NovelToon NovelToon
BODYGUARD DENGAN MATA LANGIT

BODYGUARD DENGAN MATA LANGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kultivasi Modern / Mata Batin
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Blue79

Calvin Arson hanyalah pemuda miskin yang hidup dari berjualan di pinggir jalan. Suatu hari, ia menemukan sebongkah batu giok aneh yang mengubah seluruh takdirnya. Dari situlah ia memperoleh kemampuan untuk melihat menembus segala hal, serta "bonus" tak terduga: seorang iblis wanita legendaris yang bersemayam di dalam tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia tidak lagi memiliki rahasia di mata Calvin Arson.

Menilai batu giok? Cukup satu lirikan.

Membaca lawan dan kecantikan wanita? Tidak ada yang bisa disembunyikan.

Dari penjaja kaki lima, ia naik kelas menjadi pengawal para wanita bangsawan dan sosialita. Namun, di tengah kemewahan dan godaan, Calvin Arson tetap bersikap santai dan blak-blakan:

"Aku dibayar untuk melindungi, bukan untuk menjadi pelayan pribadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blue79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

“Apakah kau diperlakukan buruk di dalam?” Valen Ardiansyah menatap Calvin dari atas ke bawah. Ia tidak melihat adanya lebam di wajah atau memar di lengan pria itu.

“Itu tergantung apakah mereka punya kemampuan,” dengus Calvin sembari duduk di sisi meja.

Mungkin karena status Valen sebagai polisi, kunjungan kali ini tidak dipisahkan oleh sekat kaca. Mereka duduk berhadapan dengan sebuah meja. Di depan pintu, seorang sipir berjaga sambil memegang senjata.

Atas kematian Yuki, Valen Ardiansyah sebenarnya merasa menyesal dan bersalah. Ia tidak menyangka hal tragis itu akan terjadi. Namun, kalimat berikutnya yang ia ucapkan membuat Calvin semakin terperanjat.

“Calvin, aku tahu kau pasti sangat sedih atas kematian adikmu. Namun, orang yang sudah mati tidak bisa hidup kembali. Terimalah kenyataan. Selain itu, ada hal penting yang harus kau ketahui. Keadaanmu sekarang sangat berbahaya. Pertama, kau melukai tiga orang hingga luka berat. Kedua, kau kabur dari sel dan melukai seorang polisi. Ketiga—dan ini yang paling krusial—Joni melaporkan bahwa kaulah yang membunuh adikmu sendiri.”

“Apa?!”

Brak!

Calvin murka. Kedua tinjunya menghantam meja dengan keras. Serpihan kayu berterbangan dan salah satu sudut meja hancur berantakan.

Valen Ardiansyah tersentak. Awalnya, ia tidak percaya pria ini mampu melukai narapidana kelas berat dan kabur dari penjara. Namun kini ia yakin; tenaga Calvin benar-benar mengerikan.

“Hei! Tenang! Duduk yang benar!” Sipir yang berjaga segera merangsek maju untuk bertindak.

“Tunggu!” Valen Ardiansyah menghentikannya. “Tidak apa-apa, Pak. Dia hanya terpancing emosinya. Soal meja ini, aku yang akan mengganti kerugiannya.”

Mendengar ucapan Valen, sipir itu tertegun.

Meski belum lama menjadi polisi, saat masih di akademi, Valen Ardiansyah pernah meringkus sekelompok pengedar narkoba dengan tangannya sendiri. Ditambah paras cantik dan tubuh yang ideal, ia menjadi polisi wanita paling menonjol di kepolisian. Tak terhitung pria yang mengaguminya, namun ia selalu bersikap dingin. Tak disangka, kali ini ia justru begitu baik pada seorang narapidana, bahkan bersedia mengganti kerugian properti.

Sipir itu melirik Calvin dengan kesal, lalu tersenyum pada Valen. “Tidak apa-apa, Bu Valen. Meja ini tidak mahal, tidak perlu diganti.”

Tatapan Calvin berubah sedingin es; niat membunuh bergejolak di matanya. “Joni… benar-benar kejam. Membunuh adikku, lalu memutarbalikkan fakta. Bagus, sangat bagus!”

Sejak awal, Calvin sudah menjatuhkan vonis mati pada Joni. Namun kini ia mengubah niatnya. Jika ada kesempatan, ia akan menyiksa pria itu perlahan-lahan hingga hidupnya lebih buruk daripada kematian. Hanya dengan begitu kebenciannya bisa sedikit terobati.

Setelah beberapa saat, Calvin kembali menatap Valen Ardiansyah.

Tiba-tiba, matanya berkilat. Ia melihat gelombang kecil kekuatan spiritual pada tubuh Valen. Tidak kuat, tetapi nyata. Titik terkuatnya justru berada di bagian dadanya.

“Jangan-jangan polisi wanita ini juga seorang kultivator? Energi spiritual memelihara dada, pantas saja sebesar itu,” pikir Calvin terkejut, namun ia menyimpannya dalam hati. Ia hanya bertanya, “Apakah Nona Polisi juga percaya omong kosong itu? Mengira aku tega membunuh adikku sendiri?”

Tatapan Calvin sempat tertahan sejenak di dada Valen. Valen yang peka langsung menyadarinya. Wajahnya memerah karena kesal. Ia mendengus, “Kalau aku percaya, aku tidak akan datang ke sini untuk bicara denganmu. Aku ingin kau menceritakan kronologi kejadian saat itu secara lengkap. Dengan begitu, aku bisa membantumu memulihkan nama baikmu.”

Calvin balik bertanya, “Tubuh adikku… di mana?”

Kata “mayat” terasa sangat menyesakkan untuk ia ucapkan.

Saat mengetahui jenazah Yuki disimpan di kamar jenazah, mata Calvin memerah. “Nona Polisi, apakah kau polisi yang baik?”

Valen Ardiansyah menatap tajam. “Tentu saja.”

“Kalau begitu, sebagai polisi yang baik—karena kau tahu aku dijebak—keluarkan aku dari sini. Kalau hari itu kau tidak menangkapku tanpa membedakan benar atau salah, adikku tidak akan sendirian di rumah. Dia tidak akan dipaksa Joni sampai bunuh diri. Kau juga bertanggung jawab atas kematiannya!” Calvin tiba-tiba condong ke depan dan menggenggam tangan Valen dengan erat sembari menekan suaranya.

Tangan Valen terasa halus dan putih, namun pikiran Calvin tidak ke sana. Ia hanya menghujam mata Valen dengan tatapan tajam.

Valen meronta dua kali, namun tidak berhasil melepaskan diri. Wajahnya semakin memerah karena marah. “Aku hanya menjalankan tugas! Saat itu memang ada korban yang kau lukai. Meski bukan aku yang menangkapmu, polisi lain tetap akan melakukannya. Sekarang aku tidak punya wewenang untuk mengeluarkanmu. Tunggulah sampai kasus ini terpecahkan. Begini saja, apakah kau punya kerabat? Aku bisa membantu menghubungi mereka untuk mengurus pemakaman adikmu.”

Begitu mendengar kata “kerabat”, Calvin menggeleng.

Kerabat memang ada, tetapi semuanya dingin dan tak acuh. Saat adiknya menderita leukemia, mereka semua menghindar. Bahkan ibu kandung mereka pun pergi meninggalkan mereka. Bagaimana mungkin ia berharap pada mereka? Memang ada seorang bibi yang sesekali membantu, namun jaraknya sangat jauh dan kehidupannya sendiri pun sulit.

“Nona Polisi, jika kau tidak bisa mengeluarkanku, maka urusan pemakaman adikku kuserahkan padamu. Itu adalah utangmu padanya. Soal kronologi kejadian, kalau kau tidak bodoh hanya karena memiliki dada besar, seharusnya kau bisa menebaknya sendiri. Perlukah aku menjelaskannya lagi?”

Setelah berkata demikian, Calvin melepaskan genggamannya, berdiri, dan berjalan pergi. “Bawa aku kembali ke sel.”

“Bajingan kau!” Valen Ardiansyah berdiri dengan napas memburu. Dadanya naik-turun karena amarah yang meluap. Bajingan ini berani-beraninya menghina kecerdasannya.

Para sipir justru menatap Calvin dengan tatapan kagum. Berani bicara sekasar itu pada polisi wanita tercantik benar-benar membutuhkan nyali yang besar.

Kemudian, saat melewati salah satu lorong, mereka melihat darah mengalir keluar dari bawah pintu sebuah sel. Sipir terkejut dan segera membuka pintu tersebut. Di dalam, seorang narapidana tergeletak bersimbah darah. Ia menggorok lehernya sendiri.

“Narapidana sel 207 bunuh diri! Cepat panggil dokter penjara!” teriak sipir melalui alat komunikasi.

Namun, narapidana itu jelas sudah di ambang maut. Tubuhnya kejang-kejang, tenggorokannya mengeluarkan suara gesekan yang mengerikan. Dua detik kemudian, semuanya hening. Orang itu tewas.

Tak lama setelah itu, mata Calvin kembali menunjukkan keanehan. Ia melihat bayangan manusia melayang keluar dari jasad tersebut, lalu berubah menjadi segumpal energi spiritual sebesar kepalan tangan. Hatinya tergerak. Tanpa sadar, ia menjalankan Teknik Penyerap Roh yang baru saja dipelajarinya. Gumpalan energi itu melompat ringan dan langsung terserap ke dalam tubuhnya.

“309, ikut aku. Kembali ke sel!”

“Siap.”

Calvin sangat bersemangat. Ia perlu meneliti dan mencerna energi spiritual itu untuk meningkatkan kekuatannya. Setibanya di sel, ia segera duduk bersila.

Dengan kesadaran batin, ia merasakan energi tersebut. Ia terkejut mendapati jumlahnya yang sangat besar. Jika energi spiritual bebas di alam ibarat kunang-kunang tunggal, maka gumpalan ini setara dengan seratus kali lipatnya.

“Apakah setiap orang mati akan melepaskan gumpalan energi seperti ini? Kalau begitu, bukankah aku harus pergi ke tempat yang paling banyak kematian?”

Energi spiritual mengalir ke dalam tubuhnya, melewati meridian, lalu berkumpul di pusat energi (dantian).

Calvin kemudian teringat perkataan Valen. Joni telah menuduhnya membunuh adiknya. Bajingan itu pasti akan melakukan segala cara agar kebohongan itu dianggap benar secara hukum. Jika itu terjadi, hukuman mati menantinya.

“Tidak, aku tidak boleh mati. Sekarang aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri dan metode kultivasi yang ditinggalkan senior itu.”

“Dalam waktu sesingkat mungkin, aku harus meningkatkan kekuatan. Entah dengan kabur dari penjara atau cara lain, setidaknya aku punya kesempatan untuk bertahan hidup.”

“Mari cari teknik dasar untuk melarikan diri.”

Setelah mengambil keputusan, Calvin menelusuri informasi di lautan kesadarannya. Ia baru menyadari bahwa teknik dasar yang ditinggalkan sang senior sangatlah banyak: teknik tinju, telapak, pedang, golok, hingga teknik tendangan; semuanya lengkap.

“Jangan-jangan senior itu langsung melemparkan seluruh isi gudang teknik kepadaku?”

1
Jujun Adnin
yang banyak
Lasimin Lasimin
bagus
Jujun Adnin
lagi
MU Uwais
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!