Jessica yang mati penuh penyesalan tiba-tiba kembali ke umur 19 tahun dengan membawa semua ingatannya di kehidupan yang telah ia lalui.
Kali ini, dia tidak akan ditindas lagi, dia akan bersinar dan mendapatkan kebahagiaannya sendiri.
"Bagaimana bisa Jessica tahu ada racun di minuman itu?"
"Jessica mendapat nilai sempurna? Bukankah dia selalu peringkat akhir?"
"Aku tidak akan membiarkan Jessica mengambil posisiku, lihat saja, aku akan memberinya pelajaran!"
"Heh! Mau menindasku? Tidak! Jessica kali ini bukan lawan yang sepadan untukmu! Jangan macam-macam kalau tidak mau menyesal!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Taruhan besar
Pada malam harinya, Nolan kembali dari kantor, ia pun membawa gaun pengantin yang disiapkan untuk Jessica keenakan di keesokan harinya.
Setelah tiba di apartemen, Nolan menekan bel apartemen beberapa kali, tetapi tidak ada yang membuka pintu, jadi Nolan menggunakan kartu cadangannya, ia pun membuka pintu apartemen dan masuk sambil membawa gaun pengantin di tangannya.
Saat masukin apartemen, ia mendengar suara dari kamar, jadi pria itu meletakkan gaunnya di ruang tamu dan berjalan ke arah pintu kamar, "sayang?"
"Kau baik-baik saja?" Nolan bertanya di depan pintu kamar, tak berani membuka pintu.
"Tolong...tolong...!" Suara Jessica yang meminta tolong akhirnya membuat Nolan membuka pintu kamar dan mendapati kamar remang-remang, Jessica tertidur di ranjang sambil mengigau.
Nolan mendekat memperhatikan Jessica, terlihat wajah Jessica pucat pasi dipenuhi keringat yang membuat rambut dan bantalnya basah kuyup.
Tangan Jessica memegang erat selimut hingga tangannya membiru, sementara kedua kakinya meronta-ronta dengan keras.
"Sayang," kata Nolan memegang tangan Jessica.
Merasakan ada tempat pegangan yang lebih baik daripada selimut, Jessica dengan cepat menarik tangan Nolan dan memeluknya dengan erat, "tolong! Tolong! Kakek... Bukan aku yang membunuh kakek! Tolong percaya padaku, percaya padaku hikss... Hiks... Hiks... Tolong... Tolong percaya," Isak Jessica dalam keputusasaannya.
"Tenanglah, kau hanya bermimpi," Nolan menarik Jessica kedalam pelukannya dan merasakan Jessica memeluknya sangat erat seakan takut terlepas.
"Tolong,,, tolong percaya padaku, tolong... Hiksss hiksss hiks..." Isak Jessica masih begitu ketakutan dan frustasi.
"Aku percaya padamu, aku percaya, aku percaya, sungguh," kata Nolan membuat Jessica dibawa alam sadarnya merasa lebih baik, suara itu seakan memberi kepercayaan untuk mendapatkan ketenangan.
Perlahan, Jessica melonggarkan pelukannya pada Nolan, tangannya yang membiru akhirnya perlahan-lahan kembali normal seiring darah yang kembali mengaliri telapak tangannya.
Nafasnya perlahan teratur, wajah yang pucat itu menjadi lebih tenang dan perlahan suhu tubuh Jessica mulai normal.
Nolan pun mengelap keringat Jessica yang berlebihan lalu berusaha melepaskan diri ketika Jessica lebih tenang, tetapi ketika dia bergerak sedikit saja untuk menghindar dari Jessica, Jessica kembali lagi memeluknya dengan sangat erat sambil mengigau, "jangan..."
Pada akhirnya, Nolan hanya bisa memindahkan Jessica sedikit dari posisi tempat tidurnya Karena posisinya tadi sudah sangat basah penuh oleh keringat Jessica.
Setelah bergeser sedikit, Nolan membiarkan Jessica terus memeluknya hingga akhirnya dia pun ketiduran.
Pada keesokan paginya saat Jessica bangun, ia terkejut saat mendapati dirinya sedang memeluk seorang pria.
Dalam keterkejutannya, Jessica mendorong Nolan dan menjauh dari pria itu.
Nolan yang masih terlelap pun akhirnya terbangun, ia menatap Jessica dengan kening berkerut, "kan sudah bangun."
"Apa yang kau lakukan di sini?!" Jessica segera memeriksa tubuhnya, dan ketika mendapati semua pakaiannya masih lengkap, Jessica merasa begitu lega.
Tetapi ekspresi lega Jessica itu justru sangat melukai Nolan, ia duduk di tempat tidur melihat Jessica dengan wajah kecewa, "apa aku sebejat itu di matamu? Aku rasa aku belum pernah memaksamu untuk melakukan sesuatu kecuali itu telah disetujui olehmu," ucap Nolan penuh kekecewaan.
Jessica berdiri, menatap pria di tempat tidur dengan sedikit rasa bersalah, tetapi ketika mengingat kembali apa yang terjadi di kehidupannya yang lalu, matanya kembali menyala, "kau memang bejat!" Tegas Jessica lalu berjalan keluar dari kamar tanpa memperdulikan Nolan yang tertunduk lesu, bingung apa salahnya.
Ketika Jessica keluar dari kamar, ia melihat gaun pengantin yang sebelumnya dibawa oleh Nolan, tetapi dia tidak memperdulikannya dan pergi ke ruang kerja, segera menyalakan komputer di mana dia bisa memantau lewat CCTV tentang apa yang terjadi kemarin malam.
Jessica memijat keningnya saat ia melihat Nolan memasuki apartemen sambil membawa gaun pengantin sementara suaranya yang minta tolong dari kamar terdengar begitu jelas dari rekaman CCTV itu.
'Traumaku benar-benar parah, Tapi kalau aku mendatangi dokter, aku mungkin akan masuk rumah sakit jiwa,' kata Jessica sambil menghela nafas, dia tahu tidak ada yang akan mempercayai tentang apa yang telah ia alami.
"Jadwal pernikahannya 2 jam lagi," ucap Nolan yang muncul di ambang pintu ruang kerja, dia bingung melihat Jessica menggunakan komputer miliknya, padahal komputer itu menggunakan kata sandi, tapi Jessica.... Apakah Jessica mengetahui kata sandinya?
"Aku tahu," kata Jessica segera berdiri.
"Aku akan menjemputmu satu jam lagi," ucap Nolan lalu berjalan pergi menuju pintu keluar.
Tetapi ketika dia tiba di pintu, Nolan menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Jessica yang sedang memandanginya dengan kedua tangan dilipat di dada, tampak bosan.
Nolan kemudian berkata, "Apa kau benar-benar menginginkan pernikahan ini? Jika tidak, aku bisa membatalkannya. Anak yang dikandungan mu itu juga, aku bersedia merawatnya jika--"
"Kau pikir aku mau menyerahkan anak ini padamu?" Tanya Jessica dengan suara yang begitu dingin.
"Lalu Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kau benar-benar mau menikah denganku karena mencintaiku atau karena terpaksa?" Tanya Nolan dengan sinar mata yang meredup, sangat mengekspresikan bagaimana pria itu benar-benar terluka atas sikap Jessica selama ini.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya balik jessica.
"Aku hanya mau kita membicarakan masalah kita secara terbuka, Aku tidak ingin ada yang terluka di antara kita. Aku mencintaimu dan aku berharap kau bisa lebih bahagia daripada aku," ucap Nolan.
Kening Jessica mengerut, selama ini Nolan selalu bersikap dingin, biasanya hanya menunjukkan cintanya lewat sesuatu yang begitu sederhana, lewat tingkah laku dan perbuatannya, namun kali ini pria itu berbicara panjang lebar, Sepertinya dia benar-benar bingung atas apa yang terjadi akhir-akhir ini.
"Aku sedang melakukan taruhan besar dalam hidupku. Kalau kau tidak mau menjadi medianya, Kau bisa mengatakannya sekarang dan melepaskan ku," ucap Jessica.
"Taruhan?" Nolan berusaha mengerti maksud Jessica, tapi apapun yang ia pikirkan, dia tidak bisa mengerti, "baiklah, jadikan aku media sesuka hatimu," ucap Nolan sebelum berbalik dengan mata memerah meninggalkan apartemen.
Begitu pintu tertutup, Jessica runtuh ke lantai, "hiks,, hiks,, hiks,,, bagaimana bisa, kau yang begitu mencintaiku seperti ini akan berubah dalam beberapa tahun ke depan? Apa yang sebenarnya terjadi di kehidupan sebelumnya sampai-sampai bisa mengubah mu seperti itu? Menjadi kejam dan dingin, tidak berperasaan dan kasar, apa sebenarnya?" Jessica berusaha memikirkan apa yang sudah terjadi di kehidupan sebelumnya hingga membuat Nolan benar-benar berubah padanya.
Tetapi dia tidak bisa mendapatkan jawabannya dan hanya bisa berbalik untuk segera bersiap-siap ke acara pernikahan mereka.
Setelah 1 jam sendirian di apartemen, akhirnya bel apartemen kembali lagi berbunyi, jadi Jessica yang telah memakai gaun pengantinnya dan berdandan seadanya langsung berjalan ke arah pintu.
Begitu membuka pintu, didapatinya calon suaminya sekaligus mantan suaminya di kehidupan sebelumnya berdiri menyambutnya dengan jas rapi dan bunga pengantin telah dipasang di dada kiri pria itu.
"Aku minta maaf atas apa yang terjadi tadi," kata Nolan.
Jessica mematung, ia menatap Nolan selama beberapa detik sebelum menganggukkan kepalanya lalu membiarkan pria itu menuntunnya menuju lift.
Dalam perjalanan menuju tempat resepsi digelar, kedua orang itu hanya diam saja sampai akhirnya mereka tiba di tempat acara disambut oleh semua orang yang tidak lebih dari 20 orang, semuanya adalah anggota keluarga Sanjaya.
Jessica dan Nolan berdiri di ujung karpet merah memandang ke arah dekorasi panggung dengan bunga mawar putih menghiasi.
Sambil menatap ke depan, Nolan berkata, "aku memberimu kesempatan terakhir untuk melarikan diri bersama anakmu jika kau tidak menginginkan pernikahan ini," ucap Nolan.
"Sudah kubilang, menikah denganmu adalah taruhan terbesar dalam hidupku dan aku tidak akan mundur," jawab Jessica, tangannya memegang erat Bunga pengantin sambil melirik ke arah kakek Sanjaya.
'Kakek, aku rela mengorbankan seluruh hidupku demi menyelamatkanmu dan anakku, bahkan jika ada 1000 peluru, aku akan berdiri di depan melindungi kalian berdua, tidak akan membiarkan satupun peluru mengenai kalian,' pikir Jessica dalam hati.
"Kalau begitu aku akan memperingatkan mu sekali lagi, aku hanya akan menikah sekali, dan tidak akan ada jalan untuk perceraian!" Tegas Nolan.
Jessica memandang Nolan yang lebih tinggi 20 senti darinya, 'di kehidupan sebelumnya kau tidak mengatakan itu, tapi sekarang...'
"Pegang kata-katamu!" Kata Jessica.
Nolan tersenyum, lalu musik pengiring pengantin pun dibunyikan dan kedua pengantin melangkah di atas karpet merah menuju kehidupan baru yang akan mereka tata bersama.
Entah akan hancur seperti di kehidupan sebelumnya, atau kali ini akan berbuah manis.
Intinya, ini adalah taruhan yang sangat besar.
kata balik keduli ini ga di prediksi sama Jessica
maling teriak maling😎
semangat thor 💪