Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPM 9
Johan meraih tangan Mia, menggenggamnya erat.
“No,” katanya tegas namun lembut.
“Aku minta maaf atas ucapan Mama. Tapi kita tetap ke sana. Ini tentang kamu, dan aku bangga.”
Mia menoleh, matanya berkaca-kaca. Di balik rasa sakit yang belum sepenuhnya reda, ada kehangatan kecil yang berusaha bertahan.
Mia akhirnya mengangguk, meski hatinya masih terasa nyeri. Johan menyalakan mesin dan mobil kembali melaju. Mereka sepakat untuk tetap melanjutkan rencana bukan sebagai bentuk pembangkangan, melainkan sebagai cara menghargai usaha dan langkah kecil yang baru saja Mia capai.
Café itu tidak berubah sejak pertama kali mereka bertemu. Lampu temaram, musik pelan, dan aroma kopi yang hangat seolah menyambut mereka pulang ke kenangan lama. Johan memesan minuman seperti biasa, sementara Mia hanya memperhatikan sekeliling, mencoba menenangkan dadanya yang sejak tadi terasa sesak.
Saat pesanan datang, Johan tidak langsung minum. Ia menatap Mia lama, lalu meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat di atas meja, seolah takut Mia akan kembali tenggelam dalam pikirannya.
“Mia,” ucapnya pelan, “aku bahagia bisa dipertemukan dengan kamu.”
Mia membalas genggaman itu. Senyumnya merekah, lesung pipinya muncul samar senyum yang jarang terlihat akhir akhir ini.
“Aku juga, Jo terima kasih sudah menemani aku sejauh ini.”
Johan mengusap punggung tangan Mia dengan ibu jarinya, gerakan kecil yang sarat makna.
“Apa pun yang orang bilang, apa pun tekanan yang datang, aku mau kamu ingat satu hal , aku disini. ”
Mata Mia berkaca-kaca, tapi kali ini bukan karena terluka. Ada hangat yang mengalir pelan di dadanya rasa dihargai, rasa ditemani. Ia mengangguk kecil.
“Aku akan berusaha percaya itu.”
Malam itu mereka tidak banyak bicara. Mereka hanya menikmati kebersamaan, tawa kecil, dan cerita ringan tentang hari-hari ke depan. Di balik semua kegelisahan yang belum usai, ada satu hal yang malam itu terasa nyata mereka masih saling memiliki.
Keesokan harinya, Mia melangkah masuk ke gedung kantor dengan perasaan campur aduk—gugup, bersemangat, sekaligus lega. ID card yang masih kaku tergantung di lehernya, seolah menjadi penanda bahwa ia benar-benar memulai bab baru dalam hidupnya.
Hari pertama diisi dengan perkenalan. Mia bertemu rekan satu tim, sebagian besar perempuan dengan usia yang tidak jauh darinya. Ada yang ramah sejak awal, ada pula yang sekadar melempar senyum singkat. Mia tidak mempermasalahkan itu. Ia terlalu sibuk menikmati perasaan “hidup” yang sudah lama ia rindukan.
Ia kembali menemukan dunianya.
Rutinitas kantor membuka laptop, mencatat arahan atasan, berdiskusi kecil di pantry memberinya ruang bernapas. Tidak ada tatapan menghakimi, tidak ada pertanyaan tentang rahimnya, tidak ada tekanan yang menyusup lewat kalimat sederhana.
Di sini, ia dinilai dari caranya bekerja, dari ide yang ia sampaikan, dari ketepatan waktunya menyelesaikan tugas.
Siang hari, Mia makan bersama beberapa rekan barunya. Obrolan ringan mengalir tentang macet, tempat makan murah di sekitar kantor, hingga gosip kecil yang tidak penting. Mia ikut tertawa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawanya terasa utuh.
Sore menjelang, ia menyadari satu hal: kepalanya tidak seberat biasanya. Ia tidak merasa dikejar-kejar oleh pikiran yang sama. Ada lelah, tentu saja, tapi lelah yang wajar lelah karena produktif.
Malamnya, saat Johan menjemput, Mia masuk ke mobil dengan wajah yang berbeda. Johan langsung menyadarinya.
“Kamu kelihatan bahagia,” ujar Johan sambil tersenyum.
Mia mengangguk, matanya berbinar
. “Aku merasa… jadi diriku sendiri lagi.”
Johan tidak berkata apa-apa. Ia hanya meraih tangan Mia sebentar, lalu kembali fokus menyetir. Tapi dari caranya tersenyum, Mia tahu Johan ikut lega melihatnya seperti ini.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme baru. Mia mulai terbiasa dengan pekerjaannya, mulai hafal jam sibuk, mulai punya cerita kecil setiap pulang kerja. Rumah mereka pun terasa lebih hidup bukan karena masalah hilang, tapi karena Mia kembali punya ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Dan di tengah ketenangan yang perlahan terbentuk itu, Mia belum tahu ketenangan ini hanyalah jeda. Sebelum dinamika lain datang mengetuk, membawa ujian yang berbeda.
Beberapa rekan kerja mulai akrab. Obrolan mereka ringan, sebatas pekerjaan dan hal-hal sepele. Tidak ada yang bertanya soal status, tidak ada yang menyinggung anak. Mia mensyukuri itu. Ia tidak perlu menjelaskan apa pun.
Sore hari, Johan biasanya menjemputnya jika sempat. bertemu di rumah dengan cerita masing-masing,
Suatu malam, saat mereka makan bersama, Mia menyadari Johan lebih banyak diam.
Sendoknya bergerak pelan, matanya sesekali kosong.
“Kamu kenapa?” tanya Mia.
" Tidak ada, hanya sedikit lelah. "
Mia tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu lelah itu nyata. Tapi ada jarak kecil yang tidak bisa ia jelaskan.
Bukan pertengkaran, bukan juga sikap dingin. Hanya perasaan bahwa Johan sedang memikirkan sesuatu yang tidak ia bagi.
Malam itu, Mia bekerja kembali membuka laptop. Ia menyelesaikan beberapa hal yang tertunda. Di sela fokusnya, ponsel Johan bergetar di atas meja.
Mia melirik sekilas nama Mama muncul di layar. Panggilan itu berhenti sendiri.
Beberapa menit kemudian, ponsel itu kembali bergetar. Kali ini Johan mengambilnya dan berjalan menjauh, menuju balkon. Pintu kaca ditutup rapat.
Mia menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca. Ia tidak mendekat, tidak juga berusaha mendengar. Ia hanya duduk diam, dengan perasaan yang mulai tidak nyaman.
Saat Johan kembali, wajahnya tampak biasa saja.
“Siapa?” tanya Mia, berpira pura tidak tahu siapa yang menghubungi
“Mama,nanya kabar. "Johan singkat.
" Oouh," sahut Mia sambil mengangguk pelan, tidak berusaha untuk bertanya lebih lanjut
Malamnya , Mia memejamkan mata lebih cepat dari biasanya. Bukan karena mengantuk, tapi karena ada perasaan asing yang mulai menyelinap.
Keesokan paginya, mereka sarapan bersama seperti biasa. Mia menuang teh ke dalam cangkir Johan, lalu duduk berhadapan dengannya. Johan tampak sesekali menatap ponsel di samping piringnya.
“Jo,” panggil Mia pelan,
“Kamu sebenarnya keberatan nggak sih?aku kerja lagi?.”
Johan mengangkat wajahnya.
“Tidak, kenapa kamu bertanya begitu?.”
Mia mengaduk tehnya perlahan.
“Akhir-akhir ini kamu sering diam. Kalau aku tanya, jawabannya selalu sama. Capek, kerjaan lagi padat.” Ia mendongak menatap Johan.
“Klise, tahu nggak sih.”
Johan tersenyum tipis, lalu menarik napas.
“Aku nggak keberatan kamu kerja, Mi, diamku yang karena pikiranku ini penuh banget dengan beban di kantor bukan karena ada hal lain.”
“Tapi kamu dulu nggak begini,” sahut Mia.
“Dulu kamu cerita, meski cuma hal kecil.”
Johan terdiam sejenak. Ia menaruh sendoknya, lalu mengusap wajahnya pelan.
“Mungkin kamu aja yang terlalu sensitive.”
Mia mengangguk, meski tidak sepenuhnya puas. “Aku cuma nggak mau ada rahasia diantara kita"