NovelToon NovelToon
Little Tiger : Harga Sebuah Penolakan

Little Tiger : Harga Sebuah Penolakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Fantasi Wanita / Persaingan Mafia
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.

***

Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.

Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.

Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Xiao Han bangkit, lalu kembali duduk santai di sofa. Tangannya memainkan pisau lipat, membukanya perlahan hingga terdengar bunyi klik yang membuat ruangan terasa semakin dingin.

“Shen Xiao Han… apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanya Yohanes. Ia berdiri tertatih sambil menyeka darah yang masih mengalir dari kepalanya.

“Serahkan wilayah utara kepadaku,” jawab Xiao Han tanpa ragu.

“Apa?” Yohanes tertawa kecil, meski suaranya terdengar dipaksakan. “Apa kau tidak salah bicara? Wilayah itu sudah menjadi milikku.”

Pisau di tangan Xiao Han berhenti berputar.

Ia menatap Yohanes lurus.

“Selama dua tahun kau memegang kendali,” ucapnya pelan, “apa yang sudah kau lakukan?”

Xiao Han menyandarkan punggungnya, tatapannya penuh tekanan.

“Setiap kali ada masalah, kau hanya diam. Setiap kali musuh bergerak, kau berpura-pura tidak melihat. Kau bersikap santai, seolah wilayah itu taman hiburan.”

“Wilayah utara berdarah,” lanjutnya dingin. “Anak buah kita mati satu per satu, dan kau memilih duduk di klub malam, ditemani wanita dan minuman.”

Yohanes mengepalkan tangan.

“Aku punya caraku sendiri!”

“Caramu?” Xiao Han terkekeh pelan. “Caramu hampir membuat kita kehilangan wibawa. Musuh sekarang menertawakan kita karena kelemahanmu.”

Ia berdiri, melangkah mendekat. Ujung pisau berkilat di bawah lampu redup.

“Wilayah itu bukan milikmu,” tekan Xiao Han.

“Kau jangan lupa,” kata Yohanes dengan suara parau namun masih berusaha bertahan, “saat itu Holdes telah memberikan kekuasaan wilayah itu kepada ayahku. Dan tentu saja sekarang menjadi milikku.”

Xiao Han tersenyum tipis—senyum tanpa kehangatan.

“Paman Hu sudah meninggal,” ucapnya tenang namun menusuk. “Dan beliau sama sekali tidak meninggalkan wasiat bahwa wilayah itu akan diwariskan kepadamu.”

Ia mencondongkan tubuh ke depan, tatapannya mengunci Yohanes.

“Jika kau bisa melindunginya dengan baik, aku akan memilih diam.”

Nada suaranya berubah dingin.

“Tapi lihat apa yang sudah terjadi.”

Xiao Han mengetukkan ujung pisaunya ke meja, tok… tok…

“Wilayah itu berdarah. Anak buah kita sudah banyak yang tewas.”

“Kau malah lepas tangan,” lanjutnya tajam. “Saat nyawa dipertaruhkan, kau memilih menutup mata. Saat orang-orang kita mati, kau memilih berpesta.”

Ia berdiri, aura dinginnya menekan ruangan.

“Kau tidak kehilangan wilayah itu karena aku,” katanya tegas.

“Kau kehilangan wilayah itu karena kegagalanmu sendiri.”

Yohanes terdiam.

Semua pembelaan yang tadi ia siapkan runtuh satu per satu.

“Masih ingin mempertahankan wilayah itu?” tanya Xiao Han dingin. “Setiap kali masalah muncul, kau tidak pernah menyelesaikan masalahnya. Namun kau masih berani bersikap sombong di hadapanku.”

Ia melirik jam tangannya sekilas.

“Waktumu satu hari.”

Xiao Han berbalik, melangkah menuju pintu.

“Jika besok kau masih belum menyerahkannya, aku tidak akan ikut campur. Biarkan saja wilayah itu jatuh ke tangan orang lain.”

“Shen Xiao Han!” seru Yohanes panik. “Jika kau memilih diam, para tetua akan menyalahkanmu. Apa kau tidak takut?”

Xiao Han berhenti melangkah, lalu menoleh perlahan.

“Aku tidak melakukan kesalahan,” jawabnya datar. “Lalu untuk apa aku takut?”

Tatapannya menusuk.

“Dan jika wilayah itu benar-benar jatuh ke tangan orang lain, itu salahmu. Bukan salahku. Karena kau yang tidak mampu menjaganya—bukan aku.”

“Kau menolak membantu!” bentak Yohanes. “Jika wilayah itu direbut, mereka pasti akan menyalahkanmu juga karena kau lepas tangan!”

Xiao Han tersenyum tipis, senyum yang membuat dada Yohanes terasa sesak.

“Kalau aku mau membantu, tentu bisa. Tapi ada satu syarat.”

Nada suaranya rendah dan kejam.

“Kau berlutut di hadapanku—dan memohon.”

Wajah Yohanes memucat.

Xiao Han tak menunggu jawaban. Ia berbalik dan melangkah pergi, pintu terbuka lalu tertutup dengan bunyi berat.

“Shen Xiao Han—!” teriak Yohanes putus asa.

Yohanes kembali duduk di sofa, menekan luka di kepalanya yang masih terasa berdenyut.

“Sialan…” gumamnya lirih. “Shen Xiao Han bahkan berani menolak dan sama sekali tidak takut pada para tetua. Dia benar-benar tidak menempatkan mereka di matanya.”

“Selamanya hidup di bawah bayangan Shen Xiao Han,” sebuah suara menyela dari ambang pintu. “Sepertinya hidupmu memang tidak pernah berarti.”

Yohanes tersentak dan menoleh tajam.

“Siapa kau?”

Pria itu berdiri santai di dekat pintu, wajahnya setengah tertutup bayangan.

“Kau tidak perlu tahu siapa aku,” katanya dingin. “Yang jelas, aku mengenal kalian semua.”

Ia melangkah masuk dan duduk di sofa seberang Yohanes, sikapnya seolah tempat itu miliknya.

“Nama Shen Xiao Han semakin terkenal di dunia mafia,” lanjutnya. “Sementara kau… selalu tertinggal di belakangnya.”

Senyum tipis muncul di bibir pria itu.

“Terus terang saja, aku merasa kasihan padamu.”

“Kau bilang mengenal kami?” Yohanes menyipitkan mata. “Aku bahkan tidak pernah melihatmu sebelumnya.”

“Dan itu justru keuntunganku,” jawab pria itu tenang.

“Bagaimana kalau kita bekerja sama?”

“Bekerja sama?” Yohanes tertawa sinis. “Untuk apa? Aku tidak mengenalmu.”

Pria itu menyandarkan punggungnya.

“Aku tahu satu hal,” katanya pelan. “Kau sangat membenci Shen Xiao Han.”

Tatapan Yohanes mengeras.

“Aku juga membencinya,” lanjut pria itu. “Beberapa tahun terakhir, setiap ada masalah, namanya selalu muncul. Dan setiap kali dia turun tangan, semuanya selesai dengan cepat.”

Ia mendengus.

“Selama Shen Xiao Han ada, kau tidak akan pernah dipandang.”

Yohanes terdiam sejenak sebelum bertanya, “Apa untungnya bagiku?”

Pria itu tersenyum—senyum yang licik.

“Jika kita berhasil membunuhnya, para tetua akan memusatkan perhatian pada satu orang saja.”

Ia mencondongkan tubuh ke depan.

“Dirimu.”

“Karena selama Shen Xiao Han berdiri di depan, kau hanyalah bayangan. Di mata para tetua, kau tak lebih dari semut kecil, lemah, dan mudah diinjak.”

“Lalu apa rencanamu?” tanya Yohanes akhirnya, suaranya rendah namun penuh kehati-hatian.

Pria itu tersenyum tipis.

“Turuti saja permintaannya,” jawabnya santai. “Shen Xiao Han tidak akan menyadari apa pun. Dia akan mengira kau menyerah.”

Ia menyilangkan kaki.

“Begitu kau bertemu dengannya, sisanya biar aku yang mengurus. Kau hanya perlu mengikuti alurnya dan memainkan peranmu dengan baik.”

Yohanes mengernyit.

“Aku harus tahu satu hal,” katanya tajam. “Di antara kalian… apa sebenarnya yang terjadi? Alasan apa yang membuatmu begitu ingin membunuhnya?”

Tatapan pria itu berubah gelap. Senyum di bibirnya perlahan menghilang.

“Shen Xiao Han hidup terlalu lama dalam kemewahan,” ucapnya dingin. “Sementara keluarganya—”

“—telah menghancurkan keluargaku. Mereka merampas segalanya,” lanjutnya. “Nama, kehormatan, bahkan nyawa. Dan Shen Xiao Han berdiri di puncak itu semua, menikmati hasilnya seolah darah yang tumpah bukan urusannya.”

Ia menatap Yohanes lurus-lurus.

“Oleh karena itu, aku ingin membalas dendam.”

Nada suaranya tegas, tanpa keraguan.

“Apakah alasan itu cukup bagimu?”

"Ingin membunuhnya tidak semudah yang kau pikirkan," kata Yohanes.

"Aku tahu kelemahannya, tujuan utama adalah menyerang kelemahannya," jawab pria itu.

1
Tiara Bella
wah penuh misteri ini propesor Zhou...
Tiara Bella
bagus ceritanya aku suka.....
Tiara Bella
bakalan pada kapok ini mah yg mengusik keluarga mafia satu ini.....
Tiara Bella
gk bisa berkata² aku....mafia dilawan
Bonny Liberty
situ emang orang tua ODGJ,👿
Maria Mariati
hellehhh udah ke tepi jurang ga jadi lahhh,balik lagi takutt ga bisa naik lagi,udah emosi sama authorr masa bikin mafia pekok main perempuan 🤣🤣🤣
Pikachu: 😅😅😅😅😅😅😅😅😅
total 1 replies
Tiara Bella
plot twist bngt aku suka.....diluar dugaan semua 😍💪
Tiara Bella
siapa yg dimaksud kakak....masa Jacky
Ayu lestari Ayu
sengaja baru baca ceritanya, nunggu episode banyak dulu baru baca,,, ceritanya GK kalah menarik dari yg season 1,,,😘
Bonny Liberty
kamu kira wanita itu apa😏merendahkan diri sendiri,spek Nyonyah besar aja bisa di duain, apa lagi bocil modal ngangkang doang 👿🤪🤭
Maria Mariati
kapokkkk ,baru nyesel kan telattttt 🤣🤣🤣
Mineaa
bravo mommy janetta........💪
Bonny Liberty
kaga usah di pikir,tar pala loe meledak ga kuat mikir perang elit...sok..sokkan nantangin👿👿👿🤪😏
Bonny Liberty
sudah kebayang kaga kalau harga dirimu sudah kaya penyedap rasa saset 😏🤪👿
Maria Mariati
masuk kandang singa semua 🤣🤣🤣
Inez Putri
menarik. br pertm q baca peran utama cwok,selingkuh. biasa akan bucin. apa lg dl mendptkannya,memperjuangkan menentang smua klan. apakah ada peran cwok utama yg akan muncul.
Maria Mariati
bocah ,singa di lawan,makan tuhh mangsamu janete,bodoh tuh anak,mana ada laki2 udah di bayar trus di nikahin,hehhhh bodoh
Bonny Liberty
badan sih kaga tapi ❤️‍🩹😏
Bonny Liberty
kaga perlu mengaum mba,cukup main cakar,sepi,tiba - tiba /Skull//Chuckle/
Bonny Liberty
kan ga kepikiran sampe situ,cuman mikir sampe dalam rok doang🤪 yang penting aku😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!