapan dengan payung titanium dan daster batik, tapi juga dengan keahlian kimia murni yang dibalut dalam aroma masakan rumahan yang mematikan.

1
yumin kwan
ish.... kak author keren bingitz.....
semangat kakak 💪
yumin kwan
ide ceritanya unik, lain daripada yang lain. kocak, sangat menghibur....
Talita Rafifah artanti
bagus ceritanya, menghibur, menarik untuk dibaca
yumin kwan
jadi... bakal tamat nih??!
Ayu Arsila: gak kokk... amann. 🤭
total 1 replies
yumin kwan
baru nemu, langsung marathon....
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣
yumin kwan
astaga.... kok bisa kepikiran ide begini.... salut....
yumin kwan
astaga.... seru bgt ini 3 janda.... 😄
yumin kwan
kayaknya kocak ini cerita..... save ah...
Marley
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!