Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Haters Baru dan Cemburu Arazka
Berita "jadian" Arazka dan Maura, ditambah headline viral mereka, segera menimbulkan kekacauan. Di mata sebagian besar siswi, Maura Ayudia Samanta adalah saingan akademis yang tangguh; kini, ia menjadi musuh publik nomor satu karena berhasil mendapatkan Ketua ALVEGAR.
🐍 Ancaman dari Fans Garis Keras
Pagi itu, saat Maura membuka lokernya, ia menemukan sebuah surat tanpa nama. Kertas itu berisi ancaman bernada cemburu: "Jauhi Arazka! Loe gak pantes buat King kita! Kalau gak, loe tahu akibatnya."
Maura mendengus. Ia melipat surat itu dan membuangnya ke tempat sampah. Drama banget.
Tak lama kemudian, Fanila menghampirinya dengan wajah kesal. "Maur, loe harus liat ini!"
Fanila menunjukkan ponselnya. Di media sosial, banyak akun anonim yang mulai menyerang Maura. Mereka menyebut Maura memanfaatkan Arazka dan ALVEGAR untuk menaikkan popularitas acara amal.
"Tuh kan! Belum juga sehari sandiwara ini jalan, haters loe udah ngamuk," kata Fanila.
"Biarin aja. Mereka iri," jawab Maura, meskipun dalam hati ia merasa terganggu.
Saat mereka berjalan menuju kelas, tiba-tiba ada seember air pel kotor yang sengaja disiramkan dari lantai atas.
BYUR!
Air itu meleset tipis, hanya mengenai ujung rok sekolah Maura dan mengenai tumpukan buku yang dibawa Keysha yang berjalan di samping mereka.
"Siapa itu?!" teriak Fanila, langsung mendongak ke atas dengan wajah bar-bar-nya.
Di lantai dua, beberapa siswi yang Maura kenal sebagai fans berat Arazka terlihat cekikikan dan buru-buru melarikan diri.
Keysha, yang bukunya basah, hanya diam dengan wajah datar, tapi tangannya mengepal.
"Kurang ajar! Mereka beneran ngajak perang nih!" Fanila sudah siap lari ke lantai atas.
"STOP, Nila!" Maura menahan Fanila. "Jangan diladenin. Ini cuma trik biar kita panik. Gue gak mau ada skandal kekerasan gara-gara gue."
"Tapi buku Keysha basah, Maur!"
Maura menoleh ke Keysha. "Gue beliin buku baru, Key. Loe gak apa-apa?"
Keysha menggeleng pelan. "Aku baik. Tapi mereka keterlaluan."
😠 Intervensi Arazka
Maura akhirnya mencari Arazka, menemukannya sedang berkumpul dengan Rangga dan Asean di kantin VVIP ALVEGAR.
"Arazka, gue butuh ngomong sebentar," ujar Maura tegas.
Arazka menatapnya dingin. "Gue sibuk, sayang. Loe gak liat?"
Maura terkejut dengan kata 'sayang' yang diucapkan Arazka dengan nada sinis di depan teman-temannya. Ia tahu itu bagian dari akting, tapi tetap terasa aneh.
"Ini serius. Tim loe harus urusin fans fanatik loe! Mereka nyiram air kotor ke gue sama Keysha tadi," desak Maura.
Wajah Arazka yang tadinya santai langsung menegang.
"Nyiram air?" Rangga mendongak, ekspresinya sedikit khawatir.
"Iya! Mereka ninggalin surat ancaman juga di loker gue! Kalau sampai Keysha kenapa-kenapa, gue gak akan maafin loe!" Maura marah.
Arazka berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi menjulang di depan Maura.
"Gue gak peduli sama ancaman. Tapi kalau ada yang berani nyentuh milik gue, itu urusan lain," desis Arazka, sengaja mengucapkan kata 'milik' dengan penekanan, lagi-lagi untuk didengar Asean dan Rangga.
Arazka berbalik ke Rangga dan Asean. "Rangga, loe urus keamanan Maura. Asean, loe cari tahu siapa cewek-cewek yang nyiram air tadi. Suruh mereka temui gue."
"Siap, Ketua," jawab Rangga dan Asean serempak.
Arazka menoleh lagi ke Maura. "Gue akan urus mereka. Dan mulai sekarang, loe gak boleh jalan sendirian. Rangga akan standby buat loe."
"Gue gak butuh bodyguard!" protes Maura.
"Ini bukan soal loe butuh atau gak, Maura. Ini soal perjanjian kita. Loe itu partner gue sekarang. Kalau loe kenapa-kenapa, image gue yang hancur," kata Arazka. Meskipun alasannya profesional, ada nada protektif yang kuat dalam suaranya.
😳 Cemburu di Lapangan Basket
Sorenya, di lapangan basket, Danis sedang berlatih dribble. Kinara duduk di pinggir lapangan, menunggunya sambil memegang sebotol air dingin.
"Kinara, loe gak apa-apa kalau Danis bodyguard-in Maura?" tanya Yasmin, yang duduk di sebelah Kinara sambil memperhatikan Rangga yang sedang berlatih fisik di gym.
"Gak apa-apa, Kak Yasmin. Kak Danis kan cuma bantuin Kak Maura biar aman. Kan Kak Arazka lagi sibuk," jawab Kinara polos.
Danis mendekat ke pinggir lapangan, mengambil air dari Kinara. "Maura itu cewek tangguh, tapi gue gak suka ada yang ganggu. Dia partner penting kita."
Tiba-tiba, Arazka masuk ke lapangan dan berjalan lurus ke arah Maura yang sedang menunggunya di pinggir.
"Loe ngapain di sini? Kenapa gak nunggu di mobil aja?" tanya Arazka pada Maura.
"Gue bosan, Arazka. Gue mau liat loe main," balas Maura, sengaja menantang.
Arazka mendengus. "Gak usah sok manis. Loe liat aja di sini. Jangan ke mana-mana."
Saat Arazka mulai bermain, Maura memperhatikan betapa sempurna gerakan Arazka. Dia jago di segala bidang, bahkan saat berkeringat pun dia tetap terlihat luar biasa.
Di tengah permainan, seorang siswi dari tim cheerleader yang memang menyukai Arazka, sengaja mendekat ke pingura lapangan, membawa handuk.
"Arazka, ini handuk buat loe," katanya manja.
Arazka yang sedang dribble tidak mempedulikan, namun siswi itu maju selangkah lagi, terlalu dekat dengan batas perjanjian.
DEG!
Arazka tiba-tiba menghentikan dribble-nya dan menatap lurus ke arah Maura. Maura yang melihat adegan itu mendadak merasa kesal. Kenapa cewek itu genit banget?
Arazka, tanpa bicara sepatah kata pun, berjalan keluar lapangan, langsung menuju Maura. Dia mengabaikan cheerleader itu, yang tampak kecewa.
Arazka mengambil botol air Maura, meminumnya hingga habis, lalu memberikan botol itu kembali.
"Loe gak suka gue main, Maura? Loe cemburu liat gue disentuh cewek lain?" bisik Arazka, suaranya mengandung nada dominasi dan kepuasan yang tersembunyi.
"GAK!" bantah Maura, wajahnya memerah. "Gue cuma mau nanya, loe gak capek main terus? Kita harus bahas proposal sponsor."
Arazka menyeringai, tahu persis Maura sedang berbohong. "Loe cemburu. Makanya loe tiba-tiba cari alasan kerjaan."
"Gue gak cemburu! Loe yang overthinking!"
Arazka memegang pinggang Maura, menariknya mendekat, dan berbisik di telinganya, "Kalau loe gak cemburu, kenapa loe gak suka cewek lain deketin gue? Loe harus tahu batas, sayang."
Maura merasakan getaran aneh menjalari tubuhnya. Gila, kenapa dia bisa bikin gue kayak gini?!
Di sudut lapangan, Miko melihat adegan itu dan langsung menyenggol Fanila yang sedang mengawasi.
"Loe liat kan, Nila? Ketua kita tuh beneran serius sama si Maura. Chemistry-nya udah kayak bom yang mau meledak!" kata Miko heboh.
Fanila hanya melihat Maura dan Arazka, lalu mendengus. "Bodo amat. Yang penting bodyguard-nya si Arazka gak nyentuh loe!"
TO BE CONTINUED