NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Perjaka

Dinikahi Duda Perjaka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Cinta setelah menikah / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Amalia

Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindah Rumah

“Yah, Bu. Saya izin bawa Zara tinggal di rumah saya,” ucap Reynan disela memakan sarapannya, pada Budi dan Lia.

“Ngapain pindah ke rumahmu segala. Di sini Zara anak tunggal, dia akan tinggal di sini, gak akan kemana-mana.” Sofa yang bicara.

“Memangnya kamu bisa ngasih nafkah cucu saya? Kamu ‘kan pengangguran. Kamu gak akan bisa ngasih makan cucu saya, apalagi memberikan kebutuhan pribadinya,” lanjutnya.

Reynan hanya tersenyum tipis, mendengar Nenek dari sang istri yang merendahkannya itu.

“Jika saya pengangguran pun, saya tidak akan membiarkan istri saya kelaparan, Nek. Insya Allah, urusan perut dan kebutuhan pribadinya, tidak akan pernah kekurangan,” kata Reynan.

Zara langsung menoleh pada Reynan. Ada sedikit perasaan yang— susah ia jabarkan.

Budi berdehem, lalu menaruh sendok dan garpunya di atas piring.

“Benar, Zara anak semata wayang kami. Jika bisa, kalian tinggal di sini saja,” kata Budi. “Tapi … sebagai lelaki, Ayah pun paham yang kamu maksud,” lanjutnya.

“Benar apa kata anak saya. Lebih baik, kamu yang pindah ke sini, lagian kamu juga ngontrak ‘kan di rumah itu?” tanya Sofa. “itung-itung meminimalisir pengeluaran,” lanjutnya.

“Bukan saya tidak mau, Nek. Tapi … saya ingin, Zara adalah satu-satunya ratu di rumah. Jika tinggal di sini, berarti di rumah ini ratunya ada tiga, Nenek, Ibu dan Zara. Karena itu, saya tidak mau. Soal rumah, alhamdulillah, itu rumah sudah hak milik saya. Saya membeli rumah itu, bukan mengontraknya.”

Perkataan Reynan, mampu membuat Sofa terdiam. Mulutnya, menggerutu kecil. Ia tidak suka dengan perkataan Reynan.

Berbeda dengan Zara, ia membulatkan matanya. Ia kembali teringat dengan kejadian di waktu itu.

Budi menghela napas. “Iya benar apa yang kamu katakan. Sebagai orang tua, orang tua mana yang ingin jauh dengan anaknya. Tetapi … Ayah pun sadar dan tahu, jika anak perempuan bukan lagi tanggung jawab Ayahnya jika sudah menikah.” Budi menjeda ucapannya. “Kapan kalian akan pindah?” tanya Budi.

“Hari ini. Yah,” jawab Reynan.

“Apa gak nunggu tujuh hari dulu, atau minimal tiga hari?” tanya Budi.

Zara menoleh ke arah Reynan. 

Nampak Reynan sedang berpikir. “Ya sudah, lusa saja pindahannya,” kata Reynan.

“Iya, itu lebih baik. Meski rumah kita berdekatan, sering-seringlah bawa Zara main ke sini,” kata Budi.

“Saya tidak akan pernah dan tidak akan melarang Zara untuk main ke sini, saya sangat membebaskan Zara untuk main ke rumah ini, sesuka hatinya,” ucap Reynan.

Budi menganggukan kepalanya.

***

Hari yang ditunggu Reynan tiba. Di mana hari ini Zara akan pindah ke rumahnya.

Tiga hari berada di rumah itu, Reynan benar-benar tidak merasa nyaman. Terlebih ada Sofa yang selalu merendahkan dirinya, karena tidak bekerja.

“Barang-barangmu sudah semua?” tanya Reynan.

“Sudah,” jawab Zara. Meski mereka tidur satu kamar, tapi masih terasa kecanggungan diantara keduanya.

Tidak banyak barang yang Zara bawa, hanya sebagian pakaian dan barang yang benar-benar dia butuhkan saja.

Zara membawa dua koper, satu untuk pakaian dan satu lagi untuk barang-barang pribadinya.

Zara keluar dari kamar, dengan Reynan dibelakang seraya menarik dua koper milik Zara.

“Yah, Bu, Nek. Zara pindah ya,” kata Zara.

“Iya. Betah-betah kamu di sana,” kata Lia.

“Iya, Bu.” Zara memeluk Lia. Meski hanya terhalang dua rumah saja, tapi Zara merasa jika ia akan pergi jauh.

“Ayo, kami antar,” ucap Budi, seraya mengambil satu koper dari tangan Reynan.

Sofa turut mengantar, seraya menggerutu.

“Rumah kecil begini, mau ajak cucu saya susah?” tanya Sofa, setelah masuk ke dalam rumah Reynan.

“Tidak ada seorang suami yang ingin mengajak istrinya susah, Nek. Sebisa dan sekuat tenaga, saya sebagai suami akan selalu membuatnya bahagia.”

Degh.

Ucapan Reynan lagi-lagi membuat Zara merasa— ah ya, itu pokoknya.

Zara tidak bisa untuk menjabarkannya. 

Karena pada dasarnya, ia baru pertama kali mendengar seorang laki-laki bicara, selain sang Ayah yang berusaha untuk membahagiakannya.

Danish pun, tidak seperti ini.

Danish? Ah pria itu. 

Rasa sakit hati dan kecewa, kembali Zara rasakan. Setelah mengingat lagi pria tidak bertanggung jawab itu.

“Di mana dia sekarang?” batin Zara.

“Dasar lelaki pecundang, brengsek, mati aja kau!” Lanjutnya.

“Astagfirullah …” Zara mengusap wajahnya dengan kasar.

“Kamarnya cuma satu?” tanya Sofa lagi.

“Iya, satu aja, Nek. Buat apa banyak-banyak,” kata Reynan.

“Ya … ya … siapa tahu nanti keluargamu datang. Oh ya lupa, orang miskin tidur di ruang tengah, gelar tikar juga sudah cukup ya?” ucapnya.

Reynan menghela napasnya dengan kasar. Telinganya sudah lelah sekali, mendengar ocehan dari Nenek istrinya itu.

Sedangkan Budi dan Lia, tengah melihat-lihat rumah itu. 

Dari mulai ruang tamu, ruang tengah, dapur dan kamar mandi.

Rumah itu memang tidak besar, kamar tidur pun cuma satu. Tetapi, cukup nyaman dan bersih.

Budi dan Lia tahu siapa pemilik rumah ini dulunya, yang memang dulu bertetangga baik dengan pemiliknya. 

Namun ber-belasan tahun, setelah istrinya meninggal, rumah itu kosong, karena si suami kembali pulang ke kampung halamannya.

Rumah yang dulu kumuh, tidak terawat. Rumput liar memenuhi halamannya, daun kering dari pohon mangga berserakan, hingga membusuk, karena tidak di sapu. 

Kini, rumah itu bersih dan rapi. Bahkan dalamnya sudah di cat ulang, apalagi bagian ruang tamu memakai hiasan dinding minimalis.

Terlihat elegan dan begitu nyaman.

“Ya sudah, kalian beristirahatlah. Apalagi besok mulai masuk kerja ‘kan, Za?” tanya Budi.

“Iya, Yah.”

Budi menganggukan kepalanya.

“Ayo, Bu. Kita biarkan pengantin baru ini beradaptasi dan lebih akrab lagi,” kata Budi, seraya merangkul Sofa dan Lia.

“Ibu di sini saja,” ucap Sofa.

“Nenek mau lihat kami ngadon cicit ya?” goda Reynan.

Zara langsung membulatkan matanya pada Reynan.

“Gak sudi aku,” jawab Sofa dengan ketus. Ia langsung berjalan mendahului Budi dan Lia.

Reynan terkikik geli. “Maafin saya, Yah, Bu.” Meski begitu, Reynan sadar, jika perkataannya tidak sopan.

“Iya, gak apa-apa. Memang sesekali harus di kasih paham,” kata Budi. “Ya sudah, kami pulang dulu.” Budi menjeda ucapannya.

“Za, sekarang Reynan suamimu. Patuhi apa yang diperintahkannya, selagi itu masih dijalan Allah. Sekarang, tanggung jawab Ayah sudah pindah padanya. Hormatilah dia. Jadilah istri sholehah dan berbakti,” lanjutnya, seraya menepuk pelan bahu Zara.

Dengan pelan, Zara menganggukan kepalanya.

“Dan buat kamu. Kamu yang meminta anak saya untuk kamu nikahi. Jadi, jika suatu saat kamu sudah tidak menginginkannya lagi, kembalikan pada saya dengan baik-baik. Seperti bagaimana kamu saat memintanya,” sambungnya.

Reynan terdiam dengan kepala yang ia angguk-anggukan.

Sedangkan dengan Zara, ia merasa jika suatu saat, ia akan dikembalikan pada Ayahnya. Mengingat balasan dari Reynan hanya anggukan kepala saja.

“Oh ya, bagaimana dengan keluargamu? Kapan kita bisa bertemu?” tanya Budi.

“Em- insya Allah, jika waktunya sudah senggang akan dikabarkan lagi,” kata Reynan.

Budi mengangguk-anggukan kepalanya. “Oh ya, ya, saya mengerti.” 

Setelah itu, Budi dan Lia pamit pulang.

***

Malam harinya, ponsel Reynan berdering.

Zara melihat dari layarnya, orang yang menelepon itu bernama ‘Mama’

Saat ini, Reynan berada di kamar mandi dan Zara pun tidak ada niatan untuk menjawab panggilan itu.

Setelah dering pertama selesai, ada pesan masuk.

[Rey, sesuai dengan apa yang hari lalu Papa katakan, malam ini, Mama dan Papa akan datang ke acara itu. Papa juga sudah bilang, jika alasannya sesuai dengan keinginanmu. Tapi Mama cuma mau bilang, lusa pulang ya. Kita bicarakan perjodohan ini.]

Zaya yang membaca pesan itu dari pop up, wajahnya langsung memerah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!