Meski tidak di awali dengan baik, bahkan sangat jauh dari pernikahan impian nya. sejak kalimat akad di lantunkan, saat itu ia bersumpah untuk mencintai suami nya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Tanpa Arina tau kalau detik itu juga ia dengan sadar membakar hidup nya, dunia nya bahkan cinta nya dengan perihnya api neraka pernikahan .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanillastrawberry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kabur
Arina menggeliat sesaat, berusaha mengumpulkan kesadarannya, lalu menggapai ponsel nya untuk mematikan pengingat yang sengaja ia hidup kan semalam.
Salsabila sudah mulai mengganggu nya karena ijin cutinya sudah habis, ia tidak diberi jatah bulan madu karena kantor lagi sibuk-sibuknya, ya meskipun ia tidak akan pernah berbulan madu dengan Alvian. Ia bergedik, membayangkan nya saja ia sudah ngeri. Meski tampan tapi Alvian sangat jauh dari tipe pria idamannya.
Tidur nya benar-benar sangat nyaman, tapi kenapa Alvian belum juga merecoki nya pagi ini, jangan bilang kalau pria itu masih belum bangun. Arina meringis kala ia tidak sengaja menumpahkan obat tidur itu lebih banyak dari dosis yang sudah di anjurkan. Anggap saja itu sebagai pelajaran untuk Alvian karena sudah berani macam-macam dengan nya.
Setelah selesai bersiap, Arina keluar dari kamar. Harum masakan yang cukup menggoda membuat nya membawa langkah kaki nya menuju dapur.
Namun, langkah nya terhenti manakala atensi nya menangkap Alvian tengah sarapan di meja makan, tentu saja demi keamanan bersama ia putar balik dengan hati-hati. Sebisa mungkin ia tidak menimbulkan suara yang menarik perhatian Alvian.
"ekhem!" Mampus! tubuh Arina menegang seketika, kaki nya mendadak kaku, tenggorokan nya terasa kering, sial! Bagaimana ia bisa ketahuan.
Ia memutar tubuhnya menghadap Alvian, bibir nya meringis sungkan ketika Alvian melotot kearah nya.
" eh pak suami!" sudah kepalang basah, lari pun sama saja dengan ia bunuh diri. Mau tidak mau ia mendekati Alvian sesuai gestur yang pria itu berikan.
" apa yang kamu berikan pada ku semalam!" ucapannya itu lebih ke tuduhan dari pada pertanyaan.
Arina meringis, ia sudah bisa memprediksikan ini sejak semalam, karena itu ia tidak berusaha menyangkal sama sekali." obat tidur"
" Apa!" pekik desi tertahan, kemudian menunduk ketakutan saat Alvian juga melotot padanya.
" kau! " geram nya menunjuk Arina lalu tangannya mengepal di udara. Arina kembali meringis takut. tubuh nya bereaksi karena rasa sakit yang di lakukan Alvian malam itu pada nya masih membekas di ingatan nya.
Alvian memijat pelipisnya, ia tidak menyangka kalau Arina akan seberani ini meski ia sadar apa yang dia perbuat mendatangkan murkanya, bahkan tanpa ragu Arina mengakui nya. ia bingung harus memperlakukan Arina seperti apa, malam itu saat ia menyeret arina ke rumah utama adalah pertama kali nya ia melakukan kekerasan dalam hidup nya.
Bahkan setelah itu tubuh nya gemetaran, pikiran nya linglung, semalaman ia tidak bisa tidur karena merasa bersalah, meski ada alasan kuat di balik itu semua.
Ia pikir, setelah itu Arina akan ketakutan pada nya, jadi ia lebih mudah mengontrol tanpa harus melakukan kekerasan fisik pada gadis itu untuk memenuhi hasrat balas dendam nya, tapi siapa sangka Arina bisa seberani ini.
" berani sekali kamu Arina!' bentak nya lalu menggebrak meja, membuat gelas bekas nya jatuh lalu pecah, menimbulkan suara gelas pecah yang semakin menambah ketegangan.
Desi mengelus dada saking terkejutnya, bahkan ia hampir melempar sodet nya tanpa sadar, Arina jangan di tanya lagi, wanita itu sampai terjingkat kaget, tubuh nya mengeluarkan keringat dingin, badannya bergetar hebat, ia semakin kesulitan menelan saliva nya, wajahnya sudah sepucat kapas, membayangkan kalau Alvian akan menghampiri nya dengan pecahan gelas lalu melukai nya, Atau Alvian akan melempar nya dengan pisau buah di depannya.
" sebagai hukumannya, ijin keluar kamu aku cabut! " reflek Arina mengangkat wajahnya, pandangan mereka beradu, kilatan mata Arina jelas menunjukkan keberatan. Mengenyampingkan rasa takut dengan kemungkinan terburuk yang akan Alvian lakukan padanya, Arina tidak bisa membiarkan Alvian mengurung nya.
" nggak bisa gitu dong, sebelum isbat nikah kita sudah sepakat tentang masalah ini."
Alasan ia sengaja meminta untuk tetap bisa bebas bekerja tepat sebelum akad di mulai karena ia yakin, Alvian si pria psikopat itu akan mengurung nya, merampas kebebasan nya atau yang lebih mengerikan nya lagi, menghalangi nya untuk bertemu ayah nya.
Dan seperti dugaan nya, pria itu tidak akan pernah bisa menolak meski menyetujui nya dengan muka masam, jelas Alvian tidak mau seluruh tamu undangan, yang kebanyakan tetangga dan teman-teman kantor nya mengetahui kalau pernikahan ini adalah ajang balas dendam karena kecelakaan yang menimpa adiknya.
" kenapa tidak bisa? Alasannya jelas, aku mencabut ijin keluar mu sebagai hukuman karena kamu mencoba meracuni ku." tanpa dosa, Alvian kembali memenuhi mulut nya dengan roti. Lalu masakan sebanyak ini untuk apa kalau Alvian sarapan hanya memakan roti.
" jangan terlalu berlebihan, aku hanya memasukkan obat tidur, bukannya sianida!" geram nya, tangannya yang mengepal tidak luput dari perhatian Alvian.
Melihat Alvian tak memberikan tanggapan apapun pada penolakan nya, membuat amarah Arina naik hingga ke ubun-ubun. Dengan menghentakkan kakinya, ia berbalik meninggalkan meja makan, sebelum Alvian melakukan sesuatu ia harus keluar terlebih dahulu dari rumah itu, masalah besok ia bisa di ijinkan kerja lagi atau tidak, biarlah ia pikirkan besok saja.
" maaf nyonya, kata tuan nyonya tidak boleh kemana-mana." Arina menggeram saat satpam mencegat langkah nya, kilatan matanya menunjukkan kemarahan yang berapi-api.
"kapan Alvian bilang?"
" baru saja, melalui sebuah pesan."
" coba cek lagi, barusan aku sudah bernegosiasi lagi dengannya, jangan sampai kamu melakukan kesalahan dan berakhir di pecat karena menghalangi istri majikan mu keluar."
Satpam itu tampak ragu, tapi demi keselamatan nya, ia menuruti Arina, ia masuk ke dalam ruang berjaganya untuk mengambil ponsel, hal itu Arina gunakan untuk keluar diam-diam sebelum si satpam menyadari kalau dirinya di tipu.
Arina tersenyum lebar setelah tubuh nya dengan nyaman bisa bersandar di dalam taksi online pesanannya, tidak di sangkanya Alvian mempekerjakan orang-orang ceroboh di dalam rumah nya.
Baguslah, jadi Arina tidak terlalu kesulitan kalau Alvian mulai bertingkah pada nya.
Setibanya di depan gedung kantornya, Arina menghirup udara dalam-dalam, seakan ia baru saja menemukan kebebasan yang nyaris terenggut dalam hidupnya.
" Rin." Arina menghentikan langkahnya, manakala suara yang tidak asing bagi nya memanggilnya, luka nya masih sangat basah. Tapi entah kenapa hatinya memintanya untuk diam dan menunggu Devan menghampirinya nya
Andai situasi nya tak seperti ini, ia mungkin sudah berhambur ke pelukan pria itu, menangis sepuasnya seraya menceritakan beban berat yang menghimpit hatinya, tapi itu tidak mungkin ia lakukan, selain karena Devan sudah mengkhianati nya, saat ini status nya juga bukan lagi wanita single.
" kenapa kamu menikah Rin?" tanpa basa basi, pria itu menodongnya, seakan ia yang telah berbuat curang di sini.
" urusan nya sama kamu apa?" sarkas nya, berusaha mempertahankan wajah datar nya, meski hatinya membuncah karena Devan ternyata masih memperdulikan nya.
Sebisa mungkin Arina menghindari bertatapan dengan Devan, karena pria itu mudah membaca raut wajah Arina, sebagai seorang istri, meskipun tidak dianggap, ia harus tetap menjaga martabat nya.
" kenapa kamu menikah tanpa mendengarkan penjelasan ku lebih dulu, Arina!"
" kalau kamu datang kesini hanya untuk mengatakan ini, maaf! Waktuku tidak banyak!" Arina mengerling Arlojinya sebelum meninggalkan pria itu. beruntung penjagaan kantor ini sangat ketat, sehingga ia bisa terbebas dari Devan tanpa banyak drama.
Melihat Devan yang tertahan di pintu lobi, membuat hatinya menjerit. Hasrat ingin membagi beban hati yang menderanya beberapa hari terakhir setelah pertemuan terakhir mereka begitu menyiksa. Tapi, sekuat tenaga ia menahan diri. Devan bukan lagi milik nya, terlepas ia sudah menikah ataupun belum.