Kelahirannya menciptakan badai dahsyat. Di saat yang sama, klan Erlang kalah telak. Kekalahan itu membuatnya dicap sebagai anak pembawa sial. Bukan hanya hampir menghilang dari alam langit, klan Erlang juga harus membayar pajak ke klan Liu setiap. tahunnya.
*******
Erlang Xuan, nama yang sama dengan Leluhur klan, tapi nasib mereka berbeda. Jika Leluhur terlahir dengan kekuatan tak terbatas, maka dia terlahir dengan tubuh cacat. Selama belasan tahun, ia disiksa dan direndahkan. Bahkan, karena masalah sepele, ayahnya menghukumnya.
Karena tak punya dantian dan meridian, Erlang Xuan tak bisa berkultivasi. Sampah pembawa sial, itulah julukannya. Tak ada yang tahu bahwa dibalik tubuh cacat itu tersembunyi sesuatu yang akan mengguncang alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 Zhang Xue
Salju yang turun menurunkan suhu hingga ke titik beku. Semua orang, entah itu kultivator atau manusia biasa tidak bisa menahan dingin yang ekstrim itu. Bahkan karena tidak tahan, beberapa diantaranya hampir mati membeku.
"Liontin ini!" Erlang Xuan ingat dengan liontin yang dimilikinya. Karena dia sudah punya dua, salah satunya akan diberikan kepada adik perempuannya, Hehua.
"Kuharap, dia menyukai kalung ini!" Ia mengetuk pintu kamar Hehua. Tak beberapa lama, gadis itu membuka pintu sambil menahan kantuk.
"Ada apa, Kak?" tanyanya.
"Kakak punya sesuatu untukmu!" Erlang Xuan mengeluarkan kalung giok dari cincin ruangnya. Dengan ragu, kalung itu diberikan kepada gadis itu.
"Terima kasih, Kak!" Tanpa protes atau komentar, kalung giok itu langsung dipakai. Hal itu membuatnya bahagia. Pasalnya, barang pemberiannya tidak dibuang atau dilempar.
"Tidak sia-sia aku membuatnya!" Ia tersenyum dan memakai kalung giok miliknya. Kalung itu sudah menemaninya sedari kecil. Karena itulah, siapapun tidak diizinkan menyentuh kalung gioknya.
"Malam yang dingin!" Erlang Xuan yang hendak masuk ke kamarnya, tiba-tiba saja ditabrak oleh seorang gadis cantik. Tanpa mengatakan sesuatu, gadis itu berjinjit dan mengecup bibirnya.
"Tidak boleh!" Ia berusaha mengendalikan dirinya, tapi gadis itu sendiri memeluknya dengan erat.
"Sial, siapa yang memberinya obat?" tanyanya.
Karena terpaksa, gadis itu dibawa masuk ke kamar. Bagi orang lain, kondisi wanita itu kesempatan emas, tapi baginya, keadaan wanita itu adalah kesialan.
Cup
Sekali lagi, gadis itu memberinya ciuman panas. Tanpa sadar, ia membalas ciuman gadis itu. Setelah tersadar, gadis tersebut kembali didorongnya.
"Sialan, hampir saja!" Erlang Xuan benar-benar bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Apalagi, gadis itu sudah melepas semua pakaiannya.
"Sialan!"
Erlang Xuan mundur dan mengeluarkan pil dari cincin ruangnya. Saat itu ia menyadari satu hal, pil apa pun tidak ada bisa menyadarkannya.
"Lain kali, aku akan menyediakan pil penawar untuk dupa terkutuk itu!" kesalnya.
"Panas sekali!" ucap gadis itu.
"Maaf, Nona, tapi aku tidak akan mau melakukannya!" ucapnya sembari berusaha mengendalikan tubuhnya gemetaran. Bertahun-tahun lalu, ia dihadapkan dengan kondisi yang sama. Bedanya, dirinya diberi pil, bukan orang lain.
Saat ia
"Tolong!" Gadis itu berkata dengan suara pelan, nyaris tak terdengar.
"Em!" Erlang Xuan diam dan berusaha melawan dirinya sendiri. Tanpa disadarinya, apa yang mempengaruhi gadis itu, mulai mempengaruhinya juga. Ia seolah berdiri di antara trauma masa lalu dan pengaruh yang berusaha mengendalikan dirinya sendiri.
Karena gadis itu semakin tak bisa mengendalikan dirinya, ia menggunakan kekuatan jiwanya untuk mengurangi efek dupa penyatu jiwa. Cara itu hanya mengurangi efeknya, tidak menghilangkan efek sampingnya. Saat ini, napas gadis itu semakin tidak beraturan.
"Percuma, itu tidak akan bekerja!" ucap gadis itu setengah sadar. Saat ini, dupa yang seharusnya meningkatkan hasrat seseorang, kini berubah menjadi racun yang mematikan.
"Maaf karena telah menyusahkanmu!" Gadis itu tersenyum sebelum efek dupa penyatu jiwa kembali menguasainya.
Ukkhuuukk!
Erlang Xuan memuntahkan darah. Wajahnya pucat, dan sebagian racun itu berpindah ke tubuhnya. Kesal karena racunnya berpindah, ia menggunakan teknik pembersih jiwa. Teknik itu mengurangi racun, tapi tidak menghilangkan efek dari asap dupa penyatu jiwa.
"Cara terakhir! Jika cara ini tidak berhasil juga, terpaksa aku melakukannya!"
Erlang Xuan memejamkan mata dan menggunakan cara terakhir, yaitu memurnikan racun di tubuh gadis itu. Perlahan-lahan, racun itu keluar dalam bentuk asap transparan. Meski begitu, efek dupa penyatu jiwa tidak hilang, justru semakin parah.
"Baj*ngan! Jika aku bertemu pelakunya, akan kucincang dia!" katanya dengan kesal. Gadis itu sekarat, sementara teknik terakhir tidak membantu. Tak ingin orang lain kehilangan nyawa di depannya, ia terpaksa melakukannya.
"Maaf!" Erlang Xuan benar-benar melepas pakaiannya. Ia menatap gadis itu dengan ragu. Mata gadis tersebut memerah, dan bibirnya melengkung membentuk senyum. Dupa penyatu jiwa benar-benar mengendalikan dirinya. Tinggal menunggu waktu, maka nyawanya akan melayang.
"Ukkh!" Ia bersuara saat sesuatu menembus area terlarangnya, diikuti dengan suara yang membuat siapapun tergoda.
Wanita itu akhirnya tersadar. Ia terkejut saat melihat pemuda yang bercinta dengannya. Mau marah, tapi pemuda itulah yang menyelamatkan hidupnya.
"Ukkh, kamu tampan juga!" bisiknya.
"Terpaksa kulakukan!" jelas Erlang Xuan.
"Tapi kau menyukainya, kan?"
Erlang Xuan tidak bisa menyangkal, tapi status wanita yang bersamanya bukan istrinya. Entah apa yang terjadi jika ada yang melihat mereka berdua.
Erlang Xuan menengok ke pintu! Ia melihat beberapa orang yang sepertinya datang ke kamarnya. Di saat yang sama, wanita itu pingsan, entah karena kelelahan atau efek dari racun yang keluar dari dirinya.
"Aku juga yang harus memakaikan pakaian!"
Ia benar-benar kesal. Agar wanita itu dihukum, semua bukti yang ada langsung dihilangkan. Noda darah, bahkan keringat pun hilang dalam sekejap. Tubuh polos wanita itu ditutupi dengan selimut.
"Zhang Xue, kamu di dalam, kan?" Seseorang berteriak sembari menggedor-gedor pintu.
"Apa ini karma karena menghukum adikku dengan cara seperti ini?" tanyanya dalam hati.
"Sudahlah!" Setelah memastikan tidak ada bukti yang tersisa, ia langsung menembus dinding seperti hantu.
Di dalam kamar, Zhang Xue masih tak sadarkan diri. Wajahnya yang pucat, perlahan-lahan mulai memerah. Di saat yang bersamaan, seorang pemuda membuka paksa pintu kamar. Pemuda tersebut tidak sendiri, melainkan bersama beberapa orang.
"Dia tidur? Bagaimana bisa?" Pemuda itu bingung. Erlang Xuan yang berdiri di belakang menatap tajam pemuda yang berbicara itu.
"Oh, jadi, kamu pelakunya!" Erlang Xuan tak bisa menahan amarahnya. Setelah pemuda itu pergi bersama orang-orang itu, ia kembali ke kamar.
"Zhang Xue, kamu benar-benar membawaku ke jurang masalah!" katanya dengan kesal.
Erlang Xuan berjalan ke tempat tidur. Pemuda itu menyalurkan Qi ke tubuh Zhang Xue. Selain untuk mememeriksa kondisi wanita itu, ia juga ingin memastikan racun di tubuh wanita tersebut benar-benar hilang.
"Em!" Zhang Xue membuka matanya. Berbeda dengan sebelumnya, sekarang tubuhnya terasa lebih ringan. Meski tubuhnya seperti remuk gara-gara kejadian beberapa saat lalu.
"Jangan coba-coba ambil kesempatan!" katanya.
"Terserah, siapa suruh menarikku ke jurang masalah!" balas Erlang Xuan.
"Kau!" Wanita itu kesal, sementara Erlang Xuan tertawa lepas.
"Kamu belum menyebut namamu!"
"Erlang Xuan, panggil saja dengan panggilan apa pun, yang penting bukan panggilan aneh!"
"Kalau kupanggil sayang, bagaimana?"
"Terserah kamu!" jawabnya dengan singkat.
"Akkh!" Zhang Xue berteriak saat selimut tersingkap. Buru-buru, ia menarik selimut itu dan menutupi tubuhnya.
"Aku sudah melihat semuanya. Jadi, tidak perlu teriak!" Erlang Xuan berbalik, dan membiarkan wanita itu memakai pakaian, atau setidaknya membersihkan diri dulu.
"Hah!"
Erlang Xuan membuang napasnya dengan kasar. Ia duduk di tepi tempat tidur dan tertunduk lesu. Kejadian hari ini mengingatkannya pada kejadian serupa. Hari di mana adik dan kakaknya memberinya pil dan memasukkannya ke kamar seorang gadis asing.
"Bekas lukaku yang lain sudah sembuh. Hanya ini yang masih membekas!"
Di pergelangan tangannya, ada bekas luka melingkar dan luka goresan. Hari itu, dia lebih memilih melukai dirinya dari pada merenggut kesucian seseorang. Hari ini, semuanya terbalik. Tak ada yang bisa dilakukan selain merenggut kesucian seseorang.
"Luka itu!" Suara lembut Zhang Xue mengagetkannya.